
"Berikan kami sedikit makanan, kami lapar," ucap Han Wang Yue meminta bantuan pada warga sekitar layaknya pengemis yang kelaparan dan bukannya mendapatkan bantuan, mereka malah diusir oleh masyarakat sekitar yang merasa risih dengan penampilannya.
Tak lama kemudian, dua orang berpakaian prajurit pun datang lalu menangkap Han Wang Yue beserta Xing'er dan membawanya ke sebuah desa terpencil.
Desa kumuh yang dipenuhi oleh orang-orang berpenampilan lusuh dan juga memprihatinkan.
Keadaan di sana bisa disebut tidak layak untuk ditinggali, banyak anak-anak yang menangis karena kelaparan dan para orang tua yang terdengar melenguh akibat merasakan pencernaannya sakit karena memakan makanan yang tidak layak.
Melihat keadaan yang menyayat hati, kedua manik mata Xing'er langsung berkaca-kaca merasa tidak tega dengan keadaan mereka yang begitu menderita.
Selama ini Xing'er selalu hidup nyaman walaupun dalam keluarga yang sederhana, kedua orang tuanya selalu berusaha memenuhi apapun kebutuhan Xing'er tetapi ia tidak pernah mengucap syukur dan lebih sering banyak mengeluh yang menginginkan kehidupan seperti seorang putri raja.
Tetapi hari ini dengan melihat pemandangan memilukan ini, ia bisa mendapatkan pelajaran berharga yaitu betapa pentingnya menghargai kehidupan yang dimiliki sebab apa yang kita jalani hari ini belum tentu bisa dirasakan oleh orang lain.
"Niang, aku lapar … Niang, hiks," Isak tangis seorang anak perempuan yang menggoyangkan tangan ibunya yang tengah duduk lemas di bawah pohon.
"Ye ye bangun … jangan tinggalkan aku, ye ye." seorang anak laki-laki pun turut menangis seorang diri di depan kakek tua yang sudah terbujur kaku di atas tanah.
Air mata Xing'er berlinang membasahi kedua pipinya, merasa tak sanggup dengan pemandangan yang mengiris hatinya. Anak-anak kelaparan tanpa ada yang peduli, orang tua mati begitu saja juga tidak ada yang memperhatikan. Semua orang terlihat begitu lesu seakan tak memiliki semangat hidup untuk esok, pandangan mereka semua kosong dengan kondisi tubuh kurus kerontang.
"Wang Yue, apakah kita akan terus berdiri disini dan melihat penderitaan mereka saja?" tanya Xing'er tanpa menoleh.
Han Wang Yue menundukan wajahnya, merasakan hal sama seperti apa yang dirasakan oleh Xing'er.
"Jie, ge apa kalian punya sedikit makanan aku sangat lapar dan haus," seorang anak kecil perempuan tiba-tiba saja menarik baju Xing'er.
Xing'er menundukkan tubuhnya, ia mengeluarkan sebuah roti dari balik bajunya lalu memberikan roti itu pada anak tersebut dan siapa sangka saat Xing'er memberikan roti pada anak kecil itu dirinya langsung dikerubungi oleh orang-orang itu agar Xing'er memberikannya juga pada mereka.
Dikerubungi oleh banyak orang, tentu saja membuat Xing'er kewalahan belum lagi dirinya yang berteriak namun tidak didengar oleh orang-orang itu. Han Wang Yue yang merasa khawatir pun berusaha melindungi Xing'er dengan memeluknya, akibat suasana tidak kondusif terpaksa Han Wang Yue pun memanggil anak buahnya untuk mengamankan keadaan.
"Kau tidak apa-apa?" Wang Yue memegang kedua bahu Xing'er dan menatapnya cemas.
Xing'er menggelengkan kepalanya, meskipun wajahnya masih terlihat syok ia berusaha untuk menenangkan dirinya.
__ADS_1
"Berikan kami makanan … berikan kami makanan … berikan kami makanan," teriak orang-orang itu secara serempak.
Han Wang Yue memutar tubuhnya menjadi menghadap rakyat Qingnan, dia mengedarkan pandangannya kemudian mengungkapkan identitas dirinya yang merupakan seorang putra mahkota.
Dia mengatakan jika bantuan bahan pangan sedang dalam perjalanan dan dia juga berjanji akan memberikan keadilan pada mereka yang merasa terdzholimi oleh pemimpin kota Qingnan.
Mendapat janji manis dari putra mahkota secara langsung, membuat mereka merasa sedikit tenang dan seorang sesepuh pun datang menghampiri untuk mengajak Han Wang Yue serta Xing'er berbicara.
Semula mereka yang kini menjadi terlantar adalah keluarga yang berkecukupan dan memiliki tempat tinggal yang nyaman, tetapi setelah musim kemarau melanda dan mereka mengeluhkan soal bahan pangan yang menipis serta menanyakan bantuan dari istana secara berulang, wali kota Qing Tian Lei tiba-tiba mengutus orang-orangnya untuk mengusir mereka dari kota Qingnan.
Mereka yang kalah tenaga terpaksa harus meninggalkan rumah serta tempat usahanya dan mereka di alokasikan ke tempat terpencil di Qingnan, Qing Tian Lei memberi ancaman pada penduduk yang berani melapor pada kaisar dengan ancaman akan membunuhnya tanpa belas kasihan.
Penduduk Qingnan yang takut akan kehilangan nyawa hanya bisa pasrah dan menunggu belas kasih dari wali kota, tetapi sepanjang kemarau ini Qing Tian Lei tidak pernah memperdulikan mereka hingga akhirnya banyak penduduk yang meninggal akibat kelaparan dan kehausan.
Penduduk yang merasa sudah putus asa pun berunding, memutuskan untuk mencari keadilan dengan ingin menemui kaisar untuk melaporkan kecurangan yang dilakukan oleh wali kota, tapi sayangnya setiap kali mereka hendak pergi orang-orang suruhan Qing Tian Lei selalu menangkap dan membunuhnya tanpa rasa ampun.
Hingga suatu hari mereka kembali mencoba mengutus dua orang untuk pergi ke Chang'an, kali ini mereka berhasil lolos dari kejaran orang-orang Qing Tian Lei dan terakhir mereka mendengar kabar jika dua orang itu gagal menemui kaisar tapi bertemu dengan putra mahkota dan membawa bahan pangan.
Namun sayangnya, kabar itu terdengar oleh Qing Tian Lei sehingga Wei dan Liu dijebloskan ke dalam penjara dan bahan pangan itu dijatuhkan ke sungai.
Han Wang Yue dan Xing'er saling melirik kemudian membangunkan tetua tersebut, dia berjanji akan membantu rakyat Qingnan untuk mengambil kembali haknya.
.
.
.
.
***
Kediaman wali kota Qing Tian Lei.
__ADS_1
Seorang asisten kepercayaan Tian Lei bernama Wujin berlari ke arah ruangan pribadi Tian Lei, wajahnya tampak cemas dengan keringat yang membasahi keningnya.
"Wali kota … wali kota, gawat wali kota," ucapnya dengan napas yang tersengal.
Qing Tian Lei yang mengetahui jika Wujin membawa kabar buruk, beranjak dari duduknya dan menghampiri asisten kepercayaannya.
"Ada apa?"
"Putra mahkota sudah menemui penduduk asli Qingnan."
"Apa!"
"Ya bahkan tetua Qingnan mengajak putra mahkota dan seorang gadis yang dibawanya untuk berbicara secara pribadi … wali kota bagiamana jika mereka mengatakan yang sebenarnya pada putra mahkota?"
Qing Tian Lei menghela napasnya, dia tidak mengira jika Han Wang Yue bisa berjalan jauh dan tidak terkecoh pada penyamaran kota yang sudah dia buat sesempurna mungkin. Dan karena rencana awalnya telah gagal, Han Wang Yue pasti akan mencarinya dan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak di inginkan terjadi dia harus memikirkan kembali cara agar Han Wang Yue tidak mencurigainya.
"Wujin," panggil Qing Tian Lei dengan suara beratnya.
"Ya wali kota." Wujin menundukan kepalanya di depan Qing Tian Lei.
"Siapkan baju lusuhku dan buatkan jamuan sederhana untuk menyambut putra mahkota," titah Qing Tian Lei.
Wujin menatap sesaat Qing Tian Lei yang sedang mengelus jenggotnya, kemudian ia pun menganggukkan kepalanya dan pergi untuk menyiapkan yang diminta oleh sang wali kota.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.