
Laras diantar pulang oleh sang pacar setelah semua anggota tim membubarkan diri dari halaman bagian sisi kiri pabrik.
Gadis itu ditugaskan coach utama untuk memberi tips secukupnya buat dua supir mobil dinas pabrik yang tadi turut mengantar ke stadion. Meski secara resmi mereka dapat lembur pihak berwenang dianggap bekerja di hari libur.
Laras memang merangkap jadi bendara tim.
" Syukur ada sisa dana lumayan, karena pabrik memberi bantuan gratis buat transport," ujarnya dalam mobil saat Pandu bertanya masalah itu.
"Ehm, laga berikutnya nanti apa cukup?"
"Lebih dari cukup. Mas, sejujurnya kami nggak nyangka tim menang. Menyadari nama tim lawan saja udah bikin ciut nyali. Namun anak-anak pantang menyerah."
Nada bangga terselip di perkataan Laras.
"Kalian juga pelatih hebat. Selamat ya."
"Siapa kira-kira lawan berikutnya. Moga ada keajaiban lagi." Laras bergumam.
"Lusa berlatih lagi?"
"Ya, mungkin sedikit ringan buat menghemat tenaga. Latih tanding hanya porsi setengah. Tapi kita perintahkan anak-anak buat latihan ringan gerak badan tiap hari di rumah."
"Seperti biasa jamnya?"
"Iya, kalau aku terlambat jemput buat berangkat, ikut coach Jamil aja. Jangan bawa motor sendiri."
"Ya, ya!"
Sampai di rumah pukul satu siang. Nenek menyambut dengan gembira. Laras membersihkan diri dan berganti pakaian. Kali ini memakai rok motif kotak berwarna oranye dan kaos oblong putih. Rambut tetap diikat ekor kuda, wajah polos tanpa bedak sedikitpun.
Menyuruh untuk segera makan dan beristirahat.
Laras mengajak Pandu untuk ngobrol berdua kembali di ruang tamu. Pandu meminta tak lagi membahas bola. Ini we time mereka. Laras berjanji....
"Kita sudah hampir dua mingguan jadian. Aku tak mimiliki foto diri pribadimu. Hanya ini saja koleksiku," lelaki itu memperlihatkan potret sang pacar dari galeri ponselnya.
Laras mencubit pinggangnya begitu tahu," Jadi mas suka foto candid aku. Terus ini wajah jadulku waktu kecil, dapat dari mana? Curi-curi lagi, ha ha ha.."
"Itu rahasiaku.....hehehe.."
"Aku nggak punya fotomu satupun...."
Nada suara Laras merendah.
"Sudah ini kukirim foto wajah cakepku. Janji buat wallpapermu ya!"
Pandu segera mengirim foto dia memakai seragam jas putih, close up dan satu lagi saat foto dekat anggrek dendrodium berwarna ungu, favoritnya. Dengan postur seluruh badan.
Laras tertawa. Apalagi foto terakhir, terlalu feminim malah, menurutnya.
"Kenapa?"
"Ada yang sedikit macho nggak?"
"Apa?"
Pandu mendengus. Laras meledeknya.
"Ini, ada sesuai kriteriamu."
Sebuah potret dia bermain basket, dengan kaos tanktop, sport wear ketat, celana pendek dan sepatu bermerk.
__ADS_1
Pandu bersyukur punya foto keren itu. Saat ketika Pram memaksanya ikut tanding. Satu tahun lalu. Meski tak semahir sang adik, dia bisalah main basket walau hanya pemain cadangan. He he he...
"Ini baru keren. Mas bisa basket juga?"
"Bisalah."
"Hobi juga?"
"Nggak juga hanya terpaksa."
Tawa kembali pecah.
"Aku minta foto dirimu yang cantik dan close up."
"Nggak punya."
"Masa sih?"
Pandu merebut ponsel Laras. Gadis itu mempertahankannya.
"Kenapa, ada foto cowok ganteng lain?"
"Banyak. Nanti mas cemburu."
"Mana ...!"
"Kenapa kita nggak foto berdua saja sekarang. Up to date. Malah berebut foto kayak anak kecil, begini."
Pandu segera memeluk pundak Laras dan mengambil foto selfie berdua. Dari ponsel keluaran terbaru yang mahal miliknya. Foto dari sisi sang gadis.
Sebuah gambar natural dengan senyum manis.
Laras memang suka tampil apa adanya. Tanpa mulut yang di buat monyong tau menjulurkan lidah. Dia paling tak suka. Paling banter hanya senyum dengan dan tanpa terlihat gigi geligi. Dan memiringkan kepala ke arah wajah sang pacar.
Mereka berdua mengamati hasilnya.
"Wajah polosmu tetap cantik. Makasih ya," Pandu mengecup pipi kira sang pacar.
Laras kembali mencubit pinggangnya.
Pandu sebenarnya tak percaya Laras tak punya foto selfie. Pasti adalah. Potret ketika dia berkebaya dan tampil dengan make up cukup saat memimpin anak-anak paduan suara? Ehm nanti itu berkaitan dengan memori ciuman pertama?
Ah, setidaknya foto resmi berkemeja batik saat mau mengajar, kek.
Pasti ada. Kesempatan datang saat Laras masuk ke dapur buat ambil camilan dan tambahan minum. Dua cangkir teh sajian terdahulu telah ludes.
Gadis itu terlupa mengantongi ponselnya seperti biasa.
Begitu Laras masuk, segera lelaki itu memeriksa ponsel sederhana yang tergeletak di sampingnya.
Beruntung tak ada kunci layar. Segera ke galeri foto.
Ternyata memang tak banyak koleksi. Dua foto diri, sepertinya seragam guru. Beberapa foto dengan murid-murid, anak didik tim bola, teman-teman sesama guru TK, juga keluarga bude plus dua sepupu, dengan sang nenek. Foto bersama tim futsal putri. Sebuah gambar yang agak buram.
Ehm, ada foto diri berkebaya seragam sepertinya dia jadi pagar ayu acara resepsi nikah. Karena setelahnya barisan pagar ayu dan pagar bagus menyusul serta potret dengan sang mempelai.
Pandu kembali ke foto diri. Laras berkebaya. Dia mengirim via bluetooth ke ponselnya sendiri. Sang pacar sungguh mempesona. Sanggul cepol sederhana, batik tulis coklat motif bunga dan kebaya beige brokat warna beige. Anggun. Gadis itu bisa berubah dari tomboy, tangguh, hingga sedikit feminim serta anggun.
"Berarti Laras, gadis yang cukup luwes," bisik Pandu.
Hem, juga ada foto bersama teman-teman. Seperti reuni karena ada spanduk terbentang di belakang. Nama sekolah menengah atas dan tahun diselenggarakannya acara.
__ADS_1
Foto mantan teman sekelas. Sekitar tigapuluh orang. Begitu akrab. Seorang lelaki ganteng merangkul pundaknya. Dekat. Tawa semua personil begitu lepas. Ada empat foto sejenis, walau tak ada yang berduaan. Dua pasang teman. Dengan tiga cewek, mungkin satu gengnya. Terakhir Laras, sang lelaki tadi dan seorang teman cewek lain.
Pandu membidik sasaran dengan men zoom potret.
Deg...jantung Pandu berdebar. Itu lelaki yang sama di stadion tadi pagi.
Langkah Laras terdengar mendekat. Cepat-cepat Pandu menaruh ponsel sang pacar di tempat semula.
Pandu sedikit merasa bersalah. Kenapa dia selalu di posisi pengintip atau penguping update sang pacar. Suatu kebetulan atau keberuntungan sih. Tapi seperti gak fair. Harusnya dia mencari tahu atau bertanya ceritanya langsung pada sang pacar.
Tetapi terus terang Pandu belum tahu dari mana harus mulai untuk menanyakan banyak hal pada Laras. Terutama tentang foto lelaki barusan. Kesannya terlalu kepo. Ngotot nanti.
"Sori tadi lama, mas. Galon air habis. Jadi aku ganti dulu. Ini air putih dan kue keringnya. Kue semprit. Ayo dicoba."
"Ehm iya. Makasih ya."
Pandu menutupi kegalauan hati. Lelaki gagah tadi di koleksi galeri ponsel Laras masih terbayang di benaknya.
"Mas, katanya Kamis nanti ada rapat di kota propinsi. Kalau nggak bisa nemani aku ke stadion untuk laga kedua, gak apa-apa.."
" Rapat jam sembilan hanya sampai sebelum makan siang. Aku langsung ke stadion kota kabupaten setelah itu. Jalurnya kan dilewati sebelum arah pulang."
"Ya, terserah mas. Tapi tolong jangan dipaksakan kalau gak bisa, ya. Tugas profesi lebih utama."
"Iya, Laras.... tugas jadi bodyguardmu juga penting."
Cerita berlanjut tentang hal keseharian di puskesmas atau sekolah. Hingga menjelang sore, Pandu pamit. Laras juga harus beristirahat.
Menjelang pukul sepuluh malam ada chat dari Sandra. Mengatakan kalau dia baru datang dari Singapura buat seminar masalah kecantikan kulit.
Ceritanya glamour dan high clas. Pandu hanya menanggapi pendek. Dia meminta video call. Tapi Pandu beralasan ada tamu. Perawat pria bujangan sebelah rumah sedang nonton motor GP di tv bareng dia.
Memang benar sih nonton acara itu tapi dia lagi sendiri.
Pandu bertekad mencari momen buat mengatakan pada Sandra kalau dia sudah punya pacar. Tapi sekali lagi ingin ditundanya. Baru tiga Minggu lalu ketemu di Jakarta, kabar bahwa Pandu belum memiliki kekasih masih santer hingga gadis itu beraksi agresif untuk meraih hatinya.
Sebuah chat dari Laras, menyampaikan met tidur, met istirahat. Tanpa tulisan mimpikan aku.
Lelaki itu menulis I love you di akhir chat. Laras hanya menjawab dengan emotion satu hati.
Pandu ingin video call atau menelpon tapi berhubung sudah lebih dari setengah sepuluh malam dia urung melakukan niat itu. Di daerah pinggiran jam segitu sudah termasuk larut. Khawatir mengganggu istirahat nenek di kamar sebelah.
Pandu merasa bersalah pada Laras. Gadis itu polos dan lugu. Dia tak tahu sang pacar sedang jadi incaran gadis lain yang high profile.
Sementara Pandu seperti lebih kenal circle pergaulan Laras. Setiap ada momen, kalau menurutnya Laras agak dekat dengan pria lain, Pandu merasa cemburu. Jamil, Alvin, kini ehm Dito itu.
Sementara Laras easy going. Padahal Pandu adalah lelaki dengan high profile juga di mata banyak gadis.
Para gadis perawat di puskesmas. Beberapa gadis yang pernah berobat ke ruang prakteknya atau seorang janda muda di kampung sebelah... yang sudah dua kali datang berobat. Keluhan hanya flu ringan. Kedua kepala pusing. Ada aja alasan buat ketemu dokter bujangan puskesmas. Lalu dengan tatapan menggoda akan berlama-lama ngobrol di ruang praktek. Untung Pandu selalu ditemani seorang perawat senior yang selalu memberi kode jika waktu tengah habis untuk sesi konsultasi.
Sebagai lelaki dewasa yang normal, Pandu tahu. Mahfum. Lirikan mata, pandangan penuh arti atau kata-kata manja mereka. Sungguh menyiratkan kalau mereka menyukai dirinya. Lebih tepat naksir. Berat ringannya tentu hanya hati masing-masing yang merasakan. Pandu tetap bersikap tegas, profesional dan cenderung lugas. Dia tak ingin tergoda atau menggoda balik. Tak satu kesempatan pun.
"Sssst, moga Laras tak tahu itu. Semoga dia percaya padaku. Tapi.... Tak peduli atau ehmm...jangan-jangan Laras memiliki rasa sayang yang tak sebesar diri ku. Sepertinya Laras tak pernah tampak cemburu," Pandu membatin.
Pandu melamun. Matanya ke arah layar tv, namun pikiran melayang.
Diambilnya ponsel. Semua potret Laras diamati dengan rasa sayang.
Andaikan malam ini dia di sini. Berdua denganku. Memadu asmara.
Ah,.......Pandu menyudahi acara menonton tv. Sudah nggak tertarik lagi. Dia ingin tertidur dan memimpikan sang pujaan hati.
__ADS_1