Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.

Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.
Chapter 40.


__ADS_3

Nansu berlari secepat mungkin ke arah kamar Han Zhaoyang ketika melihat kedatangan Kasim Rui datang, dia melaporkannya pada sang pangeran agar bergegas menemui Kasim yang datang dengan dekrit kaisar. 


Zhaoyang yang mendengar laporan Nansu buru-buru menemui Kasim Rui dan mengajaknya untuk berbincang sesaat sebelum bertanya tentang dekrit yang dibawanya, berharap kaisar memberikan dirinya sesuatu yang akan membuatnya senang. 


Akan tetapi, harapan Zhaoyang harus berbuah kekecewaan sebab dalam dekrit sama sekali tidak menyebutkan namanya walaupun itu hanya ucapan terimakasih. 


Sorot mata Zhaoyang yang semula berbinar seketika berubah menjadi sendu dan bergetar, bibirnya tersenyum tipis serta tangannya mengepal dan menggenggam erat bajunya. Hatinya terasa tersayat, amarahnya mulai mendidih hingga ingin meledak tapi ia harus menahannya di depan Kasim Rui sebab jika dirinya hilang kendali Kasim Rui pasti akan melaporkannya pada kaisar. 


Usai berbincang dengan Kasim Rui, Zhaoyang yang sedang kecewa pun undur diri dengan beralasan tidak enak badan. 


Sesampainya ia di kamar, Zhaoyang langsung melempar barang-barangnya ke lantai hingga membuatnya berantakan dan pecah. 


"Waizi tenangkan diri anda," pinta Nansu menahan Zhaoyang agar tetap tenang. 


"Kenapa? Kenapa selalu saja Wang Yue yang dicari ayahanda! Kenapa ayahanda tidak pernah melihatku sedikitpun! Aku selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik tetapi ayahanda tidak pernah menganggapku sebagai putranya … kenapa!" teriak Zhaoyang melampiaskan amarahnya pada Nansu. 


Dia mendorong tubuh Nansu hingga tersungkur dan kembali menghancurkan barang-barang yang ada di kamar penginapan tersebut. 


Puas melampiaskan amarah, Han Zhaoyang mengetatkan giginya dan memerintahkan Nansu agar secepatnya menghabisi Han Wang Yue. 


"Han Wang Yue, aku tidak akan pernah mengampuni mu!" ucap Zhaoyang mengepalkan tangannya erat, rasa bencinya terhadap sang adik kini semakin mendalam dan hasratnya untuk menyingkirkan Wang Yue semakin kuat hingga apapun caranya ia harus memb*unuh Wang Yue. 


.


.


.


.


Di rumah tetua Jia. Xing'er dan Han Wang Yue sedang menjelaskan tentang bibit ajaib yang dia bawa dari rumahnya, ia memberikan contoh pada rakyat Qingnan cara menanam dan mengembangkan bibit padi dan sayur darat itu secara terperinci agar mudah dipahami oleh masyarakat. 


"Baiklah, ada yang mau coba?" seru Xing'er menawarkan rakyat untuk mencoba menanam benih tersebut. 


"Saya, saya mau mencobanya," sahut salah seorang pria yang langsung disambut hangat oleh Xing'er.

__ADS_1


Dengan penuh kesabaran ia mengajarkan para penduduk yang ingin mencoba menanam bibit ajaib tersebut, hingga akhirnya sore pun menjelang dan pelajaran cara menanam serta mengembangkan bibit tersebut berakhir. Xing'er berharap pada seluruh rakyat Qingnan agar dapat mengembangkan tanaman itu lebih luas lagi agar kelak mereka tidak mengalami krisis kelaparan seperti ini lagi. 


"Nona Xing'er, terimakasih atas ilmu yang anda berikan pada kami kehadiran anda di kota Qingnan sungguh membawa berkah semoga nona Xing'er panjang umur dan bahagia selalu," tutur Tetua Jia menyampai terima kasihnya, ia hendak membungkuk dan Xing'er buru-buru mencegahnya sebab mau bagaimana pun tetua Jia lebih tua darinya sehingga ia tidak layak untuk mendapatkan penghormatan dari yang lebih tua dari usianya. 


"Taizi bixia, terimakasih saya selalu berharap jika kelak anda akan menjadi kaisar yang adil dan bijaksana … semoga taizi bixia panjang umur serta sehat selalu," lanjut tetua Jia yang juga hendak membungkuk pada Wang Yue tapi pria terhormat itu menahan tubuhnya dan mengatakan jika kelak terjadi masalah lagi tetua Jia bisa langsung menemuinya kapan pun. 


Mendengar kabar baik, tetua Jia kembali berterima kasih dan undur diri memberikan kesempatan pada sang putra mahkota untuk berdua dengan Xing'er. 


"Tetua Jia, aku akan kembali kemari setelah tanaman itu tumbuh dan siap panen," ujar Xing'er sebelum tetua Jia pergi. 


"Baik, saya akan menunggu kedatangan nona Xing'er dan putra mahkota," jawab tetua Jia tersenyum kemudian meninggalkan keduanya. 


Suasana pun berubah menjadi sepi, halaman rumah yang semula ramai oleh orang-orang kini hanya menyisakan dua orang yang tengah kasmaran. 


Keduanya berdiri saling berhadapan dengan sikap malu-malu dan gugup. Mereka saling menatap kemudian tertawa kecil, entah apa yang mereka tertawakan sehingga keduanya tertawa hingga berulang kali. 


"Abao," lirih Han Wang Yue menatap Xing'er lekat. 


"Iya," jawab Xing'er tertunduk malu. 


"Hah?" Xing'er mengerutkan dahinya ketika melihat Wang Yue menunjuk pipinya sendiri. 


Wang Yue kembali mengulang menunjuk pipinya sambil menggerakan kepalanya. 


Xing'er mengedip-ngedipkan matanya, ia terlihat semakin gugup sambil tersenyum lalu menggelengkan kepalanya perlahan tapi lagi-lagi Wang Yue menunjuk pipinya. 


Karena Wang Yue terus menunjuk pipinya, akhirnya Xing'er mencium pipi Wang Yue hingga membuat pria itu terkejut dan mematung untuk sesaat sebab ini adalah ciuman pertama yang diterima oleh nya. 


"Xing'er," ujar Wang Yue menatap gadisnya secara seksama. 


"Hmm," pipi Xing'er tampak memerah setelah mencium pipi Han Wang Yue. 


"K-kau menciumku?" 


"Kau yang menyuruhku." 

__ADS_1


Kedua alis Wang Yue naik ke atas saat mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Xing'er, padahal dirinya bermaksud memberitahu jika pipi Xing'er kotor tapi gadis itu malah menciumnya secara terang-terangan. 


Mendapat penjelasan dari Han Wang Yue seketika Xing'er ingin masuk ke dalam tanah akibat malu yang tak tertahankan, dia hendak pergi namun tangannya ditarik oleh Wang Yue hingga tubuh mereka saling berdempetan dan di detik berikutnya Han Wang Yue mencium bibir Xing'er selama beberapa saat. 


Kedua mata Xing'er membulat sempurna saat bibirnya saling beradu dengan bibir Han Wang Yue, kemudian ia menutup matanya untuk merasakan sensasi c*iuman yang diberikan oleh Wang Yue padanya. 


C*iuman hangat yang semula lembut seketika berubah menjadi liar dan penuh gairah, keduanya saling menikmati seakan tak ingin melepaskan tautan tersebut. 


"Taizi bixia!" seru Mu Yu yang langsung membalikan tubuhnya ketika melihat adegan yang seharusnya tidak ia lihat. 


Kedua orang yang tengah saling bertaut pun terlihat malu, mereka kembali terlihat gugup hingga membuatnya sulit untuk berbicara. 


"Aku, aku aku pergi dulu," pamit Xing'er merasa benar-benar malu sehingga ia pun memilih pergi dari Wang Yue dan Mu Yu untuk menetralkan jantung serta pikirannya yang kacau. 


"Eh—," Wang Yue menjeda kalimatnya saat melihat Xing'er pergi, ia tersenyum tipis lalu berdehem untuk mengembalikan wibawanya sebagai seorang putra mahkota. 


"M-maaf aku datang disaat tidak tepat," ucap Mu Yu mengulum senyumnya. 


Han Wang Yue menghela napasnya dan mengajak tabibnya itu untuk berbicara di tempat lain. 


"Apa kau sudah menemukan yang aku minta?" tanya Wang Yue sembari menuangkan teh kedalam cangkirnya. 


Mu Yu menyerahkan kotak berisi satu set pakaian wanita dengan kualitas kain bagus pada Han Wang Yue, baju berwarna biru cerah dengan sulaman bunga begonia yang menghiasi sekitar dada dan pinggangnya. 


"Berikan ini pada Xing'er, suruh dia memakainya untuk datang ke festival," titah Han Wang Yue meraba baju tersebut sambil membayangkan betapa cantiknya Xing'er saat mengenakan pakaian pemberiannya, malam ini mereka pasti  akan menjadi pasangan paling serasi yang akan membuat semua orang iri padanya. 


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2