Konstelasi Cinta

Konstelasi Cinta
Bab 40. Skenario


__ADS_3

Berawal dari telepon Pram semalam, sang kakak penasaran. Bagaimana situasi rumah di Jakarta. Benarkah kondusif menurut sang adik?


Pandu ingin menelpon mama, tapi setelah dia renungkan biarlah semua informasi berasal satu pintu dari Pram dulu. Toh itu masalah dia. Walau sebagai saudara kandung dia tetap harus peduli. Bagi Pandu, dia lebih baik dalam posisi wait and see.


Menjelang pukul delapan Pandu sudah beritual. Menelpon dan mengucapkan selamat tidur pada Laras. Tak lupa. I love you.


Ketika hendak tidur, sang ibunda menghubunginya.


Sebuah percakapan video call dengan mama sungguh mengejutkannya.


"Nak, posisi papa sangatlah berat. Harus berhadapan dengan dua keluarga yang sudah bersahabat dengan keluarga kita sejak dulu."


"Hem, bukankah Bella bersikap sangat baik dan terbuka?"


"Benar. Itu dia sebagai pribadi. Lalu apa orangtua Bella bisa menerima? Mereka bahkan sudah merencanakan pertunangan putrinya dengan adikmu."


"Bella bisa menghadapi kenyataan bahwa Pram dituntut bertanggungjawab terhadap kondisi Sandra. Bukankah lebih mudah lagi memberi pengertian orangtuanya buat membatalkan rencana itu?"


"Itu teorinya. Kenyataannya Bella tak sanggup untuk mengatakan hal sesungguhnya. Mamanya barusan usai by pass jantung."


"Begini, ma. Pertunangan mungkin ditunda atau bahkan tak akan pernah terjadi. Keputusan menunggu semua masalah ini jelas? "


"Maksudmu?"


"Apa Pram sudah menyampaikan rencana dia pribadi?"


"Rencana apa?"


Pandu terpekur. Apa sang adik tidak atau belum menyampaikan bahwa akan menunggu tes DNA dulu, setelah itu baru ambil keputusan?


"Coba aku nanti hubungi Pram. Mama dan papa agar punya pandangan sejalan dengan dia menyelesaikan masalah ini."


"Pandu sudah katakan saja yang Pram rencanakan itu. Apa yang kamu tahu?"


"Ma, maaf kita ambil hikmah dari semua ini. Pram harus berani bersikap. Jangan hanya bicara. Jauh lebih baik dia sendiri yang langsung sampaikan ke mama. Kita harus mendidik dia bertanggungjawab penuh!"


"Baiklah mama akan tanyakan langsung padanya."


"Ehm ma, apa Pram sudah menemui Bella?"


"Mungkin mereka sudah saling kontak. Bella sedang ke Surabaya buat survey lokasi. Dia dengan kerabatnya ada rencana buat medical store di sebuah mall baru."


"Hebat dia, toko keduanya sudah opening?"


"Pre launching. Gadis itu punya naluri bisnis yang bagus!"


Pandu terdiam. Bella sepertinya tak terpengaruh goncangan masalah ini. Kenapa Pram belum mengupdate cerita.


"Pandu, maaf ini mama harus katakan padamu. Sebuah harapan papa."


"Tentang apa?"


"Hem.....ini mungkin terdengar egois. Tapi coba kamu pertimbangkan. Semua opsi memang harus kita bicarakan..."


Terdengar suara mama terhenti. Hanya helaan nafas panjang.


"Ada apa ma?"


"Mama minta maaf. Sebenarnya mama juga sudah sampaikan pada papamu tentang Laras?"


"Ohh, itu ma."


"Sebentar....Bukan itu masalahnya."


Mama berbicara berputar-putar membuat di sulung jadi bingung.


"Pandu....sehubungan ada persoalan Pram dan Sandra, semua rencana berubah total. Bisakah kamu menggantikan posisi Pram untuk bertunangan dengan Bella?"


Perkataan mama membuat putra pertamanya itu tersentak. Tak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.


Apa tidak salah?


"Maksud mama apa?"


"Sekali lagi mama minta maaf. Papa sudah mama beri pengertian. Tetapi kamu tahu kan bagaimana papamu itu? Dia memaksa mama menyampaikan bahwa pertunangan ini harus tetap dilaksanakan. Papamu dan papa Bella sudah mengikrarkan janji sejak lama. Mereka bertekad akan melanjutkan persahabatan dengan menjodohkan salah satu putra atau putri mereka untuk menyambung persaudaraan. "


Pandu mendadak bergetar.


"Kamu dan Bella! Ya kalian berdua akan bertunangan!"


"Apa aku tidak salah dengar? Tidak keliru menangkap pembicaraan ini?"


"Mama......ehm..minta maaf!"


"Ma, mama sudah pernah tahu Laras kan?"


"Iya...."


"Aku tidak akan dan tidak mau melakukan rencana papa! Aku mencintai Laras!" Aku tak mau dikorbankan. Apa Pram dan Bella juga sudah tahu hal ini?"


Nada suara Pandu meninggi.


"Maaf ma kali ini aku tak bisa memenuhi harapan papa!"


Mama tercekat. Diam seribu bahasa. Wajahnya terlihat muram. Sudah menduga reaksi si sulung. Mama juga sepertinya akan tahu respon putra keduanya.


Sesungguhnya dia mampu mengerti sang putra sulung. Dia pun telah memberi pemahaman pada sang suami bahwa Pandu sudah memiliki kekasih. Namun apa kata papa dari anak-anaknya cukup membuatnya berada di posisi tersudut. Masih teringat pertengkaran kemarin dengan suaminya itu.


"Ma, kita sudah berjanji pada papa Bella. Tidakkah ini saatnya membayar hutang budi atas kebaikan mereka? Rencana pertunangan sudah diumumkan diantara kerabat mereka. Jangan sampai mereka malu karena kita. Apa salahnya Pandu berkorban? Mumpung dia belum begitu mendalam berpacaran dengan gadis setempat. Toh tak mungkin juga dia akan memilih Sandra saat ini?"

__ADS_1


"Papa, kita akan menjadi orangtua egois!"


"Alah...Apa hebatnya kekasih Pandu itu. Coba, coba kamu renungkan ma. Bukankah masa depan anak kita jauh lebih baik jika menikah dengan Bella dan juga Sandra ?"


"Pa, ini tentang perasaan. Tak bisa dipaksakan!"


"Kalau begitu, ditukar lagi. Bukankah Pandu pernah menyukai Sandra dulu? Biar dia yang mengakui janin yang dikandung gadis itu sedang Pram lanjut bertunangan dengan Bella. Ku kira malah lebih simpel begitu!"


"Pa, bagaimanapun juga kita harus menanyakan mereka semua. Rencana tidak dapat dipaksakan!"


"Terserah bagaimana caramu memberitahu mereka. Ma, tugasmu meyakinkan mereka semua. Jalankan rencana ini. Kalau tidak mau dimana muka kita ditaruh? Kapan hutang budi ini mau kita bayar?"


"Papa...."


"Cepatlah. Kamu beri pengertian Pandu dan Pram. Ku kira mereka berdua yang akan menentukan, mau di bawa kemana penyelesaian masalah ini. Ku yakin Bella dan Sandra tetap akan menerima!"


Mama masih termenung.


"Ma, mama....masih disana?"


Pandu setengah berteriak demi melihat dari layar sang mama hanya diam. Terpekur dengan wajah sendu.


"Ehm, iya. Iya. Pandu maafkan mama."


"Ma, kita semua cooling down dulu. Mari membahas semua ini dengan pikiran dingin. Ketenangan buat ambil keputusan. Terbaik buat kedepannya."


"Benar.... semua ini baru pembicaraan antara papa dan mama. Juga denganmu. Yang lain belum tahu!"


Pandu meminta break. Dia harus menata hati yang bergejolak mendengar keinginan sang papa. Ini lebih tepat sebagai perintah. Mama paham situasinya.


Mereka mengakhiri video call.


Sesungguhnya Pandu tak dapat menahan diri. Ingin mengkonfirmasi semua perbincangan dengan mama tadi pada sang adik. Tetapi sekali lagi, saat direnungkan itu ranah mama papa.


Lelaki itu tak ingin reaktif. Semua masih mengambang. Tetapi yang pasti dia akan menolak keras keinginan papa.


Ada sebuah janji yang harus dia tepati. Sebuah hati yang harus dia jaga. Laras.


Tiba-tiba wajah Laras ada dihadapannya.


Aneka pertanyaan berkelindan di benak lelaki itu. Di malam yang sepi. Di kamar rumah dinasnya.


Overthinking habit's.


"Uuuh, tak dapat kubayangkan jika Larasku mengetahui rencana papa. Apalagi jika aku menyerah. Apapun alasannya. Sungguh tak termaafkan aku ini. Lelaki kejam tak punya hati. Pemberi harapan palsu. Pendusta.


"Bukankah aku pernah ingin mengajak Laras cepat menikah?"


Pandu memeluk guling. Menutup wajahnya dengan bantal. Tak mampu menutup perbincangan di kepalanya. Wajah polos sang kekasih menari-nari seolah tak mau pergi.


Sebuah memori kembali menguak realita.


Setahun lampau, cerita bergulir ketika rencana perjodohan dimulai.


Mereka dua bersaudara dikenalkan kembali ini pada Bella yang baru usai menamatkan kuliah di luar negeri. Mama lebih banyak berinisiatif. Dua putranya memang terlihat tak punya pasangan kala itu.


Saat kecil sesungguhnya Pandu dan Pram sudah kenal Bella. Walau tidak terlalu akrab. Mereka pernah menjadi tetangga. Kedua papa mereka bertugas di rumah sakit yang sama.


Papa pernah mempunyai masalah di pekerjaan. Dugaan malpraktek ketika baru bekerja sebagai ahli jantung. Keluarga pasien ingin memperkarakan. Membawa ke jalur hukum. Papa Bella sebagai dokter senior dan wakil direktur membela habis-habisan papa. Dukungan all out itu berhasil.


Keluarga pasien berasal dari kalangan atas. Pengacara keluarga pasien yang semula sangat gigih mencari celah untuk menemukan bukti, akhirnya menyerah.


Kasus tak sampai dibawa ke pengadilan. Setelah bukti dan fakta medis ditemukan. Pengacara papa Bella mewakili papa dan rumahsakit melakukan pendekatan dan negosiasi dengan keluarga pasien.


Akhirnya masalah bisa berakhir damai. Walau sempat alot dan disiarkan media. Pandu tak terlalu paham ketika itu.


Hanya masalah ini membuat rumah terasa tegang berbulan-bulan. Kalau tak salah saat itu dia masih remaja awal.


Pasien tertangani, hanya memang perlu pengobatan panjang. Konon sang pasien lansia bisa bertahan hidup hingga lima tahun setelahnya. Justru karena diagnosa papa yang memang beresiko.


Kabar terakhir pernah Pandu dengar dari mama bahwa pasien wafat oleh sebab lain. Bukan komplikasi jantung. Tetapi Alzheimer parah. Terjatuh di jalanan saat kabur dari rumahnya.


Itulah awal tekad papa untuk membalas kebaikan papa Bella. Perjodohan sang anak.


Lalu papa Bella pindah tugas ke Bandung. Hampir limabelas tahun lebih. Kini setelah pensiun, papanya kembali ke Jakarta.


Setelah beberapa kali bertemu, sang adik rupanya tertarik pada Bella. Sepertinya mereka satu frekwensi dalam hal life style.


Pandu mengenang kisah keluarga mereka.


Kini dia kembali pada apa yang harus dia hadapi saat ini.


"Apapun yang terjadi aku akan tetap bertahan dengan Laras. Meski badai menghantam. Kan kubuktikan cintaku tak main-main.Tak mungkinlah terjadi tukar guling. Masa aku harus bertunangan dengan Bella, Pram menikahi Sandra.


"Atau skenario lain aku menikah dan menerima Sandra. Sedang Pram meneruskan rencana pertunangan dengan Bella! Drama macam apa ini? Skenario kejam!"


Pandu tercengang dengan hasil olah kejadian dan perkara keluarganya jika benar rencana terpaksa di jalankan.


Sampai tengah malam semua belitan kejadian tergambar dengan jelas.


Hingga keesokan paginya. Kepala Pandu terasa pusing. Dia terbangun agak siang. Hampir jam tujuh.


"Pagi, dokter. Tumben, apa ada pasien gawat semalam?" tanya mbok Siti, yang sedang menyapu lantai.


"Nggak mbok. Aku tak bisa tidur."


Pandu bergegas mengambil segelas air hangat dan meminumnya seraya duduk di ruang tamu.


"Ada masalah dok? Ehm, baru habis malam mingguan...? Lagi marahan ?"

__ADS_1


Mbok Siti sedikit kepo demi memperhatikan bosnya terlihat lesu tak bersemangat.


"Ada sedikit masalah keluarga di Jakarta!"


"Apa mama atau papa dokter sedang sakit? Atau masalah mas Pram? Maaf lho....mbok jadi ikut campur."


Pandu yang tak dapat menahan diri terpaksa bercerita. Garis besarnya. Bahwa ada rencana perjodohan dirinya dengan gadis pilihan papa.


Tentu mbok Siti merasa ikut syok," Lho bukannya mamanya pak dokter sudah tahu kalau ada mbak Laras?"


"Itulah mbok bikin aku sulit tidur semalam. "


"Ehm, maaf bagaimana kalau pak dokter segera melamar mbak Laras saja. Siapa tahu papanya bisa mengerti...ehm maaf lho ini hanya usul mbok."


"Masalah tidak sesederhana itu mbok!"


"Oooo begitu ya dok. Mbok hanya mendoakan dokter dapat menentukan keputusan terbaik."


"Ya doakan aku, mbok!"


"Uhh, kasihan mbak Laras itu," gumam si mbok seraya berlalu menyapu teras depan.


Pandu yang mendengarnya menjadi merasa tak enak hati.


Sebuah chat sang gadis membuyarkan lamunan. Ritual pagi. Menanyakan sudah sarapan atau belum dan saling mendukung aktivitas apapun yang dilakukan hari ini. Tak lupa bertukar ungkapan I love you.


Pandu terharu. Laras kemarin sempat sedikit ngambek karena Pandu sering menyebut nama Sandra.


Tapi di sore harinya sudah ceria lagi karena sang pacar sudah minta maaf dan berjanji tak menyebut nama Sandra. Itu sesuatu yang bisa diterima. Pasti ada rasa cemburu di hatinya. Respon normal. Kalau dia di posisi Laras pun mungkin akan bersikap sama.


Siapa tak kesal jika sang pacar ketahuan peduli pada seseorang yang nyaris jadi orang special? Meski itu dulu. Ehm tapi kisah lama kini ibarat luka yang kembali menganga oleh kecelakaan tak sengaja. Masalah yang disebabkan sang adik.


Waktu terus berlalu. Pandu memutuskan mandi dan bersiap diri untuk tugas hari ini.


Di bawah guyuran air shower pikirannya melayang.


Pandu ingin bertanya pada hati nuraninya dan sejujur jujurnya pada diri sendiri.


Apakah benar tak ada sisa rasa buat Sandra? Apakah dia melakukan penolakan perjodohan memang berdasarkan atas kesadaran diri atau keinginan dan sekedar ego buat balas dendam terhadap sikap Sandra dulu....duhh.


Benarkah dia telah selesai dengan masa lalunya?


Kenapa dia jadi galau sekarang?


Jika boleh memilih sebenarnya dia tak ingin tahu apapun informasi tentang gadis dari masa silamnya itu. Namun berita putusnya pertunangan Sandra dengan Jeffry, atau peristiwa sang adik dengan Sandra justru menggugah banyak tanya.


Seberapa kuat perasaannya kini dengan Laras?


Apakah keputusan berpacaran dengan gadis sederhana itu hanya pelarian kesepian hatinya semata?


Pandu seperti menelanjangi seluruh perasaan dirinya. Kehendak, ego dan segala memori silih berganti mengambil alih logika dan emosinya kini.


Dia butuh sebuah keheningan buat merenungkan semua ini.


Selesai sarapan sepotong roti dengan selai kacang dan segelas teh susu hangat, sang dokter bergegas ke kantor depan.


Hari ini setelah tugas rutin memeriksa seorang pasien rawat inap. Juga memeriksa dan menandatangani beberapa pengajuan pembelian perlengkapan logistik rutin di setiap awal pekan. Setelahnya Pandu mulai praktek di poli umum.


Hanya ada dua pasien. Seorang remaja putri yang sakit karena menstruasi awal. Satunya lansia yang kontrol tekanan darah dan nyeri sendi. Lalu kembali menekuni beberapa laporan perawat dan administrasi serta membaca buku medis.


Pukul sepuluh lebih empat puluh, dia memutuskan kembali ke belakang beristirahat sejenak di rumah dinasnya.


"Mbok aku lapar. Sudah selesai masak?"


"Ini barusan mbok usai menghangatkan pepes yang tersimpan di kulkas. Sayur tumis kangkung dan tempe tahu bacem juga sudah siap."


Pandu baru ingat pepes titipan nenek Laras kemarin. Dinikmatinya hidangan siang ini dengan rasa syukur.


Setelahnya ada chat masuk. Dari Pram. Meminta waktu untuk menelpon.


Pandu pergi ke dalam kamar. Duduk di sisi tempat tidur. Menghubungi sang adik langsung.


"Jadi elu udah diberi tahu mama tentang skenario papa?"


Pandu mengiyakan.


"Gila.....gue bisa gila beneran kalo begini!" serunya dari seberang sana.


"Gue pengin tahu. Elu udah bicara dengan Bella?"


"Udah. Gue gak ketemu langsung, keburu dia ke Surabaya. Via telepon gue bilang sangat berterimakasih atas pengertiannya. Gue juga sampaikan menunggu tes DNA sebelum mengambil keputusan nanti. Dia seperti mengerti situasinya."


"Bella tahu tentang skenario papa?"


"Sepertinya belum. Mama ingin kita putuskan intern dulu."


"Kenapa masalah ini jadi melebar begini?"


"Gue jadi merasa bersalah pada elu juga. Ehm tentu dengan Larasmu!"


"Gini aja....elu harus bicara baik-baik pada papa mama masalah tes itu. Juga sepakati dengan pasti bersama Sandra. Sampaikan dengan ketenangan. Masalah yang lain tak perlu terburu-buru. Prioritas adalah benar meyakini dengan bukti dan fakta bahwa Sandra benar mengandung anak elu !"


"Gue pikir seperti itu juga. Biar tak ada penyesalan atau masalah baru di kemudian hari. Pragmatis. Realistis!"


"Ehm elu juga mesti sudah siapkan dua option. Jika benar tes itu valid, elu kudu menikahi Sandra. Lanjutin rencana elu. Moga Bella kembali mau menantimu menceraikan Sandra setelah lahiran. Opsi kedua jika dia bukan darah daging elu, akan lebih mudah nanti."


Pandu mengulangi kembali apa yang sang adik sampaikan kepadanya beberapa hari lalu. Rencana Pram.


"Gue akan bicara malam ini juga pada mama papa. Doakan gue, kak!"

__ADS_1


Pandu bernafas lega. Di dalam hati dia berdoa buat Pram. Juga buat semua perkara keluarga mereka kini.


__ADS_2