Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.

Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.
Chapter 47.


__ADS_3

“Apa! Ada orang yang berani menindasmu?” pekik tiga pria dari pondok lian hua secara bersamaan setelah mendengarkan seluruh cerita Xing’er yang menghilang selama seharian. 


“His berani sekali orang itu menindas calon permaisuri chang'an,” desis Mu Yu sambil memegang nampan berisi mangkuk obat.


“Nona Xing’er katakan padaku, dimana orang kejam  itu biar aku habisi dia,” geram Suan Ni mencengkram erat pedangnya. 


“Benar, katakan dimana orang itu aku akan mencarinya dan membalas perbuatannya terhadapmu,” timpal Wang Yue sambil mengobati telapak tangan Xing'er yang terluka.


Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Sudahlah, tidak perlu melakukan itu aku tidak mau memperpanjang masalah dan membuat dendam yang berlanjut … biarkan saja, dia pasti akan mendapatkan karmanya.”


 


Wang Yue merapikan selimut yang membalut kedua bahu Xinger. “Abao, bukankah aku sudah mengatakannya berulang kali agar kamu tidak pergi tanpa sepengetahuanku, kenapa kamu terus pergi ke sembarang tempat seorang diri.”


“Maaf, aku salah,” ucap Xing’er menundukan kepalanya. 


“Tempat ini berbahaya untukmu, aku tidak mau kamu terluka seperti ini … jika sampai sesuatu terjadi padamu aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri.”


“Maaf, aku berjanji kelak tidak akan melakukannya lagi.”


“Kau ini keadaanmu sudah begini, masih saja berbicara kelak.”


“Baiklah mulai sekarang aku tidak akan melakukannya lagi, bisakah kau berhenti mengomel kau sudah mirip dengan ibuku.”


“Baiklah aku akan berhenti mengomel, tapi jika kau melanggar janjimu lagi aku akan benar-benar memasungmu.”


“Memangnya kau tega memasung wanita cantik sepertiku, hmm,” goda Xing’er mendekatkan wajahnya pada Wang Yue. 


“Tentu saja, aku akan memasungmu dalam hatiku,” ucap Wang Yue membuat Xing’er tersenyum. 


“Aiya lihatlah priaku sudah pintar berbicara manis seperti ini,” celoteh Xing’er terkekeh. 


“Suan apa kau merasa gerah?” bisik Mu Yu. 


“Ya disini panas sekali,” jawab Suan Ni.


“Ayo pergi, sebelum kita berubah menjadi obat nyamuk,” ajak Mu Yu pada rekannya. Kedua pria itu pun pergi meninggalkan sepasang kekasih yang sudah melupakan kehadiran mereka berdua. 

__ADS_1


Pria itu mengambil mangkuk obat yang tadi diletakan Mu Yu di atas nakas dan menyuapi gadis itu perlahan.  “Minumlah obatnya dan istirahatlah, besok kita akan mulai perjalanan menuju istana.”


Xing’er mengangguk, ia menerima suapan obat yang diberikan oleh Wang Yue lalu membaringkan tubuhnya dan membiar Wang Yue menyelimuti tubuhnya. “ Wang Yue.”


“Hem.” Wang Yue menatap Xinger lembut. 


“Bisakah temani aku sampai aku tidur, aku ingin melihat wajah tampanmu.”


“Baiklah, aku akan menjagamu sampai kau tertidur dan kau bisa menatap wajahku sepuasnya.” Wang Yue menggenggam tangan Xing”er dan menjaga gadis itu hingga terlelap. 


 .


.


Pagi hari.


Sesuai yang dikatakan oleh Han Wang Yue jika hari ini mereka akan memulai perjalanan menuju istana kekaisaran. Mu Yu dan Suan Ni serta prajurit yang mengawal telah selesai berkemas dan merapikan barang-barang mereka di atas kuda, kini mereka hanya tinggal menunggu sang putra mahkota dan Xing’er yang masih berada di dalam penginapan. 


“Kau sudah siap?” tanya Wang Yue pada Xing’er yang sedang bercermin. 


“Sudah, ayo pergi.”


“Hati-hati,” ucap Wang Yue membantu Xing’er naik ke atas kereta dan setelah Xing’er masuk, giliran dirinya yang masuk dan duduk berhadapan dengan sang pujaan hati. 


Ciah. 


Suara kusir menghentakan tali yang mengikat kedua kuda di depannya agar mau berjalan. 


Xing’er mengintip kota Qingnan dari balik jendela kereta kuda sambil tersenyum. Rasanya baru kemarin dia datang ke kota tersebut tapi sekarang sudah akan meninggalkannya, walaupun di kota itu dirinya banyak mengalami hal yang berbahaya namun ia mendapatkan pengalaman baru yang belum pernah dia temui di dunianya. 


“Merasa tidak rela untuk meninggalkan tempat ini?” seru Wang Yue menuangkan segelas air ke dalam cangkir dan menyodorkannya pada Xing’er. 


“Sedikit, tapi aku lebih suka berada di pondok lian Hua,” jawab Xing’er meneguk teh hangat pemberian Wang Yue. 


“Haruskah kita membatalkan perjalanan ke istana dan kembali ke pondok?”


Kepala Xing’er menggeleng cepat. “Ti-tidak kita harus tetap kesana, setelah kita menikah kita akan tinggal di pondok lian Hua selamanya. Sepertinya menjadi keluarga petani akan sangat menyenangkan, saat kamu berada di ladang, aku akan menyusulmu sambil membawa makan siang dan aku akan belajar menenun lalu kala malam tiba kita akan menghabiskan malam sambil menatap bulan bersama anak-anak kita.”

__ADS_1


Pria itu tersenyum lembut pada Xing'er. "Abao dari mana kamu belajar hal ini?" 


"Beberapa hari yang lalu aku melihat ada satu keluarga petani, mereka terlihat bahagia dengan kehidupan sederhananya jadi aku berpikir untuk meniru mereka dan menciptakan kebahagiaan tersendiri." 


"Baiklah, setelah menikah kita akan menjadi keluarga petani yang bahagia dan menghasilkan banyak sayuran dengan kualitas bagus." 


Kepala Xing'er kembali mengangguk penuh semangat, sepertinya dia telah melupakan dunianya dan berencana untuk tetap tinggal di Chang'an bersama keluarga barunya. 


Saat perjalanan menuju gerbang Qingnan, tiba-tiba kereta kuda yang mereka tumpangi berhenti. Wang Yue dan Xing'er saling menatap penuh tanya dan keluar dari kereta setelah mendapatkan laporan jika kereta mereka dihadang oleh rakyat. 


Panjang umur untuk putra mahkota dan Dewi Xing'er. 


Seruan dari para masyarakat Qingnan, mereka bersujud di depan Wang Yue dan Xing'er sebagai ucapan terima kasih karena telah membantu mereka keluar dari krisis. 


Pria dengan gelar putra mahkota itu meminta mereka untuk bangun, dan ikut berterimakasih karena telah memberikan pelajaran baru untuknya dan Xing'er, dia pun memberi hormat pada rakyat Qingnan dan berpamitan untuk kembali ke istana. 


Jalan pun terbuka, mereka melambaikan tangan pada kereta kuda yang ditumpangi oleh Wang Yue sambil menyerukan doa-doa terbaik mereka untuk pahlawan yang telah membantunya. 


"Selama perjalanan menuju ibu kota, kita akan melewati beberapa kerajaan karena jarak ibu kota sangat jauh kita akan bermalam dan beristirahat disana, besoknya kita teruskan perjalanan," tutur Wang Yue. 


Kepala Xing'er mengangguk, isi kepalanya kini hanya tertuju pada bola kristal yang terletak di kerajaan-kerajaan yang akan ia lewati karena pintu sudah terbuka, kini Xing'er hanya perlu memikirkan cara untuk masuk ke dalam pintu tersebut. 


"Semoga dewa keberuntungan berada dipihaku," monolognya dalam hati. Ia ingin segera mendapatkan bola-bola itu agar tidak diganggu lagi oleh pria uban yang selalu semena-mena terhadapnya. 


Sepanjang perjalanan menuju yangzhou, Xing'er tak hentinya terus berbicara. Mengungkapkan isi hati, keinginan di masa depan bersama Han Wang Yue dan bertanya soal Han Wang Yue serta keindahan yang dimiliki oleh Chang'an. 


Melihat kepribadian Xing'er yang ceria, tanpa merasa terganggu Wang Yue menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Xing'er dan menjelaskannya secara terperinci agar gadisnya dapat memahami apa yang dia jelaskan. 


Jika mengingat saat pertama dirinya bertemu dengan Xing'er, ia sangat ingin Xing'er pergi dari kehidupannya tetapi setelah bersama dengan Xing'er melewati banyak hal kini ia sangat takut akan kehilangannya. Ia jadi teringat pada kekasihnya yang berasal dari dimensi lain, ia tidak dapat membayangkan jika kelak Xing'er menemukan jalan pulang dan kembali ke dunianya, akan seperti apa dirinya.


Apakah dirinya sanggup kembali ke dalam kesepian yang kini sudah menghangat karena kehadiran Xing'er? Apakah dirinya juga mampu melewati hari-hari yang semula berwarna berubah menjadi kelam? Entahlah, saat ini dirinya hanya merasa bimbang. Xing'er selalu mengatakan jika dia ingin membawa dirinya ke dunianya, tetapi sebagai putra mahkota tentu saja dirinya tidak bisa pergi begitu saja meninggalkan tugas negara yang selama ini dipercayai oleh seluruh rakyat. 


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2