
"Negara dongling? Dimana itu, sepertinya aku baru mendengar nama itu?" tanya Xing'er mengerutkan dahinya.
"Berteriak pada ku kuno, ternyata malah kau sendiri yang kuno dan tidak memiliki wawasan yang luas," cibir Mu Yu mencebikkan bibirnya.
"Apa kau bilang!" teriak Xing'er tak terima jika dirinya dikatain kuno dan tidak memiliki wawasan luas, padahal dirinya adalah seorang selebgram dengan jutaan pengikut dan berhasil menjual banyak pakaian modis masa kini dan tidak pernah tertinggal oleh trend apapun, tapi bisa-bisanya Mu Yu mengatakan jika dirinya kuno.
"E-eh, nona apa yang akan kau lakukan." Mu Yu menutupi wajahnya saat melihat Xing'er melotot.
Xing'er mendengus dan menghela napas untuk meredamkan amarahnya. "Sudahlah aku sedang malas berdebat hari ini, cepat buka tali pengikat ini tanganku sakit sekali."
"Tidak bisa," tegas Mu Yu.
"Kenapa?"
"Karena kau adalah seorang tawanan, jika aku melepaskanmu putra mahkota pasti tidak akan memaafkan ku," celoteh Mu yu melipat kedua tangannya di dada.
"Aiyo sebenarnya kita sedang bermain drama apa sih, pertama kau memakai pakaian kuno di jaman modern, kedua negara dongling dan sekarang kau menyebut putra mahkota apa kau pikir ini era kaisar pakai ada putra mahkota, konyol," cerocos Xing'er yang masih mengira jika dirinya sedang berada di sebuah lokasi syuting drama kolosal.
"Nona kau tidak boleh sembarangan berbicara, jika sampai terdengar oleh putra mahkota kau pasti." Mu yu menggerakan tangannya di sekitar leher seraya memberi isyarat jika Han Wang Yue akan memotong lehernya.
Gadis itu kembali berdecak ia tidak peduli dan tidak takut pada ancaman Mu Yu, yang terpenting saat ini dia harus melepaskan ikatan yang menjerat tangan dan kakinya yang telah melukainya.
"Aku bilang tidak bisa!"
"Ayolah, aku berjanji aku tidak akan kabur dan akan menemani mu bermain drama ini … bagaimana?" bujuk Xing'er tersenyum.
"Nona sejak tadi kau terus mengatakan jika aku sedang bermain drama, aku berbicara serius padamu jika putra mahkota benar-benar ada," kesal Mu Yu.
"Aku tahu … aku tahu, aku mohon buka ikatan ini tangan dan kakiku sangat sakit sekali apa kau tidak bisa lihat tangan dan kakiku sudah terluka seperti ini," ujar Xing'er memasang wajah memelas.
Mu Yu menoleh pada tangan dan kaki Xing'er, memang benar pergelangan tangan serta kaki wanita itu terluka tapi dia tidak memiliki kuasa untuk melepaskannya.
"Eh begini saja, beritahu aku sekarang aku ada dimana?"
"Pesisir Chang'an, tepatnya di bawah pemerintahan kaisar Han Ming Xi," jawab Mu Yu.
"Tahun berapa sekarang?"
"Abad ke 1556 Sm."
"Hah!" pekik Xing'er benar-benar terkejut sekaligus tak percaya, bukankah ini 2022? Kenapa bisa jadi tahun 1556. Tidak mungkin, sangkal Xing'er menolak pada kenyataan.
Tabib itu berjongkok dan menatap Xing'er yang terlihat begitu syok dengan jawabannya. "Nona, kenapa kau begitu terkejut, memangnya kau datang dari kerajaan mana dan apa di negaramu memiliki tahun yang berbeda?"
"Aku berasal dari kota teratai, disana sudah 2022 dan menggunakan sistem presiden bukan kerajaan lagi."
"Hah, 2022?" setelah Xing'er yang terkejut, sekarang giliran Mu Yu yang mengeluarkan ekspresi syok sambil tangannya berhitung.
"2022 itu berarti seharusnya aku sudah mati," celetuk Mu Yu.
__ADS_1
Kening Xing'er berkerut ia kembali meminta agar pria itu melepaskannya, rasanya ia masih tidak percaya jika dirinya berada di masa kerajaan dan untuk membuktikan jika dirinya sedang tidak dalam tipuan ia harus menelpon Jie Li dan memintanya agar menjemputnya.
"Tuan, aku mohon lepaskan aku aku harus menelpon seseorang sekarang," rengek Xing'er memohon.
"Menelpon, apa itu?"
"Aku akan menjelaskannya nanti, sekarang kau lepaskan aku aku harus mencari barang-barang ku."
Kepala Mu Yu kembali menggeleng, tidak bisa melepaskan Xing'er begitu saja tanpa perintah dari Han Wang Yue.
Xing'er tidak mudah menyerah ia kembali berpikir mencari cara agar pria di depannya dapat melepaskannya dan sebuah ide pun muncul, ia membujuk pria tersebut dan menjanjikan akan memberinya sesuatu yang sangat berharga, selain itu ia juga berjanji tidak akan kabur asal dia mau mencarikan barang-barang miliknya.
Beberapa menit bernegosiasi, Mu Yu pun setuju dengan syarat tangan Xing'er akan tetap diikat bersama dengannya.
Demi menemukan barang-barangnya dan bisa menghubungi Jie Li, Xing'er pun mau tidak mau menuruti perkataan Mu Yu dan berjalan terpincang akibat kakinya yang sakit.
"Barangmu ada di dalam, ayo masuk," ajak Mu Yu masih dengan wajah judes.
Xing'er hanya mendesis dan mengikutinya, lalu kaget ketika melihat ponselnya sudah tergeletak di lantai. Merasa tidak rela jika ponsel yang baru saja ia beli satu bulan yang lalu rusak, ia berlari untuk menyelamatkannya tanpa peduli dengan Mu Yu yang ikut terseret dan terjatuh.
Melihat pergerakan sang tawanan yang begitu cepat, Suan Ni mengayunkan pedangnya ke arah leher Xing'er tetapi beruntungnya Han Wang Yue menahan pedang milik pengawal pribadinya dan memperhatikan wanita tersebut yang sedang memeluk ponselnya sambil menangis.
"Oh ponselku, kau tidak rusakkan … mereka memperlakukanmu dengan sangat kejam sekali," ujar Xing'er memeluk dan mengelus ponselnya penuh kasih sayang sebagaimana layaknya memperlakukan bayi kecil.
Melihat tingkah aneh wanita asing yang jadi tawanannya, ketiga pria itu hanya menatapnya bingung dan saling melontarkan pandangannya pada satu sama lain.
"Ekhem." Han Wang Yue berdehem membuat Xing'er terdiam dan melirik tajam padanya.
"Lancang!" Suan Ni tak kalah berteriak tapi Xing'er tidak merasa takut, ia berhak marah karena barang-barang miliknya telah disentuh oleh orang lain bahkan ponsel yang seharga dengan kendaraan roda dua itu nyaris rusak di tangan dua orang pria yang tidak dikenalnya.
"Kau yang lancang, berani sekali ingin merusak ponselku!" Xing'er menoleh ke bagian kirinya dan melihat semua barang-barang miliknya berada di atas meja dalam keadaan berantakan. "Kalian!" Xing'er berteriak untuk melampiaskan kekesalannya, suaranya yang lantang sampai mengguncang pondok Lian Hua milik Han Wang Yue yang kokoh dan tidak bisa goyah walaupun tertiup angin topan.
.
.
Beberapa saat setelah pondok terguncang oleh suara Xing'er yang menggelegar bak petir, Xing'er yang semula diperlakukan seperti tawanan kini diperlakukan secara baik oleh ketiga pria yang ada di pondok tersebut.
Sembari menikmati secangkir teh buatan Han Wang Yue. Xing'er memperhatikan Suan Ni yang sedang merapikan barang-barangnya ke dalam tas dengan tatapan tajam, sementara Mu Yu mengobati luka kaki dan tangannya.
"Nona, maafkan atas kelancangan yang telah diperbuat oleh tabib serta pengawalku aku harap nona bisa memaafkan mereka berdua," tutur Han Wang Yue kembali mengisi cangkir milik Xing'er yang telah kosong.
"Melempar batu, sembunyi tangan," celoteh Mu Yu.
Han Wang Yue melirik pada Mu yu, kemudian ia tersenyum pada Xing'er yang sedang menatapnya dengan tatapan menindas kemudian dia mengenalkan pengawal pribadinya serta tabib ajaibnya pada Xing'er dan melanjutkan pertanyaannya.
"Euh Nona, jika aku boleh tahu anda berasal dari mana dan apa tujuan anda kemari?"
"Aku berasal dari negara teratai, Tiongkok. Aku datang untuk mencari jodoh, tapi entah kenapa aku bisa sampai kesini," jawab Xing'er memperlihatkan wajahnya yang masih bingung.
__ADS_1
"Negara teratai?"
"Taizi, nona ini—,"
"Namaku Xuan Xing'er, panggil saja aku Xing'er," sela Xing'er memotong kalimat Mu Yu sambil mendelik.
"Oh nona Xing'er bilang, dia berasal dari negara dengan tahun 2022 dan hidup di bawah pimpinan presiden," jelas Mu Yu.
"2022 … nona apakah ini artinya anda datang dari masa depan?" tanya Han Wang Yue terkejut dalam ketenangannya.
"Bisa dibilang begitu, oh ya kalian tidak sedang membohongiku kan jika aku berada di abad 1556 sm?"
"Tentu saja tidak, di depan mu ada putra mahkota putra dari kaisar Han Ming Xi yang terkenal dengan kejujurannya mana mungkin kami berani berbohong," sahut Mu Yu membalas mendelik.
"Mu Yu jaga bicaramu, kita harus menghormati nona Xing'er sebagai tamu terhormat kita," tegur Han Wang Yue.
Pria muda tampan yang bergelar putra mahkota itu berdiri dan memberikan salam penghormatan pada Xing'er dengan mengangkat kedua tangannya di dada lalu menyatukan kepalan tangan pada telapak tangan yang satunya lagi dan sedikit membungkuk.
Xing'er yang hidup pada abad modern tentu saja terlihat bingung dengan sikap Han Wang Yue, sebab di jamannya memberi hormat hanya menggabungkan telapak tangan yang dikepal dengan telapak tangan kemudian menggoyangkannya dengan ritme tertentu atau hanya sekedar membungkuk tanpa mengulurkan tangan atau mengangkat sebelah tangan diatas kepala sebagai penghormatan pada anggota militer.
"Nona Xing'er saya ucapkan selamat datang di Chang'an, kedatangan anda adalah sebuah anugrah untuk negara kami," tutur Han Wang Yue sopan.
Xing'er menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, ia merasa suasana tempat itu tiba-tiba berubah menjadi canggung.
"Aish, kau berlebihan aku hanya tersesat kemari bagaimana bisa disebut anugrah," timpal Xing'er karena memang pada kenyataannya begitu, ia hanya wanita biasa yang sudah menjomblo sejak lahir dan kini tersesat di antah berantah.
"Nona Xing'er ini barang-barang anda," seru Suan Ni memberikan tas milik Xing'er ke tangannya.
"Ingat lain kali, tidak boleh menyentuh barang milik orang lain tanpa izin," ketus Xing'er mendelik.
Suan Ni membungkuk dan menyampaikan permintaan maafnya.
"Sudahlah aku memaafkanmu,"
"Terimakasih, karena nona sudah memaafkan saya," lanjut Suan Ni yang tanpa Xing'er sadari jika pengawal perkasa itu mengamatinya secara diam-diam.
"Oh ya nona, aku dengar tadi anda mengatakan jika kedatangan anda kemari untuk mencari jodoh kenapa mesti jauh kemari, apa di tempat asal anda para pria tidak berkenan meminang anda?" celoteh Han Wang Yue yang sontak membuat tabib serta pengawalnya membulatkan mata karena sikapnya yang terlalu berani.
Mendengar penuturan Han Wang Yue seolah menghinanya Xing'er kembali merasa kesal, ia menimpuk wajah Han Wang Yue dengan tasnya yang setara dengan sekarung beras dengan berat 25 kg.
Suan Ni dan Mu Yu kembali terbelalak. Selama 27 tahun ini selain musuh tidak pernah ada yang berani memukul sang putra mahkota karena selain gelar yang dimilikinya, Han Wang Yue juga memiliki julukan dewa perang yang disegani tapi kali ini julukan dewa perang dan putra mahkota seakan lenyap begitu saja dimata Xing'er yang berani melempar wajah tampannya dengan tas tanpa perlawanan.
Putra mahkota itu tampak bingung sambil memegang tas milik Xing'er dan membuat sepasang gantungan kunci benang merah pemberian kakek tua kemarin malam mengeluarkan cahaya yang cukup menyilaukan mata.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.