
"Pangeran pertama, saya sebagai tetua kota Qingnan mewakili seluruh rakyat Qing mengucapkan banyak terimakasih, karena sudah membantu kami dan memberikan bahan pangan sehingga kami bisa keluar dari kelaparan ini untuk beberapa saat," tutur Tetua.
"Tidak perlu sungkan lagi pula aku hanya membantu mengantarkan bahan pangan ini saja, selebihnya putra mahkota lah yang sudah berjasa besar pada kalian," papar Zhaoyang.
Tetua pun terkekeh dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Han Wang Yue, berkat sang putra mahkota kini penduduk Qingnan bisa hidup dengan damai kembali.
Setelah menyampaikan rasa terima kasih. Tetua Jia membicarakan soal masalah kemarau panjang yang tiada hentinya. Kekhawatiran akan penduduk yang kembali kelaparan akibat gagalnya panen serta kekurangan air juga turut disampaikan oleh tetua Jia.
Masalah ini tentu saja bukan hal mudah bagi semua orang, kemarau panjang yang mengakibatkan gagalnya panen dan kekurangan air memanglah sangat sulit untuk diatasi.
Mungkin jika kemarau hanya ada di satu wilayah masih bisa teratasi dengan mengirim bantuan, tetapi sayangnya hampir satu negara mengalami kemarau yang mengakibatkan pemerintah sulit mencari jalan keluar mengingat zaman ini adalah abad pertengahan yang masih belum memiliki fasilitas canggih seperti zaman modern sehingga semuanya harus dilakukan secara manual dan memakan banyak waktu.
Memikirkan tentang kemarau, Han Zhaoyang yang penasaran pada gadis milik adiknya mencoba untuk memancing Wang Yue dengan melayangkan sebuah pernyataan mengenai Xing'er yang merupakan seorang Dewi dari masa depan.
"Wang Yue didi, sebelum aku kesini aku pernah mendengar rumor mengenai nona Xing'er yang merupakan seorang Dewi dari masa depan."
Han Wang Yue menoleh pada Zhaoyang dengan wajahnya yang santai, sementara tetua Jia beserta tetua lainnya menoleh pada Wang Yue menunggu jawaban.
"Benar, aku juga pernah mendengarnya," sahut tetua Jia diiringi anggukan kepala tetua yang lain.
"Karena nona Xing'er adalah seorang Dewi, bagaimana jika kita meminta pertolongan padanya siapa tahu saja nona Xing'er memiliki cara untuk memanggil hujan," lanjut Zhaoyang mengulum senyum di bibirnya.
Pria dengan gelar putra mahkota itu kembali tersenyum dan membenarkan jika Xing'er berasal dari masa depan, tetapi mengenai bisa atau tidaknya menurunkan hujan Han Wang Yue tidak bisa menjamin sebab selama dirinya tinggal bersama Xing'er ia sangat yakin jika Xing'er adalah manusia biasa yang sama seperti dirinya.
Han Zhaoyang yang tidak mempercayai ucapan adiknya kini mulai mendesak, dia bahkan memberi waktu Wang Yue selama tujuh hari untuk mempersiapkan semuanya.
"Benar kami setuju … ya kami setuju," suara orang-orang yang hadir dalam rapat tersebut.
Tetua Jia yang semula duduk disamping pun beranjak dari tempat duduknya dan membungkukkan tubuhnya di hadapan Han Wang Yue, memohon agar Wang Yue setuju dengan ucapan Zhaoyang dan membujuk Xing'er agar mau memanggil hujan.
"Tetua Jia bangunlah … saya akan mencoba membujuk nona Xing'er, tapi untuk saat ini nona Xing'er sedang tidak enak badan jadi harus menunggunya sampai sembuh … oh ya jika kelak nona Xing'er tidak bisa memberikan apa yang kalian inginkan mohon saudara sekalian untuk tidak menyalahkannya," tutur Han Wang Yue khawatir jika Xing'er tidak bisa menurunkan hujan.
Dia tahu Xing'er hanya gadis biasa yang lemah, selain pawang hujan bukankah mustahil jika manusia biasa bisa memanggil hujan yang sudah beberapa tahun ini tak kunjung turun? Wang Yue hanya berharap keajaiban akan datang dan membantu Xing'er keluar dari masalah ini.
.
.
__ADS_1
.
.
****
"Mu Yu," lirih Xing'er yang sedang memperhatikan tabib itu meracik obat.
"Hmm," jawab Mu Yu singkat.
"Obat apa yang kau berikan padaku, khasiatnya bagus sekali baru satu kali pakai tapi lukaku sudah langsung mengering," tutur Xing'er kini memperhatikan luka di tangannya.
Tabib muda itu menghampiri Xing'er dan mengeluarkan sebuah botol kecil dari balik lengannya.
"Ini adalah obat mujarab yang aku racik sendiri khusus untuk putra mahkota dan tidak diperjual belikan dimana-mana."
"Woah, kau sangat jenius Mu Yu… oh ya bisakah kau berikan satu padaku?"
Mu Yu tampak berpikir beberapa saat sebelum dirinya mengangguk dan memberikan botol kecil itu pada Xing'er.
Gadis itu tersenyum sembari menatap botol obat tersebut, kemudian ia melontarkan sebuah pertanyaan yang selama ini membuatnya penasaran. "Mu Yu apa kau ingat saat perjalanan kemari? Di tengah hutan kita tiba-tiba diserang apa kau tahu siapa yang menyerang kita?"
"Bandit?"
"Ya, kenapa memangnya?"
"Tidak apa-apa, aku hanya penasaran saja," kekeh Xing'er.
Ia pun berpikir kembali tentang Zhu Wu Chen yang menyerangnya secara tiba-tiba saat berada di tengah hutan. "Jadi … Wu gege adalah seorang bandit yang ingin merampok Wang Yue?" gumamnya dalam hati, ia tidak mengira jika ternyata temannya itu adalah seorang perampok.
"Nona Xing'er, saat itu Suan Ni bilang kau diserang oleh manusia aneh apa kau tahu siapa dia?" Mu Yu ganti bertanya pada Xing'er.
Xing'er menggelengkan kepalanya sebagai jawaban tidak tahu sebab ia memang tidak tahu, orang berambut putih itu tiba-tiba muncul dengan wajahnya yang menyeramkan dan pergi setelah bertarung dengan Suan Ni.
"Aku tidak tahu."
"Kau yakin?"
__ADS_1
"Hmm, kau tidak percaya padaku," ketus Xing'er menatap tajam Mu Yu.
Tabib itu itu hendak menjawab tetapi seorang bawahan memanggil Xing'er dan menyuruhnya untuk menemui Han Wang Yue.
Dengan penuh semangat Xing'er pun berlari menuju kamar Han Wang Yue, karena tidak sabar untuk bertemu dia sampai terburu-buru membuka pintu kamar tanpa mengetuk terlebih dahulu dan seketika langsung mematung saat melihat Wang Yue sedang bersama Han Zhaoyang.
"Abao, masuklah," sambut Wang Yue tersenyum hangat.
"O, maaf aku pikir disini tidak ada pangeran pertama," kata Xing'er malu. Ia memberi salam pada Zhaoyang dan duduk disamping Wang Yue.
"Tidak masalah, aku kesini untuk melihat keadaanmu karena aku dengar dari Wang Yue jika nona Xing'er sedang sakit … tapi sepertinya nona Xing'er sudah kembali sehat," kata Zhaoyang tersenyum.
"Terimakasih atas perhatian yang pangeran berikan padaku," tutur Xing'er melirik Wang Yue penuh tanya.
"Nona Xing'er, kamu adalah calon istri putra mahkota dan putra mahkota adalah adikku sebaiknya panggil saja saya Gege."
Kepala Xing'er mengangguk perlahan. "Gege."
Kedua sudut bibir Zhaoyang menyungging ke atas, ia meneguk tehnya hingga habis dan berpamitan untuk kembali ke penginapannya.
Melihat Zhaoyang telah pergi Xing'er pun menunjukkan sesuatu pada Wang Yue, sebuah foto seseorang yang kemarin membakar lumbung penyimpanan bahan pangan.
"Abao, sembunyikan ini dari siapapun kita akan menyelidikinya nanti sekarang ada yang lebih mendesak dari ini," tutur Wang Yue terlihat begitu cemas.
Gadis itu menatap Han Wang Yue penuh tanya, baru kali ini ia melihat Wang Yue begitu cemas sebab selama ini ia selalu melihat kekasihnya itu bersikap santai bahkan saat menghadapi bahaya wajahnya masih tetap datar dan tidak menunjukan kepanikan sedikitpun seperti sekarang.
"Ada apa, apa ada masalah?"
"Zhaoyang memintamu untuk menurunkan hujan."
"Apa!"
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.