
"J-jangan, jangan bunuh aku … a-aku tidak sengaja melakukan itu, aku mohon ampuni aku."
Sreng…
Sret!!!
Pejabat He Gang pun terjatuh ke lantai dengan berlumuran darah. Suara pedang beradu diluar masih terdengar ramai dan langsung terhenti dalam sekejap saat pimpinan dari orang-orang berbaju hitam keluar dari kamar He gang.
"Tinggalkan tempat ini," titahnya dengan nada dingin.
"Baik," jawab bawahannya secara serentak.
Orang-orang berbaju hitam itu bergegas pergi dari kediaman He meninggalkan mayat-mayat yang berserakan dengan darah yang mengalir memenuhi setiap sudut rumah kediaman He.
.
.
.
.
***
"Kita mau pergi kemana?" tanya Xing'er mengikuti Zhu Wu Chen yang terus berjalan.
"Sebentar lagi kau juga akan tahu." Zhu Wu Chen terus berjalan dan berhenti di sebuah tempat semak belukar yang lebat.
Pria itu membuka semak-semak tersebut dan menunjukkannya pada Xing'er.
Wah.
Mata Xing'er terlihat membulat sempurna ketika melihat pemandangan yang begitu indah, sebuah danau berukuran cukup besar dengan bunga-bunga cantik yang tumbuh secara liar disekitar danau serta banyaknya kunang-kunang yang berterbangan dengan bebas kesana kemari menyebarkan cahaya terangnya.
"Bagaimana, apa kau suka?"
Xing'er menoleh pada Zhu Wu Chen sambil tersenyum riang. "Suka … ini sangat indah."
Gadis itu berlarian kecil di sana, melihat bunga-bunga yang cantik dan bermain bersama dengan para kunang-kunang.
"Wu Gege, lihat aku berhasil menangkap satu kunang-kunang," seru Xing'er berlari ke arah Zhu Wu Chen dan mengulurkan tangannya.
Zhu Wu Chen tersenyum dan mengintip di balik telapak tangan Xing'er yang sedang mengurung sebuah kunang-kunang. "Wah ternyata kau pandai juga."
Xing'er tertawa kecil kemudian melepaskan kembali kunang-kunang tersebut.
"Wu Gege, dari mana kau tahu tempat ini dan kenapa kau mengajakku kesini?"
"Ini adalah tempat untuk aku bersantai, tidak ada alasan apapun untuk ku mengajakmu," kata Zhu Wu Chen mendaratkan bokongnya diatas sebuah batang kayu.
"Wah tidak disangka pria seperti mu juga memiliki selera bagus, omong-omong sudah berapa banyak gadis yang kau bawa kemari?" celoteh Xing'er ikut duduk disamping Zhu Wu Chen.
__ADS_1
"Tidak ada," jawab Zhu Wu Chen santai.
"Kau pasti sedang berbohong," cibir Xing'er tersenyum kecut.
"Aku berkata jujur, kau adalah gadis pertama yang aku temui dan aku ajak kemari," kata Zhu Wu Chen menatap Xing'er sambil tersenyum.
"Ck, aku tetap tidak percaya."
"Aku tidak menyuruhmu untuk percaya padaku dan aku membawamu kemari hanya ingin berbincang denganmu, anggap saja ini sebagai bayaran atas hutangmu padaku," tutur Zhu Wu Chen mengeluarkan kendi air berisi arak dan meminumnya.
"Baiklah, mari kita mengobrol sampai mulutmu mengeluarkan busa," kekeh Xing'er menatap senang kunang-kunang yang sedang terbang.
"Hua'er."
"Hemm."
"Bisakah kau ceritakan bagaimana kehidupanmu?"
Xing'er menoleh pada Zhu Wu Chen yang sedang menatapnya. "Kehidupan ku?"
Zhu Wu Chen mengangguk.
"Kehidupan ku membosankan, setiap hari aku selalu mendengar teriakan ibuku yang membangunkan aku tidur, aku pergi bekerja dan malamnya harus menemui pria-pria aneh yang selalu disodorkan oleh ibuku … ibuku selalu berharap agar aku segera menikah jadi setiap malam dia selalu mengatur kencan buta untukku," ungkap Xing'er, ia bercerita dengan raut wajah yang menyimpan kesedihan karena rindu akan kedua orang tuanya.
"Lalu apa yang terjadi antara dirimu dan pria-pria itu? Apa kau tidak menemukan satupun yang cocok?"
"Pernah ada, tapi entah kenapa keesokan harinya dia langsung menghilang seperti ditelan bumi," cetus Xing'er masih heran sampai sekarang mengenai teman kencannya yang dirasa sudah memenuhi kriterianya menghilang secara tiba-tiba.
"Aneh," seloroh Zhu Wu Chen.
"Kenapa?" tanya Xing'er heran saat melihat raut wajah Zhu Wu Chen yang muram.
Kepala Zhu Wu Chen menggeleng, ia kembali tersenyum dan mengalihkan topik pembicaraannya dengan menunjukan tarian pedang pada Xing'er.
Zhu Wu Chen mulai mengayunkan pedangnya dengan indah. Tubuhnya meliuk-liuk bagaikan tanpa tulang, dan seperti daun kering yang tertiup angin dia melompat, terbang dan bahkan dia mampu berlari diatas air tanpa terjatuh..
Sebagai pertunjukan terakhirnya ia pun mengarahkan pedangnya ke danau membuat sebuah ledakan secara beruntun dan mengakibatkan hujan kelopak bunga yang berasal dari pohon prem.
Wa hǎo piàoliang.
Pujian yang dilontarkan oleh Xing'er kala melihat kelopak bunga yang berguguran dengan sangat indah, ia mengulurkan tangannya untuk menadah bunga yang terjatuh dengan kedua sudut bibirnya yang tak hentinya terus mengembang.
Melihat Xing'er yang sedang tersenyum Zhu Wu Chen seakan merasakan ketenangan serta kenyamanan, sehingga secara sadar dirinya telah jatuh cinta pada Xing'er.
Perasaan cinta terhadap Xing'er telah tumbuh dalam hati Zhu Wu Chen ketika pertama kali melihat Xing'er di hutan chang'an, dia merasa Xing'er berbeda dari gadis yang lain sehingga ia pun merasa tertarik dan menyukainya.
"Wu Gege, kau sangat keren," puji Xing'er dengan manik mata berbinar.
"Keren?"
"O maksudku kau sangat hebat, bisakah kau mengajariku tarian pedang itu?"
__ADS_1
Kepala Zhu Wu Chen kembali mengangguk, dengan senang hati ia akan mengajarkan tarian pedang dongji pada Xing'er.
Ia memberikan pedangnya pada Xing'er, kemudian berdiri di belakangnya untuk membimbingnya. Tangan mereka saling bersentuhan, bahkan tubuh keduanya pun saling merapat dan saking dekatnya Xing'er dapat merasakan hembusan napas milik Zhu Wu Chen.
Pria itu mulai menggerakan tangan Xing'er. Mendorongnya ke depan, memutar pedang di atas kepala dan menariknya ke belakang hingga akhirnya kedua mata mereka saling bertabrakan dan bertukar pandangan untuk sesaat.
Di bawah temaramnya cahaya rembulan, ditemani oleh ratusan kunang-kunang serta semilir angin malam yang menerbangkan ribuan kelopak bunga prem berwarna merah muda, keduanya terus melakukan tarian pedang dengan sangat indah dan serasi.
.
.
.
.
.
****
Penginapan Han Wang Yue.
Suan Ni datang tergesa dan berlutut dihadapan Han Wang Yue, ia menundukkan kepalanya dan melaporkan jika dirinya tidak bisa menemukan Xing'er dimana-mana.
Suasana kamar Han Wang Yue pun kini dipenuhi oleh aura kecemasan, dia meraih pakaiannya dan mengajak Yu Mu serta Suan Ni untuk mencari Xing'er hingga ketemu.
"Lagi-lagi kau menghilang, lain kali aku akan mengikatmu di pilar," gerutu Han Wang Yue sambil mengedarkan pandangannya kesana-kemari.
Sementara itu di hutan tepi danau. Xing'er dan Zhu Wu Chen baru saja menyelesaikan latihannya, mereka kembali duduk bersama menikmati keindahan danau yang tidak memiliki nama tersebut.
"Hua'er, danau ini begitu indah dan sebelumnya aku tidak memiliki nama untuk danau ini bagaimana jika aku memberinya nama danau Hua Hua," ujar Zhu Wu Chen.
"Kenapa memberi nama itu?"
"Karena danau ini cantik seperti mu, jadi aku ingin menamainya dengan nama mu apa kau keberatan?"
"Sama sekali tidak, aku suka dengan nama tempat ini … Wu Gege apa ini artinya kita sudah berteman? Dan apakah aku boleh datang kesini lagi?"
"Tentu saja, kau bisa datang kesini kapanpun kau mau tapi kau harus berjanji untuk merahasiakan tempat ini dari orang lain."
"Hem, aku berjanji." Xing'er mengangkat sebelah tangannya dan bersumpah tidak akan memberitahu siapapun mengenai danau Hua Hua.
Zhu Wu Chen mengusap kepala Xing'er sambil tersenyum. "Malam sudah makin larut, aku akan mengantarmu pulang."
Xing'er menganggukan kepalanya, tapi sebelum mereka pulang Zhu Wu Chen mengingatkan Xing'er jika gadis itu masih memiliki satu hutang padanya dan ia akan menagihnya kelak.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.