
Woah.
Sebuah kalimat yang terus diucapkan oleh Xing'er secara berulang ketika melihat banyak hidangan lezat yang tertata rapi diatas meja.
"I-ini untukku?"
"Benar, ini adalah hadiah dari rakyat Qingnan mereka sangat berterimakasih padamu karena telah mengakhiri krisis kemarau."
"Woah … eh bukankah ini terlalu berlebihan, hujan baru datang satu kali dan mereka masih membutuhkan bahan pangan untuk kedepannya."
"Jangan khawatir, aku baru saja menerima informasi dari ahli astronomi istana jika hujan akan turun dalam kurun waktu beberapa bulan kedepan jadi nikmatilah hadiahmu," tutur Wang Yue tersenyum hangat.
Kepala Xing'er mengangguk, dia memanggil seorang pelayan dan memerintahkannya memanggil para tetua serta yang lainnya untuk menikmati hidangan yang tersedia secara bersama-sama.
Tanpa menunggu waktu lama, setelah pengawal itu pergi semua orang yang dimaksud Xing'er pun akhirnya datang dengan senyum bahagia di wajahnya. Mereka duduk bersama-sama dan menyampai rasa terimakasih yang sebesar-besarnya pada Xing'er yang telah mengubah musim kemarau menjadi hujan.
"Nona Xing'er, terimakasih berkat anda kami bisa merasakan kembali segarnya musim hujan," ucap tetua Jia sebagai perwakilan rakyat.
"No no, kalian tidak perlu sungkan ini hanya kebetulan saja," tutur Xing'er terkekeh.
"Ini bukan hanya kebetulan semata, tapi dewa langit sudah memberkati desa Qingnan dengan mengirim anda kemari … sekali lagi saya ucapkan terimakasih," sambung tetua Jia.
"Hehe sudahlah tidak perlu dibahas lagi, aku akan selalu berdoa agar penduduk dan kota Qingnan bisa terus makmur dan tentram … baiklah, ayo bersulang." Xing'er mengangkat gelas kecilnya ke udara yang langsung disambut hangat oleh gelas para tamu yang lainnya.
Acara makan malam yang menyenangkan pun berakhir, sebelum semuanya membubarkan diri tetua Jia memberitahu Wang Yue dan Xing'er jika besok akan ada festival tahunan yang biasa diselenggarakan setiap kemarau berakhir dan bisa dibilang juga sebagai upacara penyambutan musim hujan dan tetua Jia berharap Han Wang Yue dan Xing'er mau ikut merayakannya.
"Baiklah, kami akan menghadiri festival itu," kata Han Wang Yue.
Mendengar persetujuan dari sang putra mahkota, tetua Jia dan yang lainnya pun merasa senang mereka pun pamit undur diri dan membiarkan Wang Yue serta Xing'er untuk beristirahat.
"Abao." Wang Yue memalingkan pandangannya pada Xing'er yang masih sibuk dengan kacang-kacangnya.
"Hmm."
"Terimakasih."
"Untuk?"
"Karena hari ini kamu sudah memberikan berkat pada rakyat Qingnan."
Xing'er meletakan kuacinya dan menoleh pada Han Wang Yue yang selalu terlihat tampan di matanya. "Honey, kita ini bukan orang asing lagi kau tidak perlu sungkan lagi padaku."
__ADS_1
"Honey?"
"Ya, honey artinya sayang jadi mulai sekarang aku akan memanggilmu honey bagaimana suka tidak?" Xing'er menaik turunkan kedua alisnya.
"Suka," jawab Wang Yue tersenyum.
"Honey … honey … honey." Xing'er mengulang panggilan sayangnya pada Wang Yue secara berulang membuat Wang Yue terkekeh sementara Xing'er sendiri malah merasa geli, padahal dirinya sendiri yang memberikan panggilan tersebut tapi dia malah merinding.
Xing'er pun tersenyum, betapa bahagianya hati Xing'er saat ini. Sudah bertahun-tahun tidak pernah merasakan rasanya jatuh cinta dan kali ini ia dapat merasakannya, hatinya seperti dipenuhi oleh kembang api yang terus meletup-letup.
"Niang, putrimu sudah tidak jomblo lagi," monolog Xing'er dalam hati.
"Xing'er, hari sudah larut aku akan mengantarmu ke kamarmu."
"Hm."
Dibawah sinar rembulan dengan hembusan angin yang menyebarkan aroma wangi hujan, sepasang kekasih itu berjalan sambil berpegangan tangan melewati lorong yang lumayan panjang hingga akhirnya mereka sampai di depan kamar Xing'er.
"Sudah sampai, masuk dan istirahat lah."
"Baik, kamu juga," balas Xing'er menatap Han Wang Yue dengan manik mata yang berbinar.
Wang Yue tersenyum, entah kenapa tubuhnya terasa membeku dan seakan tidak ingin pergi dari hadapan Xing'er. Dia terus memandang gadisnya itu seakan tak berkedip.
"Xing'er, patuhlah kamu harus segera istirahat," titah Wang Yue.
Xing'er mengangkat tangannya yang sedang digenggam erat oleh Han Wang Yue. "Aku tidak bisa beristirahat jika kau masih tidak melepaskanku."
Wang Yue bergegas melepaskan tangannya dan tersenyum malu, ia pun kembali menyuruh Xing'er untuk segera masuk ke dalam kamar karena cuaca malam ini setelah diguyur hujan terasa begitu dingin.
Gadis itu mengangguk, sebelum dirinya menutup pintu ia melambaikan tangannya dan terus menatap hingga Han Wang Yue menghilang dibalik gelapnya malam.
"Oh astaga jantungku rasanya mau meledak, inikah yang dinamakan cinta? Rasanya seperti permen nona nona yang ramai rasanya … hahaha, Niang tunggu aku kembali aku akan mengenalkan menantu tampan padamu," sorak Xing'er kegirangan.
.
.
.
***
__ADS_1
"Lapor pangeran, beberapa waktu yang lalu putra mahkota dan nona Xing'er melakukan jamuan makan malam bersama para tetua," laporan dari bawahan setianya Nansu.
"Acara jamuan?"
"Benar pangeran."
"Kenapa aku tidak tahu mereka mengadakan jamuan?"
"Jamuan itu semula dibuat hanya untuk nona Xing'er, tapi tiba-tiba nona Xing'er memanggil para tetua untuk menemaninya."
Kedua tangan Han Zhaoyang mengepal erat, sepertinya gadis itu ingin mengajaknya berperang. Dengan melupakan dirinya dalam perjamuan merupakan sebuah penghinaan bagi Zhaoyang, dia tidak bisa menerima semua itu sehingga memerintahkan bawahannya untuk membereskan Xing'er sebelum gadis itu semakin berani terhadapnya.
"Tapi pangeran, saat ini nona Xing'er sedang menjadi sorotan dan aku yakin jika dia sudah diawasi dengan ketat," ujar Nansu.
Zhaoyang berpikir untuk sejenak. "Aku dengar besok ada festival tahunan di desa ini mereka pasti akan pergi untuk melihatnya, pantau mereka jika menemukan celah langsung habisi keduanya … aku tidak peduli meskipun dia adalah seorang Dewi dari langit siapapun yang berani menyinggungku maka harus mati," ucap Han Wang Yue mengetatkan giginya.
"Baik yang mulia," seru Nansu membungkukkan tubuhnya kemudian pergi meninggalkan kamar tersebut.
.
.
Malam begitu tenang dan dingin. Xing'er yang hatinya sedang berbunga telah tertidur sejak beberapa jam yang lalu dan entah apa yang dia mimpikan, sebab kedua sudut bibirnya tiba-tiba mengembang.
Hembusan angin yang terasa begitu dingin pun tiba-tiba dirasakan oleh Xing'er, dia menarik selimut dan membungkus tubuhnya agar tidak kedinginan tapi rasa dingin itu seakan tak hilang malah terasa semakin menusuk hingga ketulang.
"Dingin sekali," gumam Xing'er menarik kembali selimutnya.
Akibat rasa dingin yang seakan membuatnya menggigil, Xing'er pun terbangun dan begitu ia membuka mata ia dikejutkan oleh kedatangan si rambut putih yang tengah duduk ditepi ranjangnya dalam keadaan tubuh penuh luka.
Arrghh!!
Teriak Xing'er yang berhasil mengundang para pengawal dan Han Wang Yue datang ke kamarnya.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.