
Hari Minggu pagi, ada jadwal latihan bola secara rutin untuk menyambut laga agustusan. Pandu berjanji menemani Laras melatih anak-anak.
Sebuah telepon dari Pram mengganggu pagi Pandu. Jam enam pagi. Sang adik sedang jogging di Senayan dengan Bella dan Sandra.
Meminta video call.
"Lu dokter, tapi males banget gerak badan!"
Pandu masih memakai piyama dan mengucek mata. Masih menguap perlahan.
Ketiga makhluk sok akrab di seberang sana udah bergaya dengan sportware ketat merk terkenal. Lalu lalang manusia dengan gaya sama menjadi back groundnya.
Pandu mendadak teringat Laras yang suka berlari keliling empang.
"Ada pasien darurat....jadi bangun telat."
Alasan spontan sang kakak berbohong agar tak jadi bulan bulanan.
"Lu bohong, kali. Kelihatan baru bangun dengan aura bahagia begity. Malam mingguan dengan siapa?"
Pram mengedipkan mata. Memberi isyarat pura pura tak tahu.
"Awas lu, Pram kesambet dua cewek!"
Pandu jengkel dan ingin membalas kelakuan sang adik.
Mereka terbahak bertiga.
"Nih Sandra kasian gak ada pasangan."
Tangan Pram memeluk dua cewek kece di sebelahnya. Kedua gadis satu frekwensi itu melambaikan tangan ke arah layar. Dengan gaya manja.
Pandu malas membalas dan tersenyum tipis.
"Udah lanjutin mimpi kencan lu.....kita mau sport dulu and mejeng, yah..."
Pram mematikan sambungan ponsel.
Pandu bergegas menyiapkan diri buat mengantar sang pacar.eminum.degelas air hangat di dapur. Duduk sejenak. Lalu
mandi, sarapan roti tawar dengan selai coklat. Segelas teh manis.
Melewati jalan kecil menuju garase dan menyapa paramedis yang piket. Ada satu pasien rawat inap melahirkan. Sudah di handle bidan jaga.
Sang dokter memacu mobilnya menuju rumah kekasihnya. Tujuh kurang sepuluh menit telah siap menjemput sang kekasih di rumahnya.
Laras kala itu baru usai membantu nenek menyapu halaman depan. Bik Jum berbelanja sayur dan lauk di pasar. Gadis itu meminta sang pacar menunggu. Segelas air putih telah terhidang ditemani kue semprit buatan Laras.
Setelah sarapan segelas sereal rasa vanilla, gadis itu minta diri.
"Nek, Laras berangkat dulu bersama mas Pandu
Nenek yang sedang bersih bersih di toko mengiyakan dan berpesan agar makan siang di rumah saja nanti. Laras mengangguk dan mencium punggung tangan sang nenek.
Berdua mereka menuju lapangan bola dekat pabrik.
"Hari ini hanya latihan rutin. Untuk pemeliharaan kekuatan dan kelenturan otot para pemain. Akhir Juli nanti baru dimulai pertandingan."
"Jadi tiap tahun ada dua kompetisi yang diikuti?"
"Tiga atau empat, mas. Untuk Porseni, Agustusan, Ulangtahun SSB Galaliga yang terbesar di kota kabupaten. Sesekali lomba antar desa lainnya."
"Lumayan ya."
"Dulu ada asisten coach Jamil yang resmi. Aku hanya bantu-bantu sedikit."
"Berarti kamu menekuni bola ini sejak mulai kuliah?"
"Sejak sekolah menengah sudah sering ikut main di kampung. Ada satu teman cewek seperti aku, suka sepakbola
Namanya Devika. Dia putra pak kapolsek. Sekarang pindah ke kota. Kabarnya kini dia sudah nikah dan tak meneruskan hobi lagi. "
Pandu hanya tersenyum melirik Laras yang berkisah dengan antusias.
Sampai di lapangan. Coach Jamil sudah siap. Para pemain berdatangan. Ada satu pemandangan yang bikin Laras moodnya turun.
Dito nongkrong di atas motor Tiger di pinggir areal parkir. Bergaya keren dan rapi. Jaket kulit coklat. dengan celana jeans hitam. Tak ketinggalan kacamata gelap. Sebatang rokok menggantung di bibir. Nyaris layaknya lakon Mission Imposible.
Semula Laras pura pura tidak melihat. Namun apa daya lelaki itu menyapa duluan.
"Hey Laras cantik, met pagi!"
Pandu yang barusan keluar dari pintu sebelah sang gadis tentu menoleh begitu nama pacarnya dipanggil. Wajahnya tertuju pada lelaki itu.
Laras jadi serba salah. Dia hanya nyengir. Lalu segera menarik pergelangan tangan sang kekasih untuk menjauh dari parkiran.
"Siapa dia Laras? Sepertinya petugas yang pernah kulihat di stadion dulu...."
Pandu meyakinkan diri. Melirik lagi pada sosok lelaki itu. Masih nangkring di atas motor sambil ngobrol dengan beberapa orang sepertinya yang kenal dia, yang hendak melihat latihan.
"Sudah nggak usah dipikiran mas. Teman lama yang iseng. Mas disini saja, aku bergabung dengan anak-anak dulu."
Laras berlari ke depan gawang dimana para bocah sedang melakukan senam pemanasan. Berbincang dengan coach utama lalu turut memberi aba-aba. Para pemain sudah lengkap datang dan latihan pun dimulai.
Pluit dibunyikan buat isyarat fokus perhatian. Jamil meminta semua untuk berlari keliling lapangan.
Pandu seperti biasa duduk di belakang tiang gawang tempat tas para pemain dan dus minuman mereka di letakkan.
Para penonton latihan hari itu hanya sedikit. Sekitar dua puluhan orang. Itupun kebanyakan bocah, teman para pemain. Orangtua pemain ada juga diantaranya. Terik mentari yang menyengat pagi itu mungkin salah satu alasan tak banyak keluarga muda yang menghabiskan waktu di sana.
"Hei, boleh duduk disini?"
Suara berat seorang lelaki mengejutkan Pandu.
"Silakan."
"Anda teman Laras? Bagian official tim?"
"Hem, saya kekasih coach Laras?"
"O... ya?"
Lelaki itu duduk dan membuka kacamata hitamnya. Menatap pada Pandu. Penuh selidik.
"Kenalkan saya, Pandu."
Ukuran tangan Pandu disambut lemah. Bersalaman hanya dengan sedikit menyentuh telapak tangan.
"Dito."
Deg. Benar, lelaki itu. Pandu membatin.
"Udah lama pacaran dengan Laras?"
Pertanyaan ketus keluar dari bibir Dito.
"Sudah enam bulan."
"Dari mana anda?"
"Jakarta."
"Jadi benar anda itu dokter yang di puskesmas?"
"Iya."
"Anda bersungguh-sungguh dengan Laras?"
Mendapat pertanyaan seperti itu tentu membuat Pandu mulai tak nyaman.
"Maksud anda?"
"Dokter Pandu, anda dan Laras berhubungan serius?"
"Maaf anda siapa? Kenapa harus bertanya hal pribadi kami?"
"Aku, mantan pacar Laras."
Pandu membatin, " Aku tahu. Itu hanya masa lalu. Kamu tak ada hubungan lagi dengan Laras. Tak berhak bertanya hal itu."
Laras yang dari kejauhan melihat Dito mendekati Pandu, meminta ijin Jamil untuk menemui mereka ke pinggir lapangan.
Gadis itu merasa ada sesuatu yang membuat perasaannya tak enak.
"Mas Pandu, ada apa?"
Pertanyaan itu terlontar saat sang gadis menyaksikan kedua lelaki itu saling memandang dengan muka saling tak simpatik.
"Laras, Laras tumben seleramu berubah?"
Dito berlagak sok tahu.
Pandu mendelik ke arah Dito. Lalu melirik Laras.
__ADS_1
"Dito, tolong jangan ganggu kami!"
"Aku nggak mengganggu. Cuma konfirmasi saja, apa kalian benar serius pacaran?"
"Maaf anda tak perlu tahu dan tak berhak tahu!"
Nada bicara Pandu meninggi. Rasa cemburu mulai menyelinap dalam dada.
"Mas, sabar ya."
Laras memegang tangan Pandu. Tersenyum mencoba menenangkan.
Dito makin tajam menatap ke mantan pacarnya itu.
"Dito, tolong tinggalkan kami. Kita sudah nggak ada hubungan apa-apa. Semua sudah berlalu. Mari kita jalani hidup masing-masing!"
"Laras, Laras jangan bohongi dirimu sendiri. Apakah dia hanya pelarian bagimu?"
Pandu nyaris tak mampu menguasai diri mendengar Dito kini menekan sang kekasih.
"Hey, hati-hati kalau bicara!"
Laras berdiri di tengah mereka berdua.
"Mas tunggu di sini. Tolong, beri aku kesempatan bicara pada Dito. Mas percayalah padaku. Please.....," bisik Laras mencoba tetap tenang.
Gadis itu merasa harus menyelesaikan masalah ini dengan sang mantan.
"Dito, aku ingin bicara berdua denganmu. Tolong!"
Laras berjalan menjauhi kedua lelaki yang mulai terlihat bersitegang.
Dito mengikuti Laras. Sementara Pandu merasa terpaksa harus memberi kepercayaan pada Laras dan merelakan mereka bicara. Meski demikian tatapan Pandu terus mengikuti gerakan keduanya.
Sekitar empat puluh meter dari tempat semula, Laras memulai bicara pada Dito. Gadis itu mencoba sekuat tenaga menata hati agar bisa berbicara baik-baik dengan sang mantan yang sangat dia kenal kerap bertindak memprovokasi keadaan serta sangat reaktif.
"Dito, aku meminta dengan sangat hormat, bisakah kamu menerima kenyataan bahwa kini kita hanya berteman?"
"Sssst Laras, aku hanya ingin tahu apa dia serius denganmu? "
"Kenapa Dito?"
"Aku masih peduli padamu....!"
"Okey, makasih atas kepedulianmu. "
"Kenapa seleramu kini berubah? Lelaki kerempeng itu. Apa karena profesinya? Hanya pelarianmu? Biasanya kamu suka yang atletis dan macho kayak aku...."
"Begini Dito. Itu bukan urusanmu. Orang bisa berubah. Kisah kita sudah lama usai. Kita sama-sama sudah dewasa sekarang. Aku juga tak pernah mengganggumu. Jadi tolonglah, lupakan aku. Please, aku bahagia dengan Pandu. Kuharap kamu juga kelak bahagia dengan pilihanmu...."
"Maafkan aku..Laras."
Suara Dito sedikit menurun tensinya.
"Makasih Dito, tolong mengerti ya. Aku berdoa kamu akan bertemu gadis yang tepat suatu saat nanti. Kamu lelaki yang baik."
"Iya kuharap begitu. Tapi kalau kau putus dengannya, masih ada aku. Kembalilah padaku."
"Sudahlah, baiknya kini kita saling mendoakan. Tolong, ya......dan terimakasih."
Gadis itu berlalu. Tak ingin bicara panjang. Semua kisah dengan Dito sudah jadi kenangan. Laras tak ingin terjebak lagi.
Ia berjalan menuju Pandu yang saat itu ngobrol dengan Jamil. Sementara anak-anak melatih diri sendiri. Gerakan pemanasan.
Sementara Dito pun pergi ke arah parkiran.
Pandu menyongsong sang kekasih.
"Masalah udah selesai, mas."
Lelaki itu menyentuh pundak kekasihnya. Berdua mendekati coach utama.
" Kang Jamil, aku minta maaf. "
"Kamu gak apa-apa?"
Laras menggeleng.
Jamil pamit dan kembali ke tengah lapangan. Lalu meminta break. Istirahat minum buat para pemain.
"Ada apa dengan orang itu barusan?"
Pandu bertanya seraya masih menunjukkan ketidaksukaannya terhadap sikap Dito.
"Apa dulu juga suka begitu? Menekan dan memaksa?"
"Aku tak ingin membahasnya lagi."
Pandu menatap pada kedua mata sang kekasih. Ingin memastikan. Semoga benar adanya. Namun jauh di sudut hati walau cemburu masih tersisa, lelaki itu salut pada sikap Laras. Berani dan tegar menghadapi mantannya.
Laras tersenyum padanya. Meyakinkan sang kekasih.
Coach utama meniup pluit.
"Aku gabung lagi dengan anak-anak ya. Mas disini saja. Boleh juga motret candid lagi...."
Gadis itu tersenyum buat mengalihkan perhatian Pandu.
"Tentu. Ingat bergaya lagi yang keren...."
Laras tertawa dan berlalu.
Latihan sesi kedua. Pertandingan. Tim dibagi dua. Dengan dan tanpa rompi hijau. Hanya setengah porsi. Kedudukan satu lawan kosong buat kemenangan tim berompi.
Ada evaluasi dan diskusi singkat. Pesan para coach dan rencana latihan pekan depan. Persiapan lomba agustusan.
Pukul setengah sepuluh seluruh latihan di akhiri.
Setelah semua pemain pulang, Laras minta diri pada seniornya.
Jamil masih berbincang dengan orangtua Sofyan, sang kiper yang kerap membantu persiapan tim.
"Kita langsung pulang ya, mas. Tadi janji sama nenek buat makan di rumah saja."
Pandu mengangguk dan menggenggam tangan kekasih seraya mengajak berjalan menuju mobil.
Setelah duduk di jok, lelaki itu memperlihatkan beberapa pose sang kekasih yang terpotret dari kejauhan.
Laras sedang melompat, mengepalkan tangan. Menepuk punggung para pemain cilik serta memungut bola dari pinggir lapangan.
Mereka tertawa berdua.
"Ehm, iya. Setelah makan, boleh aku minta sesuatu?"
"Apa?"
"Pergi denganku buat latihan menyetir. Nggak lelah kan tadi?"
"Boleh. Makasih mas. Oya kapan mulai badminton?"
"Coba mas lihat dulu....mungkin Rabu sore bisa."
"Apa latihan di GOR pabrik saja. Ada dua lapangan badminton di dalamnya. Nanti aku ijin pak Ali, pengelola gedung sekaligus orangtua Ningrum, muridku."
"Oya? Orang luar biasa gabung disana?"
"Terbuka untuk umum. Tapi kalau bukan karyawan pabrik nanti ada restribusi. Kalo nggak salah sekali datang sekitar lima ribu rupiah per orang. Konfirm dulu. Supaya nggak bentrok dengan jadwal yang lain."
"Boleh deh. Coba kamu hubungi pengelolanya."
"Biasanya Sabtu dan Minggu jadwal pasti penuh. Tapi coba besok aku telpon beliau, ya Mas."
Sampai rumah, mereka makan setelah Laras membersihkan diri dan berganti pakaian. Kaos merah dan training hitam yang dipakai tadi berubah menjadi kaos sweater baby blue bertulis Girls. Celana denim biru tua. Fresh dan.msnis.
Sayang tadi mereka nggak janjian pakai baju couple.
Pandu tersenyum ke arah sang gadis.
Menu yang tersaji berupa pepes ikan tongkol dan sayur tumis kangkung beserta krupuk menjadi terasa lebih lezat.
Laras kembali meminta ijin sang nenek buat latihan menyetir. Dan berjanji pulang sebelum petang.
Pukul setengah duabelas. Pandu mengarahkan mobil menuju lahan tak bertuan yang kerap dibuat latihan belajar naik motor atau mengemudi mobil.
Siang yang terik itu tak ada siapapun. Biasanya pagi atau sore baru ada yang latihan di sana.
"Nah, sekarang aku tunjukkan dulu semua partitur mobil ini."
"Untung sedan ini bukan matic ya, mas."
"Ya. Sekarang lihat dulu aku ajari perpindahan gigi. Satu, dua, tiga,empat."
Laras mengamati dengan seksama.
__ADS_1
"Langsung dicoba, berani?"
"Boleh. Tapi kucoba , satu dan dua dulu ya."
"Ayo tukar tempat!"
Laras mengiyakan. Begitu siap dia mulai mencoba bertahap. Keliling lapangan. Hingga beberapa kali putaran. Mencoba pengereman. Perpindahan kopling disertai penambahan kecepatan, berjalan mulus. Hampir selama satu jam.
"Bagus, responmu sudah baik."
Laras tersenyum. Pandu tetap waspada sesekali memberi sedikit instruksi.
Laras membatin, mobil baru ini memang berbeda dengan pick up bermesin disel milik kang Jamil yang biasa kupakai latihan dulu.
Sebuah telepon masuk ke ponsel Pandu. Laras menghentikan mobil.
"Hallo!
"Iya, ini lagi ada aktivitas penting."
"Mau tahu aja , lu!"
Pandu berbisik dan menoleh ke arah Laras, " Dari Pram."
Gadis itu tersenyum.
Lima menit kemudian obrolan menjadi berubah nada, dari semula lebih banyak terdengar tawa canda menjadi serius.
"Apa? What?" Yakin, lu?"
Pandu bertanya dengan nada tinggi.
"Lu berdua, konfirm lagi. Ehm, test pack? Lebih baik cari second opinion. Langsung ke genekolog!"
Laras terkejut begitu mendengar perkataan terakhir.
"Gile, lu. Papa mama bisa ngamuk!"
Pandu meminta ijin pada Laras dengan bahasa isyarat untuk keluar mobil.
Laras mengangguk. Sepertinya urgent banget, batinnya.
Lelaki itu berjalan ke arah belakang.
Teriakan dan suara keras Pandu yang sedang bicara dengan sang adik, sayup-sayup terdengar di telinga Laras.
Gadis itu tak berani berekpektasi lebih jauh. Tetapi kata kunci tentang test pack, genekolog barusan membuatnya penasaran. Ada apa?"
Lama menunggu, membuat Laras.tak sabar. Meski ber AC dan mesin mobil hidup, rasa gerah dan bosan membuatnya membuka jendela. Lalu mematikan mesin mobil.
Laras memilih memainkan ponselnya. Hanya melihat - lihat laman sosmed. Baru kemarin dia membeli kuota internet harga minimalis. Paket super hemat.
Pandu menyelesaikan percakapannya dengan sang adik. Setelah hampir empat puluh menit kemudian.
Lelaki itu masuk ke mobil. Dari raut wajahnya yang berubah, Laras tahu ada sesuatu hal serius.
"Maaf membuatmu lama menunggu."
"Ehm...gak apa-apa, mas."
"Dilanjutin lagi yuk. Latihan lagi."
Demi melihat Pandu masih menghela nafas panjang, Laras memberanikan diri bertanya," Ada apa, mas? Ada yang mas mau sharing, kalau berkenan aku siap mendengar."
Pandu menolehnya. Tersenyum tipis.
"Ehm, sepertinya aku harus minta pendapatmu juga nih. Kita bicara di tempat lain saja. Disini panas banget. Latihannya sudah dulu ya. Ayo, bertukar tempat."
Laras mengiyakan dan menuruti perkataan sang kekasih.
"Kita cari minum dulu. Ke depot es buah dekat pasar. Gimana?"
"Setuju," sahut Laras.
Hampir pukul tiga sore. Ada seorang bapak yang datang bersama anak lelaki remaja. Nampaknya belajar naik motor.
Pandu membawa mobil meninggalkan tempat latihan.
Mereka sampai di depot yang dituju. Memesan dua mangkok es buah campur.
"Maaf ya, Laras. Kamu latihannya jadi tak maksimal barusan."
"Iya, mas. Kapan-kapan bisa latihan lagi. Nggak keburu."
Pandu tersenyum. Pesanan datang. Mereka mulai menikmati segarnya minuman itu seraya mengobrol.
"Sebenarnya aku nggak enak hati menyampaikan kabar ini."
"Ada kabar apa, mas?"
"Pasti kamu bisa menebaknya."
Laras terdiam.
"Dasar Pram !"
Pandu terlihat menekan perasaannya. Mukanya merah padam.
Laras segera menenangkan. Menggenggam jemari kekasihnya.
Beberapa orang berdatangan untuk membeli aneka minuman di depot itu. Suasana menjadi tak nyaman bagi Pandu untuk bercerita. Lelaki itu meminta pengertian Laras segera menghabiskan es segar miliknya. Lalu mereka membayar dan pergi dari sana.
"Lebih baik kita ngobrol di tempat lain saja."
Laras menjadi sedikit penasaran. Ada apa ini?"
Mobil Pandu mengarah ke jalan desa. Menuju rumah Laras. Tetapi di sebelum belokan, tiba-tiba dia menghentikan mobil di pinggir jalan dan dibawah pohon rindang.
Pandu menumpahkan seluruh kisah sang adik. Gimana tadi pagi mereka saling bervideo call. Sang adik yang menggoda dirinya. Dia yang mengutuk balik Pram.
Laras semula tersenyum di awal cerita. Namun saat kisah berlanjut menjadi tercengung.
Pram bersama dua cewek pergi jogging. Namanya Bella, sang pacar dan Sandra. Keliling Senayan. Di akhir aktivitas, teman satunya, ehm bukan sang pacar, pingsan kelelahan.
Sang adik dan pacarnya mengantar pulang teman satunya itu.
Setelah siang Pram mendapat telpon bahwa Sandra telah memanggil dokter langganan keluarganya. Hasilnya dia dinyatakan berbadan dua. Dia tak sadar, tidak ngeh, padahal dirinya juga seorang dokter.
Tertuduh adalah Pram. Mereka konon memang sempat menghabiskan malam yang panas berdua setelah dari diskotik, lebih dari dua bulan silam. Saat itu Bella sedang ke luar negeri. Mabuk dan terjadilah peristiwa itu. Di mobil Pram. Duhhh.....
Pertengkaran tak pelak akhirnya terjadi antara Pram dan Sandra.
Pram tentu tak mau terima begitu saja. Dia balas membela diri. Mungkin saja Sandra pernah tidur dengan lelaki lain, mengingat reputasi gadis itu. Oleh karena itulah Pram mengadu pada sang kakak.
Diam-diam Pandu memendam kejengkelan pada sang adik, yang pernah menyuruhnya menikahi Sandra. Walau dengan nada bercanda. Sekitar sebulan lalu, saat dia pulang pas ultah sang mama.
"Dasar, kali ini kau tak akan aku maafkan, Pram!"
Pandu membatin. Menahan geram.
Laras sedikit bingung dengan alur kisah dari Pandu. Berbelit. Tak habis pikir. Punya pacar tetapi maaf, tak sengaja membuat gadis lain hamil?
Pandu tak lagi mampu menyembunyikan semua. Lebih baik dia jujur dan terbuka pada Laras.
Dia mengatakan bahwa Sandra, yang hamil itu adalah putri kolega sang papa dan semula dijodohkan dengannya. Pandu menolak. Termasuk kisah lamanya, dimana saat kuliah, jujur dia sampaikan, pernah memang naksir gadis itu. Sang adik kelas. Tapi Pandu bertepuk sebelah tangan. Sampai Pandu bertemu pacar pertamanya, bernama Elena. Sang mantan ini sekarang sudah menikahi orang lain.
Bagian kisah ini membuat Laras sedikit terganggu rasa cemburu. Namun dia memaksa diri buat tetap tenang.
Semua itu masa lalu yang harus dengan berat hati dilupakan, tentunya.
"Kamu bisa memahami kisah rumit ini?"
Laras mengangguk perlahan. Meski kepalanya cukup pusing. Nyaris serupa drama sinetron yang kerap dia dan nenek lihat di tv.
"Pram, Pram. Sampai sekarang masih saja buat masalah dengan para gadis," gerutu sang kakak.
"Mas, aku kasihan pada pacar Pram."
Tiba-tiba Laras berkata lirih dan menyampaikan pendapatnya.
Pandu sedikit lega. Laras tak sedikitpun mencurigainya. Tadi dia sedikit over thinking jangan-jangan Laras berpikiran yang tidak-tidak padanya.
Walaupun demi Tuhan memang bukan dia yang melakukannya. Dia bahkan belum pernah sejauh itu dengan siapapun. Hanya sebatas ciuman. Sedikit intim kadang. Tak lebih. Dengan kata lain Pandu masih perjaka.
"Oh, thanks God. My girlfriend ia a good girl. She trust me."
Sementara Laras tak henti membatin.
Hari ini sungguh lucu. Aku bertemu mantan. Mas Pandu mendapat berita dari adik dan satu gadis rumit, yang....ehm nyaris jadi mantan dari masa lalu Pandu.
Laras teringat satu kalimat entah dari mana sumbernya. Pernah dia baca begitu saja namun lekat di benak.
"Hidup memang terkadang komedi bagi yang merasakannya dan tragedi bagi yang selalu memikirkannya."
__ADS_1
Terutama memikirkan sang mantan, dalam hal ini.