
Memasuki bulan Juni. Di sekolah Laras dan Bu Nur menyiapkan rapor untuk kenaikan kelas. Dua Minggu lagi.
Untuk tingkat Taman Kanak-kanak, buku laporan hasil belajar tak berisi angka atau huruf berdasarkan uji kompetensi.
Hanya katagori Sangat Baik, Baik , Cukup untuk beberapa item penilaian. Secara umum adalah segi kognitif, psiko motorik dan motorik para siswa.
Tiap item akan diuraikan lagi satu persatu dengan detail. Tetapi secara umum berisi kemampuan anak-anak dalam kegiatan hari-hari mereka di sekolah.
Khusus bagi siswa TK B, ada ijazah kelulusan mereka yang akan jadi kenangan bagi perjalanan hidup anak-anak itu.
"Persiapan hari kelulusan TK B akan kita adakan Minggu kedua mbak Laras."
"Iya, Bu. Anak-anak TK A sudah mulai menyiapkan dua lagu bersama dan sebuah tarian penyambutan oleh Sari dan Ningrum."
"Fadli mau berdeklamasi. Febian bernyanyi solo sedang Bety dan Ulfa akan menyumbangkan kemampuannya menari modern. Yang lain ikut paduan suara."
"Oya undangan ke pihak yayasan sudah sekrdaikan kan, mbak?"
"Siap Bu, besok saya akan bawa ke pak Kevin."
"Sepertinya Bu Chandra akan datang sekalian meninjau perpustakaan."
"Setelah ini kita bakal sibuk menerima penerimaan murid baru."
"Benar, Bu."
"Oya, tadi pagi papa Gaby menelpon bahwa si kecil akan mengulang di TK A. Umurnya kan memang baru lima tahun tiga bulan, akhir Juli ini. Papanya ingin Gaby agar sehat total dulu sebelum sekolah lagi."
"Hem, ya Bu. Kalau Budi tetap lanjut ke TK B."
Laras mengurai rencana dua siswanya yang tak bisa sekolah untuk waktu lama karena sakit. Gaby sejak akhir Januari sedang Budi sudah dua bulan ini absen.
Sementara itu kegiatan Pandu di puskemas juga padat. Ada bulan nasional pos yandu serta sosialisasi pencegahan stunting buat ibu hamil, bayi dan balita.
Satu lagi persiapan pencegahan DBD dengan ceramah kesehatan buat sekolah SD, SLTP serta SLTA se kecamatan. Dimulai Senin depan.
Hari ini Pandu ada rapat setelah jam makan siang buat koordinasi program itu.
Sang dokter tadi pagi masih menyempatkan diri menelpon kekasihnya.
Dia minta maaf belum dapat memenuhi janji buat melatih Laras mengemudi mobil. Juga belum bisa membuat jadwal bermain badminton. Hari ini pun dia akan ada aktivitas hingga sore ke beberapa pos yandu desa di wilayah kerjanya.
"Tapi mas Pandu coba luangkan diri buat latihan cardio ringan. Pagi atau malam juga di usahakan. Gerak badan, ya dok."
Laras mengingatkan sang pacar.
Pandu terkekeh," Baik Bu guru, mas mau luangkan waktu."
"Benar lho mas. Buat kebaikan diri sendiri, jaga mood juga bisa."
"Iya, makasih sayang."
"Sabtu, aku mau istirahat total. Ngapelin pacar setelah jam mengajarmu usai. Bila perlu ikut lari keliling empang."
"Sabtu besok aku lembur mengisi rapor anak-anak tolong jangan diganggu. Kita ketemu malam sebelum waktu makan ya. Aku juga absen latihan lari dulu. Minggu pagi ada latihan bola."
"Lha terus aku ini, kamu suruh ngapain?"
"Olahraga di rumah saja."
"Ehm, gimana kalau aku bantu mengisi rapor muridmu atau berkunjung ke TK?"
"Aduh, terimakasih. Mas istirahat dulu saja. "
"Aku kangen padamu. Kutemani menuntaskan tugasmu. "
"Ijin Bu Nur dulu. Nanti ku kabari."
"Semoga diijinkan. Mungkin aku bisa bantu mengawasi anak-anak atau membacakan cerita untuk mereka."
"Iya tunggu info dariku, mas. Siang nanti kukabari."
"Semoga boleh ya....."
"Ehm ya. Sudah ya mas, aku berangkat ke sekolah dulu."
"Hati-hati sayang."
"Iya. Makasih."
Pukul tujuh sepuluh menit. Laras telah sampai di tempatnya mengajar.
Hari Jumat pekan pertama bulan Juni.
Anak-anak sudah menuntaskan silabus kurikulum semester ini. Kegiatan diisi buat persiapan hari kenaikan kelas dan kelulusan Sabtu depan. Juga bersih-bersih sekolah.
Ada kejutan di waktu siang sebelum waktu pulang. Gaby dan sang papa datang mengunjungi sekolah. Tak ada pemberitahuan atau info kepada kedua ibu guru.
Tak pelak kedatangan gadis kecil itu menjadi pusat perhatian anak-anak yang sedang latihan buat tampil. Si kecil dan papanya masuk ke ruang guru terlebih dahulu.
"Maaf Bu ini Gaby sejak kemarin merajuk ingin ke sekolah." Sang papa memohon pengertian dua ibu guru.
Bu Nur dengan bijak berkata," Nggak apa-apa, pak. Semua murid sedang mempersiapkan acara kenaikan klas. Gaby pasti sangat rindu sekolah.
Sang papa masih berbincang dengan Bu Nur. Lebih banyak tentang kondisi sang putri untuk rencana terapi lanjutan yang harus dijalani Gaby.
"Gaby cantik mari ke sini ibu ajak melihat teman-teman latihan," Laras meraih tangan sang murid yang nampak malu.
Murid -murid sedang bernyanyi bersama. Lagu Libur Sekolah. Diawasi pak Yus.
"Gaby kamu sudah sembuh, ya?" mata Sari tak lepas mengamati wajah temannya.
Di kecil mengangguk sambil terus menggenggam tangan Bu guru.
"Halo Gaby, kok kamu lebih kurus?" Kali ini Ningrum mendekati gadis itu.
"Rambut panjang dan tebalmu sekarang jadi pendek?" Kemal melihat Gaby berubah penampilan.
"Anak- anak ayo latihan dilanjutkan. Yang tertib ya. Ini teman kita Gaby ingin turut melihat aksi kalian!"
"Iya buk.....!"
"Ayo Gaby sini duduk di samping ibu."
Gadis kecil itu menuruti perkataan ibu guru. Wajahnya terlihat lebih sumringah daripada saat baru datang.
Tarian modern anak TK B sangat lincah. Sesekali terjadi ketidakkompakan. Tawapun pecah. Anak-anak tetap pede. Tepuk tangan pun tak ketinggalan.
Paduan suara juga masih belum solid. Lagu Padamu Negeri oleh anak TK A sering tertukar liriknya.
Masih ada beberapa hari buat melatih mereka. Apa para siswa terpecah fokusnya karena semua memperhatikan Gaby yang datang tiba-tiba?
Terakhir Fadli mengumandangkan puisi berjudul Terimakasih Ibu Guru. Bocah ganteng putra bungsu Bu Ina, sang bidan paling siap buat tampil.
Sekitar empat puluh menit berlalu. Gaby dan sang papa tak lupa singgah ke ruang perpustakaan baru. Gadis kecil itu sangat senang. Beberapa kali dia mengeja huruf rangkaian dari judul buku tebal yang berjejer di rak. Kemampuannya sungguh di atas anak - anak seusianya.
Papa Gaby berjanji akan turut menyumbangkan buku cerita bergambar buat anak-anak nanti.
Pukul setengah duabelas sekolah telah sepi. Tertinggal ibu guru dan pak Yus yang bersih-bersih halaman samping.
"Mbak Laras, tolong bawa undangan untuk kenaikan klas dan perpisahan ke pabrik ya."
"Ya, baik Bu Nur."
"Untuk pembuatan panggung kecil, persewaan tenda dan kursi plastik nanti dibantu paguyuban orangtua.
"Kabarnya Bu Ina akan menambah dana konsumsi, Bu."
"Iya, dana rutin dan iuran orangtua juga sudah cukup. "
Ibu guru muda itu juga meminta ijin sang kepala sekolah karena Pandu ingin mengunjungi TK mereka besok.
Bu Nur mengijinkan. Toh besok acara olahraga dan makan bersama dan latihan anak-anak tampil.
Laras pamit duluan karena mesti ke pabrik menemui staf GA untuk undangan acara nanti.
Ibu guru itu hanya menitipkan surat ke resepsionis karena pak Kevin tugas keluar. Setelah itu meluncur pulang. Tugas mengetik dan merekap hasil penilaian sudah menunggu. Harus di kebut agar ping tidak Selasa depan sudah siap ditandatangani Bu Nur.
Tugas lain adalah menulis tangan ijazah kelulusan anak TK B. Itu karena huruf tegak bersambung Bu guru Laras sungguh indah buat terukir di lembar pengesahan kelulusan TK itu.
Sampai rumah Laras segera mengirim pesan ke Pandu. Menyatakan bahwa sang kepala sekolah mengijinkan sang dokter berkunjung ke sekolah besok.
"Makasih sayang.
__ADS_1
Ini lagi break. Rapat di dinas.
Nti plgku malam.
See you tomorrow."
Di penghujung hari sekitar pukul sembilan malam, Pandu mengirim pesan kembali. Panggilan telponnya tak dijawab. Sepertinya ponsel Laras dimatikan.
Lelaki itu membatin, "Belum beritual malam, udah tak bisa di hubungi. Apa Laras terlalu capek atau lupa. Atau ponselnya drop lagi?"
Pandu memutuskan tetap mengetik.
"Met mlm syg. udah tidur?
Hp di off. knp?
Ok. good night. sweet dream.
See you tmrow. Aku ke rmh jam setengah tujuh. I love you."
Lelaki itu melepas rindu dengan mimpikan sang gadis. Berjalan di beach walk, bergandeng tangan, tentu dengan bumbu ciuman mesra terutama bibir ranum Laras.
Sementara si gadis tertidur setelah pegal tangannya mengetik ulasan laporan hasil belajar para murid. Bermimpi tentang acara kelulusan anak-anak serta tingkah kelucuan penampilan para bocah.
Hingga besok pagi.
Laras memeriksa ponsel yang telah on. pukul setengah enam.
"Sori mas, aku ketiduran.
Hp drop. Kutunggu jam stngh tujuh.
Thx."
Benar, sebelum waktu yang dijanjikan, Pandu telah nongol. Nenek mengajak sarapan. Sepiring nasi goreng telur telah mengisi perutnya.
Sabtu memang hari libur buat Pandu. Tidak demikian dengan Laras.
"Kita bawa motor maticnya saja ya. Mobilku parkir di halaman belakang bisa kan?"
"Iya, cuma hati-hati. Banyak semak belukar di sana."
"Oke."
Setelah itu mereka berdua berangkat ke TK. Pandu membonceng Laras yang hari itu memakai seragam olahraga untuk guru. Sang pacar memakai jeans denim dark blue dan T shirt putih serta sepatu kets.
"Selamat pagi, anak-anak," sapa Bu guru begitu turun dari motor.
"Pagi buk Laras ....!"
Beberapa anak telah terlihat bermain ayunan. Kemal, Didin dan Toni. Sementara Sari dan Eni bermain jungkat jungkit.
"Eh lho kok ada pak dokter?" Tanya Kemal, yang masih mengenali Pandu.
"Hallo...."
"Ssst nama muridmu ini siapa?" bisiknya pada Laras.
"Kemal. Ingat Kemal, temannya Budi yang memanjat jambu denganmu dulu."
"Kalau Budi, aku ingat."
"Hallo, Kemal. Nanti kita manjat jambu dan mangga di rumah Bu guru lagi yuk!"
"Benar pak dokter.Zzzeitsss jangan takut semut lagi lho. Ha ha ha...."
Ketika anak-anak lain bertanya pada Kemal siapa Pandu , bocah itu menjawab bahwa dokter itu kakak Bu guru Laras.
Pandu hanya mesem seraya melirik ke Bu guru yang tertawa mendengar pernyataan si kecil Kemal.
"Ibu masuk ke ruang guru dulu. Anggap saja pak dokter Pandu ini guru kalian yang baru...."
Laras pergi meninggalkan sang kekasih yang terpaksa menjadi guru baru bagi beberapa anak itu.
Laras masih hendak menuntaskan beberapa tugas di laptopnya. Hasil rapor.
Sejumlah murid terus berdatangan. Tampak Bu Nur dan pak Yus mengajak Pandu ngobrol seraya mengawasi anak-anak yang bermain riang.
Sesekali terlihat dari jendela ruang guru, Pandu membantu anak-anak yang main plosotan. Kadang berebut naik. Di bagian jungkat jungkit keadaannya beda lagi. Tak seimbang. Tiga anak lawan dua. hingga tak mau bergerak.
Lelaki itu membatin," Berat juga jadi guru TK. Anak-anak itu baterainya gak habis-habis. Nafasku aja seperti mau putus harus memperhatikan mereka bermain."
Pandu sedikit lega ketika bel berbunyi.
Anak-anak otomatis berkumpul di tengah. Membentuk barisan. Dua bu guru mulai memimpin senam pagi.
"Gimana pak guru? " senyum Laras menggoda Pandu yang duduk di kursi sebelah ayunan dengan nafas terengah-engah.
Kala itu Bu kepala sekolah memberi contoh dan aba-aba di depan barisan. Bu Laras di belakang.
"Aduuuh, kapok aku. Capek ya jadi guru TK."
"Semua ada seninya. Nanti aku kasi tahu cara menghandle mereka."
"Kalo begini, susah juga kalau punya anak banyak."
Lirikan jahil Pandu masih sempat membuat Laras nyaris jutek buat berkomentar. Mengingat ini di sekolah, gadis itu menahan diri.
" Iya mas buatnya senang. Mendidiknya itu lho yang susah..." bisik Laras.
Pandu hanya mesem. Matanya kini tertuju ke depan. Ikut bangkit dan menirukan gaya Bu Nur.
"Kanan, kiri, depan, belakang."
Gerakan merentangkan kedua tangan dan lengan seraya meliukkan badan.
Laras meninggalkan Pandu. Dia menuju ke depan. Bergantian memimpin.
"Ayo lari di tempat!"
"Sambil bertepuk tangan."
"Satu, Dua, Tiga"
Horeeee..."
Laras memberi contoh mengibas-ibaskan tangan.
Anak-anak mengikuti, makin senang dan bersorak.
Pandu memilih menyerah. Mangamati sang pacar dari kejauhan.
Gadis sederhana, membumi dan unik.
Pandu tersenyum.
Gerakan terakhir pelemasan, setengah kayang dan mencakupkan tangan.....Namaste.
"Ayo....ayo membentuk lingkaran dan kita duduk dibawah. "
Bu Nur memberi aba-aba. Dua ibu guru duduk di tengah.
Silih berganti bercerita tentang manfaat berolahraga.
"Badan menjadi sehat, hati gembira dan jadi anak yang mudah belajar. Cerdas dan kreatif. "
Bu Nur mengakhiri sesi itu. Setelahnya anak-anak kelas sejenak buat latihan persiapan tampil seminggu depan. Kenaikan klas dan kelulusan.
Pandu memilih membantu Pak Yus. Menyiapkan mangkuk serta gelas. Bersama dua orang ibu yang baru datang dan dapat giliran membuat makanan sehat. Lontong sayur berisi potongan ayam tempe tahu berbumbu opor serta taburan daun bawang. Ehm, lezat. Minuman jeruk peras hangat.
Tiba waktu makan.
"Ayo dok, ikut. Wajib di makan. Jatah memang ada buat pendamping serta ibu guru.
"Makasih pak Yus."
Laras yang tengah memimpin anak-anak untuk berdoa sebelum makan, sempat meliriknya dan tersenyum.
Pandu membalas. Senyum manis.
Acara makan usai. Anak-anak belajar mencuci peralatan makan dari melamin berwarna warni.
"Tolong yang tertib dan bergiliran ya," pak Yus mengingatkan para bocah.
__ADS_1
"Ya....pak!"
Pandu takjub menyaksikan semua pemandangan hari ini. Tiga orang dewasa yang berusaha mendidik anak-anak dari beragam latar belakang.
Sungguh tugas tak kalah mulia. Menyiapkan generasi penerus yang terdidik untuk disiplin dan belajar berbagi. Berempati dan bersosialisasi.
Jam setengah dua belas Sekolah telah sepi. Bu Nur pamit duluan karena akan ke kota. Ada acara keluarga. Pak Yus telah selesai bersih bersih.
Laras memutuskan melanjutkan lembur di rumah saja. Tinggal dua orang anak yang belum tuntas laporan belajarnya.
"Ayo kita pulang mas."
"Ayo....!"
Pak Yus telah mengunci pagar. Lalu menaiki sepeda gayung ke arah berlawanan dengan Pandu serta Laras.
Pandu membonceng sang kekasih yang membawa ransel besar berisi laptop dan dua map. Tiba-tiba dia menghentikan motor sebelum tikungan ke arah rumah Laras.
"Tasmu taruh di sini di depan sini. Kasihan punggungmu nanti."
"Gak pa pa, mas. Udah dekat."
"Aku ingin mengajakmu keliling desa dulu. Tolong tunjukkan letak semua sekolah buat dataku penyuluhan minggu depan."
"Lha pe er ku gimana?"
"Nanti aku bantu, bila perlu menginap di rumahmu."
"Kumat nih, mas."
"Kita keliling dulu. Sudah tanganmu harus taruh di sini."
Tangan kiri Pandu memegang tangan kiri sang pacar. Menariknya agar gadis itu memeluk pinggangnya.
"Aduh nanti dilihat orang."
"Biar semua lihat bahwa Bu guru Laras pacarnya pak dokter Pandu. Bukan sodaranya.....bukan kakaknya."
Tawa pecah diantara mereka, mengingat celoteh si kecil Kemal tadi.
Lelaki itu memacu motor matic kecil milik sang gadis menjauh dari arah jalan pulang ke rumahnya.
"Mas, mas....mau kemana kita?"
Tangan kanan Laras menepuk pelan pundak Pandu.
"Udah diam, peluk saja aku. Kita keliling."
Beberapa bagian jalan yang tak rata dan berlubang membuat motor terguncang. Pandu hanya senyum senyum kecil. Ada sesuatu dari dada Laras yang membuat desiran dadanya mengeras.Beberapa kali. Adakah gadis ini juga sadar dan merasakannya?
Hormon oksitosinnya mulai mengalir.
Tetapi segera Laras mengundurkan badan. Tak menempel lagi pada punggung sang kekasih.
"Mas cari kesempatan di jalanan rusak, ya!"
"Kamu menikmatinya juga?"
"Uhhh, dasar. Awas nanti."
"Ampun Bu guru..."
Pandu malah mengerem mendadak. Sengaja tak menghindari jalan berlubang kecil di depannya. Tubuh Laras seketika jatuh kembali di punggungnya. Helm mereka saling berbenturan keras.
"Ah ...mas....! Hati-hati!"
Laras malah memukul pundak kekasihnya. Beruntung kala itu mereka melintas di tepi persawahan yang lengang.
Pandu tak dapat menghentikan tertawanya.
"Yang begini ini tak akan pernah kutemui dengan gadis lain. Apalagi di Jakarta." Batin lelaki itu.
"Itu arah ke kanan ada dua sekolah. SD negeri tiga dan SMPN dua."
"Ayo ke sana."
"Jauh mas ...." Nah kalau belok kiri, SD coach Jamil. SDN satu. Dekat rumahku SDN dua.
"Terus sekolah lain ?"
"Hanya ada tiga SD di desaku. Dua SMPN. Arah SMP satu dekat pasar."
"SMA aku lebih jauh lagi. Dekat perbatasan kabupaten tetangga. Lima kilo dari sini."
"Aku ingin ke sana."
"Kita harus berbalik arah. Dari arah bendungan terus lurus melewati sebuah lapangan bola, dan kantor desa "
"Ayo...kita come on!"
Di tengah siang yang terik mereka berdua melewati jalanan desa. Terhampar sawah, kebun tebu serta beberapa tempat berisi jagung dan sayur. Tetapi yang mendominasi adalah kelapa sawit.
Sampai depan SMAN ehmm SLTA negeri desa Kembangsari Kecamatan Jembarwangi.
Enam tahun kebelakang adalah tempat Laras menimba ilmu. Ada keceriaan masa remaja, kisah kasi di sekolah. Kejahilan teman se geng dan keakraban dengan para guru.
Siang itu sekolah telah sepi. Pintu gerbang tertutup. Para siswa telah usai ulangan akhir semester genap. Sebentar lagi kenaikan klas.
Melodi memori membanjiri hendak Laras.
"Kenapa melamun?"
"Banyak kenangan, mas."
"Termasuk dengan first love?"
"Bukan itu saja."
"Kan itu yang paling memorable."
"Yah.....terserah."
Laras melongok ke dalam dari pagar bata yang setinggi setengah tinggi badannya. Tak banyak yang berubah. Terakhir ke dalam sekolah dua tahun silam saat reunian.Meski relatif dekat, dia jarang lewat depan sekolah lamanya.
Jalur lintasan kini berbeda ke arah pusat kecamatan. Paling sering ke Unit pelaksana Teknis dinas pendidikan. Dan ehm, puskesmas.
"Ayo cukup, kita pulang. mas sudah dapat gambaran semua sekolah disini kan?"
"Tentu, makasih ya."
Pandu mempercepat laju motor. Sesungguhnya dia ingin mengorek lebih dalam kenangan sang pacar. Tapi urung. Buat apa. Nanti dia tambah tersiksa cemburu terutama pada....ehm lelaki bernama Dito itu.
Sampai rumah dipaksa nenek buat makan kembali. Walau tadi sudah terisi lontong sayur komplit. Laras dan Pandu menurutinya.
Pukul setengah dua siang.
"Asal nenek bahagia," bisik gadis itu.
Pandu mengangguk, " Enak sekali sayur urap buatan nenek."
"Ayo ditambah lagi, lho kok kalian nasinya sedikit sekali? Ini goreng ikan kembung dan sambelnya, ayooo."
Laras menjelaskan bahwa mereka tadi sudah makan di sekolah.
Nenek punya cara mencari celah" Makan lontong itu memang cepat kenyang, cepat pula laparnya. Buktikan perkataan nenek."
Pandu memaksa diri. Perutnya siang ini mungkin juga harus bekerja keras mencerna banyak makanan.
Selesai makan Laras melanjutkan pe kerjaan. Kali in ia Pandu mengetik dan Laras mendikte beberapa katagori penilaian.
Item menirukan doa yang dipimpin ibu guru. Untuk nilai spiritual.
Kemal mendapat catatan sangat baik karena walau berbadan kecil tetapi suara sangat jelas dan nyaring.
Saingan satu-satunya Budi.
Item membuat prakarya sederhana berbentuk kolase binatang.
Lainnya menirukan gerak dan lagu dari untuk kekuatan otot dan keluwesan badan.
Pandu senyum-senyum membacanya. Lebih detail dari panduan diagnostik
penyakit.
__ADS_1
Hari penuh kesan berakhir hingga pukul delapan malam. Bagi Pandu kencan sederhana hari ini membuatnya membuka mata lebih lebar. Bahwa semua pekerjaan adalah pengabdian.
Sebuah kecupan ringan di pipi kiri Laras menjadi salam perpisahan sementara.