
Kerajaan Yangzhou.
“Yang mulia raja, sudah bertahun-tahun kerajaan ini tidak melahirkan seorang anak … usia anda sudah semakin menua dan kita memerlukan seorang penerus,” tutur penasehat kerajaan.
Sang raja mengelus janggutnya sambil menghela napas. “Apakah selir terakhir yang aku nikahi masih belum ada tanda-tanda mengandung?”
Penasehat itu menggelengkan kepalanya perlahan. Sang raja kembali menghela napas dalam, memikirkan garis keturunan Yangzhou yang hanya memiliki seorang putra berusia 18 tahun.
Sebagai seorang raja memiliki satu anak tentu saja tidak cukup. Meskipun kelak hanya akan ada seorang putra yang menjadi raja tetapi kerajaan tak bisa mengandalkan satu orang saja, sebab ada beberapa posisi kerajaan yang harus dipimpin oleh keturunan raja secara langsung supaya kerajaan bisa tetap berjaya.
“Yang mulia … yang mulia raja!” seorang pelayan wanita datang menghadap kepada raja dengan tergesa-gesa kemudian berlutut di hadapannya.
“Ada hal apa kau kemari dengan tergesa seperti itu?” tegur penasehat pada pelayan yang dianggapnya tidak sopan.
“Maafkan hamba yang mulia, hamba membawa berita gembira dari tabib kerajaan.”
“Katakanlah,” kata Raja.
“Selamat yang mulia, selir Ling telah mengandung seorang anak,”ungkap pelayan tersebut dengan raut wajah bahagia.
“Apa?” raja bangkit dari duduknya dengan raut wajah yang seakan tak percaya, dia meminta penasehat agar mengantarkannya ke kamar selir Ling. Wanita yang berasal dari kediaman Ling yang baru raja nikahi satu bulan lalu.
Sesampainya raja di kamar selir Ling, semua orang yang berada di sana termasuk permaisuri pertama memberi hormat pada raja yang langsung menghampiri selirnya itu.
“Benarkah kau sedang mengandung?” tanya raja seakan memastikan kebenaran jika istrinya sedang hamil.
Selir Ling mengangguk sambil tersenyum.
“Bagus, ini adalah kabar bagus … setelah belasan tahun lamanya akhirnya kerajaan Yangzhou kembali memiliki keturunan … penasehat bagikan uang pada pengemis di jalanan,” titah raja sambil menggenggam tangan selir Ling.
“Selamat yang mulia, anda akan segera mendapatkan berkah,” ucap permaisuri beserta enam selirnya yang lain.
Usai mengucapkan selamat mereka pun membubarkan diri untuk kembali ke harem. Di sela-sela perjalanan mereka, para selir terdengar berbisik membicarakan selir Ling yang sedang mengandung.
Selir Ling baru satu bulan masuk ke istana Yangzhou, bahkan saat pertama kali dia menikah dengan raja dia selalu memberontak dan menolak untuk dinikahi membuat sang raja marah dan mengurung selir Ling selama beberapa hari di dalam penjara, tetapi berkat kebaikan hati sang permaisuri yang membujuk raja akhirnya selir Ling kembali dibebaskan dan menempati harem hingga akhirnya dia menjadi wanita yang patuh terhadap raja dan berhasil mengandung.
Namun dengan kabar kehamilan selir Ling membuat para selir yang lain menjadi curiga. Pasalnya mereka sudah berada di istana dan melayani raja cukup lama tapi tak kunjung hamil, sekalinya ada selir yang hamil keesokan harinya akan mengalami kecelakaan yang membuat kandungannya keguguran dan tak bisa memiliki anak lagi.
“Ini aneh, mungkinkah selir Ling hamil karena—,” salah satu selir itu menghentikan kalimatnya saat permaisuri menegur mereka untuk tidak mengatakan hal sembarangan. Permaisuri memerintahkan mereka untuk membantunya menyiapkan pesta besar sebagai perayaan akan hadirnya pewaris baru.
.
__ADS_1
.
.
.
.
****
Beberapa hari kemudian.
Usai menempuh perjalanan jauh selama beberapa hari, kereta kuda yang ditumpangi oleh Han Wang Yue akhirnya sampai di Yangzhou. Karena perjalanan mereka ke Chang'an masih jauh, mereka pun memutuskan untuk beristirahat disana.
"Sudah bertahun-tahun, aku baru melihat lagi yangzhou menghias kotanya semeriah ini," celoteh Mu Yu mengedarkan pandangannya ke seluruh kota yang dihiasi oleh ornamen warna merah.
"Benar, aku ingat terakhir kali yangzhou meriah seperti ini sepuluh tahun lalu saat salah satu istri dari raja Yang dikabarkan sedang mengandung," imbuh Suan Ni.
"Mungkinkah yangzhou akan mendapatkan pangeran baru?" tanya Mu Yu pada Suan Ni.
Suan Ni hanya terdiam sambil mengamati.
"Taizi bixia, kita sudah sampai di depan penginapan," kata Mu Yu dari bawah kereta.
Wang Yue mengintip dari balik jendela kereta, ia pun mengangguk dan menyuruh Mu Yu untuk membiarkan prajurit yang lain agar beristirahat lebih dulu.
"Abao, kita sudah sampai." Wang Yue menggoyahkan bahu Xing'er yang sedang tertidur pulas.
"Abao."
Gadis itu perlahan membuka matanya, menggeliatkan tubuhnya dan merentangkan kedua tangan hingga mengenai Wang Yue.
"Ah tubuhku terasa patah semua," kata Xing'er menggerakan kepalanya ke kiri dan kanan hingga mengeluarkan bunyi kretek.
"Ayo turun, kamu bisa melanjutkan tidurmu di penginapan," tutur Han Wang Yue.
"Kita sudah sampai?"
Wang Yue menganggukkan kepalanya dan membiarkan Xing'er turun dari kereta lebih dulu. Ia kembali merentangkan kedua tangannya dan memberikan tasnya pada Mu Yu agar tabib itu membawanya.
"Wah meriah sekali," kata Xing'er takjub saat melihat kota Yangzhou yang dipenuhi oleh banyak hiasan di setiap penjurunya.
__ADS_1
"Setelah festival Qingnan, sekarang Yangzhou apa sekarang sedang musim festival?" celoteh Xing'er pada Han Wang Yue.
"Bukan, ini adalah perayaan untuk menyambut calon keturunan raja yang akan segera lahir … setelah belasan tahun lamanya akhirnya raja Yang bisa kembali memiliki keturunan," tutur Han Wang Yue menjelaskan, kemudian mengajak Xing'er untuk masuk ke dalam penginapan.
Gadis yang semula mengeluh badannya sakit itu seketika berubah menjadi bersemangat dengan senyum sumringah di wajahnya.
"Aku akan pergi untuk melihat-lihat," kata Xing'er hendak pergi dan melangkahkan kakinya, tetapi belum sempat dirinya melangkah Wang Yue menarik baju bagian belakangnya.
Xing'er menoleh pada Han Wang Yue yang sedang menatapnya datar, kemudian tersenyum polos. Wang Yue membalas senyuman Xing'er, tapi di detik berikutnya senyuman Wang Yue menghilang berganti dengan raut wajah serius.
"Mau melupakan janji sebelumnya, hmm?" sindir Wang Yue pada Xing'er.
"Hehe, aku hanya melihat-lihat lagipula disini ramai orang jadi aku akan baik-baik saja," kata Xing'er menurunkan tangan Wang Yue yang masih menggenggam bajunya.
"Aku akan menemanimu jalan-jalan, setelah urusanku selesai apa kau mengerti?"
Gadis itu menghela napasnya dan menganggukan kepalanya perlahan. Ia mengikuti Wang Yue dari belakang sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar yang dipenuhi oleh banyak penjual kue serta barang-barang lainnya.
Aroma harum yang dikeluarkan oleh kacang kastanya serta kue osmanthus begitu menusuk ke dalam hidung Xing'er, hingga membuat perut gadis itu berbunyi.
Xing'er yang tidak sabaran ingin segera melihat-lihat kota Yangzhou, sambil mencari informasi tentang bola kristal mencari kesempatan untuk pergi dari Wang Yue dan kedua bawahan setia yang terus mengawasinya.
"Taizi, sepertinya kedatangan kita sudah didengar oleh raja Yang," ucap Mu Yu memperhatikan seorang Kasim kerajaan yangzhou yang sedang mendekat padanya.
Kasim itu memberi hormat dan menyapa Han Wang Yue dengan sopan, lalu memberikan surat titah dari raja agar putra mahkota datang ke istana untuk ikut merayakan pesta perayaan.
Melihat Han Wang Yue sedang berbincang dengan orang lain, ini merupakan sebuah kesempatan bagi Xing'er untuk pergi. Dia perlahan mundur dari sisi Wang Yue dan berlari setelah memastikan jika putra mahkota dan dua bawahannya benar-benar lengah.
"Oh ya, Kasim Yu kenalkan ini Xing'er —," Wang Yue menghela napasnya panjang ketika mendapati kekasihnya tidak ada di sampingnya.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1