Konstelasi Cinta

Konstelasi Cinta
Bab 17. Perjodohan


__ADS_3

Pandu tiba di rumah sekitar pukul satu siang. Mama menyambutnya dengan peluk cium. Hampir tujuh bulan sudah mereka tak bertemu langsung. Semenjak Pandu mulai bertugas di sebuah puskesmas nun jauh di seberang pulau.


Sang papa saat itu kerja sementara adiknya, Pram masih di kampus. Mama sengaja cuti sehari untuk menunggu si sulung pulang.


"Ayo makan dulu. Mama dan si mbok sudah siapkan menu favoritmu. Ayam goreng mentega dan capcay seafood."


" Makasih ma. Pandu ganti pakaian dulu ke kamar."


"Mama tunggu di ruang makan ya."


Pandu menaiki tangga menuju kamar pribadinya di lantai dua.


Ruangan berukuran enam kali lima meter dengan toilet di dalam, yang telah dihuni sejak masa remaja masih tetap sama. Hanya cat tembok yang dulu berwarna biru muda kini berganti coklat muda.


Dari pintu samping kamar terlihat pemandangan kolam renang dan taman di halaman belakang.


Setelah membersihkan diri lalu berganti pakaian santai, Pandu turun untuk makan siang dengan mama.


"Kamu tampak agak kurusan. Apa berat pekerjaanmu disana?"


" Masa aku kurusan?"


"Iya, nanti coba kita timbang badan."


" Pekerjaan disana tidak terlalu berat. Masih bisa kuhandle."


"Syukurlah. Tapi mungkin sedang jatuh cinta kali. Kadang jadi lupa makan."


"Iya, ma."


Pandu tersenyum.


"Jadi berat berpikir dan merasa, ma."


"Kalau cinta bikin menderita buat apa. Seharusnya cinta itu membuat kita bahagia."


Benar juga kata mama, batin Pandu.


"Sudah sekarang makan yang banyak, biar berat badanmu ideal dengan tinggi tubuhmu. Biar sehat."


Mereka mengobrol sambil bersantap. Sesekali tertawa ketika ada kisah unik dalam rutinitas kerja maupun keluarga.


"Besok acara ultah mama, rencananya gimana?


"Mama buat party kecil. Di villa kita di Bogor. Undang hanya teman terdekat keluarga.. Paling tiga puluh orang. Pram dan Bella yang atur semua. Mama hanya duduk manis."


"Ehm, begitu."


Bella, lulusan magister bisnis dari Singapura adalah pacar Pram yang sudah setahun ini benar-benar lengket dengannya. Putri sulung sahabat papa sesama dokter. Hanya ayah gadis itu ahli syaraf. Hasil perjodohan yang belum diketahui endingnya. Namun melihat gaya mereka yang setipe, sepertinya bakal awet.


Mama papa memang mengharap para putra mencari pasangan yang satu frekwensi. Se level. Terutama dalam hal aset, pendidikan dan gaya hidup.


Tak salah juga prinsip itu. Tetapi kalau sudah menyangkut perasaan atau kecocokan pribadi, nilai-nilai itu bukan standar baku. Kadang jatuh cinta tak dapat diteorikan. Itu pendapat Pandu.


"Omong-omong , gadis yang kamu taksir itu gimana?".


"Pandu belum bisa cerita banyak. Hanya dia menarik dan unik. Itu saja dulu, ya."


" Baiklah. Pesan mama periksa juga latar belakang keluarganya sebelum melangkah lebih jauh."


"Iya."


"Sepertinya kalian kan baru kenal. Mama ngerti masih perlu pendalaman karakter masing-masing.


"Benar, ma."


"Ehm, gimana pendapatmu tentang Sandra?"


"Dalam hal apa?"


"Pribadinya."


"Baik."


"Maksud mama apa ada kesempatan kedua buat kalian mulai dekat lagi. Dia sering nanyain kamu, lho."


"Oya?"


"Besok juga dia dan keluarganya diundang."


"Oke, deh ma. Boleh Pandu istirahat dulu, ya. "


Pandu ingin mengalihkan fokus obrolan yang mulai mengarah ke percobaan perjodohan. Dia paham hal itu. Sejak dulu.


"Ya, mama juga mau ke salon buat persiapan besok."


Pandu berjalan ke samping kolam. Duduk dekat taman yang menghubungkan dapur besar keluarga mereka dengan ruang baca.


Banyak kenangan di tempat itu. Gimana dulu Pandu dan dua sahabatnya di SMA, sering nongkrong. Fendi yang sekarang kuliah magister teknik di Amerika dan Edo yang mengejar karier jadi fotografer profesional.


Dulu mereka suka buat tugas sekolah di gazebo taman lalu nyemplung sampe petang di kolam.


Hanya tersisa kenangan.


Sore hari papa dan Pram telah berkumpul.


Lengkap bersama mama dan Pandu. Cerita mengalir tentang banyak hal. Dari masalah profesi, bisnis hingga pribadi. Keluarga menghabiskan makan malam bersama seraya bercengkrama.


"Apa kamu nggak kesepian di sana, Pandu?"


"Iya, di situ kan dikelilingi hutan juga kebun sawit."


Pramudya, sang adik pernah sampaikan bahwa kakaknya bakalan merasa terisolir bahkan kesulitan beradaptasi dengan situasi di tempat terpencil.


Tumbuh dan besar serta menjalani pendidikan di kota besar adalah penyebabnya. Kehidupan keluarga yang sangat mapan pun akan jadi tantangan.


Perubahan hidup sang kakak yang cukup drastis bagi Pram, tak terbayang dapat dia lakoni.


"Lokasi dan area kerjaku memang dikelilingi hutan sawit. Tapi warganya juga lumayan banyak, ngga sepi - sepi amat."


Papa menjawab," Oya? Bukannya banyak warga trans juga disana?"


"Ada sih, pa. Di kecamatan lain. Kalau di tempatku didominasi karyawan pabrik dan perkebunan kelapa sawit."


"Ehm, fasilitas umumnya gimana?" tanya mama.


"Dibanding waktu aku intership di pedalaman ujung barat negeri ini, di tempatku sekarang lebih baik."


Pram menambah," Iya, dulu lo banyak teman seprofesi kan waktu itu disana, jadi masih mending."


"Sekarang pun ada. Bidan, perawat."


"Maksud gue, teman dokter lo."


"Semua paramedis yang bekerja bareng kita juga namanya seprofesi, tahu."


"Ah, lo emang kadang terlalu naif."


"Hush, udah. "


Mama menengahi dua putnya.


" Ehm, banyak yang bertugas di puskesmasmu?"


" Ada dua belas orang. "


"Lumayan, ada gadis - gadisnya juga nggak? Apalagi yang bisa dilihat, gitu," canda Pram lagi.


"Ada dong, masa gadis hanya di kota aja, hehehe.."


"Mulai lagi !" seru mama.


"Biar aja, ma. Anak kita berdua ini lagi mengekspresikan kangennya satu sama lain, ha ha ha ."


Papa ngingetin sang istri kebiasaan Pandu dan Pram. Kalau udah ketemu bakal saling ledek. Tapi ketika salah satu nggak terlihat, malah rumah jadi kayak kuburan. Sepi, sunyi senyap.


"Ada nggak yang cantik?" tuntut Pram, lagi.


"Tuh pa, anak bungsunya. Pikiran Pram melulu soal cantik. Yang baik hati dong."

__ADS_1


"Eh, kalau dapat paket lengkap bolehlah. Cantik, baik hati, pintar dan kaya. Kayak mama, iya kan pa?" celoteh mama.


Papa hanya mesem, Iya, iya...tapi kalau bisa tanpa bawelnya."


Tawa pecah.


Giliran mama cemberut, " Namanya juga emak-emak."


"Emang lo udah ada incaran?"


Mama menoleh Pandu, menunggu respon si sulung.


Pandu terdiam. Belum saatnya cerita tentang Laras. Terlalu dini. Lagipula karena dia di cuekin beberapa hari ini, Pandu jadi enggan membahas perasaannya ini.


"Kalau diem, berarti nggak ada atau lagi nggak yakin. Jadi boleh lanjutin ma, rencana kita."


"Rencana apa?"


Pandu melirik sang papa.


"Perjodohan, biasalah," sahut Pram.


" Itu yang pernah mama bilang. Cassandra, sering nanyain kabar kamu."


"Udah diterima aja. Daripada kelamaan jomblo. Sepi, sendiri dan menyiksa, ha ha, ha, " Pram, tak henti meledek sang kakak.


Pandu kembali terdiam.


"Coba jalanin aja, kayak gue. Cocok syukur kalau nggak cari yang lain," lagi - lagi Pram nyeroscos.


"Benar," tambah Papa.


"Biar besok mereka ketemu lagi, ngobrol dulu. Sandra single sekarang. Kalau dulu kamu belum bisa menggaetnya, siapa tahu sekarang dia mau."


Mama mengurai lagi kisah terdahulu.


"Habis lo dulu kurang agresif, sih."


Pram seperti nggak bisa berhenti ngomong.


"Cewek tuh, jinak- jinak merpati. Pake strategi!"


" Kayak perang aja!", sergah Pandu.


" Ini namanya perburuan, bukan begitu, pa?"


" Bener."


Dalam hal memikat cewek sang adik memang lebih jago. Barisan para mantannya pun banyak. Tapi sekarang dia lagi terjerat perjodohan. Apakah happy ending atau tidak? Siapa yang tahu.


Pandu merasa kembali mendapat serangan. Nyaris situasinya sama saat sepupu Laras yang bernama Norman memborbardir dirinya, terkait hubungannya dengan gadis itu.


"Bisa bahas masalah lain, nggak?"


Pandu menyerah.


"Iya, yang ini lebih serius. Kamu harus sampaikan rencana ambil spesialis mu."


Mama lebih bijak, melihat si sulung banyak diam ketika ditanya masalah perempuan.


Ingatan tentang Laras menyelinap. Ah, sedang apa dia, batin Pandu. Rasa rindu menyergap.


"Aduh, pa. Anakmu banyak melamun. Kesambet apa ya?" celetuk mama.


"Udah, nikahin aja ma dengan Sandra biar dia punya kesibukan. Nggak ngelamun melulu," kelakar Pram, lagi.


Pandu dongkol. Ingin rasanya membogem mulut sang adik yang berusia tiga tahun lebih muda darinya. Walaupun sebatas ingin bercanda, biar kejahilan si playboy itu berkurang.


Pembahasan beralih ke rencana Pandu. Dia bercerita rencana ambil spesialis. Mungkin akhir tahun depan. Setelah dua tahun bertugas di puskesmas.


Rencana mengajukan diri buat pindah ke kota propinsi, dimana kampus negeri di sana ada program yang ingin dituju. Penyakit dalam atau spesialis anak, mungkin.


Papa dan mama memberi beberapa saran dan masukan. Detail yang harus dia siapkan. Kemungkinan dengan bantuan biaya orangtuanya atau ajukan beasiswa. Juga tantangan di masing-masing program studinya.


Kali ini Pram yang terdiam, karena tak begitu paham. Masih ada korelasinya sih karena dia kuliah di farmasi.


Giliran ditanya rencana Pram, dia berkata mau melanjutkan studi magister setelah wisuda. Mengelola klinik dan apotek.


Kolega terdekat mama papa, keluarga dokter Affandi, ayah Bella sang pacar Pram. Juga om Sutoyo dan istri, orangtua Casandra.


Ada lagi dokter Yati, soulmate mama sesama patologist, datang sekeluarga. Beruntung anak Tante Yati, tiga cowok semua, kalau nggak bakalan ada yang dijodohin dengan Pandu atau Pram, sejak dulu.


Acara yang disiapin Pram dan Bella berlangsung meriah. Makan-makan dan mengobrol adalah menu utama. Nostalgia pun jadi bumbunya. Terakhir diisi dengan game serta nyanyi secara karaoke bersama.


Bintang utama tentu sang mama. Pusat perhatian yang selalu tampil stunning dan glowing. Semua orang bergaya dengan glamour. Sebagai kalangan berada wajarlah. Penampilan adalah salah satu bukti kesuksesan hidup.


Figuran yang jadi sasaran berikutnya adalah Pandu, karena mereka jarang bertemu setelah pemuda itu tugas nun jauh disana. Dan tentu pertanyaan terpopuler adalah masalah calon pendampingnya juga rencana studi lanjutan.


Pandu menjadi merasa tak nyaman. Pertanyaan siapa kekasih, kapan nikah, ambil spesialis apa, membuatnya harus sering berbicara masalah yang sifatnya


pribadi.


Ketika dapat kesempatan menyelinap pergi dari gazebo tempat acara, Pandu sedikit lega.


Ingatan tentang Laras diam-diam muncul.


Ah, sedang apa dia disana? Pandu kembali merindukan gadis itu.


Di lokasi taman belakang dekat kebun sayur belakang villa, Pandu mencoba menelpon Laras. Tak ada respon. Tak putus asa, dia mengirim chat.


"Hallo, Laras met siang."


"Lagi ngapain?"


Tolong dibalas ya, aku kangen kamu."


Lama tak ada respon. Pandu memutuskan berjalan jalan sekitar kebun sayur, kebun bunga hingga kolam ikan koi dekat bangunan utama. Sudah hampir setahun lebih dia tak berkunjung kesini.


Udara sejuk membuat Pandu tak mau kembali ke gazebo. Semua sedang berbincang, menikmati dessert serta berkaraoke.


Dua putri remaja tante Lida juga sepertinya bosan dan terlihat menikmati kebun bunga dengan mengambil foto selfie berkali kali. Sepupu Pandu yang masih duduk di sekolah menengah itu terlihat lebih gembira di luar.


Dari kejauhan Pandu melihat polah mereka. Melambaikan tangan ke arah keduanya. Lalu dia memilih duduk di kursi taman.


Tiba-tiba sebuah suara menyapa," Lagi pengin sendiri, nih?"


Pandu menoleh ke sisi kanannya, ada Cassandra tersenyum manis padanya.


Bergaun satin mahal dengan warna biru muda, highheels mungkin sembilan sentimeter, pesona gadis itu memang perfect. Perhiasan yang melekat di tubuhnya bahkan mungkin bisa dibuat membeli city car.


Rambut coklat bergaya layer, dengan wajah ber-make up maksimal. Pria normal manapun akan memberi nilai sembilan buat penampilannya.


"Kok nggak dijawab? Ngelamun apa atau siapa?"


"Ehm, maaf. Lagi terpana ama pesonamu," sahut Pandu, spontan.


Cassandra tersanjung. Segera mengambil tempat dan duduk disamping Pandu.


"Gimana kabarmu, Pandu?"


"Baik."


"Kerasan tugas disana?"


"Iya."


Sebelumnya mereka dapat ngobrol ringan sejenak saat acara di dalam gazebo. Kini tampaknya Sandra tahu dimana mencari lelaki yang dulu sepertinya pernah menaruh hati padanya.


Kisah itu sekitar empat atau lima tahun silam. Entah kenapa saat itu Sandra lebih memilih Jeffry, teman sekolah menengahnya yang telah sukses jadi pebisnis kuliner terkenal.


" Berapa hari di sini?"


"Besok aku balik."


"Kok sebentar banget?"


"Belum setahun bertugas, belum boleh cuti lama."


" Jadi ASN terikat banget."

__ADS_1


" Kudengar kamu buka klinik kecantikan."


"Bener, baru launching."


"Selamat, ya."


"Thanks."


"Rencana ambil spesialis apa nanti?"


"Belum tahu."


"Gak pengin balik ke Jakarta lagi."


"Belum ada rencana."


Cerita lalu berlanjut dengan teman-teman kampus mereka dulu. Sebagai satu almamater, banyak teman Pandu yang dikenal oleh Casandra, demikian sebaliknya.


"Jadi si Lukman jadian dengan Linda?"


Pandu tak bisa nahan tawa mendengar update bahwa sahabat Sandra yang dulu naksir dirinya, bernama Linda malah kini jadi kekasih teman culun seangkatannya yakni Lukman.


"Jangan begitu, Lukman itu bentar lagi jadi cardiolog kayak papamu."


"Iya, iya...."


Pandu tak mampu menyembunyikan rasa gelinya. Dulu Lukman adalah teman yang terbully di kampus karena penampilan kucel juga polahnya yang slebor. Prestasi akademis juga standar, gimana bisa jadian dengan Linda, runner up mahasiswi terpopuler setelah Sandra?


Aduh, cinta memang penuh misteri. Kadang tanpa logika.


"Jangan salah, Lukman sekarang udah beda. Keren..."


"Syukurlah."


Pandu ketemu terakhir dengan Lukman saat resepsi nikah teman seangkatan. Dua tahun lalu, saat itu penampilan Lukman masih sama. Lelaki itu kalo tak salah dapat tugas intership di sebuah rumah sakit di Jawa Barat.


"Linda sendiri kerja di mana?"


"Praktek pribadi sambil studi spesialis THT."


"Salam buat dia ya."


"Ehm, mantanmu Elena gimana?"


"Udah nikah ama pilot."


"Masih disini saja, di Jakarta?"


"Iya, praktek di RS yang sama dengan papa, masih ambil studi spesialis mata."


"Ehm, kudengar kamu masih single....."


Pandu sudah menebak arah pikiran Sandra. Gadis itu menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Pandu.


" Kenapa memang?"


"Kita sama. Gimana kalau kita coba kembali lembar baru?"


"Maksudmu?"


"Ehm....kita coba jalani rasa yang dulu pernah ada."


Pandu terdiam. Terbayang saat masih kuliah memang dia akui pernah menaruh hati pada gadis cantik itu. Tak terlalu ngotot sih, melihat begitu banyaknya saingan yang harus dia kalahkan. Lagipula Sandra cuek dengannya. Walau jelas-jelas gadis itu tahu benar Pandu naksir. Sandra yang terkenal suka gonta ganti kekasih hingga terakhir berlabuh pada Jeffry. Malah sampai bertunangan. Sekarang kabarnya mereka putus.


Lalu Elena, sang mantan pernah singgah di hati Pandu. Hanya setahun.


Bagi Pandu semua kisah itu hanya masa lalu. Saatnya kini dia menikmati moment kekinian dan membangun harapan untuk masa depan.


Ingatan tentang Laras kembali berkelindan di benak.


"Kok bengong melulu sih, sedang ingat seseorang?"


"Iya..."


"Apakah dia spesial?"


"Ya, pasien spesial."


"Oh...."


Maksud hati Pandu seseorang spesial yang pernah jadi pasiennya, yakni Laras.


Sebuah notifikasi pesan terdengar dari ponsel Pandu.


Dari Laras. Hati Pandu berdebar. Apa ini yang namanya terkoneksi batin. Baru dipikirkan, eh langsung dikontak.


Pandu minta ijin Sandra buat merespon pesan.


"Siang, mas Pandu."


"Aku barusan selesai diskusi buat kompetisi bola."


Deg. Pandu yakin pasti Laras tadi bertemu Jamil. Berduaan.


Tapi rasa senang karena Laras mau merespon pesan mengalahkan prasangkanya.


"Oya."


"Sama ortu anak2 juga."


"Biar ada sharing. "


Pandu bernafas lega, berarti tak berduaan. Ia tersenyum lebar.


Di sebelahnya Sandra mengamati, kenapa Pandu senyum sendiri?


"Ok, moga lancar."


"Thx."


"Aku kembali besok."


"Ya, Titi DJ."


"Ok. Thank you, Laras. I miss you.


Aduh, kok diakhiri. Padahal Pandu masih ingin ngobrol. Kenapa Laras tak menjawab dengan, I miss you, too.


Ah......


Pandu ingin melakukan panggilan telpon. Tapi begitu sadar masih ada Sandra disebelahnya, niat itu diurungkannya.


"Sepertinya sedang senang, chat dengan siapa?"


"Anak buah."


Pandu berbohong. Tak mungkin juga dia bilang chatting dengan teman dekatnya.


Pandu mengajak Sandra kembali ke gazebo dengan alasan mulai sedikit mendung.


Gadis itu mengiyakan. Mereka berjalan bersisian. Tiba-tiba tangan gadis itu memegang erat lengan kiri Pandu.


Pandu sedikit kaget dan menoleh. Sandra memberi senyum manis penuh arti langsung tertuju pada kedua mata Pandu.


Tubuh mereka sangat dekat. Aroma parfum mahal Sandra tercium jelas olehnya.


Sebagai lelaki normal, Pandu bergetar. Namun wajah Laras tiba-tiba muncul dalam pikirannya.


Sandra berkata kalau dia merindukan Pandu.


Lelaki itu mencoba bijak. Menepis perlahan tangan Sandra. Mencoba tersenyum ke arah gadis itu.


"Ayo, cepat kita balik. Nanti semua pada mencari kita."


Sandra paham Pandu tak merespon sesuai keinginannya. Sejak dulu dia tahu bagaimana lelaki itu kurang agresif.


Kalau saja bukan Pandu, mungkin hasrat Sandra terbalaskan. Isyarat dan


gesture gadis secantik dirinya tak mungkin di tolak pria. Mungkin akan ada ciuman hangat di pojok taman bunga yang sepi tadi.

__ADS_1


Ck, ck, ck.....


__ADS_2