
Suara jangkrik dan burung hantu menemani malam-malam Xing'er selama berada di pondok Lian Hua yang berada di tengah hutan.
Keadaan pondok yang sepi karena para penghuninya sudah tidur sejak dua jam yang lalu seakan menggambarkan betapa damainya pondok itu kala malam, berbeda dengan keadaan siang yang terbilang selalu rusuh akibat ulah seorang gadis.
Kala ketiga pria penghuni pondok Lian Hua tengah tertidur. Xing'er yang sejak tadi tidak bisa tidur terus berguling kesana kemari sambil menatap foto Han Wang Yue yang tampannya di luar nalar.
Gadis itu tersenyum, mencium dan memeluk ponselnya yang sedang menampilkan gambar Han Wang Yue. Xing'er yang merasa tidak puas jika hanya menatap wajah Wang Yue lewat ponselnya, diam-diam keluar dari kamar dan masuk ke kamar Wang Yue.
Xing'er duduk di samping ranjang milik Han Wang Yue dan menatap wajahnya dengan manik mata yang berbinar.
"Wah kenapa dia bisa memiliki kulit sebagus ini, kulitku sampai kalah darinya … lihat hidungnya pun lebih mancung dariku, bibirnya pun —." Xing'er menghentikan kalimatnya, kemudian tersenyum malu saat membayangkan jika bibir itu menyatu dengan bibirnya.
Dia menggerakkan tangannya perlahan untuk menyentuh bibir Han Wang Yue, tapi dalam hitungan detik sebelum tangannya berhasil menyentuh bibir Wang Yue, Xing'er langsung ditarik dan dijungkir balikan oleh Han Wang Yue dan posisi mereka sekarang sudah saling menindih dengan keadaan Xing'er berada dibawahnya.
"Aargh, jangan bunuh aku," teriak Xing'er ketika Wang Yue meletakan sebuah pisau tepat di lehernya.
"Xing'er," lirih Wang Yue ketika tahu jika orang yang dikira musuhnya itu ternyata Xuan Xing'er, dia menyingkirkan pisaunya dan hendak menyikir dari atas Xing'er.
"Taizi bixia apa yang terjadi?" seru Yu Mu dan Suan Ni yang telah siap dengan pedangnya masing-masing, kemudian mereka terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya.
Yu Mu terlihat gelagapan, ia menyimpan kembali pedangnya begitupun dengan Suan Ni yang langsung menunduk dan mereka berpamitan dengan raut wajah malu.
"Eh." Han Wang Yue hendak pergi untuk menjelaskan pada kedua bawahannya, tetapi Xing'er menarik bagian depan bajunya sehingga Wang Yue pun terjatuh dan wajahnya berada tepat di hadapan Xing'er dalam jarak dua centimeter.
Manik mata kedua orang itu membulat kaget, keduanya mendadak membeku dalam beberapa saat dan saling beradu tatap.
Xing'er tersenyum malu dan berceloteh jika Wang Yue begitu agresif, padahal dirinya baru ingin menyentuh tapi Han Wang Yue sudah menindihnya seperti ini dan tanpa malu Xing'er menganggap jika pria di atasnya ingin menciumnya sehingga ia menutup kedua mata dan memajukan bibirnya.
Melihat Xing'er yang terpejam dengan bibir mengerucut, Han Wang Yue menelan ludahnya kasar kemudian ia menggelengkan kepalanya agar bisa tetap waras.
Pletak.
"Aiyo," pekik Xing'er ketika keningnya di sentil oleh Han Wang Yue.
"Hou lian Pi," hardik Han Wang Yue kemudian menyingkir dari atas tubuh Xing'er dan merapikan pakaiannya.
Gadis itu mengusap dahinya sambil bangkit dari tidurnya. " Wang Yue, apa setiap malam kau selalu tidur dalam keadaan waspada seperti ini?"
Senyap.
"Dokter bilang jika ingin tidur kita harus melemaskan otot-otot saraf dalam tubuh agar kita bisa tidur dengan nyenyak dan bangun dalam keadaan nyaman, apa kau ingin aku membantumu agar bisa merasakan tidur yang berkualitas," seru Xing'er mendekati Han Wang Yue.
"Jangan coba-coba menyentuhku," tolak Wang Yue datar.
Xing'er memutar bola matanya ke sembarang arah dan mundur kembali.
Han Wang Yue menoleh pada Xing'er yang masih duduk di atas ranjangnya. "Nona Xing'er."
"Hmm."
"Apa kau tidak akan kembali ke kamarmu?"
__ADS_1
Xing'er menggelengkan kepalanya, sementara Han Wang Yue mengerutkan dahi saat melihat jawaban Xing'er yang tidak ingin kembali ke kamarnya.
"A … Wang Yue, bagaimana jika kita tidur bersama," celetuk Xing'er membuat Han Wang Yue terkejut.
"Aku tidak bisa tidur, mungkin jika aku tidur disini aku bisa tidur dengan nyenyak," ujar Xing'er.
"Tidur bersama?" tanya Wang Yue.
Xing'er mengangguk-angguk.
"Aku dan kamu, tidur di ranjang yang sama?"
Xing'er kembali mengangguk sambil tersenyum lebar.
Han Wang Yue tersenyum dengan manik mata berbinar. "Baiklah, aku setuju."
Kelopak mata Xing'er mengedip-ngedip tak percaya dengan penuturan Han Wang Yue yang setuju untuk tidur bersama, ia terlihat tersenyum bahagia dan menyentuh lengan Han Wang Yue.
Bugh.
Brak …
"Aw, Han Wang Yue dasar kau xie'e!" hardik Xing'er, ia meringis kesakitan di bagian bokongnya dan berusaha untuk berdiri.
"Pria itu benar-benar berhati kejam … bisa-bisanya dia melemparku seperti ini, dia pikir aku sampah yang bisa dilempar begitu saja tanpa merasa sakit," gerutu Xing'er, ia menatap kesal kamar Wang Yue kemudian menghentakkan kakinya dan kembali ke kamarnya.
.
.
.
Tanpa bertanya apapun Yu Mu menunggu Wang Yue membasuh wajahnya dan membantu pria itu berganti pakaian, kemudian suara ledakan pun kembali terdengar dari arah dapur.
Han Wang Yue dan Yu Mu saling menatap satu sama lain, lalu tak berselang lama Xing'er masuk ke kamar Wang Yue dengan membawa satu nampan berisi makanan.
"Wang Yue, lihat aku sudah membuatkanmu sarapan … eh Yu Mu kau disini juga," ujar Xing'er bersemangat walaupun wajahnya penuh dengan noda hitam.
Yu Mu hanya mengangguk dan Han Wang Yue berjalan ke arah meja, kemudian duduk disana untuk melihat makanan apa yang dibuat oleh Xing'er.
"Aku membuatkanmu daging burung dara kecap, jamur Lingzhi goreng dan kue bunga mawar," kata Xing'er menyebutkan satu persatu masakannya.
Han Wang Yue menatap makanan tersebut yang memiliki tampilan serba hitam alias gosong, ia menoleh pada Yu Mu yang tengah menelan ludahnya dengan sangat susah.
"Kenapa? Apa kau tidak mau mencobanya?"
"Xing'er—,"
Gadis itu tiba-tiba menunduk dengan raut wajah sedih, ia mengatakan jika dirinya sudah bersusah payah membuatkan Wang Yue sarapan dan sekarang makanannya malah tidak dihargai.
Melihat Xing'er yang ingin menangis. Wang Yue merasa tidak tega, meskipun ia ragu Wang Yue tetap mengambil sumpitnya dan hendak mencoba makanan tersebut tetapi Yu Mu yang mengerti akan perasaan Wang Yue buru-buru mengalihkan perhatian Xing'er dengan mengajaknya mencari tanaman obat-obatan di hutan.
__ADS_1
Merasa nyawanya terselamatkan oleh Yu Mu, Han Wang Yue menghela napasnya yang lega. Dia memanggil Suan Ni untuk membuang jauh-jauh makanan tersebut yang bisa merenggut nyawanya dalam sekejap mata.
.
.
.
Di dalam hutan yang sunyi, Xing'er dan Yu Mu berjalan beriringan untuk mencari tanaman obat yang sering tumbuh secara liar di hutan sana.
"Yu Mu, berapa lama lagi kita harus berjalan aku sudah tidak sanggup lagi," keluh Xing'er setelah berjalan cukup jauh dengan jalanan yang naik turun.
"Sebentar lagi kita sampai, lihat disana banyak tanaman obat yang bagus," tunjuk Yu Mu ke arah perbukitan. Dia menarik tangan Xing'er agar mempercepat perjalanannya.
"Yu Mu, kau bilang Han Wang Yue itu putra mahkota tapi kenapa dia tidak tinggal di istana?" tanya Xing'er penasaran.
"Taizi tidak suka dengan kemewahan, jadi dia lebih suka berada di pondok Lian Hua yang sederhana dan sunyi."
"Kenapa begitu, bukankah di istana lebih enak apapun yang diinginkan pasti akan tersedia."
"Istana tidak seindah yang kau bayangkan, disana begitu banyak permasalahan politik yang rumit, jika kau salah bicara sedikit saja maka kau akan langsung kehilangan nyawamu," papar Yu Mu menggelengkan kepalanya.
Xing'er bergidik ngeri dengan cerita Yu Mu, peraturan kaisar dan presiden memang berbanding jauh sekali. Dimana peraturan negara yang dipimpin oleh presiden masih terbilang ringan daripada aturan kaisar yang sedikit-sedikit menggerakan pedang untuk menghukum.
"Satu hal lagi yang membuat Huang taizi tidak suka berada di istana."
Xing'er menghentikan langkah kakinya, begitu pun dengan Yu Mu yang ikut berhenti dan menatap Xing'er heran.
"Satu hal, apa itu?"
"Huang taizi tidak suka dengan perjodohan yang selalu dilakukan oleh kaisar dan permaisuri, sehingga Taizi lebih memilih pergi dari istana dari pada tinggal disana," bisik Yu Mu.
"Benarkah?"
"Hm," angguk Yu Mu.
"Kenapa?"
"Entahlah, taizi lebih mementingkan urusan negaranya dibanding asmaranya sendiri."
"Eh Yu Mu, Wang Yue selalu menolak wanita cantik yang disodorkan oleh kaisar apa jangan-jangan dia tidak normal," celoteh Xing'er.
Yu Mu mengangkat kedua alisnya dan melanjutkan langkah kakinya tanpa menyangkal pernyataan Xing'er yang mengatakan jika Wang Yue tidak normal.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.