
Cahaya berkilau berwarna merah menyala secara tiba-tiba terpancar dari sepasang gantungan kunci yang terbuat dari benang merah ketika tanpa sengaja disentuh oleh Han Wang Yue.
Xing'er beserta ketiga pria yang berada di pondok Lian Hua itu seketika hening dan menatap benda tersebut tanpa berkedip.
"Siapa kau sebenarnya?" lagi-lagi Suan Ni menghunuskan pedangnya pada leher Xing'er. Kecurigaannya pada Xing'er yang mengatakan jika wanita itu adalah penyihir yang ingin menyakiti putra mahkota semakin kuat.
Melihat benda pemberian kakek tua yang katanya bisa menyala saat menemukan jodohnya, Xing'er hanya terdiam tak percaya bahkan ia merasa jika semua kejadian yang dialaminya hari ini hanyalah sekedar bunga tidur.
Han Wang Yue yang melihat Xing'er tidak melakukan pergerakan, memberikan isyarat pada Suan Ni agar menurunkan pedangnya.
"Giok pencari jodoh," seru Yu Mu masih menatap gantungan tas milik Xing'er tanpa berkedip.
Han Wang Yue dan Xing'er menoleh ke arah Yu Mu yang sepertinya tahu akan benda tersebut.
"Aku pernah membaca buku tentang banyak giok dan disana terdapat salah satu giok pencari jodoh yang bentuknya sama persis dengan milik nona Xing'er, disana dikatakan jika seorang pria atau wanita memiliki sepasang giok tersebut dan tanpa sengaja disentuh oleh lawan jenis dan mengeluarkan cahaya maka dapat dipastikan jika orang itu adalah jodoh dari si pemilik giok ini … wah aku tidak mengira jika giok ini benar-benar ada, aku pikir ini hanya karangan para legenda saja," cetus Yu Mu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Jika keterangannya seperti itu, itu berarti Taizi adalah jodoh nona Xing'er," celetuk Suan Ni.
Yu Mu menoleh pada Suan Ni dan menjentikkan jarinya. "Kau benar Suan, ternyata kedatangan nona Xing'er kemari untuk mencari jodoh tidak sia-sia baru beberapa jam dia sudah menemukan jodohnya … selamat nona Xing'er selamat Taizi sebentar lagi kalian akan menjadi sepasang suami istri," cerocos Mu Yu menggerakan tangannya dengan senyum penuh bahagia.
Xuan Xing'er dan Han Wang Yue saling menoleh tanpa mengeluarkan ekspresi apapun, Xing'er masih tidak percaya jika jodohnya adalah Han Wang Yue yang katanya keturunan dari kaisar Chang'an.
Ia mengambil tasnya dan mengira jika ada kekeliruan dari giok benang merahnya tersebut.
"Ini pasti ada yang salah." Xing'er melepaskan giok tersebut dan meminta pada Yu mu dan Suan Ni untuk menyentuh giok tersebut sebagai bukti jika terdapat kesalahan.
Kedua pria yang merupakan bawahan Han Wang Yue menyentuh giok itu secara bergiliran, namun tidak ada reaksi apapun yang dikeluarkan oleh giok benang merah tersebut dan untuk membuktikan satu kali lagi jika Han Wang Yue memang jodohnya, ia memberikannya pada Han Wang Yue dan lagi giok itu mengeluarkan cahaya terang.
Pria berparas tampan dengan hidung mancungnya itu menatap giok tersebut kemudian tersenyum pada Xing'er. "Tidak disangka, kita yang berbeda dimensi ternyata merupakan jodoh. Benar kata para leluhur jika jodoh itu ternyata jorok, kita bisa menemukannya dimana saja dan kapan saja seperti halnya nona Xing'er datang dari jauh dan akhirnya menemukan jodohnya disini."
Xing'er tersenyum kecut dengan penuturan Han Wang Yue, ia kembali duduk dan masih tidak mempercayai jika giok itu bersinar di tangan pria asing yang sudah menyekapnya di dalam gudang.
Han Wang Yue menyerahkan kedua giok itu pada Xing'er lagi, ia ikut duduk dan kembali bertanya perihal asal usul giok yang dimiliki oleh Xing'er.
"Saat itu aku sedang mabuk tiba-tiba ada seorang kakek tua yang mengatakan jika nasibku malang dan kesulitan mencari jodoh, lalu dia memberikan ini padaku dan mengatakan jika benda itu akan mengeluarkan cahaya jika disentuh oleh jodohku, dia menyuruhku untuk datang ke hutan bambu Jade dan sampai di sana tubuhku seperti ada yang menarik setelah itu aku tidak ingat apapun dan terbangun lagi aku melihat sekelompok orang yang sedang menghunuskan pedang ke arahku … aku pikir mereka sedang melakukan drama kostum setelah aku menyentuh pedangnya dan melukai jariku, aku kembali pingsan dan terbangun lagi kedua tangan dan kakiku sudah terikat kuat," papar Xing'er mengatakan semuanya secara mendetail pada Han Wang Yue serta kedua bawahannya.
__ADS_1
"Mungkin ini sudah takdir yang diatur oleh dewa, sehingga nona bisa berada disini dan menemukanku … senang bisa berjodoh dengan gadis dari masa depan," celoteh Han Wang Yue membuat Yu Mu dan Suan Ni merasa aneh dengan sikapnya yang tidak biasa hari ini.
Xing'er menatap Han Wang Yue secara seksama dia mendekati wajahnya yang bisa dikatakan tampan serta sempurna dan tanpa sengaja kedua manik mata mereka pun beradu selama beberapa detik sehingga membuat Xing'er terpana oleh tatapan Han Wang Yue yang meneduhkan.
"Ekhem," suara deheman Yu Mu menyadarkan Xing'er dan Han Wang Yue yang sedang beradu tatap, disusul dengan suara alarm ponsel Xing'er yang membuat semua orang terkejut dan bersiap siaga.
"Astaga, maafkan aku ini suara ibuku aku sengaja menjadikannya alarm agar aku tidak bangun kesiangan," kekeh Xing'er.
"Astaga? Alarm apa itu?" tanya Han Wang Yue.
"Oh astaga bisa diartikan dengan kata ya ampun dan alarm adalah jam pengingat agar kita tidak terlambat dalam mengerjakan sesuatu atau agar tidak terlambat bangun tidur," jelas Xing'er.
Ketiga pria itu mengangguk mengerti dengan penjelasan Xing'er.
"Eh Nona Xing'er aku sangat penasaran dengan benda yang kau pegang itu bisakah kau beritahu aku, benda apa itu dan kenapa wajahmu juga ada disana?" tanya Yu Mu yang sejak tadi begitu penasaran pada benda yang memiliki bentuk sama dengan batu bata.
"Maksudmu ini?" Xing'er menunjukan ponselnya pada Yu Mu.
Yu Mu mengangguk semangat.
"Kau tidak tahu ini apa?"
"Heuh dasar kuno," cibir Xing'er.
"Hei nona apa kau juga sedang mengolok-olok calon suamimu," ketus Yu Mu.
"Kau—," Xing'er menjeda kalimatnya dan menoleh pada Han Wang Yue yang hanya tersenyum padanya.
"Lupakan ... aku akan memberitahu kalian jika ini namanya ponsel kegunaannya untuk berkomunikasi, dengan menggunakan barang ini kau bisa mengobrol dengan kerabatmu yang jaraknya jauh dan kalian juga bisa berkirim pesan dengan waktu yang cepat."
"Wah hebat sekali," puji Yu Mu terkagum-kagum.
"Tentu saja, harganya pun mahal dan ini adalah ponsel keluaran terbaru tidak semua orang bisa memilikinya," kata Xing'er mulai pamer.
"Benarkah?"
__ADS_1
"Heum, dengan harga ini kau bahkan bisa membeli sebuah sepeda motor."
"Wah … apa itu sepeda motor?"
Raut wajah Xing'er berubah jadi masam saat melihat ekspresi wajah Yu Mu yang semula terlihat tahu berubah jadi raut wajah tidak tahu apapun.
"Kalian tidak tahu motor?" Xing'er menoleh pada ketiga pria yang ada di depannya.
Ketiga pria itu menggelengkan kepalanya.
Xing'er menghela napasnya dalam. "Ya ampun, aku mau tanya bagaimana cara kalian berkomunikasi dengan orang yang jauh?"
"Kami melakukannya dengan mengirim surat lewat pos dan merpati atau sinyal kembang api," jawab Han Wang Yue.
Kedua alis Xing'er terangkat ke atas merasa terkejut dengan teknologi yang dimiliki oleh orang-orang pada abad 1556 yang masih belum berkembang sama sekali.
"Lalu kalian jika ingin pergi, kalian mengendarai apa?" tanyanya lagi.
"Kami menunggang kuda atau kereta yang ditarik oleh kuda," sahut Suan Ni.
"O, anggap saja motor juga seperti kuda tapi terbuat dari plastik dan besi." Xing'er menyalakan ponselnya dan menunjukan gambar sepeda motor pada ketiga pria yang memiliki rambut panjang terurai nan indah tersebut.
Beruntungnya Xing'er pernah berfoto dengan motor milik Jie Li sehingga ia bisa menunjukan gambarnya tanpa perlu menjelaskan secara detail meskipun tidak ada sinyal disana, selain menunjukan sepeda motor Xing'er juga memamerkan mobil miliknya. Dengan mengenakan kaca hitam ia berpose sangat nyentrik sambil memegang setir.
Pujian kembali dilontarkan oleh Yu Mu dan Suan Ni, bahkan mereka mengatakan jika kereta kuda milik Han Wang Yue kalah jauh dengan mobil milik Xing'er.
Plak.
Han Wang Yue memukul kepala Yu Mu, meskipun dikatakan kalah jauh dengan kendaraan milik Xing'er tapi pada abad ini kereta kuda milik kekaisaran jauh lebih bagus dan tidak ada yang bisa memilikinya bahkan para pejabat istana serta anggota kerajaan lainnya hanya memiliki kereta kuda dengan desain yang biasa saja.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
Note, mohon maaf jika ada kekeliruan bukan maksud ingin menjatuhkan hanya saja ini cerita tentang gadis modern yang masuk ke zaman kuno dan mencoba mengenalkan teknologi yang dimiliki oleh era modern.