
"Selamat nona Xing'er anda sudah menemukan jodoh anda," ucap kakek tua yang tempo hari mendatangi Xing'er saat sedang mabuk.
"Kakek kenapa kau memberiku jodoh ditempat yang jauh seperti ini, memangnya kau tidak bisa memberiku jodoh di masa ku sendiri," protes Xing'er mendelik.
Pria tua berjanggut putih itu tertawa dan menjawab jika dirinya mengirim Xing'er bukan hanya semata-mata untuk memberinya jodoh, tetapi Xing'er harus melakukan sesuatu untuk membalas kebaikannya yang telah memberinya jodoh seorang putra mahkota.
Syarat yang diberikan oleh kakek tua tersebut yaitu, Xing'er harus bisa mendapatkan empat bola kristal yang merupakan benda berharga para raja yang tersebar di negara Chang'an lalu mengirimnya ke gunung chenrong pada waktu yang akan ditentukan.
"Jika aku tidak mau bagaimana?"
"Hahaha, jika kau tidak melakukannya maka kau tidak bisa kembali ke tempat asalmu, kau akan mati disini dan berubah menjadi jiwa yang sengsara."
"His, kenapa menyeramkan sekali sih."
"Aku harap anda bisa mengumpulkan keempat bola itu agar anda bisa kembali ke tempat asal bersama jodoh anda," jelas kakek tua yang kemudian menghilang.
"Eh kakek tua tunggu, kakek tua!" teriak Xing'er dalam tidurnya kemudian ia terperanjat dan mengusap keningnya yang dipenuhi oleh keringat.
Wanita itu duduk merenung sambil mengingat mimpinya barusan. "Bola kristal, untuk apa dia memerlukan bola seperti itu dan bagaimana caranya aku bisa mendapatkan bola-bola tersebut?" gumam Xing'er berpikir keras, kemudian ia mendesis kesal saat tahu jika pria tua itu sedang memanfaatkannya namun mau bagaimana lagi, saat ini dirinya sudah terjebak di masa lalu yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah menikmati hidup yang entah akan bagaimana kedepannya.
Memikirkan tentang bola kristal yang masih tidak dia mengerti membuat perut Xing'er menjadi lapar, ia meraih tasnya dan mengambil satu bungkus mie instan untuk ia makan.
Selain merasakan perutnya yang keroncongan efek mimpi yang cukup menguras tenaganya Xing'er juga merasa kepanasan, ia sudah terbiasa tidur di bawah pendingin ruangan yang menyejukkan dan sekarang ia tidur tanpa adanya pendingin ruangan membuat Xing'er sedikit menderita akibat kegerahan.
Xing'er yang sudah tidak tahan merasa gerah, menanggalkan pakaian luarnya dan mengikat rambutnya tinggi kemudian berjalan keluar kamar untuk mencari dapur.
Bersamaan dengan keluarnya Xing'er dari dalam kamar, seseorang yang tak dikenal terdengar sedang berjalan cepat di atas genteng. Xing'er yang tidak mendengar apapun hanya terus berjalan dan mencari dapur, sementara Han Wang Yue yang sedang tertidur pulas langsung membuka kedua matanya kala merasakan ada penyusup datang.
Dengan mengenakan pakaian tidur serba putih, ia bangkit dari ranjang dan buru-buru mengambil senjatanya untuk melawan penyusup yang berani datang ke pondok Lian Hua miliknya.
"Dapurnya dimana ya?" gumam Xing'er masih mencari keberadaan dapur.
"Xing'er, sedang apa dia disana malam-malam begini? Hah jangan-jangan," Han Wang Yue terus mengawasi gerak gerik Xing'er yang ia curigai sebagai komplotan penyusup yang ingin membunuhnya.
Setelah berkeliling beberapa menit akhirnya Xing'er menemukan ruangan yang dicarinya sejak tadi, dia langsung masuk kesana dan seketika diam mematung ketika melihat keadaan dapur yang masih menggunakan tungku serta alat-alat lainnya yang tradisional.
"Hah, dimana kompor gasnya? Disini juga tidak ada termos lalu bagaimana aku bisa memasak mie jika seperti ini?" kaget Xing'er bingung bagaimana caranya menyalakan tungku dengan ukuran yang besar.
Ia mencoba mencari korek disekitar dan tidak dapat menemukannya, gadis itu merengek sambil memegang perutnya yang terdengar demo kemudian dikejutkan oleh suara Han Wang Yue yang datang secara tiba-tiba.
"Nona Xing'er."
"Hah membuatku kaget saja," ucap Xing'er berbalik. Melihat tampilan Xing'er yang hanya memakai satu lapis pakaian tipis dan memperlihatkan sekitar dada serta bahunya yang mulus, Han Wang Yue memalingkan wajahnya dari Xing'er dan merasa malu sendiri sementara si wanita hanya menatap bingung sikap Han Wang Yue yang aneh.
"Kenapa?" tanya Xing'er polos.
"K-kenapa anda tidak memakai pakaian anda saat keluar."
"Hah? Apa kau buta ya, aku sudah memakai baju ku."
__ADS_1
"Ma-ma-maksud saya, b-baju lengkap."
"Oh, aku kepanasan jadi meninggalkan pakaianku dikamar," kata Xing'er tersenyum polos.
"L-lalu apa yang anda lakukan disini?"
Sebelum Xing'er menjawab, mereka berdua mendengar langkah kaki yang berasal dari genteng semakin kencang dan dekat.
"Suara apa itu?"
Han Wang Yue berbalik ke arah pintu, bersiap dan menunggu penyusup datang untuk menyerang dan tak perlu waktu lama ia menarik pedangnya kemudian muncul tiga orang dengan penampilan serba hitam serta wajahnya memakai topeng langsung menyerang Han Wang Yue tanpa aba-aba.
Pertarungan satu orang melawan tiga orang pun terjadi, Xing'er yang kaget sekaligus takut hanya memeluk mie instannya sambil bersembunyi dibalik meja dapur. Meskipun dalam keadaan takut, ia terus menonton pertarungan tersebut dan terlihat kagum pada keterampilan Han Wang Yue dalam menggunakan pedang.
"Wah dia hebat sekali," puji Xing'er terkagum-kagum saat melihat Han Wang Yue dengan gagahnya melawan para musuh tanpa mengenal takut, mulut gadis itu bahkan sampai ternganga ketika melihatnya yang lompat kesana kemari dengan lincah kemudian menghajar dan menusuk ketiga pria tak dikenal itu dengan mudahnya.
"Sudah tampan, sopan, gagah dan pemberani lagi apa benar dia calon suamiku? Hihi aku harus mendekatinya apapun caranya, jangan sampai menyia-nyiakan pria sekeren itu jika Niang tahu dia punya calon menantu yang jago bela diri dia pasti akan sangat senang," gumam Xing'er tersenyum sendiri di bawah meja membayangkan saat dirinya membawa Han Wang Yue ke depan orang tuanya.
Disaat Xing'er sibuk dengan khayalannya, Han Wang Yue telah berhasil melumpuhkan para penyusup tersebut dan tersisa satu orang yang masih dalam keadaan hidup, ia hendak bertanya dari mana mereka berasal tapi orang itu keburu mati dengan mengeluarkan seteguk darah dari mulutnya.
"Hah, dia meracuni tubuhnya sendiri," gumam Han Wang Yue menatap orang itu dengan kening yang berkerut.
"Yue Daren, kau tidak apa-apa?" tanya Xing'er berlari ke arah Han Wang Yue kemudian ia langsung diam mematung saat melihat tiga mayat dengan luka sabetan pedang yang mengeluarkan darah.
Pertama kali dalam seumur hidupnya. Ia melihat orang tewas bersimbah darah secara langsung seperti ini, tubuhnya mendadak lemas dan kepalanya pun terasa pusing sehingga ia menjatuhkan mie instannya karena tangannya bergetar.
Han Wang Yue menoleh pada Xing'er yang terlihat ketakutan, ia buru-buru berdiri dan menutup kedua mata Xing'er dengan telapak tangannya.
Kedua manik mata Xing'er melirik pada sang putra mahkota yang sedang melindunginya, suasana tegang mendadak jadi sunyi yang terdengar hanya suara hembusan angin lembut yang menerbangkan sedikit rambut milik Han Wang Yue yang terurai indah.
Di bawah cahaya sang rembulan malam yang terang, Xing'er dapat melihat paras Han Wang Yue yang memiliki ketampanan di luar nalar. Sorot matanya memancarkan ketegasan, rahangnya yang tegas seakan menggambarkan kewibawaannya, hidung yang mancung, kulit lembut bercahaya serta bibir merah muda yang menggoda dan sejak detik itu juga saat dimana Xing'er tersadar jika Han Wang Yue benar-benar pria tampan yang baik. Xing'er menyimpan keteguhan dalam hatinya jika Han Wang Yue harus menjadi miliknya dan tidak boleh ada yang mengambil dari sisinya.
(Han Wang Yue)
"Taizi bixia," panggil Yu Mu.
"Taizi bixia, apa anda baik-baik saja … maaf kami datang terlambat," seru Suan Ni dan Yu Mu berlari menghampiri Han Wang Yue.
"Eh Nona Xing'er anda disini juga," kata Yu Mu yang langsung membalikan badan saat sadar jika Xing'er tidak memakai pakaiannya dengan lengkap.
Han Wang Yue yang masih menutupi mata Xing'er menoleh pada wanita itu dan memintanya untuk menutup mata. Ia membuka pakaian luarnya kemudian memakaikannya pada tubuh Xing'er.
"Suan Ni, Yu Mu bereskan semuanya," titah Han Wang Yue yang langsung disambut dengan anggukan kepala.
Ia mengambil mie instan milik Xing'er dan memberikannya. "Kau boleh membuka mata, Suan Ni dan Yu Mu sudah membereskannya."
Xing'er menghela napasnya dalam dan mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. "Itu mengerikan, sangat mengerikan … apa setiap hari kau berkelahi seperti itu?"
__ADS_1
"Pembunuhan dan pertumpahan darah sudah menjadi hal biasa bagi kami, jika takut mati maka jadilah manusia baik jangan membuat masalah," kata Han Wang Yue dengan nada memperingatkan.
Gadis itu bergidik ngeri dan mengikuti Han Wang Yue yang masuk ke dalam pondok. "Kenapa kalian berbuat kejam seperti itu? Kenapa tidak menyerahkannya pada polisi?"
Han Wang Yue menghentikan langkah kakinya dan menatap Xing'er tidak mengerti.
"Ehm, maksudku kenapa tidak menyerahkannya pada petugas hukum kenapa kau harus membunuhnya secara langsung." Xing'er mengulang kembali ucapannya agar lebih dimengerti.
"Orang itu mengincar nyawa jika bukan diri sendiri yang membunuhnya maka kita sendiri yang akan mati di tangannya."
Xing'er kembali menghela napasnya, tidak mengerti dengan peraturan hukum yang dibuat oleh pemerintah kekaisaran.
"Oh ya, apa yang sedang nona Xing'er lakukan malam-malam seperti ini di dapur?" tanya Han Wang Yue kembali menyimpan curiga jika Xing'er berkomplot dengan orang-orang itu.
Gadis itu tersenyum gugup sambil mengusap perutnya yang lapar. "Aku lapar, tadinya mau memasak mie tapi tidak tahu cara menyalakan kompor dan malah melihatmu bertengkar dengan penjahat itu."
Han Wang Yue menggelengkan kepalanya dan membawa Xing'er kembali ke dapur, ia membantu menyalakan tungku dan memperhatikan wanita itu yang tengah memasak.
"Apa semua mie di tempatmu seperti itu?"
"Tidak, ada juga yang menjual mie tradisional … ini namanya mie instan cara cepat jika ingin memakan mie dimana saja dengan cara mudah, coba cium harum kan."
Kepala Han Wang Yue mengangguk-angguk sambil tersenyum.
"Mau coba?" tawar Xing'er mengasongkan sumpit pada Han Wang Yue.
"Bolehkah?"
"Ehm," angguk Xing'er.
Pria itu mengambil sumpit dari tangan Xing'er dan mulai mencicipinya dengan penuh perasaan, sedikit aneh karena pertama kali merasakannya tapi terasa begitu lezat.
"Ehm, ini enak."
"Kalau begitu habiskan saja."
"Bagaimana denganmu."
"Aku masih punya stok." Xing'er menunjukan kembali bungkusan mie itu dan mulai memasaknya lagi.
Di Bawah pohon yang rindang dengan pemandangan bulan yang membulat indah, Han Wang Yue dan Xing'er menikmati makan malamnya secara bersamaan sambil berbincang tentang kehidupan Xing'er di zaman modern.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.