
Peringatan hari Kartini di alun-alun kecamatan berlangsung meriah. Tempat itu berada di dekat puskesmas, berjarak hampir setengah jam dari sekolah.
Ada duabelas sekolah taman kanak-kanak yang mengikuti. Semua telah berkumpul sejak pagi. Acara dimulai pukul setengah delapan.
Laras tengah memimpin barisan. Mereka dapat nomor delapan. Kali ini dua anak, Sari dan Fadli memakai pakaian adat Minang berbaris paling depan. Membawa spanduk nama sekolah mereka. Bu Nur berjalan mengawal di bagian belakang barisan.
TK Mutiara Kasih. Dibelakang enam belas temannya memakai baju berbagai profesi. Ada prajurit berbagai angkatan, dokter, guru, polisi, petani dengan cangkul kecil, koki, perawat, badut kecil, atlet dengan raketnya, musisi dengan gitar kecil, sampai pekerja kontruksi dengan helm khas. Semua membawa bendera kecil yang mereka kibarkan. Sambil bernyanyi lagu-lagu nasional. Para orangtua yang menonton sibuk menjepret moment anak-anak.
Baju yang dipakai ada yang memang koleksi di sekolah. Beberapa orangtua juga menyewa seragam lain dari salon terdekat.
Sekolah lain ada yang tampil membawa grup drumb band kecil. Tiga sekolah bergaya dengan grup drum band dengan formasi kecil. Juga musik tradisional.
Jarak yang ditempuh buat mengelilingi lapangan sekitar satu kilometer. Beberapa putaran.
Setelah itu mereka akan duduk berkelompok untuk mendengar pidato pak camat nanti. Serta ada pertunjukan tiga sekolah yang mendapat giliran tampil. Gerak dan lagu juga pencak silat para bocah.
"Ayo, anak-anak berkumpul di sisi kiri lapangan!" seru Bu Nur.
Semua mengikuti langkah gurunya.
Laras segera mengambil konsumsi yang dibawa ibu-ibu dari pinggir lapangan. Orangtua tak boleh mendekat, agar anak-anak belajar berani tampil dan mandiri.
Laras membawa duz konsumsi dari pinggir lapangan yang tadi dibawa para ibu, "Ini kue dan minumnya, ayo semua di makan."
Ada air mineral, susu kotak vanilla, kue donat dan permen.
Semua beristirahat, sambil menunggu teman-teman lain yang masih mengitari lapangan.
"Aku ingin sekolah kita punya drum band juga," seru Jovan, yang memakai baju koki
"Itu harganya mahal," sahut Ningrum.
"Bu guru nanti kita beli ya!" Sari tak mau kalah.
"Iya, aku mau main drum yang besar," lanjut Kemal yang meminjam baju badut dari sekolah.
"Iya, iya....nanti Bu guru bilang ke pabrik ya!" Bu Nur, menghibur mereka.
Para anak TK A sangat antusias karena ini pengalaman pertama. Bagi kakak klas mereka, moment ini menjadi yang kedua.
Pidato dimulai. Pak Camat berterimakasih atas partisipasi semua sekolah. Dia memberi pesan agar semua anak tetap rajin belajar meraih cita-cita. Juga berpesan agar menghormati para ibu serta kaum wanita.
Pertunjukan dimulai. Sorak Sorai bergema karena tingkah lucu para bocah cilik.
Beberapa anak dari sekolah lain ada yang harus mendapat bantuan medis karena kelelahan karena panas.
Hingga hampir pukul sepuluh, satu persatu dari para peserta pawai meninggalkan lokasi. Para orangtua sudah membawa pulang semua putra putrinya.
"Laras, belum pulang?"
Tiba-tiba Pandu sudah berada disebelahnya.
Pandu mengamati Laras. Sang pacar memakai seragam olahraga kaos T-shirt panjang berwarna biru muda dengan tulisan nama sekolah di saku, celana biru tua serta kets putih.
Saat itu Laras sedang mengobrol dengan guru-guru dari sekolah lain. Mereka saling mengenal karena pernah bertemu jika ada rapat di kantor dinas pendidikan.
"Lho , ada disini dok?"
"Iya, ngecek tim medis. Kebetulan puskesmas dekat dan tak ada pasien serius."
Laras pamit dari rombongan guru.
Berdua Pandu yang tak pakai jas putihnya berjalan bersisian, menuju areal parkir.
Lelaki itu merangkul sang pacar, tapi Laras menepis perlahan, seraya berbisik ," Aduh, malu nanti dilihat orang, mas."
"Nggak apa-apa. Sudah sepi..Lagipula kamu pacarku."
Pandu membatin, I do not care what they say, I am in love with you. Dia tetap merangkul pundak pacarnya itu.
"Kita makan yuk, sudah siang."
Laras melirik jam tangan. Ehm, sudah jam sebelas.
"Nggak kembali ke sekolah, kan?"
"Nggak."
"Kita makan di rumah dinas aja. Mbok Siti masak menu enak."
Jarak alun-alun dengan puskesmas hanya dua ratus meter lebih.
"Wah, gimana nanti kata orang."
"Cuma mampir makan. Aman, ada mbok Siti di rumah. Lagipula aku ingin kamu tahu tempat tinggalku."
"Kapan-kapan aja ya."
"Sekarang mumpung dekat. Temani aku makan, kamu juga sesekali makan di tempatku."
__ADS_1
Laras tercekat. Pandu memang keras hati. Lelaki itu minta kunci motor Laras. Lalu membonceng sang pacar menuju tempat kerjanya.
Sampai di parkir puskesmas, lelaki itu langsung mengajak Laras berjalan di gang sisi kanan kantin menuju belakang puskesmas.
Beberapa pegawai melihat sang bos bersama seorang gadis. Bisik-bisik tak terhindar.
Tiba di tepat depan rumah, mbok Siti yang sedang menyapu teras, menyambut.
"Siang, dok. Ini non Laras itu ya?"
Laras mengangguk tersenyum. Kok tahu namaku, batin gadis itu.
"Gimana mbok, cantik nggak?"
"Cantik dong, manis dok."
"Ayo, masuk!"
Pandu memegang tangan Laras dan mengajak duduk di ruang tamu.
"Mau minum apa, non? Dok, mbok buatin minum apa?"
"Apa saja mbok, makasih," ujar Laras.
"Es sirup cocopandan aja, ya mbak."
"Baik."
"Nah, Laras ini tempat tinggalku."
Laras tersenyum," Bagus, lebih indah dari rumahku."
Pandu mengajak berkeliling. Rumah itu baru direnovasi tahun lalu. Ada teras, ruang tamu dengan tv besar, tiga kamar tidur serta dapur sedikit modern yang diisi meja makan.
Kamar tidur utama punya toilet di dalamnya. Itu kata Pandu.
Di bagian belakang ada toilet kecil, juga ruang cuci sterika dan areal jemur yang langsung berhubungan dengan halaman.
"Gimana siap jadi nyonya rumah nanti disini?" goda Pandu.
"Apaan sih, mas Pandu ngelantur."
Laras tertawa, kali ini mencubit pinggang Pandu.
Tentu lelaki itu senang. Dia pun pura-pura meringis.
Setelah resmi jadian sepertinya Laras tak lagi kaku dan marah, menyangkut sentuhan kecil serupa.
"Sudah siap dok, silahkan makan. Ayo, non."
"Makasih, mbok."
"Mbok kedepan dulu. Mau ke pantry puskesmas bantu bersih-bersih."
Perempuan paruh bawa itu tahu diri, memberi kesempatan sang dokter berduaan dengan pacarnya.
Pintu teras ruang tamu dibiarkan terbuka. Waktu istirahat siang. Beberapa pegawai yang tinggal di mess sebelah lalu lalang.
"Ayo kita makan !"
Pandu mengambilkan nasi dan semua lauk untuk pacarnya. Lalu meletakkan di hadapan gadis itu. Setelah itu porsi untuknya.
Laras berterimakasih.
"Kok piring aku penuh, mas malah sedikit?"
"Biar sehat, kan jadi coach. "
"Yang diminta lebih berisi oleh mama, kan mas?"
"Nanti aku nambah. Pokoknya aku mau ditemani kalau makan."
Mereka mengunyah seraya ngobrol ringan. Karena mbok hanya masak menu siang dan sore, pacar Laras itu bercerita kalau hampir tiap hari makan roti tawar dilapisi selai. Lapisan ini yang bervariasi. Coklat, kacang, strawbery, mentega dan meses. Susu, teh atau kopi yang jadi pelengkapnya. Sesekali hanya makan buah.
"Mulai sekarang, aku jadi bodyguardmu."
Pandu terlihat serius.
"Gimana bisa, mas kan kerja."
"Aku usahakan bisa."
"Jangan bucin mas, kita ini sama sama udah dewasa."
"Ha,ha,ha....budak cinta tak kenal usia."
"Begini, aturan harus kita sepakati. Tiap hari harus ada komunikasi. Pergi - pergi jauh di luar kota diluar hal rutin mesti pamit yang benar. Tiap malam saling bilang selamat tidur. Kalau selesai telpon atau chat bilang I love you atau I miss you. Pergaulan dengan lawan jenis juga diperhatikan, ada jarak karena sudah punya pacar."
"Aduh, kok banyak aturan?"
__ADS_1
"Menurutku itu komitmen jadi pacar. Boleh siapa saja duluan menghubungi buat komunikasi. Gimana, sepakat?"
Pandu menatap Laras lekat-lekat.
Gadis itu hanya membatin, masalah perasaan terlalu diatur. Jadi nggak spontan. Kaku. Serius. Gimana nanti jadi....ehm suami istri ? Jangan-jangan nanti satu halaman penuh, terus aku harus tandatangan di atas materai. Ada perjanian pranikah atau pasca nikah pula. Bah..........
Laras over thinking.
"Itu buat kebaikan dan menanamkan kepercayaan."
Laras terdiam, namun percakapan dalam batinnya tak kunjung usai.
"Gawat, apa ini pertanda posesif ?"
"Duh, apa aku terlalu cepat mau jadi pacarnya?"
"Bakal terikat ketat nih, aku?"
"Kenapa diam saja, melamun terus?"
Laras mencoba tersenyum," Kalau banyak aturan apa nggak jadi kaku. Ehm, kurang romantis atau spontan gitu."
"Kita jalani dan buktikan nanti."
Pandu menyuruh Laras menghabiskan porsi makanan di piring gadis itu. Padahal dia mulai kenyang. Snack di lapangan tadi sebenarnya masih cukup bertahan hingga dia sampai rumah dan makan sekitar jam dua seperti biasa.
Lelaki itu menambah lauk di piring miliknya. Masih menatap Laras.
"Tumben ada riasan cukup tebal di wajahnya tapi tetap natural. Tidak menor
Apa karena pawai itu? Laras sungguh manis dengan lipstik merah bata seperti itu, " Pandu berkata dalam batin.
"Ehm iya, dicoba dulu ya..."
"Iya harus. Disiplin."
Pandu berkata tegas.
Laras memaksa diri meludeskan isi piring. Hingga perutnya penuh.
"Ternyata jauh lebih leluasa berinteraksi dalam status teman," bisik gadis itu. Tentu hanya di hati saja.
Pandu ingin menguji Laras. Apa gadis itu jadi berubah atau tetap jadi dirinya sendiri? Ada dia akan berpura-pura. Mungkin juga berontak?
Terdengar kejam. Tapi itu prinsip bagi Pandu. Hubungan ini dia harapkan mampu berlangsung hingga jenjang serius. Bukan main-main.
Setelah makan dengan perlahan Laras meminta ijin pamit. Sudah setengah satu siang.
"Mas, sebentar lagi waktu istirahatmu usai, kan harus kerja lagi. Aku mau pamit dulu, ya."
Saat itu Laras membawa piring dan gelas kotor ke bak cuci. Pandu mengikuti. Gadis itu hendak mulai membersihkan peralatan itu.
"Masih setengah jam. Disini sampai jam satu. Kamu tak ingin bersamaku
lebih lama?"
"Bukan begitu......"
Pandu melingkarkan tangan di pinggang pacarnya. Laras terdiam. Dia masih terus menggosok piring dan gelas. Membasuhnya serta meniriskan di rak kecil sebelah kran air. Jantungnya berdebar kencang.
"I love you," bisik Pandu di telinga Laras.
Pandu membalikkan tubuh sang pacar. Menatap ke dalam matanya. Memegang kedua pundak Laras yang tertunduk.
"Aku selalu kesepian disini Laras.....terimakasih sudah hadir dalam keseharian ku. Dalam hidupku."
Nada suara lelaki itu sungguh menyentuh. Sebuah kejujuran dan kerentanan. Laras semula terdiam. Spontan dia memeluk Pandu dan melingkarkan tangan di pinggang lelaki itu serta membenamkan kepala di dadanya.
Lama. Mereka menikmati momen itu. Bahasa cinta telah bersemi di hati kedua insan itu. Pandu bahagia. Desiran rasa menyusup di relung jiwa.
Laras lalu mendahului melepas pelukan, "Mas aku pulang dulu, iya."
Pandu kini terdiam masih menatap gadis itu. Sesungguhnya dia ingin mendaratkan kecupan di pipi bahkan bibir Laras. Ehm...
Laras tersenyum menunggu reaksi Pandu. Hanya ada kecupan ringan di dahi gadis itu.
"Thanks makan siangnya. Salam buat mbok Siti."
Pandu hanya bisa balas tersenyum dan menganggguk.
Laras melangkah ke depan, diikuti sang pacar. Diambilnya tas selempang kecil yang tadi menemaninya.
"Aku antar sampai parkiran."
Keduanya berjalan keluar, hingga tempat motor Laras menunggu.
Gadis itu memakai helm, memasukkan kunci kontak terus menghidupkan mesin bersiap meluncur.
"Hati-hati di jalan, ya. Langsung pulang!"
__ADS_1
"Iya, mas."