
Sudah lima hari dari pernikahan Dimas dan Arini ,bik Sumi dan Yanto juga Wati sudah pulang kembali ke desa, sedang Sumi kembali ke rumah Lia bekerja lagi di sana ,walaupun sebenarnya Lia memberikan pilihan untuknya,mau tinggal di rumah Dimas atau kembali bekerja.
Arini pun sudah kembali jualan sayur ,dia tak mau lama-lama nganggur karena memang dasarnya pernikahan ini hanya main -main baginya,
Dimas pun sudah kembali ke aktifitas biasanya ,bekerja di pasar kadang sebagai kuli angkat barang kadang juga membantu pak Hudi yang punya toko sembako untuk mengantarkan barang-barang pesanan pelanggannya
sore hari Dimas sudah selesai dengan tugasnya karena pasar sudah tutup sejak jam Dua siang,
Waktu Dimas berjalan mau pulang tiba di parkiran ,sambil menenteng barang belanjaannya untuk dagang Arini besuk pagi ,di dihampirinya motor yang diparkirnya di samping sebuah mobil mewah ,ketika hendak meletakkan belanjaannya,seseorang berteriak memangilnya,
''Dimaas,,,tunggu,'' suara seorang wanita yang tak jauh dari sisinya ,
Dimas menoleh dilihatnya dua orang wanita mendekatinya,
''mbak siska, ada apa mbak kok di sini?'',tanya Dimas sambil menatap mereka heran,
''bisa kita bicara Dim,'' Siska memohon yang kemudian Dimas menyanggupinya,
mereka lalu menuju sebuah kafe yang terletak tak jauh dari taman dekat pasar,
Setelah mereka sampai di cafe dan memesan minum dan makanan.
''Dim ,aku hanya mau memastikan kalau kamu sudah bisa mendekati istrimu,'' tanya Siska sambil matanya menatap tajam pada Dimas penuh pengharapan,
''aku belum bisa mendekatinya,seperti yang mbak ketahui dasar kami menikah hanya sebagai kerjaan jadi mbak Arini masih menjauhiku walaupun kami satu rumah,''
'' sepertinya Arini memang masih mengharap pada Rian ,'' Santi bergumam sendiri.
''Dim, bisa kau bantu aku ,aku punya rencana untuk menjauhkan perasaan Rian pada Arini ,aku ingin kepercayaan Rian pelan -pelan sirna,'' ucap Siska sambil meneguk minum,
''aku tau kau mulai suka dengan Arini ,dan kita kerja sama untuk mempertahankan pasangan kita masing-masing,'' Siska lalu mengeluarkan sesuatu dan menyerahkannya pada Dimas ,
''ini apa mbak ?'' sebelum Siska menjawab satu lalu mengeluarkan sebuah cek di serahkan pada dimas,
ambil ini sebagai bonus untukmu ,kerjakan tugasmu sisanya aku yang urus,
__ADS_1
Dimas mengangguk ,walaupun dihatinya merasa bersalah pada istrinya ,di hatinya merasa tak karuan memikirkan kalau cintanya di diperjualbelikan dan ditukarkan semata -mata demi uang.
''Pa aku merasa harus bertindak tegas pada Rian ,jujur aku masih khawatir pada Rian karena walaupun Arini sudah menikah dengan Dimas tapi sepertinya dia akan sulit menerima keadaan .'' ucap Lia pada suaminya suatu sore ketika mereka berdua sedang duduk santai di tepi kolam di taman belakang,
''maksudmu apa ma ?'' Burhan mengerutkan keningnya ,lalu kemudian mengambil kopi yang baru saja disuguhkan bik sumi,
''kirim Rian dan siska keluar negri pa ,suruh Rian urus bisnis papa yang di sana, paling tidak sampai Siska melahirkan ,buat Siska lahiran di sana,''
''Aku sih setuju saja tapi apa Rian mau ,?''
''kita paksa pa ,biar aku ngalah deh aku akan ikut mereka dan menjaga Siska di sana.
''Lalu apa santi akan setuju,?'' tanya Burhan dengan sedikit mengernyitkan dahinya ,
''aku rasa Santi akan setuju apa lagi ini juga demi hubungan pernikahan Siska juga, bagaimanapun dia harus setuju ,'' ucap Lia berapi-api.
''Ya itu terserah mama deh aku sih setuju saja demi kebaikan bersama ,'' bukankah dengan begitu aku akan lebih bebas berduaan dengan Santi '' batin Burhan sambil tersenyum -senyum sendiri,
''pa,kok senyum -senyum kenapa ?'' Lia membentak Burhan sampai terkaget,
Dimas sampai di rumah Arini sambil menenteng belanjaannya, setelah masuk rumah langsung dia menuju dapur dan meletakkan belanjaannya .
Dimas mengetuk pintu kamar Arini karena sejak masuk rumah tadi tak dilihatnya istrinya itu,
''mbak,mbak Arin ,mbak di dalam ?'',
''iya ,sebentar aku baru mandi,'' teriak Arini dari dalam.
Setelah Arini keluar kamar dia langsung menuju dapur membuatkan minum Dimas,
di bawanya minum itu ke ruang tamu diana Dimas duduk di sana sambil mengotak -atik ponselnya,
'' mbak sesuai perjanjian mas Rian sudah memberiku uang ,'' ucap Dimas sambil memperlihatkan ponselnya ,
''bagus kalau begitu ,berarti tingal kamu tanggung jawab dengan kerjaan kamu,'' timpal Arini sambil menghempaskan bobot tubuhnya duduki sebelah Dimas.
__ADS_1
''mbak ,tolong bantu aku ,sejujurnya aku takut kalau aku khilaf ,lirih suara Dimas tapi masih terdengar oleh Arini,
''ku mau tak ,masakin apa?'' tanya Arini setelah Dimas selesai dengan ponselnya,
''ngak usah repot-repot mbak,''
''kamu ,kok ngomong gitu, kan sudah seharusnya karena kamu ,'' Arini berhenti berkata lalu berdiri hendak menuju dapur, tapi sebelum berjalan sebuah suara dan ketokan pintu ,
teryata Dami dan Soni datang bertamu , setelah mempersilahkan duduk Arini menuju dapur membuatkan mereka minum,
''seperti yang ku ajukan Minggu kemarin mbak ,Arin dan Dimas sesuai kesepakatan kita mau melanjutkan tentang rumah ini ,bagaimana jadinya?'' tanya Dami,setelah Arini duduk kembali ,
'' iya mbak saya mau dan setuju dengan harga yang mbak tawarkan, tapi perihal pembayarannya jangan sekarang yan kasih saya waktu dua hari ,'' pinta Arini yang langsung di setujui oleh Dami,
Lagian tanah belakang rumah juga masih ada dan bisa di tanami sayuran ,walaupun tak begitu luas karena belakangnya lagi tanah milik pak dhe nya Dami.
''Rencana ke depannya mas Soni mau buka bengkel di dekat pasar ,kami sudah melihat sebuah ruko yang di sewakan di sana ,'' ucap Dami sambil melirik suaminya yang hanya diam ,dan dalam diam itu dengan tanpa ada yang tau diam -diam Soni melirik Arini ,karena jujur dia masih menyimpan rasa pada arini,
''Kalau mbak Arini dan Dimas kedepannya mau punya rencana apa?''
''saya mau buka jualan online mbak selain yang sudah saya jual ini, juga akan menerima pesanan tumpeng dan apapun yang berhubungan dengan makanan ,'' Dami hanya mengangguk ,
'' mbak kalau utuk tanah yang di belakang rumah ini punya siapa ,boleh ngak bila tak sewa ,rencananya buat nanam -nanam sayuran gitu ,karena mbak Arini maunya aku keluar dari pekerjaanku lalu membantunya di rumah ,kalau usahanya sudah berjalan nanti,'' panjang lebar Dimas ngoceh,
''itu milik pak dhe aku nanti tak tanyakan ya?'' jawab Dami ,
''Lo sama istrinya panggilnya kok masih mbak sih ?'' tanya Soni sambil sesekali melirik Arini ,
'' iya ,kadang masih suka lupa habis kebiasaan sih,'' ucap Dimas sambil meringis
Sampai agak malam mereka bercengkrama,
''mas sudah malam pulang yuk kasihan pengantin barunya ,lagian juga katanya kamu juga maunya segera punya anak ,ha,,,ha Dami tertawa sambil mencubit pinggang Soni .
Mereka pun segera pamit dan setelah kepergian Dami dan suaminya, Dimas segera masuk kamarnya ,begitupun Arini masuk ke kamarnya sendiri,
__ADS_1
'' perjanjian yang menyiksa,'' terasa sedikit sesak dada Dimas