Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.

Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.
Chapter 45.


__ADS_3

Gerimis telah usai, kini hanya ada sisa-sisa air yang menetes dari dedaunan yang mengeluarkan suara tetesan seakan menjadi lagu penenang. 


Suara kayu yang dimakan api, turut mengiringi lagu tetesan air dan hawa yang dikeluarkan oleh api itu mengeluarkan rasa hangat yang dapat menghilangkan dingin dari dalam tubuh. 


Usai dijadikan teh celup oleh pria berambut putih, keadaan Xing'er masih belum sadarkan diri. Di samping api unggun yang menghangatkan tubuhnya, gadis itu masih setia menutup kedua matanya yang memiliki bulu mata lentik. 


Tepat di seberang Xing'er, ada pria berambut putih yang juga sedang menikmati hangatnya api unggun. Wajahnya yang dingin tanpa mengeluarkan sedikit ekspresi itu sesekali menatap wajah Xing'er yang mirip dengan kenalan lamanya. 


Tatapan rindu, tatapan kecewa, tatapan cinta, dan tatapan kebencian begitu terpancar dari sorot matanya hingga tanpa sadar amarah telah menguasainya. 


Kedua manik matanya berubah menjadi merah menyala, sorot matanya tajam serta kukunya yang runcing kini menghiasi kedua tangan kekarnya. 


Dalam sekejap mata kini dia berpindah tempat menjadi berada di atas Xing'er, tanpa memiliki perasaan dia kembali mencekik leher gadis itu sampai membuat gadis itu tersadar dan kesulitan untuk bernapas. 


"A–a-pa yang k-ka-u … l-la-kukan?" kata Xing'er dengan nada bicara terbata. 


Amarah pria itu masih belum mereda, ia masih mencekik leher Xing'er kuat dan ketika tubuh Xing'er melemas dengan sorot matanya yang sayu pria itu kembali tersadar kemudian melepaskan cengkeramannya dari leher Xing'er dan menyingkir dari atasnya. 


Ia menghela napasnya dalam untuk menstabilkan amarahnya dan saat amarahnya menghilang, penampilan menyeramkan itu kembali ke semula. Raut wajah dingin yang tidak memiliki gairah. 


Gadis itu terbatuk-batuk, dengan keadaan lemas ia berusaha untuk bangkit dan memegangi lehernya yang terasa sakit. Tubuhnya bergetar, manik matanya berkaca-kaca, jantungnya berdebar hebat seakan menggambarkan betapa takutnya dia saat ini pada pria berambut putih itu. 


Xing'er masih tidak mengerti, kenapa sikap pria itu selalu kasar terhadapnya. Dari pertama bertemu hingga sekarang di setiap pertemuan pasti saja dirinya akan terluka, padahal pria itu memintanya untuk mencari bola kristal yang seharusnya sikap orang itu baik padanya tetapi yang ada pria aneh itu malah menyiksanya seolah-olah ingin membunuhnya saat itu juga. 


Xing'er yang tidak ingin mati di tangan pria itu perlahan mundur menjauh tanpa sepengetahuannya, ketika ia mengira keadaan aman karena si pria uban sedang lengah ia pun buru-buru pergi meninggalkan si pria uban. 


Dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Xing'er berlari sekuat tenaga sambil menangis, tapi sayangnya ketika ia sedang berlari pria berambut putih itu tiba-tiba ada di depannya dengan wajah yang datar seperti triplek. 


Gadis itu memutar tubuhnya dan berlari ke arah lain, tapi lagi-lagi pria itu muncul di depannya. Xing'er yang putus asa karena tidak bisa lari dari pria itu hanya mematung penuh rasa takut sambil menggenggam erat kedua tangannya. 


"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?" tanya Xing'er dengan bibir yang bergetar. 


Pria itu tak menjawab apapun, dia hanya berjalan mendekati Xing'er dengan auranya yang dingin. 


Xing'er mundur beberapa langkah untuk menghindari orang tersebut. "T-tunggu … sebaiknya kau diam disana dan aku akan mendengarkanmu berbicara." 

__ADS_1


Pria itu menghentikan langkah kakinya dan mendelikkan manik matanya. "Temani aku minum malam ini, jangan pergi jika aku tidak menyuruhmu … berani kau kabur aku tidak akan mengampunimu." 


Gadis itu menganggukan kepalanya cepat dan mengikuti pria itu dari belakang.


"Bunuh saja aku, itu akan lebih baik untukku," gerutu Xing'er kesal. 


"Tanpa seizin ku, kau tidak boleh mati!" sahutnya membuat Xing'er berdecak. 


"Dasar pria aneh, kau memintaku mencari bola kristal tapi kau sendiri mempersulitku … kalau begitu kau cari saja sendiri dan kembalikan aku ke tempat asalku," dengus Xing'er memberanikan diri untuk melawan, tapi gadis itu langsung menunduk saat pria itu menoleh dengan tatapan mematikan. 


.


.


.


***


"Hua'er!," panggil Zhu Wu Chen setelah beberapa jam ditunggu dia akhirnya datang, tetapi sayangnya begitu dia datang orang yang menunggunya telah tiada. 


Dia melihat keranjang makanan dan payung merah yang tergeletak begitu saja disana, ia menghampiri keranjang makanan tersebut dan membukanya. Makanan itu sudah dingin dan masih tertata rapi di dalamnya. 


"Hua'er! Kamu dimana?" teriak Zhu Wu Chen kembali memanggil nama Xing'er dan yang terdengar hanyalah suara kesunyian hutan. 


"Apa dia sudah pulang? Tidak mungkin … apa jangan-jangan sesuatu terjadi padanya? Ck ini semua salahku karena datang terlambat, aku harus mencarinya," monolog Wu Chen. Karena firasatnya mengatakan jika Xing'er masih berada di sekitar sini, dia pun bergegas untuk mencarinya khawatir jika sesuatu yang tak diinginkan terjadi. 


Sementara di tempat lain yang jauh. Xuan Xing'er dan pria berambut putih sedang duduk di tepian laut, menikmati pemandangan matahari terbenam sembari menikmati secangkir arak yang mengeluarkan aroma harum. 


"Mendekatlah," titahnya pada Xing'er yang berada cukup jauh darinya. 


Keadaan hening. Xing'er yang masih takut terlihat ragu-ragu untuk menggeser duduknya ke samping pria itu. 


Pria berambut putih itu menenggak kembali araknya, kemudian menggerakkan kepalanya ke kiri dan Xing'er pun langsung bergerak secara sendiri ke sampingnya. 


"T-tidak jangan pukul aku," ujar Xing'er menyembunyikan kepalanya di balik kedua tangan saat pria itu menoleh padanya. Rasa trauma setelah kejadian di danau Hua-Hua sepertinya telah melekat di hati Xing'er, sehingga dia selalu merasa takut ketika berada di dekat pria itu. 

__ADS_1


Melihat sikap refleks Xing'er yang ketakutan, pria itu menatapnya sendu. Ada rasa iba dalam hatinya ketika melihat Xing'er yang takut padanya dan ada pula kesedihan dalam dirinya, karena ia ingin bersikap baik tapi disalah artikan oleh gadis tersebut. 


Dia pun akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah laut dan Xing'er yang merasakan tidak ada pergerakan dari orang itu mengintip sedikit untuk melihat, dan kembali menggeser tubuhnya ke samping. 


"Ceritakan tentangmu padaku," titahnya dengan nada bicara dingin. 


"Aku? Aku tidak punya cerita apapun untuk diceritakan," jawab Xing'er yang langsung merasakan lehernya tercekik. 


"Jika aku memintamu maka kau harus melakukannya!" kata pria itu menghempaskan Xing'er hingga tersungkur. 


Kedua mata Xing'er kembali berkaca-kaca, hari ini dirinya merasa sangat menderita. Tubuhnya terasa remuk akibat ulah pria itu yang kasar padanya, dia ingin menangis sekencang-kencangnya tapi rasa takutnya terlalu besar sehingga ia pun hanya mampu menahan derai matanya yang hampir terjatuh. 


Dengan penuh keterpaksaan. Dia pun akhirnya menceritakan kehidupannya pada pria tersebut, sama seperti saat dirinya bercerita pada Han Wang Yue dan Zhu Wu Chen. Ia bercerita tentang orang tua, karir dan juga teman-temannya pada pria itu. 


"Hidupmu sangat beruntung dikelilingi orang-orang yang sangat mencintaimu," ucapnya datar. 


"Tidak selalu beruntung, terkadang ada beberapa orang yang selalu mencemooh ku karena di usiaku sekarang aku masih belum memiliki pasangan … entah kenapa mereka selalu mengurusi kehidupan ku, padahal tanpa adanya pasangan hidupku sudah bahagia dan mereka yang memiliki pasangan belum tentu bisa sebahagia dan sebebas aku," tutur Xing'er sambil memeluk kedua lututnya. 


"Kau memang benar, hidup sendiri jauh lebih menenangkan dan saat hidup sudah mengenal cinta maka semuanya akan berubah. Cinta tak selamanya berbuah manis, seiring berjalannya waktu cinta akan berubah menjadi kepahitan yang tak akan bisa terobati oleh apapun," papar pria berambut putih, sorot matanya saat berbicara tentang cinta mengisyaratkan jika dirinya sedang mengalami kekecewaan yang mendalam. 


Xing'er menoleh pada pria tersebut dan menatapnya lekat. "Gege, apa kau sedang mengalami pergolakan cinta?" 


Pria itu hanya meliriknya sinis tanpa mengeluarkan sepatah katapun. 


Xing'er mengalihkan pandangannya ke depan setelah mendapatkan tatapan sinis dari pria itu. "Kau benar, lagi pula mana bisa manusia kejam sepertimu merasakan pergolakan cinta … kau bisa melakukan apapun untuk membuat para wanita tunduk padamu," gumam Xing'er perlahan.


Mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Xing'er. Pria itu menarik tengkuk leher Xing'er kehadapannya hingga membuat wajah mereka berada dalam jarak yang begitu dekat. 


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2