Konstelasi Cinta

Konstelasi Cinta
Bab 3. Donor darah


__ADS_3

Dua lelaki tampak turun dan bergegas masuk. Setelah mengenalkan diri, keduanya segera bertindak.


Dokter Pandu mengeluarkan stetoskop. Pak Leo, sang perawat mengambil termometer. Setelah memeriksa kondisi Gaby, dokter itu menelepon mama sang gadis kecil itu.


Lelaki berjas putih itu memberitahu keadaan Gaby dan minta ijin dirawat di Puskesmas dulu.


Gaby mulai menangis dan tak ingin lepas dari pelukan ibu gurunya.


Bu Nur menugaskan Laras untuk menemani Gaby di dalam ambulans sementara dia akan menyusul nanti dengan motor ke puskesmas. Mereka akan bertemu mama Gaby disana.


" Baiklah ibu guru ikut kami," suara tegas dokter Pandu menatap Laras.


Laras menggendong Gaby sampai masuk ke dalam ambulans. Gadis kecil itu terus memeluknya. Dia tak mau dibaringkan di dipan yang tersedia. Air matanya tetap meleleh.


Dokter Pandu duduk di bangku yang berhadapan di depan Laras dan Gaby. Matanya tak henti menatap ke arah si kecil, sesekali meraba dahinya. Demam. Suhu tinggi.


Laras hanya terdiam. Suhu badan Gaby yang tinggi sangat dia rasakan karena dekapan gadis kecil itu sejak tadi. Sepertinya Gaby tertidur lagi karena lemas.


Jalan tanah yang menghubungkan sekolah dan bagian depan kantor riset di perkebunan itu sedikit becek. Mobil berjalan perlahan. Hampir limabelas menit berlalu.


" Ibu Guru, sudah lama mengajar disini?" tanya dokter itu, sesaat keadaan telah tenang.


Jalan mulai memasuki aspal, menuju ke luar areal perkebunan. Mobil mulai bergerak lebih cepat.


" Baru dua tahun, pak."


" Hem, guru kelas Gaby?"


" "Iya, benar.'


" Maaf apa boleh tahu, sebenarnya Gaby sakit apa?"


" Kami sedang mengevaluasi. Pemeriksaan awal mengindikasikan ada kelainan darah. Sebetulnya Gaby harus beristirahat total."


" Aduh, apa ini salah kami ya?"


" Maksud ibu guru?"


" Kemarin siang, saya dan teman Gaby menjenguk dia. Gaby ngotot ingin sekolah karena sudah empat hari tak masuk. Katanya letih juga bosan...."


" Ehm....bukan salah ibu tentu."


" Tapi karena Gaby sekarang seperti ini, saya jadi sedih dan merasa bersalah. Saya kira dia sudah membaik. Kemarin terlihat sudah agak sehat."


" Gaby anak yang kuat, pasti cepat pulih...." kata dokter itu, menenangkan.


Terdiam dan hening sejenak. Mobil memasuki gerbang puskesmas.


" Ehm, ibu guru, maaf ibu namanya siapa?"


" Larasati."


Mobil terhenti. Pak Leo membuka pintu belakang ambulan.


" Ibu guru Larasati, biar saya yang membawa Gaby ya," dokter Pandu segera meraih badan si kecil Gaby, dari dekapan Laras. Lalu membopongnya masuk ke dalam. Menuju Ruang pemeriksaan. Laras dan pak Leo mengikuti dari belakang.


Gadis itu dibaringkan di bed ruang periksa unit gawat darurat. Dia sempat terbangun dari tidurnya. Tangannya tak lepas memegang jemari sang ibu guru. Mata gadis itu masih sembab. Sejurus kemudian matanya terlelap kembali.


Dokter Pandu kembali memeriksa Gaby disertai seorang perawat perempuan setengah baya.


Laras diminta membuka sepatu dan kaos kaki Gaby.


" Ibu Guru, tolong didampingi Gaby dulu ya. Kami sedang menyiapkan treatment medis untuknya. Mama Gaby sebentar lagi datang," kata dokter Pandu, lembut. Tatapannya beralih bergantian ke arah Gaby dan gurunya.


" Iya, pak dokter."


" Terimakasih, saya diskusi dengan perawat dulu."


Dokter Pandu berjalan ke luar. Sebelumnya, lelaki muda itu menyempatkan merekam gambaran ibu guru di benaknya. Wajah oval, nyaris tanpa riasan, dengan rambut mungkin sebahu, diikat ekor kuda. Memakai blus batik dengan motif bunga-bunga kecil dan celana panjang hitam. Alas kaki flat shoes coklat. Penampilan sederhana namun cukup manis.


Laras masih memandangi Gaby yang masih terlihat lemas dan terbaring.


Ada tiga bed berjejer di ruang besar itu yang dibatasi oleh gorden melingkar. Siang itu hanya ada Gaby terbaring di bagian paling depan.


" Bu guru...., Gaby mau pulang. Gaby takut. ... Sakiiit Bu .....tulang kaki Gaby."

__ADS_1


" Gaby, Gaby, ibu guru temani disini. Sebentar lagi mama datang. Gaby sabar, ya."


" Nggak mau, Gaby mau papa......"


Tak lama kemudian dokter Pandu telah kembali. Kali ini sepertinya dengan mama Gaby. Seorang ibu dengan dandanan modis yang cantik. Tubuhnya agak berisi. Rambut layer sebahu di cat coklat. Garis wajahnya yang bulat persis sang putri.


" Aduh, Gaby sayang ....."


Diraihnya tubuh Gaby. Diciumnya wajah si mungil.


Sementara Gaby melepaskan pegangan tangannya dari jemari Bu guru.


" Mama ......Gaby mau papa."


" Iya, iya....papa sebentar lagi datang.


" Bu Dewi, ini ibu guru Gaby....." Dokter Pandu mengenalkan Laras.


Sejenak mama Gaby mengalihkan pandangan pada Laras. Senyum tipis.


Bu guru itu mengangguk ke arah mama Gaby.


"Terimakasih, Bu guru. Silahkan ibu boleh tinggalkan kami. Saya yang akan menemani Gaby," katanya, datar.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi. Gaby, ibu pamit dulu. Mama sudah disini. Cepat pulih ya. Gaby harus tetap semangat," Laras menoleh lembut ke arah gadis kecil itu dan mengelus elus lengan Gaby dengan perlahan.


Sebuah senyum membulat di wajah Gaby.


Laras permisi dan mengangguk hormat pada dokter Pandu dan mama Gaby. Sejenak mereka bersitatap.


Bu Nur ternyata telah menunggu di depan ruang periksa. Terlihat mengobrol dengan Bu Ina, ibu anak didik mereka yang menjadi bidan dan bertugas di puskesmas itu. Sejurus kemudian mereka bertiga telah terlibat dalam percakapan tentang Gaby. Juga keadaan anak - anak lain secara umum di sekolah. Laras juga mengutarakan rencana dan jadwal pemberian makanan bergizi buat murid murid.


" Saya usul tiap Rabu dengan makanan lengkap, Jumat mungkin susu dan snack atau bubur kacang hijau. Bagaimana Bu?" tanya Bu Ina.


"Setuju, Bu." Laras tersenyum, menjawab.


" Nanti rencana menu serta biaya akan kami buat dengan ibu ibu lain. Saya diskusikan dulu ya, Bu guru."


"Terimakasih lho Bu Ina."


" Sama sama Bu Nur dan Bu Laras."


Perbincangan berakhir karena telah hampir pukul dua siang. Perut Laras mulai bergejolak. Bu Nur pun demikian. Mereka sepakat mampir ke warung bakso seberang puskesmas. Tak seberapa lama dua porsi bakso ayam komplit plus lontong telah tersaji. Tak lupa dua gelas jeruk hangat menemaninya.


Setelah itu kedua ibu guru kembali ke sekolah untuk mengambil motor Laras. Bu Nur membonceng yuniornya melaju sepanjang tigapuluh menit ke arah dalam perkebunan.


Keesokan harinya, sekolah berlangsung seperti biasa. Hari Sabtu adalah hari yang menyenangkan. Olahraga bersama diisi dengan senam sehat ala anak Taman Kanak kanak. Lalu setelah istirahat minum, akan ada pelajaran menari dan menyanyi. Klas A dan B saling berbaur. Semua tas mereka diletakkan dengan rapi dekat aula depan ruang guru.


" Ayo anak anak perempuan belajar menari dengan Bu Nur," seru guru senior, berjalan ke klas B.


Para gadis kecil itu membentuk lingkaran. Ada sepuluh anak menirukan gerakan tari piring yang dicontohkan Bu Nur. Mereka mengulang beberapa gerakan berkali kali. Terdengar riuh rendah tawa ketika terjadi sedikit kesalahan gerakan.


" Anak laki-laki mari belajar bernyanyi dalam paduan suara," teriak Bu Laras menuju klas A.


Segera terbentuk dua baris. klas A di depan dan sang kakak klas di bagian belakang. Dua belas bocah lelaki memperhatikan Bu Laras menggerakkan tangan memimpin nyanyian.


Dua lagu nasional dan sebuah lagu daerah berkumandang dengan nada yang belum kompak. Sesekali tawa pecah diantara mereka.


Waktu istirahat pun lebih panjang di hari terakhir tiap pekannya. Sebelum pulang, anak anak diharuskan ikut bersih bersih. Mereka akan dibagi beberapa kelompok terdiri dua sampai tiga anak.


Ada yang bertugas menyapu ruang kelas, halaman, membersihkan kaca jendela kelas, me lap meja kursi hingga mencabuti ilalang dan rumput liar di taman kecil pojok gerbang. Menyiram tanaman bunga di beberapa pot yang berjejer daru depan ruang guru, di koridor kelas sampai di depan dua toilet di belakang. Mereka melakukan dengan riang.


Ponsel Bu Laras bergetar. Mode itu memang dipakai jika kelas sedang berlangsung. Bu guru itu merogoh saku celana training yang dipakainya.


Sebuah pesan singkat dari Bu Ina.


" Met siang, Bu. Mohon hubungi saya segera. Ada berita tentang kondisi Gaby."


Laras menemui Bu Nur dan menyampaikan pesan itu. Lalu segera menelpon Bu Ina di ruang guru.


" Anak- anak beristirahat dulu ya. Boleh ambil bekal masing masing. Ingat cuci tangan dulu. Berbaris dan tertib ya," kata Bu Nur, mengingatkan.


Bu Nur dan Pak Yus mengawasi aktivitas anak- anak.


Dari percakapan via telpon dengan Bu Ina, disampaikan bahwa Gaby, dirawat inap sementara di puskesmas. Dia mendapat infus untuk menangani kondisinya yang drop karena tak mau makan.

__ADS_1


" Hasil tes darah sedang berlangsung. Sudah dibawa ke lab di kota kabupaten."


" Oya, Bu apakah kami bisa menengoknya nanti?" tanya Laras.


" Jangan dulu, Bu. Gaby harus benar benar istirahat. Tadi pagi dia juga sempat mimisan kembali. Tekanan darahnya pun sedikit menurun."


" Apa diagnosis awalnya, Bu?"


" Seperti yang dokter Pandu bilang kemungkinan kelainan darah. Perlu tes lebih lengkap. Jika ada bukti kuat seperti itu akan dirujuk ke rumah sakit di kota."


" Setelah jam satu siang nanti akan ada hasil lab awal."


" Semoga tidak parah ya, Bu."


" Kita bersama doakan ya. Yang jelas Gaby akan butuh waktu lama istirahat."


Laras kembali ke aula. Berbincang dengan Bu Nur tentang kabar barusan. Mereka mengobrol sembari mengawasi anak anak yang duduk melingkar, lesehan di lantai menikmati bekal mereka.


Setengah jam berlalu. Sampai sudah di akhir jam sekolah. Semua sudah bersiap untuk pulang. Menyanyi lagu wajib perpisahan untuk bertemu lagi di hari Senin depan.


Sebuah pesan masuk ke ponsel Laras. Sebuah nomor asing.


"Siang. Saya dr. Pandu."


"Gaby perlu donor darah. Info Bu Ina, gol. darah anda sesuai. Mohon bantuan kehadiran ibu di puskesmas."


" Thx."


Segera Laras menyampaikan hal itu kepada Bu Nur. Bergegas dua ibu guru itu meluncur ke puskesmas. Kali ini Laras membonceng Bu Nur memakai motor matic miliknya.


Laras dan Bu Nur segera menuju meja dokter jaga. Ada seorang perawat perempuan disana.


Laras menyampaikan maksud kedatangannya.


" Mari kita periksa dulu kondisi ibu guru."


Sambil menulis form yang berisi data kesehatan Laras, perawat itu bertutur bahwa mama Gaby memiliki darah B. Papa Gaby sebenarnya juga bergolongan darah O tetapi setelah diperiksa ternyata tekanan darahnya cukup tinggi.


Sejurus kemudian tekanan darah Laras diperiksa. Hasilnya normal. Sehat. Usia. dan berat badan juga sesuai kriteria untuk dapat menjadi donor.


"Mungkin Bu Ina tahu golongan darah mbak saat pemeriksaan rutin ke sekolah empat bulan lalu, ya," Bu Nur berusaha mengingatkan.


" Benar, Bu."


"Kan setelah itu, sebulan kemudian nak Selma, keponakan Bu Ina juga kena DBD. Kondisinya cukup parah. Mbak Laras juga membantu menyumbangkan darah untuknya."


" Iya, " Laras menjawab sambil membaca form yang telah diisi tadi serta menandatangani persetujuan secara pribadi.


"Lebih spesifik lagi Rhesus yang diperlukan adalah O negatif. Beruntung info Bu Ina sangat cepat mengatakan ibu guru Larasati adalah donor yang paling kompatible," lanjut sang perawat.


Dokter Pandu yang berdiri tak jauh dari mereka mendengar semua percakapan di depannya.


" Maaf kami mengganggu aktivitas ibu guru di sekolah," ujarnya seraya mendekat dan berdiri di sambil meja.


" Tidak apa apa. Ini urgent jadi kami bergegas kemari," jawab Bu Nur.


Laras yang telah selesai dengan urusan admin, sejenak menoleh ke arah sang dokter dan mengangguk hormat.


Sang perawat mengajak Laras ke satu ruangan untuk beristirahat sejenak sebelum darahnya diambil. Mereka beranjak melangkah ke ruangan di dalam.


Sementara dokter Pandu mengobrol dengan Bu Nur. Ibu guru itu menanyakan keberadaan sang bidan.


" Bu Ina ada di ruang bersalin. Sepertinya hari ini akan sibuk karena ada dua calon ibu muda yang bakal melahirkan."


" Oya? Bakalan menginap ibu bidan kita nanti."


" Kemungkinan iya. Satunya sudah pembukaan empat, yang satu masih kontraksi," jelas sang dokter.


" Ehm, maaf apa pak dokter baru bertugas di sini? Sepertinya hampir setahun lalu seingat saya masih ada dokter Cahyani?"


" Betul, Bu. Beliau senior saya. Sekarang kembali ke kota sambil kuliah lagi, ambil spesialis THT."


Percakapan beralih pada kondisi Gaby. Dokter Pandu menyampaikan kemungkinan besok atau Senin lusa gadis kecil itu akan dirujuk ke rumah sakit di kota. Untuk pemeriksaan menyeluruh. Karena hari ini dan besok sang papa masih sangat sibuk menghandle tamu kantor pusat.


Ternyata sudah enam bulan ini kesehatan Gaby seperti ini. Naik turun. Namun karena tubuhnya cukup cepat pulih, keluarganya hanya mengira kelelahan biasa. Konon sewaktu tinggal di ibukota propinsi Gaby sangat banyak aktivitas. Selain sekolah, ada les biola, les balet hingga les bahasa Inggris dan matematika.

__ADS_1


Bu Nur hanya terdiam mendengar cerita dari dokter Pandu. Dirinya hanya membatin, " Duh, kasihan Gaby....."


__ADS_2