
Di dalam kamar miliknya, Xing'er terus mondar mandir tidak karuan. Dia terus mengumpat dan merutuki Han Zhaoyang yang menyuruhnya untuk menurunkan hujan.
Konyol.
Bagaimana bisa Xing'er menurunkan hujan, Profesinya hanyalah seorang karyawan kantor biasa dan bukan pawang hujan lalu bagaimana caranya dia untuk menurunkan hujan?.
"Han Zhaoyang sialan … arggh!"
Teriak Xing'er ketika melihat pria rambut putih yang tempo hari ia temui di tengah hutan muncul secara tiba-tiba di dalam kamarnya.
"K-kamu, ngapain kamu disini?" Xing'er mundur beberapa langkah karena takut.
Pria berambut putih itu mendekati Xing'er yang terus mundur dengan raut wajahnya yang sedingin es.
"B-berhenti jika tidak aku akan berteriak," ancam Xing'er yang kini sudah tidak bisa bergerak karena tertahan tembok.
"Teriaklah dan aku akan membunuh semuanya," bisiknya sambil menatap Xing'er tajam dengan jarak yang begitu dekat.
"Kamu—." Xing'er menjeda kalimatnya dan menundukan kepalanya saat melihat sorot mata pria itu yang tajam bagaikan silet.
Pria itu memiringkan senyumnya dan menjauh dari Xing'er. "Tuangkan teh untukku."
"Tidak mau!" tolak Xing'er yang dalam sekejap mata dirinya sudah berada dalam cengkraman pria tersebut dengan keadaan leher tercekik dan tubuhnya terangkat ke atas.
Kaki gadis itu melayang ke atas sambil meronta, sementara kedua tangannya berusaha untuk melepaskan lehernya dari jerat sihir si pria berambut putih.
"L-lepaskan … a-aku, t-tidak bisa bernapas," ucap Xing'er terbata akibat lehernya tercekik.
Namun, bukannya melepaskan dia malah semakin mencengkram Xing'er kuat hingga membuatnya nyaris kehilangan napas.
"A-aku mohon, lepaskan aku … j-jika aku mati bagaimana bisa kau mendapatkan bola kristal itu."
Mendengar tentang bola kristal, pria itu langsung melepaskan Xing'er dan membiarkannya terjatuh begitu saja.
Bugh.
Uhuk-uhuk.
Gadis itu menyentuh lehernya yang terasa sakit.
__ADS_1
Pria berambut putih itu berjongkok dan menarik dagu Xing'er sambil menatapnya dalam. "Dengar aku bisa melepaskanmu hari ini, tapi jika kau berani menolak perintahku lagi aku akan memusnahkan jiwamu." Pria itu melepaskan dagu Xing'er saat melihat gadis itu menganggukan kepalanya cepat.
"Astaga manusia macam apa dia, hanya mengulurkan tangan saja sampai membuatku hampir mati," monolog Xing'er dalam hati.
"Tuangkan aku teh," perintahnya lagi yang kini sudah duduk di depan meja.
Kepala Xing'er kembali mengangguk dengan cepat dan bergetar, ia langsung menuangkan secangkir teh dan menyuguhkannya pada pria tersebut.
"Sudah berminggu-minggu, tapi kau belum bisa menemukan bola kristal itu satu pun," ujarnya dengan nada datar.
"I-itu—,"
Brak…
Xing'er terperanjat saat pria itu menggebrak meja dan menatapnya dengan tatapan menindas.
"T-tuan, anda tahu sendirikan jika bola itu tersebar di beberapa kerajaan dan untuk masuk ke istana itu tidak mudah," cerocos Xing'er yang langsung mengatup bibirnya saat pria itu lagi-lagi menatapnya tajam.
"Aku dengar kau adalah calon istri seorang putra mahkota, bukankah dengan status itu kau bisa masuk ke istana dengan mudah."
"Seharusnya begitu, tapi Wang Yue menyuruhku untuk tidak mendekat ke istana … tapi kau tidak perlu khawatir aku sudah punya rencana tapi—."
"Katakan."
"Apa yang kau butuhkan?"
Gadis itu menatap pria tersebut dan menceritakan soal dirinya yang dianggap sebagai seorang Dewi yang mampu menurunkan hujan, dirinya yang terlahir sebagai manusia biasa tentu saja tidak memiliki kemampuan tersebut hingga ia pun tidak tahu apa yang harus dia lakukan agar hujan turun.
"Aku akan membantumu."
"Benarkah?" Xing'er refleks menyentuh tangannya dan ia langsung melepaskannya kembali saat pria itu menatapnya.
"Oh, omong-omong untuk apa kau mencari bola itu? Tidak mungkinkan jika hanya untuk membantuku mencari jodoh dan kenapa kau tidak mengambilnya sendiri," tanya Xing'er penasaran.
Tengkuk leher Xing'er ditarik oleh pria itu tepat ke depan wajahnya. " Tugasmu hanya mencari bola itu dan aku sudah memberikan apa yang kau mau, jadi jangan banyak bertanya yang tidak perlu kau ketahui."
Ia mendorong kembali Xing'er kemudian menghilang bagaikan debu yang tertiup angin.
Kelopak mata Xing'er mengedip-ngedip tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya, pria itu muncul secara tiba-tiba dan hilang pun secara tiba-tiba membuat Xing'er sedikit linglung dibuatnya.
"Hah aku pasti sedang bermimpi," gumam Xing'er menggelengkan kepalanya dan menepuk kedua pipinya.
__ADS_1
Sepanjang malam ia terus berpikir apa yang harus dia lakukan, ia pun memainkan ponselnya dan siapa sangka sudah berminggu-minggu kehilangan sinyal akhirnya ia bisa melihat sinyal masuk ke ponselnya.
Serentetan pesan dari orang-orang terdekatnya berbondong-bondong masuk ke dalam ruang chat, mereka bertanya akan keberadaannya dan ada pula yang menuangkan rasa rindunya pada Xing'er. Mereka berharap dirinya bisa segera pulang dalam keadaan baik-baik saja.
Sambil membaca satu persatu pesan yang disampaikan oleh orang tua dan teman dekatnya, tanpa terasa air mata Xing'er pun menetes merasakan rindu yang sama terhadap mereka yang berada di dimensi berbeda dengannya.
Dia ingin membalas pesan-pesan itu dan memberitahu jika dirinya baik-baik saja, tapi sayangnya sinyal yang tertangkap beberapa saat lalu kini kembali menghilang sehingga Xing'er tak dapat membalas pesan mereka yang mengkhawatirkannya.
.
.
.
.
***
Dunia pada tahun 2022.
Di hutan bambu Jade. Yan Xun masih setia mencari keberadaan Xing'er, seakan tanpa merasa lelah dan letih dia terus mencari dan berharap Xing'er bisa ditemukan.
Sudah satu bulan lebih dirinya dan tim SAR melakukan pencarian, tapi hasilnya masih tetap sama seperti hari-hari yang lalu. Ketua tim SAR yang sudah angkat tangan pun mengusulkan pada Yan Xun untuk mengakhiri pencarian yang tak kunjung membawa hasil, tapi Yan Xun bersikeras ingin tetap melanjutkan apapun caranya mereka harus bisa menemukan Xing'er.
"Tuan, sudah satu bulan kita melakukan pencarian tapi kita tak kunjung menemukan Xing'er … Tuan apa sebaiknya kita ikhlaskan saja kepergiannya," ujar Ti Jun menatap iba atasannya.
"Ikhlaskan? Kau bilang aku harus mengikhlaskan Xing'er." Yan Xun menarik kerah baju Ti Jun dan menatapnya penuh amarah.
Bagaimana mungkin dia bisa merelakan wanita yang sangat berarti baginya, kepergian Xing'er masih penuh tanda tanya. Dia tidak tahu apakah Xing'er masih hidup atau mati dan apapun keadaannya Yan Xun harus menemukannya dan tidak akan pernah merelakan kepergian Xing'er sebelum dia melihat jasad Xing'er dengan mata kepalanya sendiri.
Melihat atasannya sangat marah, Ti Jun pun tertegun. Dia merapikan pakaiannya dan kembali menatap Yan Xun yang kini sudah seperti orang gila, setiap hari terus berada di hutan sambil berteriak hingga suaranya habis karena menyerukan nama Xing'er tanpa memperdulikan kesehatannya yang mulai menurun.
"Aku harus mencari cara untuk menghentikannya," gumam Ti Jun dalam hati.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.