
Mobil Pandu telah memasuki jalan menuju rumah Laras. Gadis itu masih terpejam. Sampai Pandu menghentikan dan mematikan mesin. Sebelumnya kaca jendela diturunkan hingga separuhnya.
" Laras, Laras, ..... kita sudah sampai rumah."
Tak ada reaksi. Pandu terpaksa menepuk-nepuk lengan atas gadis itu untuk membangunkannya.
Laras membuka matanya. Menoleh ke samping.
"Aduh, maaf aku tertidur lagi."
"Sudah di depan rumahmu. Ayo kita turun," ujar Pandu, lembut.
" Eh, iya .."
Laras turun perlahan sambil membawa ransel yang sejak tadi dipangkunya.
Laras berjalan agak terhuyung, hingga membuat Pandu memegang lengan kanan gadis itu. Mereka menuju ruang tamu.
Nenek menyambutnya. Melihat kondisi sang cucu membuatnya cemas.
Pandu membimbing Laras agar mampu duduk di kursi.
"Kenapa Laras?"
Laras tersenyum lemah, " Capek banget, juga lapar."
" Uhh, dasar Laras. Kalau begitu lekas makan. Nenek sudah siapkan menu istimewa. Ajak juga dokter Pandu."
" Ayo, dok... eh mas Pandu, kita ke dapur."
Nenek telah duduk di kursi dapur lebih dahulu dari mereka.
Laras mencuci tangannya dengan sabun di tempat cuci piring. Lalu duduk di kursi makan. Pandu melakukan hal yang sama.
Laras mengambil segelas air dari dispenser, lalu meminumnya. Dia menyiapkan segelas lainnya untuk Pandu.
Sudah terhidang menu di meja makan. Nasi putih, soup buntut komplit, tempe goreng dan sambal, tentunya.
" Jadi karena Laras terlalu lelah, terus sangat lapar lalu mengantuk. Tiba-tiba harus bangun hingga merasa pusing, bukan begitu?" nenek bertanya kepada sang cucu.
Laras mengangguk, seraya mengambil piring dan sendok makan lalu menyendok nasi. Lanjut melengkapinya dengan semua yang terhidang di meja.
" Maaf, aku duluan. Lapar banget."
Laras memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya dengan cepat. Mengunyah dan menelannya. Sangat lahap.
" Lho, dokter Pandu tidak kamu ambilkan?"
" Biar saya ambil sendiri, nek. Nggak apa-apa."
" Nenek tidak makan?" Pandu, bertanya.
" Nenek sudah makan sejak tadi."
"Maafkan Laras ya, dok. "
" Iya, mari nek. Saya makan dulu."
" Oh, silahkan, silahkan."
"Terimakasih.
Pandu makan perlahan.
Piring Laras telah kosong dalam sekejap. Gadis itu menambah porsi soup buntut. Juga sepotong tempe goreng.
Nenek lanjut berujar, " Dok, nanti ditambah lagi lho isi piringnya biar agak berisi badannya."
" Iya, makasih nek."
" Bagaimana masakan nenek aku. Enak, kan, dok? Eh, mas Pandu."
" Enak, enak tentu."
Nenek tersenyum.
" Kalau memang enak harus tambah. Iya kan, nek?"
Laras sepertinya sudah kenyang. Gadis itu menghentikan aktivitasnya seraya menyandarkan badan di bahu kursi makan.
Laras memejamkan mata sejenak. Lalu menghela nafas panjang. Sekejap kemudian membuka mata dan menghabiskan air di gelas berukuran sedang di hadapannya.
Pandu memperhatikan Laras. Sepertinya gadis itu tak dalam keadaan baik-baik saja, walau telah makan.
" Laras, apa kamu tidak apa-apa ?"
" Maaf, aduh sepertinya perutku kram. Jangan-jangan datang bulan..."
" Husssh, Laras. Malu sama dokter Pandu."
Nenek mengingatkan cucunya dengan suara agak keras.
"Nggak apa-apa, nek."
"Ehm, apa memang sudah waktunya?"
" Belum sih, dua atau tiga hari lagi, biasanya."
Nenek yang memang berbeda generasi dengan mereka, merasa tidak nyaman. Laras dan Pandu membahas tentang hal yang bagi nenek cukup sensitif. Tamu bulanan.
" Ayo dok, ditambah lagi. "
" Terimakasih, nek. Saya sudah cukup kenyang.
Setelah makan, nenek permisi mau ke toko untuk memanggil bik Jum agar membantu bersih bersih di dapur.
Laras dan Pandu kembali ke ruang tamu setelah meletakkan perlengkapan makan mereka tadi di bak cuci piring.
Laras terus memegang perutnya.
" Sebaiknya Laras istirahat dulu setelah ini. Apa tiap bulan selalu sakit kalau datang bulan?"
" Tidak selalu. "
Laras permisi mau ke kamar mandi sebentar.
Pandu mengerti dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Tak lama, gadis itu muncul kembali.
"Ternyata belum keluar. Tapi kok sakit banget ya."
" Coba minum air putih hangat. Punya obat pereda nyeri?"
" Ada."
" Nanti di minum jika sudah tak bisa ditahan sakitnya."
Laras terdiam.
"Baiklah aku akan pulang dulu, supaya kamu bisa beristirahat."
"Maaf ya, dok. Ehm, mas Pandu."
" Sebaiknya obatnya diminum saja. Lalu tidur, istirahat. "
" Ya, setelah ini aku mandi, minum obat dan tidur."
"Bagus. "
"Aku pamit. Tolong sampaikan ke nenek."
" Makasih ya, mas Pandu. Maaf aku tak antar ke depan."
"Oke. "
Pandu memacu mobilnya ke arah puskesmas. Kalau mau jujur, sebenarnya tadi dia masih ingin ngobrol dengan Laras. Siapa sangka gadis itu merasa tak enak badan. Jadi Pandu harus tahu diri agar Laras bisa cepat beristirahat.
Sepanjang perjalanan, lelaki itu mengingat rekaman percakapan dua teman Laras di lapangan bola tadi.
"Ah, cerita masa lalu," batinnya.
Pandu menyetel radio di mobilnya. Sebuah lagu dari itu Isyana Saraswati. Tetap Di Dalam Jiwa.
Demi mendengar barisan liriknya, malah membuat Pandu lebih mengingat kisah masa lalu Laras. Segera saja lelaki itu mematikan radio.
" Kenapa aku galau begini," batinnya.
"Laras, Laras......"
Benar juga kata dia. Mereka belum banyak mengenal satu sama lain. Pandu belum paham apa hal- hal yang disenangi atau yang tak Laras senangi. Demikian pula sebaliknya.
Apa benar kalau dia terlalu cepat menyatakan rasa suka pada gadis itu?
Daripada melamun terus sambil nyetir, Pandu memutuskan menyetel lagu dari tape mobil. Koleksi playlist favoritnya.
Sebuah lagu dari Kety Perry.
" Unconditionally."
Terasa pas dengan suasana hati Pandu.
Lagu berikutnya " Somebody to Love" dari Queen.
Tak terasa mobil telah memasuki area puskesmas. Persis saat lagu itu usai. Pandu memarkir mobilnya di bagian biasanya. Pojok garase.
" Siang, dok!"
" Siang...."
Ah, indahnya..........walau ini sedang siang hari bolong.
Pandu membersihkan diri dan bersiap istirahat.
Lelaki itu tertidur hingga sekitar pukul satu siang.
Sayangnya tak bermimpi apapun. Mungkin karena tak terbiasa tidur pada jam - jam segitu.
Pandu mengintip isi kulkas kecil di dapur. Ternyata stok telah menipis.
Sepertinya sore nanti, dia harus belanja.
Hanya beberapa butir telur, dua buah naga serta kubis dan wortel. Botol sirup cocopandan yang tersisa setengahnya.
Ada sisa puding coklat yang dibuat mbok Siti, kemarin. Pandu berencana menghabiskannya sambil nonton televisi.
Beberapa kali berganti channel. Akhirnya dipilih sebuah acara pertualangan. My trip my adventure.
Pesona Nusa Penida, Bali kali ini diekplorasi dengan apik. View pantai dan lautnya yang mempesona. Seandainya dia dapat berlibur ke sana suatu saat kelak. Bersama.....Laras.
Lagi-lagi gadis itu.
Kondisi Pandu saat ini mirip lagu lawas yang ngetop.
"Aku baru bangun...ingat kam
aku mau mandi ...ingat kamu
mau makan ....ingat kamu
sedang nonton tv...ingat kamu
jadi semua karena aku suka kamu.."
Pandu tertawa sendiri, dia malu jadi mirip anak baru gede yang galau karena jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Ingin sesungguhnya menghubungi Laras. Dia khawatir kondisi badan gadis itu sedang turun. Namun dia sedikit ragu. Kemungkinan Laras masih beristirahat. Apalagi jika memang gadis itu telah minum obat pereda nyeri.
"Laras, Laras ...
Pandu mengganti channel tv. Sebuah siaran ulang pertandingan badminton tingkat dunia. Tunggal putra, musuh bebuyutan.
Lelaki itu memusatkan perhatian pada layar tv. Pertandingan berjalan seru. Service, smash, bola - bola pendek diselingi bola panjang. Adu strategi tingkat tinggi. Sesekali Pandu berteriak kecil. Bola nyangkut depan net. Ada juga saat bola diperkirakan out, ternyata masih in.
Aliran adrenalin ikut intens saat kondisi menegangkan. Kejar-kejaran skor. Para penonton sport jantung. Apalagi kedua pemain.
Akhirnya, dua set dimenangi dengan selisih skor tipis dan wakil kita unggul atas negeri tetangga.
Lega.....
Tak terasa menjelang pukul tiga. Pandu mengakhiri kegiatan nonton layar tv.
Dia berencana keluar belanja untuk isi kulkas. Juga kebutuhan pribadi lainnya.
Mengendarai motor berplat merah, Pandu menuju minimarket yang tak jauh dari Puskesmas. Saat itu disana hanya ada empat pengunjung.Setelah mengambil keranjang belanja, segera ia memilih barang-barang.
__ADS_1
Tissu, sabun mandi cair, detergent, pasta gigi dan shampo. Lalu sekotak susu cair berukuran besar, rasa vanilla. Satu slot isi enam botol kecil minuman probiotik. Juga sekotak abon ayam.
Giliran di bagian buah. Pandu mengambil buah pisang, pepaya dan melon berukuran sedang. Biasanya bahan sayur segar dan lauk, Pandu titip pada mbok Siti setiap paginya.
Keranjang belanja telah penuh. Saat menuju kasir, sebuah suara menyapa.
"Sore, dok. Lagi belanja mingguan? " tanya suster Wati, bersama satu perempuan lain yang tak dikenalnya.
Pandangan sedikit genit dari dua perempuan muda itu, membuat Pandu tak begitu nyaman.
" Ehm, iya. Suster juga belanja?"
" Iya, kami lagi mau cari skincare," lanjutnya, manja dan terkesan makin menggoda.
Bisik-bisik dua perempuan muda yang menyebut dirinya ganteng, membuat Pandu, tadi tersenyum dalam hati. Normal dan manusiawi.
" Aku sudah selesai, mau bayar di kasir. Duluan, ya."
Pandu ngeloyor pergi. Terdengar suara cekikikan. Juga perkataan kalau dia manis dan gemesin.
"Duh, padahal aku sudah sedikit jutek, barusan," batin lelaki itu.
Ditatap dan dibicarakan dengan cara seperti barusan membuat Pandu risih. Cara bersikap para perempuan seperti itu
menurutnya justru tak sopan serta berlebihan.
Tak seperti Laras......sedikit cuek lalu apa adanya. Lugas. Lagipula tak pernah Pandu lihat kalau Laras bergenit ria seperti kedua perempuan tadi.
Lagi-lagi tentang Laras............
Pandu menghidupkan mesin motor dan kembali ke rumah.
Menjelang malam Pandu akhirnya memutuskan menelpon Laras.
Suara sedikit lemah Laras menyiratkan kalau gadis itu sedang tak baik-baik saja.
" Akhirnya bocor juga dok, eh mas Pandu. Lega rasanya."
" Masih kram perutnya?"
" Sudah mendingan. Tadi terpaksa minum obat agar bisa tidur."
"Jaga kondisi, Laras. Minum banyak air putih hangat. Makan buah pisang sebelum dan saat menstruasi juga bisa sedikit
membantu meredakan nyeri. Jika perlu juga minum suplemen penambah darah."
"Siap, dok..."
"Panggil ......, mas Pandu saja."
" Kalau lagi ngasi advise kesehatan, aku harus panggil anda dengan dokter......."
Pandu tersenyum, Laras masih dapat mempertahankan selera humor di kala sakit seperti itu.
" Baiklah, Bu guru....."
" Panggil Laras, saja."
" Lho, kalau kamu lagi mengajari aku, maka kupanggil dengan nama lengkap, ibu guru Larasati....ha, ha, ha...."
Tawa keduanya pecah. Canda dan mempersoalkan hal sepele seperti inilah, membuat Pandu merindukan moment ngobrol dengan Laras.
Saat ketika kita tidak terlalu menahan diri sendiri untuk jadi apa adanya. Alias tak jaim.
"Sudah makan malam?"
"Barusan selesai. Menunya pepes tongkol dan tumis kangkung. Ehm, mas Pandu sudah makan atau belum?"
" Belum...."
"Masak sendiri atau biasanya beli?"
" Yang masak biasanya ada, tapi hari Minggu dia libur."
" Jadi makan malamnya gimana sebentar?"
"Tetap pakai nasi..., paling berteman telur ceplok."
" Duh, kasihan....."
Pandu tertawa kembali.
"Nanti aku masakin deh, kapan-kapan maksudnya."
" Benar?"
" Iya."
"Janji, lho!"
"Kita buktikan nanti."
Deg. Pandu senang mendengar perkataan gadis itu barusan, menunjukkan kalau Laras perhatian padanya.
"Laras, kamu istirahat dulu. Besok mengajar kan?
" Iya dong."
" Bagus."
" Oke, mas Pandu makan dulu. Ingat goreng telur jangan melamun, nanti gosong. "
" Iya, tapi aku melamunkan dirimu."
" Gombal!" Sudah ya. Ini nenek panggil aku buat menemaninya nonton sinetron."
" Oke, take care."
" Thank you...."
Pandu benar-benar lega. Laras sudah baikan.
Lelaki itu kembali teringat akan perkataannya tadi bahwa dia melamunkan diri Laras.
Itulah yang sejujurnya terjadi akhir-akhir ini. Sekarang juga.
Apakah Laras mengerti, atau sekedar menganggapnya bercanda?
__ADS_1
Tetapi Pandu yakin, Laras gadis yang cerdas. Pasti dia paham. Hanya perlu waktu buat meyakinkan diri.