
"Yu Mu antarkan gulungan ini ke istana, pastikan gulungan berisi nama-nama itu sampai ke tangan kaisar," titah Han Wang Yue pada tabib pribadinya di hadapan Qing Tian Lei dan para pejabat.
"Baik, Taizi bixia." Yu Mu mengambil gulungan tersebut dan segera pergi menuju istana.
Walikota beserta para pejabat lain menatap getir gulungan berisi nama-nama mereka yang diserahkan pada bawahan putra mahkota dan mereka pun melirik pada Han Wang Yue yang sedang tersenyum ramah.
"Bixia," lirih walikota beserta para pejabat sambil bersujud.
"Walikota Qing Tian Lei mulai hari ini jabatanmu akan dilepas atas tuduhan penggelapan dana bantuan untuk masyarakat Qingnan serta tindakan kekerasan terhadap para penduduk, maka dari itu kau akan dijatuhi hukuman penggal," papar Han Wang Yue menyebutkan satu persatu dosa yang telah dilakukan Han Wang Yue beserta pejabat lain.
"Bixia aku berani bersumpah aku tidak melakukan penggelapan, anda tahu sendirikan kemarau panjang penduduk Qingnan banyak dan bantuan sedikit tentu saja itu tidak cukup, bagaimana mungkin aku bisa menggelapkannya," elak Qing Tian Lei membela diri.
Han Wang Yue menyunggingkan sebelah bibirnya. "Apa kau pikir aku tidak tahu soal lumbung yang berada di belakang kuil? Di sana tersimpan banyak bahan pangan yang sengaja kau sembunyikan, dan saat pertama kali aku kemari aku mengecek beras yang kalian jual dan aku melihatnya sudah berdebu serta berbau … meskipun penjual mengatakan jika stok beras di kota Qingnan tidak akan habis aku tetap tidak percaya dan melakukan penelusuran, aku melihat rakyat Qingnan asli yang hidup menderita di perkampungan terpencil bahkan kau memperlakukan mereka dengan sangat keji. Demi kesejahteraan dirimu sendiri kau membantai keluarga mereka yang hendak menentang keputusan mu dan kau mencoba mengelabui ku dengan mengubah kota Qingnan seakan-akan menjadi kota yang sejahtera … Qing Tian Lei kau sangat tidak layak untuk menjadi pemimpin," geram Han Wang Yue yang berbicara dengan sangat tegas serta menunjukan kewibawaannya.
Qing Tian Lei yang tidak terima pada tuduhan Han Wang Yue terus mengelak dengan memberi banyak alasan membuat Han Wang Yue semakin geram dan memanggil beberapa saksi, saksi itu berasal dari lumbung dan dua orang yang dimasukan ke penjara karena ketahuan mengadu pada kaisar.
Sambil berlutut di depan Han Wang Yue, pria yang bekerja di lumbung membeberkan semua kejahatan Qing Tian Lei yang telah dilakukannya selama menjabat sebagai walikota. Qing Tian Lei kerap mengancam akan membantai keluarganya jika dirinya berani memihak pada penduduk Qingnan dan sebelum saksi itu meneruskan kesaksiannya, Qing Tian Lei bergerak cepat dan menusuk pria tersebut tepat di hadapan putra mahkota.
Para pengawal dibawah pimpinan Han Wang Yue dengan sigap menangkap Qing Tian Lei dan memaksanya agar kembali berlutut.
"Qing Tian Lei!" sentak Han Wang Yue.
Pria berpostur tubuh gempal itu meludah di depan putra mahkota dan mengatakan jika Han Wang Yue tidak layak menjadi kaisar, dia mencaci maki habis-habisan Han Wang Yue di depan orang-orang sebelum akhirnya dia mati bunuh diri.
Han Wang Yue menatap getir mayat Qing Tian Lei yang bercucuran darah, dia memerintahkan agar bawahannya segera membereskan mayat Qing Tian Lei serta menyuruh Suan Ni untuk mengirim ke sembilan pejabat itu ke istana untuk mendapatkan hukuman.
"Pangeran pertama Chang'an telah tiba!" seru seorang pengawal membuat Han Wang Yue dan Xing'er menoleh ke arah pintu masuk.
"Wang Yue, dia siapa?" bisik Xing'er menatap pria yang baru saja datang itu dari bawah kaki hingga ujung kepala.
"Dia kakakku," jawab Han Wang Yue yang disambut anggukan kepala oleh Xing'er.
__ADS_1
Pria dengan mahkota emas serta pakaian mewahnya itu masuk ke ruangan milik Qing Tian Lei dengan gayanya yang elegan.
"Apa aku datang terlambat?" celoteh Han Zhaoyang menatap rendah Han Wang Yue kemudian melirik Xing'er yang tengah berdiri disamping adiknya.
Han Wang Yue tersenyum kemudian memberi hormat pada kakaknya, sementara Xing'er masih berdiri tegak sambil mengamati Han Zhaoyang.
"Xing'er," bisik Han Wang Yue agar gadisnya itu membungkukkan tubuhnya.
"Pangeran dan putra mahkota bukankah jabatannya lebih tinggi putra mahkota, kenapa kau harus membungkuk," cetus Xing'er.
Han Zhaoyang melirik Xing'er dengan tatapan menusuk dan di detik berikutnya pria itu pun tersenyum. "Nona benar, maaf atas ketidak sopanan ku … taizi bixia," ucap Zhaoyang menekan akhir kalimatnya dan membungkuk.
"Tidak perlu melakukan itu, aku membungkuk karena kau adalah kakakku," ujar Han Wang Yue menahan tubuh Zhaoyang.
"Xing'er, cepat beri hormat pada pangeran pertama," titah Wang Yue pada Xing'er yang kini melipat kedua tangan didada.
Xing'er yang enggan memberi hormat, mencebikkan bibirnya sambil menggerakan sebelah bahunya.
"Tidak apa-apa, kau tidak perlu memaksanya," sela Zhaoyang kembali menatap Xing'er dingin.
Han Wang Yue mengulurkan kedua tangannya ke depan meminta maaf atas tindakan Xing'er yang telah menyinggung Zhaoyang, ia pun mengajak kakaknya pergi ke penginapannya untuk berbincang.
"Aku tidak akan ikut, aku mau pergi berjalan-jalan," ketus Xing'er berlalu pergi sambil mendelikkan matanya pada Han Zhaoyang.
"Gadis itu—," Han Zhaoyang menatap adiknya menunggu jawaban.
"Namanya Xuan Xing'er, aku menemukannya di hutan dekat pondok Lien Hua … sikapnya memang sedikit unik, mohon Gege tidak mengambil hati atas sikapnya."
"Jangan khawatir, dia hanya seorang gadis aku akan memakluminya tapi sepertinya hubungan kalian tidak biasa."
Han Wang Yue menuangkan secangkir teh untuk kakaknya sambil tersenyum, seakan ia membenarkan jika hubungan antara dirinya dan Xing'er memang memiliki hubungan istimewa.
__ADS_1
"Sudah hampir dua pekan, tapi pangeran pertama baru sampai ke kota Qingnan apa pangeran mengalami kesulitan dalam perjalanan?" tanya Wang Yue sedikit menyindir.
Han Zhaoyang mengambil cangkir teh dan menyesapnya. "Seperti yang kau ketahui perjalanan menuju Qingnan tidaklah semulus yang aku kira, begitu banyak bandit gunung yang menghadang ingin mengambil bahan pangan … untungnya aku bisa mengalahkan mereka dan mempertahankan bahan pangan jika tidak aku tidak tahu harus berbuat apa pada rakyat Qingnan."
"Kalau begitu aku mewakili rakyat Qingnan mengucapkan terimakasih, karena pangeran sudah berjuang keras melindungi bahan pangan yang sangat berharga ini sampai ditujuan," tutur Han Wang Yue memberi hormat.
"Kau tidak perlu sungkan, sudah tanggung jawabku sebagai keturunan kaisar untuk mengantarkan bahan pangan ini sampai selamat," timpal Zhaoyang kembali menyesap tehnya dengan sorot mata penuh siasat.
.
.
.
.
***
Di depan para penduduk Qingnan. Han Wang Yue mengumumkan lengsernya Qing Tian Lei dari jabatan sebagai walikota, ia juga mengatakan akan kembali menata kota Qingnan dan mengembalikan semua hak penduduk yang telah direbut oleh Qing Tian Lei.
Penduduk yang merasa senang karena satu masalah sudah teratasi memberikan penghormatan pada Han Wang Yue, mereka serempak berlutut sambil menyerukan betapa mulianya Han Wang Yue yang bisa membantu rakyat dan mengembalikan kesejahteraan seperti dulu kala.
"Penghormatan dan semua pujian ini seharusnya dilontarkan padaku, seharusnya aku yang berada di depan sana saat ini bukannya Han Wang Yue si anak haram," umpat Zhaoyang dalam hati. Kedua tangannya mengepal dan sorot matanya seakan berapi-api menggambarkan betapa marahnya dia saat ini.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1