
Hari terakhir pekan ini di sekolah TK ada latihan tambahan untuk paduan suara anak- anak. Setelah kegiatan olahraga bersama, mereka mulai berlatih.
Mereka akan tampil untuk acara ulangtahun perusahaan alias pabrik pengolahan kelapa sawit tersebut. Event direncanakan akan diadakan di balai pertemuan kompleks pabrik. Dua pekan ke depan.
Tahun lalu anak TK menyumbang satu tarian daerah, kali ini anak SD yang akan menari.
Anak- anak antusias, karena semua diikutkan. Mereka telah berlatih sejak seminggu lalu. Dua lagu telah disiapkan.
Lagu Indonesia Merdeka dan lagu Butet.
Laras melatih mereka dengan sabar.
" Ayo, perhatikan aba- aba dari bu guru dengan baik, ya!"
Suara keras dan semangat mereka memecah kesunyian di daerah pinggiran kebun kelapa sawit yang terbentang ribuan hektar itu.
Jam istirahat tiba. Pembagian makanan bergizi di akhir pekan. Kali ini giliran ibu Ningrum dan ibu Jovan yang menyiapkan. Bubur kacang hijau ketan hitam berisi potongan pisang kepok yang lezat.
Hingga jam sekolah berakhir pukul sebelas siang.
" Ingat ya, anak - anak hari Senin depan semua membawa kado untuk kak Fadli yang akan merayakan ulangtahun di sekolah," ujar Bu guru Laras.
" Baiiik, Bu guru ....!"
" Terimakasih. Nah, sekarang kita bersiap untuk pulang."
" Horeeeee...."
" Ayo Sari, kedepan memimpin doa. Mari berdoa pula untuk kesembuhan teman kita, Gaby ya."
Sepuluh menit kemudian lagu wajib pulang sekolah berkumandang. Seperti berlomba dengan kakak klas B. Setelah menyalami Bu Guru, anak- anak berhamburan pulang. Para penjemput, biasanya orangtua masing- masing telah menunggu di luar gerbang sekolah. Gerimis di siang itu tak menghalangi keceriaan anak - anak untuk kembali ke rumah masing - masing.
Setelah sekolah sepi, Laras dan Bu Nur kembali ke ruang guru. Pak Yus membersihkan kelas dengan menyapu serta mengepelnya. Lalu ia mengunci semua ruangan.
Laras bercerita kondisi sang murid pada seniornya itu. Bagaimana tentang Gaby yang rindu untuk bersekolah lagi. Bu Nur menyimak kisah itu sambil menahan haru.
" Semoga si kecil Gaby lekas pulih setelah kemoterapi ya, mbak Laras."
" Iya, Bu Nur. Kita doakan, agar Gaby selalu kuat."
Pukul satu, sekolah telah ditutup. Laras telah memacu motor maticnya menuju rumah. Demikian pula dua sejawatnya. Mereka bertiga memakai jas hujan masing - masing karena sepertinya gerimis berubah menjadi rinai yang makin membesar.
Laras berencana mampir ke grosir stationary depan pasar. Dia berdoa agar hujan tak makin deras. Nenek menitipkan beberapa daftar keperluan toko yang harus dibeli.
Buku tulis selusin dan buku kotak setengah selusin. Pensil warna kecil empat kotak serta selusin ballpoint berwarna hitam.
Hampir satu jam perjalanan. Laras sampai di rumah pukul dua siang.
Tiba- tiba sudah ada Pandu yang berdiri menyambutnya di depan teras. Nenek berdiri di sampingnya.
" Met siang, Laras ....."
"Lho, bukannya dia ke kota buat rapat?"
Laras membatin.
Gadis itu menaikkan motor hingga ke samping teras. Membuka helm berwarna putih. Lalu membuka pula jas hujan yang dipakainya. Setelah itu langsung membentangkan di atas sadel motor. Tak lupa mengambil hasil belanja yang dibungkus kantong plastik merah rangkap dua.
" Kalau hujan begini, belanjanya kan bisa nanti saja," seru sang nenek.
" Tanggung, nek. Lagipula stok toko sudah menipis. Besok belum tentu Laras bisa ke pasar."
Pandu membantu membawa masuk kantong belanja. Meletakkan di atas kursi ruang tamu.
" Sebentar ya, aku ganti pakaian dulu. Juga makan, lapar nih,," ujar Laras pada sang dokter dengan santai.
Gadis itu juga membawa barang -barang belanjaannya ke dalam.
Pandu hanya tersenyum mengangguk. Dia melanjutkan mengobrol dengan nenek sementara Laras masuk ke dalam.
" Maaf lho, nak Pandu. Laras suka begitu. Lugas dan sedikit cuek."
" Nggak apa- apa, nek. Biar dia beristirahat dulu. Kasihan kehujanan dan lapar."
Cerita nenek berlanjut tentang masa kecil hingga remaja Laras. Dia, anak tunggal. Ayahnya meninggal karena kecelakaan motor saat dia duduk di bangku sekolah dasar. Sedang sang ibu berpulang tiga tahun lalu, karena gagal ginjal.
Kisah berlanjut saat gadis itu kuliah.
Laras ngenger di rumah budenya di ibukota propinsi. Kakak kandung ibunda Laras membuka warung masakan Padang bersama suaminya di sana. Laras punya dua sepupu laki- laki. Semua telah mandiri. Satu menjadi prajurit TNI dan satunya merantau ke Jakarta sebagai dosen sebuah universitas swasta.
Pandu mendengar kisah lengkap Laras dari sang nenek yang masih terlihat sehat di usia menjelang tujuh puluh tahun itu.
" Maaf, menunggu lama ya," ucap Laras setelah kembali ke ruang tamu.
Gadis itu memakai rok kotak- kotak biru dan kaos oblong berwarna ungu muda. Rambutnya yang sedikit basah, digerai.
Nenek permisi untuk kembali ke toko, karena bik Jum sebentar lagi permisi pulang.
" Nenek masih energik dan sehat, ya."
Pandu membuka pembicaraan dengan Laras.
" Iya, ehm nenek cerita tentang apa?"
" Ada, banyak."
Laras melirik meja tamu. Sepertinya secangkir kopi yang dihidangkan telah kosong isinya.
" Mau dibuatkan minum lagi? Sepertinya cangkir itu perlu diganti....."
" Sudah cukup, terimakasih."
" Ya sudah, kalau nggak mau. Eh ya, terimakasih oleh - oleh buah naganya."
" Iya ....."
" Bagaimana kondisi Gaby?"
" Masih sama. Tetapi dia sangat senang menerima titipanmu. Matanya berbinar. Dia menitip salam buat Bu gurunya yang baik hati, katanya."
" Syukurlah Gaby menyukainya. Semoga itu bisa sedikit menghiburnya."
__ADS_1
" Ehm, apa sobekan kertas ini juga bisa menghiburmu?"
Pandu mengambil sesuatu dari dompet. Lalu dia menyerahkannya ke Laras.
Gadis itu menerimanya seraya tertawa.
" Aduh, ha ha ha ...mati aku!"
" Kalau boleh tahu, siapa L and J...itu?"
" Eits, dokter mau tahu aja. "
" Pastinya L... itu kamu, Larasati. Dan J....adalah?'
Pandu berdebar, apakah gadis itu akan menjawab bahwa J ....adalah Jamil???
" J ...ehm itu, Johny Depp ..."
"Hah....apa.?"
Pandu tak percaya.
" Itu kenangan kami, aku dan sahabatku semasa kuliah, bernama Lilisiana. Kami sama- sama penggemar film Pirates of Carribean. Kita berdua suka nonton sequel film itu di bioskop. Peran Jack Sparrow begitu menggoda, keren juga macho."
"Oh, begitu. "
Pandu sedikit merasa lega. Semoga apa yang Laras katakan adalah kebenaran.
"Kenapa dok, kok terlihat serius?"
" Yang kamu suka dari film itu, ceritanya atau para aktornya?"
"Ya, keduanya dong."
"Jadi Laras suka nonton film misteri seperti itu?"
"Iya....juga action hero. Lha kalau dokter suka genre apa?"
"Sama, action juga drama.
Pandu melanjutkan tanya," Lalu siapa aktor favoritmu, ehm selain Johny Depp itu. "
" Kalau di Indonesia tentu Nicholas Saputra. Kalau aktor luar, ehm Chris Evan, sang Captain America."
Ternyata Laras memiliki selera bagus, bisik Pandu dalam hati.
"Dokter punya aktor atau aktris favorit?"
"Eh ada, Sophaan Sopian dan Widyawati."
Laras tertawa tak henti," Aduh pak dokter kita, seleranya aktor lawas. Jadul....ehm. Maaf lho."
" Yang kekinian, dong."
"Aku suka Gal Gadot dan Scarlet Johansen."
" Wah, hebat. Suka perempuan tangguh berarti, ya."
Pandu membatin," Iya seperti kamu, Laras. Perempuan tangguh tetapi lembut hati."
Hujan semakin deras di luar.
" Hujannya makin membesar ya. Alamat lapangan bola besok akan becek dan berlumpur," gumam Laras.
"Besok ada latihan lagi?"
" Iya. Porsi latihan yang semula Rabu dan Jumat sore, karena bakal ada event ditambah jadi Minggu pagi."
" Ada event apa?"
"Akhir bulan depan, ada kompetisi antar kecamatan di kota kabupaten. Karena tahun lalu kita juara dua se kecamatan, jadi diikutkan juga dalam event itu."
" Bagaimana ceritamu bisa jadi pelatih bola?"
"Tahun lalu, asisten Kang Jamil mendadak mengundurkan diri karena pindah tugas ke tempat lain. Dia seorang tentara muda. Karena kang Jamil tahu aku pernah jadi atlet, dia menawariku. Tentu aku senang
sekali ...."
Pandu bisa merasakan antusiasme dalam nada suara Laras. Tapi begitu menyebut nama Jamil, hatinya mendesir.
"Ehm, sepertinya kamu punya passion di bola, ya."
" Tim futsal putri kampus kita pernah sampai tiga besar di propinsi untuk kompetisi tingkat mahasiswa, dulu."
"Lumayan juga. Hebat."
"Pelatih futsal kita dulu, masuk tim pelatih PON cabang sepakbola untuk provinsi ini."
" Oya?"
"Kang Jamil termasuk anak didik beliau."
Lagi-lagi nama itu disebut Laras. Sepertinya gadis itu bangga pada Kang Jamil-nya. Pandu membatin.
Dokter muda itu tiba-tiba ingin menyampaikan perasaan hati pada gadis di hadapannya.
"Lho, kok bengong dok? Ingat pasien di puskesmas? Atau kangen seseorang?"
Aduh ....., dasar Laras yang suka blak - blakan. Mana mungkin aku kangen pasien..., bisik Pandu dalam benaknya.
"Aku buatkan minum dulu deh. Biar dokter tidak melamun melulu."
Laras berdiri dan ingin beranjak ke dalam. Tiba-tiba Pandu mencegahnya dengan menarik tangan Laras secara refleks. Tentu saja gadis itu menjadi terkejut. Dia seketika menatap lelaki itu, tepat tertuju pada bola matanya.
Sejenak hening.
"Maaf, Laras."
Lelaki itu melepaskan tangannya dari tangan Laras. Sekuat tenaga berusaha menguasai diri.
Pandu masih sedikit salah tingkah, "Ada yang ingin aku sampaikan."
__ADS_1
"Apa ya?"
Laras telah duduk kembali. Dia melihat ke arah dokter itu.
"Ehm, aku...., aku suka padamu."
Kembali hening. Mereka berdua terdiam. Suasana sedikit canggung.
Pandu malu pada dirinya. Kenapa dia seperti anak remaja yang baru pertama menembak cewek?
Ayo, tunjukkan wibawamu. Pesonamu, Pandu....Pandu, bisiknya di dalam hati.
" Terimakasih. Aku juga suka padamu sebagai teman baru."
Laras bercanda sambil tersenyum.
"Laras, aku menyukai dirimu seperti lelaki dewasa yang suka pada perempuan dewasa."
Pernyataan tegas dari Pandu barusan, membuat Laras tak percaya. Baginya lelaki itu adalah teman baru yang cukup baik.
Masih sebatas itu saja. Baru kurang dari dua bulan ini mereka saling mengenal. Walau dalam hatinya mengakui kalau Pandu adalah sosok yang menarik.
"Kenapa Laras? Kenapa hanya terdiam?"
" Ehm, aku buatin air jahe hangat dulu ke dalam, ya."
Laras mengalihkan pembicaraan dan bergegas masuk ke dalam menuju dapur. Kali ini Pandu tak mencegahnya.
Terasa lama Laras tak muncul kembali. Lebih dari limabelas menit berlalu.
"Nah ini air jahe hangat dan kue nastarnya. Ayo di minum dulu, dok."
Laras terlihat tenang. Senyumnya masih sama. Sama sekali tak tampak canggung.
Pandu meraih minuman yang disajikan. Kehangatan segera menjalar di kerongkongannya.
"Kuenya nggak dicicipi juga?"
Laras membuka toples kecil itu dan menyodorkan ke arah Pandu. Mau tidak mau lelaki itu mengambil sebutir dan memasukkannya ke mulut. Laras meletakkan toples itu ke meja tamu kembali.
"Bagaimana, enak tidak? Itu buatanku dan nenek lho."
"Tentu enak kalau buatan kamu."
"Jujur, dok? Benar enak?"
"Sure."
"Kalau begitu, ini dicicipi lagi. Yang banyak juga boleh ....ha ha ha."
Gadis itu kembali menyodorkan toples yang masih terbuka itu pada Pandu.
Lelaki itu mengerti, cara Laras sedikit mengalihkan suasana.
"Jadi Laras juga suka buat kue."
Pandu mengunyah dua butir nastar lagi. Entah karena memang enak atau untuk menyenangkan Laras saja.
" Benar, kita suka kue untuk sekedar camilan saja."
" Laras.....boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa kamu juga suka padaku, ehm sebagai seorang perempuan dewasa?"
"Aduh, dok....ehm mas Pandu. Kita ngobrolin masalah yang lain saja, ya."
" Maaf Laras, aku serius."
Kembali hening sejenak.
"Begini. Kita kan baru saling kenal. Dokter belum tahu aku, orangnya seperti apa. Aku pun demikian. Jalani saja dengan santai. Biar alami. Kita tak bisa memaksa diri. Apalagi masalah perasaan."
Mak jleb. Pandu merasa malu. Perkataan barusan dari Laras merespon pernyataan dirinya, sungguh menunjukkan kalau gadis itu tenang dan dewasa.
Demi menyaksikan Pandu hanya terdiam saja, Laras melanjutkan perkataannya lagi.
"Kita perlu waktu buat meyakini perasaan sendiri. Supaya keputusan yang diambil tak di sesali kemudian hari."
" Terimakasih, Laras. Maafkan, tadi aku seperti memaksamu."
" Sudah santai saja, dok ehm ...mas Pandu. Ayo kuenya dimakan lagi....." kata gadis itu, kembali pada gayanya. Lugas dan blak-blakan.
Pandu tersenyum. Dia suka dipanggil dengan sebutan ...."mas Pandu". Bukan dokter Pandu.
"Laras, boleh aku minta sesuatu lagi?"
" Apa?"
"Tolong mulai saat ini dan seterusnya, panggil aku dengan sebutan mas Pandu, ya."
" Ehm, ya dok. Eh... mas Pandu, mas Pandu. "
Tawa pecah kembali.
Karena sudah agak sore serta hujan telah mereda, Pandu pamit untuk pulang.
Sebelum beranjak keluar dia, berpesan pada Laras, bahwa esok pagi akan kembali.
"Aku yang akan mengantarmu pergi melatih bola. Jam setengah tujuh pagi, kan?"
"Iya..."
"Tolong pamitkan pada nenek. Aku pulang sekarang."
" Tunggu sebentar."
Laras mengambil toples kue nastar dan menyerahkan pada Pandu.
" Buat teman malam minggu."
Pandu tersenyum. Ingin rasanya mencubit pipi gadis itu karena gemas.
__ADS_1
" Makasih, ya."
" Iya. Hati- hati di jalan."