
Masih suasana pagi, sekitar pukul 10 waktu setempat.
Suasana ruangan milik Han Wang Yue terdengar sangat sunyi, ditemani oleh dupa yang mengeluarkan aroma wangi serta menenangkan. Han Wang Yue terlihat tengah menikmati masa luangnya dengan melukis sebuah pemandangan yang indah.
Gambar bukit berwarna hijau, disertai pohon sakura yang bermekaran dan sungai yang mengalir.
Dengan penuh kehati-hatian ia menambahkan beberapa pemanis yang akan menyempurnakan lukisannya tersebut, hingga akhirnya hanya perlu satu langkah lagi untuk menyelesaikannya tiba-tiba musibah datang tanpa disangka-sangka yang mengakibatkan lukisan indahnya berubah menjadi hancur akibat tersiram air.
Ya, air itu berasal dari tangan Xing'er. Entah apa yang terjadi antara Xuan Xing'er dengan Yu Mu karena keduanya berlarian ke arah Han Wang Yue dengan sangat ribut dan mengganggu ketenangan si pemilik pondok Lian Hua.
Xing'er yang membawa air berwarna hijau, berlari ke arah Han Wang Yue dan tanpa sengaja kakinya menginjak gaunnya sendiri sehingga cangkir itu terjatuh tepat diatas lukisan Wang Yue.
Semuanya senyap dan mematung, manik mata ketiga orang itu tertuju pada lukisan yang kini dipenuhi oleh cairan hijau berbau teh.
Kesal, marah, murka, geram kini menggumpal dalam dada Han Wang Yue. Ia mengeraskan rahangnya dan menarik napasnya secara dalam, sementara Xing'er yang takut pada raut wajah Han Wang Yue yang nyaris meledak secara perlahan mulai mengambil langkah kaki seribu meninggalkan tempat tersebut yang kini mulai dikuasai oleh aura berwarna hitam pekat.
"Xuan Xing'er!" teriak Han Wang Yue membuat semua burung yang bertengger di dalam hutan berterbangan karena terkejut.
"Bixia, jangan marah anda harus tenang," kata Yu Mu berusaha membantu agar sang putra mahkota tidak menyakiti Xing'er.
"Kau … aku akan memberi hukuman padamu nanti," ucap Han Wang Yue menunjuk kesal Yu mu kemudian pergi keluar untuk mencari keberadaan Xing'er.
Ketika Han Wang Yue sibuk mencari Xing'er, gadis yang dicari saat ini sedang bersembunyi di balik gentong yang ada di samping pondok Lian Hua. Gadis itu terus mengoceh khawatir jika Han Wang Yue akan melakukan sesuatu padanya, padahal niatnya baik ingin memberikan teh matcha pada Han Wang Yue sebagai permintaan maaf atas dirinya yang telah membuat dapurnya berantakan, tetapi Yu Mu malah terus menghalangi sehingga ia pun terpaksa berlari untuk menghindari Yu Mu.
"Gawat-gawat, jika sampai dia marah seperti ini bisa-bisa dia akan mengusirku dari sini. Jika sampai itu terjadi, aku harus pergi kemana … aku harus memikirkan cara untuk membujuknya," oceh Xing'er sembari memperhatikan sekitarnya.
"Kau pikir kau akan bisa membujukku?" sergah Han Wang Yue berdiri tepat di belakang Xing'er sambil melipat kedua tangan didada.
Wajah Xing'er mengerut takut saat mendengar suara Han Wang Yue ada dibelakangnya. Dia yang sedang berjongkok memutar tubuhnya dan mengangkat kepala untuk melihat wajah Han Wang Yue tapi sebelum ia sempat mengangkat kepala, telinganya sudah di tarik oleh pria yang sedang tersenyum menakutkan itu.
"A-a-ampun, sakit sakit," pekik Xing'er menahan tangan Wang Yue yang sedang menarik telinganya.
Melihat Xing'er memekik kesakitan, ia memasang wajah datar dan melepaskan tangannya.
"Sst tidak punya hati," desis Xing'er pelan.
"Hm," geram Wang Yue memelototi Xing'er.
Gadis itu tertunduk dan di detik berikut ia tersenyum dan menyentuh tangan Wang Yue, kemudian merayu dan memuji ketampanan yang dimiliki oleh keturunan kaisar tersebut.
__ADS_1
Mendengar omong kosong yang diucapkan oleh Xing'er, Wang Yue hanya tersenyum sinis ia menepis tangannya dari Xing'er sembari merapikan pakaiannya.
"Aku tidak akan terlena dengan rayuanmu, detik ini juga kau harus pergi dari sini," usir Wang Yue.
"Aiya, Taizi bixia jika aku pergi aku harus kemana?" rengek Xing'er.
"Kemanapun aku tidak peduli," jawabnya datar.
"Aaaa, Wang Yue gege apa kau tega membiarkan gadis cantik seperti ku terlantar di hutan ini, hmm," rajuk Xing'er menarik sedikit lengan baju Wang Yue berharap pria itu akan merasa iba padanya.
"Gege? Heuh, aku tidak mau memiliki adik sepertimu," dengus Wang Yue mendelik.
"Laogong," celoteh Xing'er menyengir.
"Cih," delik Wang Yue sedikit tersenyum.
Xing'er menghela napasnya, ia meraih telapak tangan Wang Yue dan menggenggamnya. Ia memohon agar Wang Yue tidak mengusirnya, dia juga berjanji tidak akan membuat masalah lagi dan mengikuti apapun yang dikatakan oleh Wang Yue.
"Baiklah aku akan memberimu satu kesempatan, jika kau membuat masalah aku akan menendangmu dari sini," ujar Wang Yue membuat Xing'er tersenyum senang sambil mengangguk dan masih belum melepaskan tangannya.
Han Wang Yue menatap tangannya yang digenggam oleh Xing'er, kemudian gadis itu tersenyum malu dan melepaskan tangan Wang Yue sembari pergi.
"Wang Yue," panggil Xing'er sambil tersenyum, kemudian melemparkan gantungan giok benang merah ke arah Han Wang Yue.
Pria berwajah tegas itu gelagapan saat menangkap benda ajaib tersebut dan Xing'er tertawa sambil mengatakan jika saat ini Han Wang Yue sudah sah menjadi miliknya dan kembali pergi ke dalam pondok.
Han Wang Yue mengerutkan dahinya dan menatap serius gantungan giok benang merah tersebut.
.
.
.
.
Kedai Zhensheng.
Seorang pria dengan tampilan mewah tengah duduk menikmati secangkir teh serta camilan sembari menatap orang-orang yang berlalu lalang melalui jendela di sampingnya.
__ADS_1
"Wang ji, pangeran dongji sudah datang," ucap Nansu setengah membungkuk.
Pria dengan pakaian mewah yang menggambarkan jika dirinya bangsawan itu menggerakan tangannya tanpa menoleh sebagai isyarat untuk menyuruh tamunya masuk.
"Pangeran pertama Chang'an, putra dari kaisar Han Ming Xi yang tersisihkan oleh putra mahkota Han Wang Yue," ujar seorang pria yang memiliki tampilan seperti pendekar dengan pedang giok hijau di punggungnya — Zhao Wu Chen.
Han Zhaoyang tersenyum tipis sembari menuangkan teh ke dalam cangkir kosong. "Pangeran dongji, kau sedang meledekku tapi kau sendiri tidak sadar dengan statusmu sendiri yang lebih rendah dariku," timpal Zhaoyang santai.
Zhu Wu Chen terkekeh, ia duduk dan meminum teh yang disediakan oleh Zhaoyang. " Han Zhaoyang Wang ji, memang selalu bisa membalikan kata-kata."
Sudut bibir Zhaoyang kembali melengkung, ia memulai obrolannya dan mengatakan kenapa dirinya mengajak Zhu Wu Chen untuk bertemu secara diam-diam.
Ibu kota Chang'an dan daerah dongji semula merupakan negara yang bersatu, memiliki kedamaian dan kemakmuran yang selalu disanjung oleh negara lain.
Dibawah kepemimpinan raja Zhu, dongji selalu tunduk, setia dan mentaati semua peraturan yang dibuat oleh pemerintah Chang'an sehingga menjadikan dajing sebagai pusat dinasti untuk para pendatang dan membuat perekonomian semakin meningkat.
Selama puluhan tahun lamanya dan seiring bergantinya raja, Chang'an dan Dajing masih baik-baik saja hingga pada tahun-tahun berikutnya saat kenaikan raja baru mereka mulai memainkan politik dengan tidak memberikan laporan pendapatan ke istana kekaisaran, dan sang raja yang memiliki niat ingin memisahkan dajing dari ibu kota Chang'an mulai melanggar banyak peraturan dan memerintahkan para pejabat istana untuk mengerahkan para prajurit, agar merebut daerah perbatasan barat laut sebagai awal pertunjukan dari tindakan pemberontakannya.
Kekuatan militer yang berada di barat laut bisa terbilang cukup kuat pada saat itu, tetapi dajing yang telah mendominasi ke dalam markas militer mampu melumpuhkannya dan berhasil merebut perbatasan barat laut dengan mudah.
Niat sang raja ingin mengubah dajing menjadi ibu kota tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan, mereka harus memperluas kembali wilayahnya dan berniat untuk mengambil wilayah gunung Yan Utara dan wilayah-wilayah lainnya yang berada di bawah pemerintahan Chang'an, kemudian masuk ke ibukota untuk menjatuhkan kaisar.
Kaisar yang mendengar berita tersebut sangat marah, dia memerintahkan ribuan prajurit militer yang kala itu dipimpin langsung oleh putra mahkota Han Ming Xi untuk mencegah kerajaan dongji berhasil dalam merebut wilayah gunung Yan.
Peperangan antara Chang'an dan dongji pun berlangsung sengit, banyak tentara serta penduduk desa Yan yang terluka bahkan tewas akibat peperangan tersebut dan berkat kerja keras Han Ming Xi dia pun berhasil mengalahkan kerajaan dajing dan mengusirnya dari gunung Yan.
Meskipun Han Ming Xi tidak bisa mengambil kembali daerah barat laut akibat kehabisan anggota militer, Han Ming Xi bersumpah jika suatu saat keturunannya akan merebut kembali Barat laut dari tangan dajing.
Semenjak peperangan itu berakhir dan Han Ming Xi naik takhta, keadaan ibu kota kembali damai walaupun ada sedikit hal-hal yang memanas tetapi berhasil ditangani dan saat Han Ming Xi mulai memiliki keturunan, kerajaan dajing mulai merasakan keresahan.
Kerajaan dajing teringat pada sumpah Han Ming Xi yang akan mengirim keturunannya untuk merebut wilayah barat laut kembali sehingga mereka mulai mempersiapkan perlawan, tetapi setelah bertahun-tahun menunggu Han Ming Xi masih tidak menunjukan pergerakan padahal saat itu putra pertamanya sudah memasuki usia ke lima belas tahun.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.