
Laras memacu motor matic putihnya menuju sekolah. Hari ini Senin pekan pertama bulan Maret.
Gerimis tadi pagi sedikit membuatnya khawatir. Semoga tak menjadi deras.
Harapan Laras terkabul. Cuaca perlahan mulai cerah.
Pagi ini seperti biasa sudah tampak anak-anak mulai bermain di halaman. Ayunan dan plosotan. Juga jungkat - jungkit. Pak Yus mengawasi mereka sambil menyiram pot - pot tanaman di depan kelas .
"Selamat pagi anak-anak," Laras menyapa beberapa bocah yang sedang bermain.
"Pagi, buk....."
Setelah memarkir motor, Bu guru itu mendatangi mereka. Berpesan agar main bergantian dan tidak berebutan.
"Baik ....Bu guru !"
Beberapa murid lain berdatangan. Bel sekolah berbunyi dalam setengah jam lagi.
Laras selanjutnya melangkah menuju ruang guru.
" Met pagi, Bu Nur."
" Pagi, mbak Laras."
"Serius sekali, bu?"
Laras melihat beberapa kertas berserakan di atas meja seniornya. Sebuah kalkulator kecil juga tergeletak di sana.
" Ini lho pak Kevin minta info untuk pengajuan dana agar segera dibuat. "
" Tumben."
" Iya, tadi pagi dia berkirim pesan setidaknya ada gambaran umum berapa dana yang harus diajukan, dalam sepekan ini."
" Buat perpustakaan itu, bu?"
" Benar."
"Kan harus ada RAB, bu?"
" Lha iya, katanya Bu Chandra, istri wakil Dirut kasihan lihat sekolah kita. Beliau ingin disini fasilitas segera ditambah."
"Syukurlah."
" Tapi seperti mendadak begini, kan repot. Kemarin saya diskusi dengan suami sampai malam."
Suami Bu Nur bekerja di pabrik bagian maintenance.
" Sudah ada solusi, bu?"
" Iya, cuma harus dikoreksi sedikit. Nanti setelah sekolah usai kita berdua diskusi masalah ini, ya."
" Baik, Bu."
Bel berbunyi tanda kelas akan dimulai.
Rutinitas berjalan seperti biasa.
Bu guru memeriksa daftar hadir.
Budi dan Gaby masih tidak masuk sekolah karena sakit.
Sesi favorit anak-anak di kelas adalah bercerita ke depan tentang aktivitas akhir pekan.
" Hari Minggu kemarin, aku bersama ayah ibu dan kakak pergi ke resepsi pernikahan pamanku di kota," kisah Sari.
" Di kolam belakang rumah, kami panen ikan lele dan belut. Lalu digoreng menjadi lauk yang lezat, " Jovan, tak mau kalah dengan lantang berkisah.
Giliran Ningrum yang kalem, bercerita bahwa dia pergi ke pasar bersama ibu, untuk membeli bahan-bahan membuat kue ulangtahun neneknya.
" Aku pergi ke lapangan bola melihat latihan para pemain. Bu Laras juga ikut melatih mereka. Nanti aku akan ikut latihan kalau sudah besaran. Oya aku juga membeli es krim bersama tetanggaku. Ehm, disana aku juga bertemu pak dokter Pandu," urai Kemal, yang memang pernah kenal dengan dokter itu.
Laras terkesan. Walau Kemal yang usianya paling muda di kelas, seperti bocah yang kurang perhatian di rumahnya, tetapi dia ternyata tetap ceria seperti anak - anak lain. Orangtuanya merantau. Dia hanya hidup dengan sang kakek yang masih harus bekerja keras di usia lanjut. Kadang para tetangga yang peduli padanya sering membantu.
Setelah semua anak yang hadir tampil ke depan, kelas dilanjutkan dengan mewarnai. Kali ini topiknya adalah alat-alat transportasi.
Dari lembar kertas dengan gambar yang berukuran A4 yang dibagikan Laras, ada yang kebagian aneka jenis mobil sedan, truk dan jeep. Yang lainnya gambar pesawat udara, helikopter. Kapal laut dan perahu. Dua anak kebagian gambar pedati dan becak.
Setelah istirahat pelajaran terakhir adalah menebalkan angka. Diulang beberapa lembar untuk angka satu hingga lima.
Di akhir jam sekolah, ada perayaan ultah Fadli, putra Bu Ina. Sederhana namun meriah. Anak anak bernyanyi bersama, setelah Fadli tiup lilin di atas kue tart kecil, mereka memberi kado seadanya. Diakhir acara setiap anak membawa pulang kotak nasi kuning komplit.
Kemudian, Bu Nur mengajak Laras berdiskusi masalah anggaran. Cukup lama. Hingga Laras minta ijin ke toilet karena harus mengganti pembalut.
Hingga hampir setengah dua siang. Bu Nur tak tega melihat sang yunior sedikit lemas dan pucat. Tamu bulanan memang terkadang membuat tak nyaman.
"Mbak, kita istirahat dan pulang yuk. Besok lanjutkan lagi."
__ADS_1
Sampai di rumah, setelah berganti pakaian dan makan siang Laras minta ijin nenek untuk beristirahat di kamar. Hari itu dia libur dari tugas menjaga toko.
Laras menghabiskan waktu dengan membaca buku psikologi anak, favoritnya. Diiringi musik instrumen dari Kenny G.
Setelah satu jam berlalu dia tertidur. Hingga pukul empat sore.
Laras beranjak keluar. Dengan membawa segelas air gadis itu mengamati pemandangan di depannya. Bik Jum menyapu halaman. Daun-daun dan bunga serta buah yang kecil kecil dari pohon jambu yang banyak gugur terkadang membuat tempat itu harus disapu dua kali. Pagi dan sore.
Sepertinya buah jambu air sudah banyak yang mulai matang, batin Laras.
Laras mengajak Bik Jum memanen buah jambu dengan memakai alat panen. Sebuah tiang bambu dengan bagian atas seperti cawan terbuka. Beberapa buah berhasil dipanen. Lainnya banyak yang jatuh.
" Mana aku bantu," suara berat Kang Jamil yang kebetulan lewat di depan rumahnya, mengejutkan Laras.
" Lha benar nak Jamil, tolong ya. Bibik mau minta buat dibawa pulang nanti.
Lelaki jangkung itu langsung memanjat ke atas sambil membawa kantong plastik.
Dalam sekejap kantong berukuran sedang itu telah penuh.
Dari atas, beberapa buah jambu besar yang benar matang di coba oleh Kang Jamil.
"Hem, manis...."
"Bagi dong. ..!" seru Laras seraya terus menengadah.
" Tangkap ya, Laras. Bik Jum!"
"Satu, dua, tiga....."
Mereka tertawa bersama karena ada beberapa buah yang meleset dari tangan dua orang dibawahnya.
" Haap. Dapat!"
Semua terkejut.
Tiba-tiba Pandu telah berdiri di samping Laras. Lelaki itu sejak tadi sebenarnya telah memperhatikan Laras. Berdaster batik pendek selutut dengan motif burung merak warna hijau
"Nak Pandu kok seperti hantu, tak ada suara dan tak ada gerakan langsung nongol," ujar bik Jum.
"Iya, aku bisa datang tak diundang dan pergi tak diantar..."
"Aduh...jailangkung dooong."
Tawa Laras pecah. Disusul yang lain.
Pandu sigap meladeni orang yang sedang melempar buah jambu dari atas pohon. Lelaki itu memakai kaos oblong hitamnya untuk tempat buah jambu mendarat.
" Sudah, cukup nak. Ini sudah banyak sekali," bik Jum berkata setelah dia harus menjinjing dua kantong berukuran sedang.
Buah jambu di kaos Pandu kini semua telah berpindah ke dalam kantong plastik
Kang Jamil turun lalu mengajak tos Pandu.
Laras mengajak keduanya masuk ke ruang tamu. Kang Jamil menolak, karena tadi hanya kebetulan lewat dan memang dia ada perlu ke rumah sebelah. Katanya mau pinjam cangkul.
Pandu mulai mencoret kemungkinan bahwa Kang Jamil naksir Laras. Itu setelah dia memperhatikan kalau memang sepertinya mereka hanya teman biasa.
Kemungkinan berpindah kini pada sebuah nama yakni Aldito. Apakah hati Laras masih ada untuk lelaki dari masa lalunya itu?
Bik Jum harus ekstra keras menyapu halaman lagi, saat Laras dan Pandu masuk ke dalam.
"Naik apa kemari?"
"Sepeda plat merah. Sengaja kuparkir jauh disamping toko. Biar surprise karena kalian tadi lagi asyik."
"Oya?"
" Aku juga sempat ngobrol dengan nenek."
"Hem, ada apa kemari?"
"Ada urusan penting banget."
Pandu berpura pura memasang muka serius.
"Apa ya?"
"Memeriksa pasien."
"Ehm, pasien. Maksudnya?"
"Kan kamu pernah bilang kalau aku sering melamunkan pasien. Kangen pasien. Kalau sang pasien itu adalah dirimu, tentu aku kangeni. He he he...."
Pandu, pandu. Kok sekarang jadi mirip aku yang suka membolak balik perkataan, batin Laras.
Dokter itu membawakan satu kaplet suplemen penambah darah buat Laras. Dia membelikannya di apotek sepanjang jalan sebelum menuju rumah Laras.
__ADS_1
Gadis itu berterimakasih untuk perhatian Pandu.
Sejenak hening karena ada notifikasi pesan masuk ke ponsel Pandu. Dokter itu minta ijin buat memeriksanya. Dari puskesmas yang mengabarkan perbaikan genset yang rusak telah usai. Pak Leo telah membereskan urusan dengan tukang service.
"Nah, saat ini Laras yang suka melamun. Pasti melamunkan diriku."
"Ngapain melamunkan orang yang sudah di depan mata?"
Laras berlagak jutek.
"Jadi, akui saja kalau kamu juga kerap melamunkan aku.
Laras cemberut.
Pandu jadi gemas. Ingin sekali mencubit pipi Laras atau mengacak acak rambut gadis di hadapannya itu.
"Eh, maaf aku pake daster. Tunggu aku ganti baju dulu."
"Nggak usah. Tadi kamu tak sungkan pakai daster di depan Kang Jamil. Kenapa sekarang di depanku beda?"
"Aduh, mas Pandu. Kang Jamil itu tetangga lama sudah biasa. Masa aku harus ganti pakaian sopan tiap ketemu dia. Capek dong."
"Kalau aku?"
" Mas Pandu harus aku hormati karena tamu yang sengaja bertandang ke rumahku."
Pandu terdiam.
" Bagaimana?"
" Terimakasih kamu hormati aku. Kuhargai sikapmu. Tapi menurutku, dastermu ini masih sopan. Tidak menerawang kok."
Ups.... Kalimat terakhir barusan membuat Pandu sedikit malu.
" Jadi nggak apa-apa, aku tak harus ganti pakaian? Ini kesepakatan lho."
"Sudah disini aja terus ngobrol sama aku. Nggak usah kemana-mana."
Tekanan perkataan terakhir membuat Laras punya kesan jika Pandu sedikit posesif.
Bik Jum masuk membawa sepiring buah jambu air coklat yang telah dicuci bersih.
"Silahkan dinikmati, nak..."
"Terimakasih, bik."
"Sama-sama, bibik tinggal ya, ke dalam dulu."
"Silahkan..."
Pandu dan Laras melanjutkan percakapan. Hanya berkisah mengenai aktivitas seharian di pekerjaan masing-masing. Mereka juga menikmati jambu yang ternyata sudah matang dan terasa manis.
Hingga menjelang petang lelaki itu berkunjung. Sebelum langit benar benar gelap, Pandu harus kembali. Dia baru ingat lampu sepeda motor yang dibawanya bermasalah. Hanya untuk lampu panjang.
Laras mengantar sampai depan pintu pagar dekat toko. Nenek memberi sekantong kecil jambu air untuk dibawa pulang. Ada sekitar delapan buah.
Sampai di rumah dinasnya, Pandu segera mandi dan makan malam. Menu masih sama dengan siang tadi. Sambel goreng kentang pedas berisi hati ayam dan sayur tumis wortel dicampur buncis. Kali ini dia tambah dengan abon ayam.
Setelah itu sampai pukul sembilan malam Pandu menonton televisi. Berita malam nasional dengan berbagai ulasan.
Karena telah mengantuk, akhirnya dia tidur. Mimpi mewarnai kisahnya.
Laras dan Pandu saling bergengaman tangan dan berjalan sepanjang sisi sebuah pantai berpasir putih. Sepertinya di Bali.
Romantisme yang indah. Pandu juga mengajak rafting, belajar melukis di sanggar hingga menonton tarian magis berkisah Rama Sita di ujung senja seraya menikmati sunset.
Di heningnya malam kisah romansa itu membuat Pandu terbuai. Dia berhasil mencium wajah dan bibir polos Laras. Rajutan mimpi indah.....
Sementara di sisi lain. Laras tak bisa memejamkan mata hingga tengah malam. Efek tidur siang tadi. Menyempatkan menonton sinetron dengan nenek. Setelah itu ditinggal tidur. Jadilah dia nonton film sains fiction dengan aktris favorit Pandu. Lucy, dimainkan dengan apik oleh Scarlet Johansen. Meski iklan kerap mengganggu, Laras sabar menikmati hingga usai.
Saat terbaring, Laras melamun.
"Ehm. ...pasti Pandu sudah pernah menonton film barusan, " batin Laras.
Tampaknya intensitas pertemuan yang bertambah serta perhatian Pandu, diam-diam menyelinap perlahan di hati Laras. Memberi kesan istimewa.
Gadis itu masih ingat pernyataan Pandu bahwa lelaki itu menyukai dirinya. Meski membuat tersanjung tapi Laras harus berusaha realistis karena masih banyak hal dia belum tahu tentang lelaki itu.
Laras tak mau mengulang kesalahan masa lalu. Dibutakan rasa. Emosi diri yang membuat penyesalan. Memang saat itu dia juga masih labil.
Sebuah nama Aldito Johansyah. Prestasi tinggi, wajah ganteng, postur ideal dan dari keluarga terpandang. Pesona paripurna. Siapa gadis yang tak akan takluk saat diberi harapan olehnya.
Ah .....itu hanya hadir bukan takdir, Laras.
Walau diakui olehnya itu adalah cerita singkat tetapi begitu melekat di hatinya hingga kini. Kisah manis, romantis berakhir menyakitkan. Hanya tersisa moment yang masih terpatri, bukan menjadi komitmen.
Kini setelah sekian lama, kehadiran Pandu yang secara kebetulan memberi warna baru. Karena peristiwa sakitnya Gaby, sang murid.
__ADS_1
Pandu tampaknya memperjuangkan rasa yang ia hadirkan. Laras pun harus akui dia merasa nyaman dengan lelaki itu.