
Pemandangan lapangan bola di dekat pabrik sore itu cukup ramai. Ada dua puluhan anak berusia lima hingga sepuluh tahun berkumpul di sana. Beberapa orangtua juga duduk di bawah pohon di sisi kiri lapangan, menunggui anak- anak mereka.
Matahari masih terik di pukul setengah empat sore ini.
"Ayo. Ayo tingkatkan semangat kalian...." teriak Kang Jamil di lapangan.
Sesi pertama latihan fisik dan kebugaran. Anak anak berlari beberapa putaran untuk pemanasan. Setelah itu melakukan senam ringan. Berbagai gerakan untuk melatih otot dan kelenturan badan. Lanjut latihan mendribling bola, menggiring bola secara zig zag serta shooting bola ke gawang.
Laras meletakkan beberapa bola cadangan di kantung berbentuk jala di sisi tiang gawang. Setelah itu mulai melatih lima anak untuk kegiatan tendangan bebas dan pinalti.
Satu jam berlalu, mereka break istirahat. Mencari tempat yang agak rindang. Kang Jamil memberi pengarahan dan motivasi pada anak anak yang dia latih.
Sesi kedua adalah latihan dengan pertandingan. Meski jumlah tiap tim masing-masing tak sampai sebelas orang. Untuk membedakan dua tim, tim satu yaitu delapan anak diberi rompi hijau muda. Tim lawan tidak.
Pluit tanda dimulainya pertandingan nyaring terdengar. Kang Jamil merangkap menjadi wasit. Dia ikut berlari ke mana pun arah bola ditendang para pemain.
Penonton yang makin sore semakin banyak terdengar bersorak sorai di pinggir lapangan. Pemuda, orangtua dan anak- anak kecil laki dan perempuan.
Pandu memarkir mobilnya. Parkiran ada di sisi kiri lapangan. Lalu dia keluar dan berjalan ke arah sisi lapangan yang berlawanan. Di sisi kanan belakang tiang gawang, terlihat Laras duduk bersila di samping beberapa anak yang berseragam dan bersepatu bola. Dia membimbing satu pemain yang hendak menggantikan posisi temannya. Laras memberi isyarat pergantian pada sang wasit.
Pandu mengamati gerak - gerik gadis itu tanpa disadari oleh yang bersangkutan.
Memakai kaos oblong putih dan celana training hijau dengan garis putih di bagian samping. Sepatu kets putih serta topi hijau tua bertuliskan bordiran " sport". Rambut diikat ekor kuda.
Ada jarak lima meteran di antara mereka. Pandu berbaur dengan beberapa penonton.
Teriakan gadis itu cukup kencang memberi semangat pada pemain. Sesekali dia berdiri dan bertepuk tangan. Lalu saat gol terjadi ber high five dengan para pemain cadangan. Toss...
Terlihat seorang pemain mendekatinya memberi isyarat minum seraya berlari ke pinggir. Laras dengan sigap membuka gelas air mineral untuknya.
Lima menit kemudian break.
Hanya kurang dari seperempat jam.
Kang Jamil tampak berbincang dengan Laras. Lelaki itu sepertinya meminta dia mengganti posisi wasit. Laras mengangguk beberapa kali. Sebelum masuk, lengan gadis itu ditepuk perlahan olehnya.
Laras berlari ke tangah lapangan. Membunyikan pluit panjang, tanda babak kedua dimulai.
Gerakan lincah gadis itu mengikuti arah bola dan para pemain, membuat Pandu kagum.
Sebuah pinalti terjadi. Ada pelanggaran depan gawang.
Gawang jebol. Penonton bertepuk tangan dan bersorak. Tampak Laras menepuk- nepuk punggung penendang bola. Kemudian mendatangi kiper yang terduduk lemas. Berbicara sejenak, memeluk dan menepuk punggungnya memberi semangat untuk melanjutkan permainan.
Hingga hampir duapuluh lima menit. Pluit panjang menandai akhir pertandingan. Skor dua lawan satu untuk kemenangan tim tanpa rompi hijau.
Para pemain berkumpul di pinggir lapangan dekat kedua pelatih. Membentuk sebuah lingkaran dan duduk. Beberapa anak menyelonjorkan kedua kaki dan beberapa sedang minum.
" Bagus anak- anak....kalian tadi menampilkan semangat yang tinggi. Ingat tetap sportif. "
Kang Jamil juga memberi tips dan teknik bermain. Beberapa kali tangannya membuat gerakan untuk mempermudah penjelasan.
" Setelah ini beristirahat dan jaga kondisi badan. Ingat pertandingan bulan depan dimulai di stadion kota. Tetap semangat!" Teriak Laras. Sejurus kemudian gadis itu minum dan menghabiskan segelas air mineral.
Semua berdiri membentuk lingkaran. Berdoa setelah mengakhiri latihan. Saling melakukan tos bersama. Lalu bubar perlahan.
"Eh, ada dokter Pandu."
"Sore, kang Jamil.......", sapa sang dokter.
Kedua lelaki itu mengobrol sejenak. Tentang latihan bola hari ini.
Saat itu Laras bersama dua anak kain sedang memunguti gelas-gelas air mineral kosong dan memasukkan ke kantong plastik merah. Seorang anak memasukkan beberapa bola yang dipakai latihan ke kantong seperti jala besar.
Hari menjelang petang. Para penonton telah bubar, hanya ada tiga orangtua yang duduk diatas masih menunggu putranya.
" Hallo Laras, " Pandu mendekati gadis itu yang sedang merapikan rompi serta sisa air mineral. Gadis itu menatapnya.
"Sudah sejak tadi?"
" Begitulah."
" Sebentar ya, aku harus meletakkan ini di mobil pick up kang Jamil."
" Mana kubantu."
Pandu mengambil dua dus air mineral yang berisi tinggal setengahnya. Sementara Laras memasukkan rompi ke tas kain besar.
Mereka berjalan bersisian menuju parkiran. Pandu menilai, Laras yang sedang berkeringat seperti ini malah lebih seksi terlihat di matanya.
Kang Jamil sedang mengobrol dengan salah seorang pemain dan orangtuanya.
" Ke sini tadi naik apa?"
" Bersama Kang Jamil."
" Nanti aku yang antar pulang."
Sampai di depan pick up Laras meletakkan semua perlengkapan di bagian bak belakang. Dia menyampaikan bahwa akan diantar pulang oleh dokter Pandu.
__ADS_1
Kang Jamil mengiyakan, mengingatkan akan rencana latihan di Minggu pagi, lusa nanti. Lalu dia pamit duluan jalan pada sang dokter dan Laras.
Pandu mengajak Laras menuju mobilnya tak jauh dari tempat itu.
" Sudah lama jadi pelatih bola?"
"Baru setahun belakangan. "
" Memang hobi main bola, ya?"
Pandu melanjutkan perbincangan seraya membukakan pintu mobilnya untuk Laras .
Laras mengangguk dan duduk di jok sebelah posisi Pandu. Dia mengambil dua helai tissu yang ada diatas dasboard, dan mulai mengelap wajah.
" Aku pernah jadi atlet futsal putri di kampus dulu."
" Oya? Hebat.. "
Pandu menghidupkan tombol air conditioner, lalu mulai menyetir mobil. Sedan itu keluar areal lapangan bola, melewati jalan tanah sejauh dua ratus meteran menuju aspal ke arah rumah Laras. Sekitar tiga kilometer jarak yang harus mereka tempuh nantinya.
" Dokter hobi olahraga apa?"
Mendapat pertanyaan tiba-tiba seperti itu membuat Pandu tersentak. Jadi malu sendiri. Dia dokter tapi tak punya hobi berolahraga. Gimana ini?
" Terus terang, aku hanya senam ringan saja di rumah."
" Oooo begitu. Hobi utamanya?"
"Berkebun."
"Hah...?"
Laras tersenyum simpul.
"Kenapa? Aneh?"
"Maaf, tidak sih."
"Kenapa senyum begitu?" Pandu menoleh ke arah Laras.
Laras terdiam. Masih menyunggingkan senyum.
"Dokter gagah begini, masa tak hobi gerak badan?"
"Aduh, terimakasih. Kamu bilang aku gagah. "
Ups....Laras menutup mulut, dia sedikit malu karena keceplosan.
" Maksud aku, sebagai seorang dokter anda pasti cukup menjaga kesehatan. "
" Tentu, aku main badminton dulu waktu sekolah menengah hingga lulus kuliah."
" Nah, itu baru benar."
Terdiam sejenak.
" Kok tahu kalau aku ada di lapangan?"
" Sejak jam tiga aku sudah telpon dua kali dan kirim pesan padamu. Tak ada respon lama, jadi aku meluncur saja ke rumahmu. Kata nenek, kamu melatih anak - anak di lapangan dekat pabrik."
" Iya, aku memang tak bawa hp. Maaf."
" Gimana dengan Budi?"
" Kata bapaknya sudah dibawa sang ibu untuk Rontgen sesuai pengantar dokter. Sekarang sedang berada di rumah kerabat mereka di kota kabupaten. "
" Baiklah, syukur sudah ditindaklanjuti."
Sampai di rumah, dokter dipersilahkan duduk di ruang tamu. Ada yang ingin dia perbincangkan dengan Laras.
Gadis itu membuatkan segelas teh manis. Meminta sang dokter untuk menunggu sebentar karena dia harus mandi serta berganti pakaian.
Tak sampai sepuluh menit, Laras terlihat lebih segar. Dress coklat bermotif bunga Daisy berwarna putih cukup manis membalut tubuhnya. Rambutnya dibiarkan tergerai. Tanpa riasan wajah seperti biasa.
" Begini, aku besok Sabtu ada tugas ke kantor dinas kesehatan di kota kabupaten. Rencana sekalian menengok Gaby."
" Akhir pekan, bukannya kantor tutup, dok?"
" Rapat setengah hari, sifatnya urgent. Pemberitahuan pun baru tadi pagi."
" Oya?"
" Laras pernah janji pada Gaby untuk memberinya tugas, kan?"
" Ehm, ya. Kalau begitu boleh aku titip buku mewarnai dan crayon. Juga buku kotak arsiran untuk belajar angka dan huruf."
" Ya, aktivitas itu setidaknya membuat Gaby teralihkan sejenak dari sakitnya."
" Baiklah, tunggu ya dok. Aku ambilkan bukunya."
__ADS_1
Laras masuk ke dalam. Tak lama muncul kembali dengan goddiebag kecil berwarna hitam.
" Ini titip buat Gaby, tolong sampaikan salamku buatnya, ya. "
" Ya, terimakasih."
Pandu menghabiskan lagi sisa teh dari cangkir putih diatas meja.
" Ehm, sudah lama kenal Kang Jamil?"
" Iya, dia kakak tingkat waktu kuliah. Mengambil jurusan olahraga dan kini jadi guru di SD dekat sini."
" Oya? Sepertinya kalian akrab."
" Sudah seperti saudara. Dia memintaku menjadi asisten melatih anak- anak dengan serius. Kalau dulu hanya ikut-ikutan. Malah sudah dua bulan ini, dia juga mengajari aku menyetir mobil."
" Berarti dia sering kemari?"
" Benar, sering bantu - bantu memperbaiki rumah atau mengantar nenek membeli keperluan toko di pasar.
" Sedekat itu?"
" Iya, tetangga juga. "
" Dia asli orang sini?"
" Tidak, keluarganya dari Jawa Barat, sudah lama merantau ke sini. Dulu sang ayah juga kerja di pabrik."
"Dia sudah menikah?"
" Belum. Memang kenapa, dok?"
Laras merasa Pandu seperti sedang menginterogasinya.
Pandu pun sedikit heran dengan dirinya. Kenapa banyak bertanya pada Laras masalah si Jamil itu. Ada apa ini?
" Sekedar ingin tahu saja. Ehm sepertinya aku harus pulang dulu. Sudah malam, tolong pamitkan pada nenek, ya."
" Baik, hati hati di jalan, dok!"
Sepanjang perjalanan pulang, Pandu sedikit melamun. Dia merasa mulai suka dengan gadis bernama Laras itu. Kepolosan dia. Tidak jaga image. Juga kebaikan hatinya, tentu. Wajahnya juga cukup manis. Tubuhnya yang bugar serta langsing.
Memang Laras tidak se glowing para gadis teman kuliahnya dulu. Pun tak modis dan trendy layaknya gadis - gadis kota. Ataupun tak genit seperti dua suster muda di puskesmas.
Sebagai lelaki muda yang normal, wajar jika dia suka pada gadis unik seperti Laras. Di usia duapuluh delapan tahun ini, Pandu pun belum memiliki seseorang yang special. Alias masih jomblo.
Walau Pandu sangat menikmati kesendirian di tengah perjuangan kemandirian, terkadang hasrat untuk memiliki kekasih juga muncul. Cuma saat ini belum ada yang cocok di hati.
Terkenang dulu Pandu pernah menjalin kasih dengan teman kuliahnya. Elena, sebuah kisah lama yang tragis.
Mereka menjalani status sebagai pacar hingga setahun lebih.
Lebih empat tahun sudah kisah itu berlalu. Tak berlanjut karena beda prinsip. Kini sang mantan, kabarnya telah menikah dan memiliki anak.
Dari cerita sang nenek, sepertinya Laras belum memiliki pacar. Lalu, kang Jamil itu?
"Ah, Laras, Laras....., " gumam Pandu seraya senyum sendiri.
Hingga sampai di rumah dinasnya, pikiran tentang Laras tak mau menepi pula. Sampai- sampai terbawa dalam tidur malam.
Pandu bermimpi menjadi pemain bola yang dilatih Laras. Saat mencetak gol, dia mendapat pelukan sang pelatih dengan hangat.
Ada saja.......
" Uhhh, sial hanya bunga tidur, " lirih Pandu. Sudah hampir jam enam pagi, keesokan harinya.
Pandu menyiapkan diri untuk berangkat ke kota kabupaten. Rapat pukul delapan tigapuluh pagi.
Setelah mandi dan sarapan dua lapis roti tawar dilapisi selai kacang serta segelas air putih hangat, lelaki itu siap berangkat.
Dia menyempatkan diri memeriksa titipan Laras buat si kecil Gaby. Sebuah buku mewarnai. Pandu membolak- balik buku kecil itu. Berisi gambar- gambar binatang dalam bentuk arsiran. Hingga halaman terakhir.
" Apa ini?"
Pandu mengambil sobekan kertas kecil yang terselip diantara banyak halaman. Tulisan diatasnya membuatnya penasaran.
(" Dalam rinai hujan kutitip rindu buatmu. Dalam gulitanya malam, senandungmu menghiburku. Pesona dirimu membuatku takluk... L and J, 5-9).
" Dasar Laras, beruntung sobekan kertas ini kutemukan. Kalau tidak, gimana jadinya kalau dibaca papa mama Gaby?"
Pandu membatin, L and J. Apakah Laras dan Jamil??
Deg, desiran rasa membanjiri dada Pandu.
Lelaki itu akhirnya memeriksa buku satu nya. Buku kotak untuk latihan menulis angka dan huruf. Berkali kali dia membolak balik halaman demi halaman.
" Ehm, tak ada apa- apa, " batinnya.
Pukul tujuh lebih, Pandu telah memacu mobilnya menuju kota.
__ADS_1