
Pandu sedang menonton sebuah film action di stasiun televisi swasta. Selingan iklan dan promosi yang lebih banyak membuatnya sedikit tak sabar.
Sebuah chat dari sang adik barusan menyampaikan bahwa dia sudah sampe rumah. Mama papa masih pergi menghadiri undangan wedding anniversary ke -25 pasangan yang masih kerabat mereka.
Malam Minggu pukul sembilan malam. Di desa suasana jam segitu sudah lengang. Lain dengan kondisi di kota. Apalagi metropolitan.
Kehidupan malam menjanjikan surga dunia yang nyata di kota besar. Yang penting dompet harus tebal, ada niat dan kesempatan. Beragam pilihan. Begitu pula aneka godaan serta resiko di dalamnya.
Pandu teringat dengan Pramudya, sang adik. Bisa dikata dia jadi salah satu contoh riil bagaimana dunia malam terkadang begitu memabukkan.
Sebuah dering telepon dari kantor depan membuat lelaki itu mengakhiri suasana santainya. Bergegas ke ruang UGD setelah mengganti piyama dengan pakaian yang sesuai. T shirt biru dan celana denim hitam.
"Dok, pasien mengalami diare parah. Ada darah dalam BAB. Mual dan muntah. Suhu badan tinggi. Lemas karena dehidrasi," lapor Eko sang perawat jaga.
Pandu segera melakukan pemeriksaan standar. Terutama bagian perut. Berdialog sejenak dengan seorang pengantar pasien karena lelaki tua yang terbaring hanya terpejam menahan sakit. Sudah empat hari ini. Tetapi keluhan datang dan pergi. Karena sudah tak tertahankan, keluarga memaksanya ke puskesmas.
Rumah mereka di ujung desa perbatasan. Tempat terpencil. Dua puluhan kilometer dari puskesmas.
Dokter itu segera memberi perintah untuk penanganan. Infus cairan untuk tangani dehidrasi dan obat oral yang sesuai untuk pertolongan pertama. Lalu memutuskan mengevaluasi kondisi dengan meminta rawat inap.
Diagnose awal demam tifoid. Pandu juga minta sampel darah diambil buat test widal.
Puskesmas memang ada fasilitas tes darah sederhana untuk diagnosa demam berdarah dan tifus. Karena ini puskesmas percontohan. Hasil dan prestasi dari senior sebelumnya. Tugas penerusnya adalah mempertahankan bahkan meningkatkan kinerja itu.
Hampir sejam hingga pasien dipindah ke ruang perawatan. Sang dokter minta perawat agar melaporkan setelah ada hasil test.
Keluarga pasien mengurus asuransi jaminan kesehatan dari pemerintah dengan menunjukkan kartu yang dimiliki pasien.
Pandu kembali ke rumah dinasnya.
Tak berminat lagi melanjutkan menonton televisi. Dia memilih beristirahat di kamar setelah membersihkan diri. Kembali berpiyama.
Lelaki itu memeriksa ponsel. Setengah jam lalu sepertinya ada nada notifikasi pesan.
Ehm dari Laras.
"Mas, sedang apa?
Istirahat?"
Lelaki itu segera mengetik jawaban.
"Sori td msh ada pasien darurat."
Ini baru istirahat."
Boleh telpon?"
Segera terjawab.
"Chat aja ya. Nenek baru tidur."
"Ok, I Miss you."
"Baru td sore ketemu."
"Skrg kangen lagi."
"Ehm, ini aku kirim fotomu. pls comment!"
Segera terkirim foto diri sang dokter sedang memotret acara di sekolah. Laras memotret dari ponselnya.
"Uihhh, candid juga! Thx."
"Mas ganteng pake batik."
"Thx, kamu juga cantik tadi."
"Lain kali kita foto berdua pake batik."
"Ehm benar. Knp tadi gak kepikiran? "
"Krn kita fokus acara itu."
"Besok kita liat hasil foto dari kamera. Mas bawa laptop ke tempatmu."
"Nah gitu dong."
"Maunya kamu yg kesini. Tp kita hrs panen."
"Kpn kpn aku ke sana!"
"Bener? Gak kapok kan?"
"Gak."
"Siap-siap nti kucium lg!"
"Kalo bgtu gak jd kesana deh!"
"Lho? Masa aku hrs cium guling tiap hari sambil byngin kamu!"
"Ihh, mas ini. Malu dong!"
"Biarin asal hy dgnmu."
Pandu berdesir. Tawa nakalnya menghiasi wajah. Fantasinya mulai liar. Andai ada Laras disini.....
Sebuah panggilan dari UGD kembali masuk ke ponselnya. Belum diangkat.
Pandu segera mengakhiri chat.
"Sori ada telpon dari UGD. Bye. I love you.
"Iya (emotion love)."
Sang dokter menelpon balik ruang terima pasien gawat. Sang perawat jaga menyampaikan hasil tes pasien tadi secara umum. Petugas lab mengerjakan dengan status lembur. Positif tifus.
Pandu mengarahkan penanganan lebih detail. Paramedis di depan mengiyakan. Sudah paham. Sambungan telepon diakhiri.
Hampir tengah malam. Ketika hendak tertidur, Pram menelpon. Meminta vc.
"Ssst, sori gangguin elu. Barusan gue disidang. Mama papa mengajak bicara.
Pandu sudah bisa menebak. Tapi karena terlalu lelah dia hanya membalas dengan bermalasan. Posisi tiduran dan memeluk guling.
"Gimana hasilnya?"
"Lu bakal gak nyangka!"
"Kenapa emang?"
"Ternyata Sandra malah cerita lebih dulu ke Bella.."
Pandu surprise," Yang benar?"
__ADS_1
Pram berkisah. Penuturan cerita versi sang mama.
Setelah tiga hari sadar dirinya hamil, Sandra malah menemui Bella. Dengan memelas dan berderai air mata. Meminta maaf dan minta bantuan.
Bella tentu terkejut. Namun gadis itu tegar. Mendengar kronologis sang pacar yang membuat temannya berbadan dua, dia tentu kecewa berat di awal. Tapi entah bagaimana Sandra menghipnotis Bella untuk menyampaikan berita ini ke mama.
Tentulah mama bak tertimpa meteor. Nyaris pingsan. Bella malah yang memberi pengertian mama. Untuk tenang. Tidak bereaksi emosional untuk langsung mengkonfirmasi ke Pram, atau Sandra.
Bella adalah super hero. Gadis itu meminta mama buat memberi Pram dan juga Sandra, waktu dan tempat untuk berjarak dengan masalah ini. Jeda. Menurunkan tensi emosi.
Sesama perempuan yang mudah berempati, mama dan Bella membawa Sandra ke genekolog. Benar. Gadis itu positif hamil, malah sudah jalan pekan ke tujuh. Sedikit ada masalah karena konon janin terlalu kecil.
Mama meminta Sandra menjaga kandungannya.
Mama mencari cara terbaik menyampaikan ke papa. Kembali dibantu Bella. Melihat kebesaran hati Bella, papa menerima dengan lapang dada.
"Setelah itulah mama papa menyuruh aku segera kembali!"
Pram terlihat sedikit lega.
Pandu takjub. Rasa ngantuk berubah jadi penasaran. Jurus apa yang dipakai Sandra buat melunakkan hati Bella dan mama?
Perasaan Pandu tak enak. Bukan lega layaknya tersangka utama.
"Ehm gimana, udah sampaiin juga rencana elu pribadi?"
"Belum sih, gue masih lihat sikon yang berkembang. Respon Bella, mama dan papa yang sedikit kondusif membuat gue harus memilih opsi lain."
"Apa itu?"
"Menerima semua dulu, lalu mensyukuri keadaan saat ini. Setidaknya gue gak dibantai habis-habisan."
"Hanya masalah waktu, nanti elu bakalan dibantai oleh Sandra!"
"Gue nggak peduli. Sekarang gue makin sadar Bella adalah gadis yang harus gue pertahankan. Masalah dengan Sandra? Tunggu hasil tes DNA! Apapun hasilnya seperti gue sampaiin ke elu. Gue bakal jalankan rencana."
"Ehm, apa elu sudah hubungi Bella?"
"Belum. Besok pagi. Gue akan meminta maaf dan berterimakasih buat pengertian dia yang teramat besar."
"Bagus."
"Elu terlihat lelah. Udah istirahat dulu."
"Ok, ditunggu update breaking news darimu! Gue harap berita baik lagi!"
"Doain gue, kak....."
"Ya."
Pandu membatin. Tumben sang adik memanggil dia dengan "kak".
Lelaki itu teringat, masa dimana sang adik dimarahi habis-habisan oleh papa saat ketahuan beberapa kali ngebut dan balapan motor liar, ketika klas dua SMA. Sebagai kakak maka dialah yang menjadi penengah mengerem emosi papa.
Masalah saat ini jauh lebih berat tetapi reaksi papa tak mengamuk seperti dulu.
Ada apa ini?
Pandu tak mau over thinking lagi. Dia ngantuk dan ingin tidur memeluk Laras, eh....guling. Membayangkan dirinya bersama sang kekasih
Minggu pagi pukul tujuh sang dokter telah siap di rumah Laras.
"Kondisi pasien kemarin gimana?"
"Sudah membaik. Bisa dirawat. Beruntung penanganan bisa tepat."
Mereka berangkat ke lapangan bola. Sudah ada coach utama dan beberapa pemain cilik. Tak lama yang lain berdatangan silih berganti. Pandu kembali jadi penunggu barang-barang pemain di belakang gawang.
Sesekali dia mengambil potret Laras dengan pemain cilik itu.
Seperti biasa pemanasan dan latihan cardio ringan. Makin lama intensitas ditingkatkan.
Suasana yang terik di pagi hari di pertengahan Juni membuat tak banyak pengunjung yang datang.
Setelah istirahat, lanjut sesi kedua. Latihan menendang bola dari berbagai sisi daerah pertahanan. Semua pemain mencoba. Dua kiper silih berganti menjaga. Tendangan sudut menjadi tekanan.
Kreatifitas untuk membuka serangan juga dicoba. Memakai berbagai gerakan dan manuver untuk mengecoh lawan. Beberapa putaran.
Hingga pukul setengah sepuluh. Tak ada latih tanding. Lebih banyak teori dan evaluasi.
Semua sudah pulang, terakhir Laras dan Pandu pamit pada coach utama yang masih ngobrol dengan salah seorang bapak.
Sampai di mobil percakapan dimulai.
"Setelah ini, kita cari bubur yuk. Dekat pasar, tiba-tiba aku sangat lapar."
"Ayo. Mas tadi sarapan roti?"
"Iya. Tapi efek begadang kemarin masih tersisa. Jadi lapar jam segini."
"Mas kalau begadang nggak pengin makan apa gitu tengah malam?"
"Aku gak biasa. "
"Sesekali makanlah mas. Begadangmu tak bukan buat nongkrong tetapi emang urgent untuk pasien."
"Benar juga. Tapi kemarin aku tak tidur cepat juga karena telepon adikku hingga tengah malam. Kita bahas reaksi mama papa.
Pandu menceritakan semua kisah Pram. Baginya Laras bukanlah lagi orang lain. Calon istri yang mesti dia ajak berbagi cerita tentang keluarganya.
Gadis itu hanya manggut-manggut. Semoga dia mengerti. Atau malah tak habis pikir atau penasaran dengan semua yang terjadi, sama dengan sang kekasih.
"Ehm kalau aku jadi Bella bisa nggak ya bersikap seperti itu? Kayaknya belum...." kata Laras seolah pada dirinya sendiri.
"Sebenarnya wajar dan manusiawi menurutku kalau misalnya Bella marah, kecewa dan mutusin Pram!"
"Menurut mas begitu?"
"Iya. Aku sendiri amat penasaran gimana Sandra mempengaruhinya?"
"Jadi mas itu lebih menitikberatkan pada gadis bernama Sandra itu? Lebih peduli dengan dia?" tanya Laras.
Nada kecemburuan terdengar dalam perkataan sang pacar.
"Ehm bukan begitu."
"Lho tadi mas bilangnya seperti itu."
"Dua duanya, eh ketiganya termasuk Pram, mas pedulikan."
Pandu menoleh pada gadisnya. Wajahnya mulai terlihat ketidaksukaan.
"Kalau aku jadi Bella, aku putusin Pram. Bagiku itu sudah pelanggaran komitmen. Fatal. Tak bisa dimaafkan. "
Pandu terdiam.
__ADS_1
"Sudahlah kita nggak perlu bahas lagi ya. Maafkan mas."
Kali ini Laras yang diam saja. Pandu mencoba mengerti. Dia merasa sedikit bersalah melibatkan Laras. Walau hanya sebagai pendengar semata. Pasti ada gejolak emosi mengingat Sandra pernah mau dijodohkan dengan sang pacar kini.
Sampai di tempat tujuan.
"Kamu mau bubur apa?"
Laras menjawab pendek, "Kacang hijau."
"Pak, bubur kacang hijau satu dan bubur ayam komplit satu, ya. Teh hangat satu."
"Mau minum?"
"Air mineral ini saja," ujar sang gadis sambil menunjuk deretan gelas air yang berjejer di meja.
Pandu yang duduk di sebelah sang pacar menggeser diri lebih rapat ke arah sang pacar karena kursi panjang untuk empat orang itu, kedatangan dua lelaki. Remaja tanggung.
"Please jangan judes begitu, ya. Maafkan mas," bisik sang dokter.
Laras masih diam seraya segera memakan bubur yang barusan diletakkan penjual di depannya.
Selanjutnya pesanan Pandu datang.
"Ayo dik, duluan ya," lelaki itu menyapa dua remaja di sebelahnya.
"Ooh, silakan bang!"
Mereka menikmati bubur dengan saling berdiam. Tak ada percakapan.
Laras lebih dahulu menghabiskan isi mangkoknya.
"Mau nambah?"
"Nggak."
Gadis itu minum segelas air. Lalu mengambil ponsel dari saku celana panjang. Menggerakkan layar.
Pandu yang sedang menghabiskan bubur ayamnya sesekali menoleh. Lalu minum segelas teh sampai habis.
Dua remaja di sebelahnya yang juga makan bubur ayam saling ngobrol seru. Tentang tayangan motor GP semalam yang mereka lihat di tv.
Pandu mengajak Laras beranjak.
"Ayo, kita pulang!"
Lelaki itu mendatangi tukang bubur dan membayar tagihan. Mereka berjalan ke parkir mobil di sisi kanan pasar.
"Ehm mumpung dekat pasar, apa Laras mau berbelanja?"
"Nggak."
"Langsung pulang nih?"
"Ya!"
Mereka masuk ke sedan mungil putih milik Pandu. Perlahan menuju pulang.
"Please Laras.....Mas jangan dijudesin seperti itu, ya !"
"Mas......maaf ya. Boleh aku bilang sesuatu?"
"Oooo, boleh. Apa itu?"
"Aku nggak suka mas sebut-sebut nama Sandra!"
Suara Laras parau seperti menahan diri.
"Addduh mas minta maaf. Maaf, mas salah. Nggak peka. Udah nggak perlu kita bahas lagi persoalan Pram. Dia udah dewasa. Apapun keputusannya dia harus jantan berani bertanggungjawab. Capek juga denger masalahnya. Bikin bete.
Laras terdiam. Membatin," Banyak banget omongan mas Pandu.Aku cuma mau dia berjanji tak menyebut nama gadis itu."
Hening. Mobil memasuki belokan ke desa Laras.
Pandu menghentikan mobil di depan sebuah lahan kebun jambu biji. Lengang.
"Laras, mas minta maaf. Kamu mau terima permintaan maaf ini?"
Pandu meraih tangan sang kekasih. Menatap dan mendekatkan wajahnya. Tangan kirinya memegang sandaran jok tempat duduk sang pacar.
"Ehm iya. Tak perlu terlalu banyak minta maaf."
"Terus mas harus gimana?"
"Janji berhenti menyebut nama gadis itu!"
"Ya, mulai saat ini kita gak usah bahas masalah Pram. Tolong ingatkan mas ya?"
Laras menggangguk pelan.
"Nanti kita lihat hasil pemotretan kemarin ya, sudah mas pindahin data ke laptop."
"Iya."
Sampai rumah. Pukul sebelas lebih. Nenek masih sibuk di dapur. Memasak menu makan siang dan ehm katanya membuat lauk buat calon cucu mantu. Pepes ikan mujair. Buat dibawa pulang ke rumah dinas.
"Tuh mas sudah di sogok nenek bakal diajak panen pisang setelah makan nanti."
Laras udah kembali banyak omong. Pandu senang.
"Itu karena nenek sayang sama mas..."
"Uhh ...."
"Nih coba kita lihat hasil pemotretan kemarin.
Mereka mengamati layar laptop. Hasil foto lumayan. Beberapa sedikit buram terutama jepretan benda bergerak. Fokus nggak pas
"Ini foto Fadli berdeklamasi dan paduan suara seperti ya harus di cetak, " ujar Laras.
"Mas nanti juga cetak fotomu de belakang tiang mikrofon. Manis saat tertawa lebar ," Pandu menabahkan.
Laras kembali mengingatkan " Hem, hasil foto bersama bisa dicetak beberapa kali. Buat ditempel di ruang guru."
"Kita print ukuran besar saja."
"Benar. Aku teringat tahun lalu ada orangtua murid yang sudah lulus membawa kamera digital sederhana. Memberi kenang-kenangan ke sekolah sekaligus bingkainya."
Pandu mendengar perkataan sang gadis. Di hatinya bertekad akan serius belajar fotografi. Biar tahun depan masih bisa membantu mendokumentasikan acara penting sekolah itu.
Ehm, satu lagi supaya bisa terus mengabadikan kenangan dengan sang pacar tentu.
Lelaki itu senyum-senyum sendiri. Kadang sang adik memang jauh lebih kreatif dan keren menang dari dia salam urusan beginian.
Sore hari nenek mengajak panen pisang. Suami bik Jum juga datang. Hampir limabelasan tandan pisang. Separuh dibagi-bagi dan sisanya dijual pada pedagang pengepul. Nenek setuju. Ada tambahan modal buat toko. Meski tak seberapa.
__ADS_1
Pandu dapat juga. Dua sisir pisang hijau. Satu sisir untuk dirinya dan satunya diberikan perawat jaga.