Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.

Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.
Chapter 43.


__ADS_3

“Huaaa, Wang Yue jangan mati kita belum menikah bagaimana bisa kau mati begitu saja,”  Xing’er menangisi Han Wang Yue yang sedang tertidur setelah diobati oleh Mu Yu. 


“Nona Xing’er, putra mahkota tidak mati … aiya berhentilah menangis sudah lima jam kau menangis sampai sekarang masih belum berhenti juga,” ujar Mu Yu gemas pada Xing’er yang terus menangis tanpa henti. 


Gadis itu terisak sambil memperhatikan wajah tampan Wang Yue yang pucat, karena dirinya Wang Yue jadi sakit dan terluka seperti ini. 


“Nona Xing’er sebaiknya anda beristirahat jangan sampai sakit, karena terus menangis.”


“Aku akan tinggal disini.”


Mu Yu menghela napasnya, dia tidak bisa melarang Xing’er sehingga dirinya pun pergi meninggalkan sepasang kekasih itu berdua dan melewatkan malam yang sulit bagi mereka. 


Pagi hari diawali dengan hujan gerimis yang hawanya cukup menusuk ke dalam tubuh, Han Wang Yue terbangun dan melihat Xinger sedang tertidur di tepi ranjangnya sambil memegang tangannya erat. 


Sudut bibir pria itu mengembang, ia melepaskan tangannya dari Xing’er perlahan dan memakaikan sebuah jubah di punggung sang gadis agar tubuhnya tetap hangat. Ia mengusap rambut Xing’er lembut  dan membuat gadis itu terbangun. 


“Wang Yue, kau sudah bangun,” seru Xing’er duduk di sisi Han Wang Yue dan menyentuh kening si pria untuk memastikan suhu tubuhnya dalam keadaan normal. 


“Aku sudah membaik,  terimakasih sudah menjagaku semalaman," kata Wang Yue kembali tersenyum.


"Kau menakuti ku, aku pikir kau akan mati karena kehabisan darah," rengek Xing'er kembali berkaca-kaca. 


"Ini hanya luka kecil kau tidak perlu khawatir, lagi pula Mu Yu sudah memberikan obat … kau tahukan obat Mu Yu paling mujarab dibanding obat yang lain," papar Wang Yue menghibur Xing'er agar tidak mencemaskan dirinya lagi. 


Xing'er menatap Han Wang Yue dengan bibir yang mengerucut, Ia tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya pada keadaan sang kekasih yang mengalami cedera karena telah menyelamatkan hidupnya. 


Han Wang Yue kembali mengulas senyum di bibirnya, ia dapat merasakan kekhawatiran yang ada dalam diri Xing'er padanya. Dibantu oleh Xing'er, ia pun bangkit dari tidurnya dan mengusap lembut pipi sang gadis memintanya agar tidak sedih lagi atas kejadian yang telah terjadi. 


"Xing'er, kau sangat berharga bagiku kelak jangan pernah melakukan hal bahaya lagi seperti semalam aku tidak mau sampai kau terluka," tutur Wang Yue mengingatkan Xing'er tentang semalam yang ingin menaruhkan hidupnya demi melindunginya. 


"Kau juga sangat berharga bagiku dan aku tidak mau kamu terluka seperti ini hanya untuk melindungiku, aku akan mencari cara untuk bisa segera kembali ke tempat asalku dan kita akan hidup bahagia disana tanpa harus bertaruh nyawa seperti ini," kata Xing'er berharap jika dirinya bisa segera menemukan keempat bola kristal dan kembali ke dunianya bersama Han Wang Yue, merajut kasih berdua tanpa harus waspada setiap saat karena pembunuh yang mengincar. 


Pria itu mengangguk dan melontarkan kembali senyumnya tanpa mengatakan sepatah katapun.

__ADS_1


"Apa ini sakit?" tanya Xing'er menyentuh sebelah tangan Wang Yue yang terluka. 


Kepala Wang Yue kembali mengangguk sambil menatap Xing'er dengan tatapan seakan kesakitan. Untuk mengurangi rasa sakit yang diderita Wang Yue Xing'er meniup tangan sang putra mahkota secara perlahan, walaupun tidak terlalu berpengaruh setidaknya mendapatkan perhatian dari orang tercinta membuat luka itu terasa sembuh dalam seketika. 


"Abao." 


"Hemm." 


"Sepertinya aku merasakan sakit dibagian yang lain," keluh Wang Yue menunjukan wajah yang tengah merasa sakit. 


Mendengar keluhan yang dilontarkan oleh Wang Yue, Xing'er pun terlihat panik. Dia hendak memanggil Mu Yu untuk memeriksanya, tapi Wang Yue melarangnya. 


Saat ini sakitnya hanya bisa disembuhkan oleh Xing'er dan tidak memerlukan obat khusus untuk meredakan rasa sakitnya. 


"Mana yang sakit?" tanya Xing'er terlihat cemas. 


"Ini yang sakit," tunjuk Wang Yue pada pipinya. 


Melihat Xing'er yang masih terdiam, Wang Yue pun mulai meringis hingga membuat wanita itu panik dan bingung harus berbuat apa. Karena Wang Yue yang terus meringis kesakitan, Xing'er yang tidak tahu harus melakukan apa akhirnya mengecup pipi Wang Yue membuat pria itu berhenti merintih dan tersenyum tipis. 


"Apa sudah sembuh?" tanya Xing'er lagi saat melihat Wang Yue menatapnya sembari mengulum senyum. 


"Sssst ini masih sakit, sepertinya kau harus menciumku lagi agar sakitnya benar-benar sembuh," ucap Wang Yue dengan manik mata memelas. 


"Hah?" 


Wang Yue mengasongkan pipinya ke depan Xing'er menunggu wanita itu mengecup pipinya lagi. 


Sadar jika Wang Yue sedang mengerjainya, refleks ia mendorong dada Wang Yue hingga membuatnya benar-benar meringis kesakitan, karena merasa bersalah Xing'er pun menuruti kemauan Wang Yue dengan mengecup pipinya beberapa kali sampai pria itu berhenti merintih. 


Kala Xing'er sedang mengecup pipi Wang Yue. Tanpa mengetuk pintu Mu Yu datang dengan membawa obat di tangannya, melihat adegan manis di pagi hari ia terkejut dan langsung membalikkan tubuhnya ke arah lain. 


Betapa sialnya diri Mu Yu yang selalu melihat kedua orang yang sedang mabuk cinta itu berc*iuman, seakan tak ingin mengganggu ia pun memberikan obat itu ke tangan Xing'er dan meninggalkan ruangan yang dipenuhi oleh hawa panas. 

__ADS_1


Kedua orang yang baru saja kepergok berkecup hanya tersenyum, Xing'er yang merasa malu dengan wajah memerah berusaha menyembunyikan wajahnya dengan tertunduk dan mengalihkan tatapan Wang Yue dengan memberinya obat. 


"Pahit sekali," keluh Wang Yue saat Xing'er menyuapi obat, keluhan berisi kode agar Xing'er memberinya yang manis akan tetapi yang diberi kode tidak mengerti. Wanita itu malah memasukan permen ke dalam mulut Wang Yue. 


"Sekarang sudah manis?" 


Han Wang Yue menghela napasnya, dia mengangguk dengan wajahnya yang dipaksakan untuk tersenyum. 


Mengingat kejadian tadi malam yang membuat mereka berada dalam bahaya, Xing'er pun bertanya soal asal usul orang-orang itu dan apa alasan mereka dengan menyerangnya. 


Tak ada yang bisa dijelaskan oleh Han Wang Yue, sebab dirinya pun masih belum mengetahui siapa yang menyuruh orang-orang itu dan ia pun tidak bisa asal menuduh karena dirinya tidak memiliki bukti apapun jika orang-orang itu adalah suruhan Zhaoyang. 


"Kita tunggu Suan Ni datang, maka semuanya akan jelas," kata Wang Yue. 


Gadis itu mendengus kasar, menyumpahi para penjahat yang telah mencelakai dirinya dan Wang Yue berharap orang-orang itu akan mati disambar petir. 


Tak lama dari ucapan Xing'er yang menyumpahi orang-orang itu, suara petir pun menyambar sangat keras hingga Xing'er serta Wang Yue pun terperanjat dan saling melempar pandangan heran, padahal diluar hanya hujan gerimis dan tidak menunjukan akan adanya petir tetapi begitu Xing'er berucap petir langsung menyambar begitu saja. 


"Abao." Wang Yue tersenyum aneh pada Xing'er yang sedang bingung. 


"Wah ... ini pasti hanya kebetulan," celoteh Xing'er seakan memastikan jika petir itu hanya ada dalam mimpinya. 


.


.


.


.


Bersambung.


 

__ADS_1


__ADS_2