Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.

Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.
Chapter 20.


__ADS_3

Kereta kuda sudah siap mengantarkan kedua pria yang kemarin dijumpai oleh Han Wang Yue, tidak lupa juga beberapa karung bahan pangan ikut dinaikan ke dalam kereta untuk mereka bawa pulang.


Kedua pria itu menjatuhkan lututnya ke tanah, mereka bersujud beberapa kali di depan Han Wang Yue mengucapkan terimakasih dan mendoakannya agar sehat serta panjang umur dan dapat menjadi kaisar yang bijaksana serta rendah hati yang selalu mementingkan rakyatnya.


Han Wang Yue yang rendah hati, buru-buru membangunkan kedua pria dengan usia yang jauh lebih tua darinya. Ia menatap kereta kuda tersebut hingga kereta itu menjauh dari pandangannya.


Boom!


Untuk kesekian kalinya, pondok Lian Hua bergetar akibat suara ledakan dari arah dapur dan pelakunya pasti sudah bisa kalian tebak sendiri.


"Bixia," lirih Yu Mu menatap nanar sang putra mahkota yang tampak tenang. Sepertinya Han Wang Yue kini sudah terbiasa dengan ledakan yang berasal dari dapurnya dan ia tidak bisa mengatakan apapun lagi, sebab ia sudah marah Xing'er tetap saja tidak mendengarkannya yang ada Xing'er malah mengulanginya hingga membuat Wang Yue hanya bisa sabar.


Pria itu mengangkat tangannya sebagai tanda jika dirinya baik-baik saja, kemudian ia duduk di kursi dan menunggu Xing'er berlari ke arahnya dengan makanan gosong buatannya.


"Wang Yue," seru Xing'er seperti yang diduga oleh sang putra mahkota jika gadis itu berlarian kecil ke arahnya dan menyuguhkan beberapa makanan padanya.


"Kali ini apa yang kau masak untukku?" tanya Wang Yue mengambil sumpitnya bersiap untuk mencicipi.


"Ikan kecil dengan kacang, lalu kue yang terbuat dari bunga begonia," jawab Xing'er tersenyum senang.


Kepala Han Wang Yue mengangguk, ia menatap sesaat Xing'er yang tengah tersenyum kemudian menatap makanannya sejenak sebelum mencobanya.


Di depan meja Wang Yue ada Suan Ni dan Yu Mu yang berdiri berdampingan, memperhatikan Wang Yue dengan tatapan khawatirnya.


Tanpa menunda waktu lama lagi. Wang Yue mulai mencicipi ikan kecil yang dicampur dengan kacang, baru satu gigitan tapi rasa tidak sedap sudah mendominasi dalam mulut Wang Yue.


Dengan wajah datar, ia menoleh pada Xing'er yang menatapnya dengan manik mata yang berbinar.


"Bagaimana, apakah ini enak?" tanya Xing'er tidak sabar menunggu pujian dari Wang Yue.


Kedua sudut bibir Wang Yue melengkung secara terpaksa, kemudian dia mengangguk perlahan untuk mengiyakan jika masakan Xing'er enak.


Gadis itu tertawa kecil, lalu menyuruh Wang Yue untuk mencicipi kue begonia nya. Semula Yu Mu ingin menghentikan Wang Yue, tetapi lagi-lagi Wang Yue memberikan isyarat agar Yu Mu diam.


"Xing'er," ucap Wang Yue menatap sang gadis yang ada di sampingnya.


"Ya," jawab Xing'er masih dengan raut wajah berbinar.


"Terima kasih untuk sarapannya, kau sudah bekerja keras hari ini bagaimana jika sekarang kamu beristirahat."


"Kenapa? Aku kan ingin melihatmu menghabiskan makanan ini."


"Eu, nona Xing'er Taizi masih ada urusan penting yang harus dikerjakan … begini saja, tadi aku lihat banyak cucian kotor di belakang jika kau tidak mau beristirahat bagaimana jika mencuci saja," usul Yu Mu mencari alasan agar Xing'er pergi dari ruangan Wang Yue yang ingin memuntahkan makanannya.


"Baiklah, tapi habis ini kau harus memasakan makanan untukku," ujar Xing'er pada Yu Mu yang langsung mendapatkan respon anggukan kepala.


.

__ADS_1


.


.


"Bixia, tentang kemarau tahun ini apa yang akan anda lakukan?" tanya Yu Mu, ikut prihatin pada cerita kedua pria yang semalam ia temui.


"Jika kaisar mengijinkan, aku akan lebih dulu menyelidiki kemana perginya bantuan yang diberikan oleh istana … sementara kau dan Suan Ni bantu aku untuk menenangkan penduduk qingnan sampai aku bisa menemukan bukti jika telah terjadi kecurangan," papar Wang Yue.


"Bixia, lalu bagaimana dengan Nona Xing'er?" sahut Suan Ni.


Han Wang Yue diam sesaat memikirkan tentang Xing'er, tidak mungkin jika dirinya mengajak Xing'er ke qingnan yang memiliki jarak tempuh ratusan li jauhnya dan perlu waktu lima hari untuk sampai kesana dengan menggunakan kereta kuda.


Namun Wang Yue juga kembali berpikir, tidak mungkin jika dirinya meninggalkan Xing'er seorang diri di pondoknya. Mengingat pondok Lian Hua terletak di tepian hutan, Wang Yue khawatir jika ada seseorang yang mengetahui kalau di pondoknya terdapat seorang wanita dan orang itu akan berbuat jahat pada Xing'er.


Han Wang Yue tidak ingin mengambil resiko jika Xing'er kenapa-kenapa, terlebih lagi dirinya masih belum mendapatkan jawaban dari guru Ding mengenai gantungan giok benang merah yang dibawa oleh Xing'er.


"Qingnan berada jauh dari sini, kita tidak mungkin meninggalkannya dan terpaksa kita harus mengajaknya," ujar Han Wang Yue dengan harapan jika Xing’er tidak akan membuat kekacauan di desa Qingnan.


Surat permohonan izin untuk pergi ke qingnan telah dikirim ke istana sejak kemarin malam dan hari ini sebuah dekrit dari kaisar pun datang ke pondok Lian Hua.


Ketiga pria itu berlutut dan mendengarkan Kasim Rui membacakan dekrit tersebut yang menyatakan jika kaisar telah memberi ijin Han Wang Yue untuk pergi ke Qingnan dan menyelidiki kasus bantuan yang tidak sampai ke tangan penduduk Qingnan.


Selain izin dari kaisar, dekrit itu juga menyatakan agar Han Wang Yue mencari solusi untuk mengurangi kasus kelaparan rakyat sebab persediaan makanan yang tersedia di istana sudah mulai menipis dan tidak tahu persediaan makanan itu bisa bertahan sampai kapan.


Kaisar mengirim dekrit ke tempat tinggal Han Wang Yue, tentu saja diketahui oleh Han Zhaoyang dan untuk mencari perhatian rakyat agar berpihak padanya Han Zhaoyang pun memohon pada kaisar agar mengizinkannya untuk pergi ke qingnan juga guna memberi bantuan pada Han Wang Yue agar urusan di sana bisa cepat terselesaikan.


.


.


.


***


Pondok Lian Hua.


Disaat tiga pria sedang sibuk mempersiapkan barang-barang untuk pergi ke qingnan. Xing'er yang tidak tahu apa-apa, sedang sibuk mencuci baju sambil memikirkan caranya untuk mendapatkan bola kristal yang disebutkan oleh kakek tua dalam mimpinya.


Beberapa hari berada di jaman kuno, memang membuat Xing'er merasa nyaman karena dirinya merasa bebas tidak terikat pada aturan sang ibu yang mengharuskan dirinya segera menikah. Namun, beberapa hari jauh dari kedua orang tua dengan kehidupan yang cukup merepotkan membuat Xing'er merasakan rindu pada tempat asalnya yang serba canggih, sehingga ia pun mulai memikirkan cara untuk mencari bola kristal agar ia bisa segera kembali ke asalnya.


"Benar, Wang Yue adalah seorang putra mahkota yang berasal dari istana kaisar mungkin jika aku bertanya tentang kristal itu dia akan membantuku," gumam Xing'er buru-buru pergi menemui Han Wang Yue untuk bertanya soal bola kristal.


Sesampainya Xing'er di depan ruang tengah, dia langsung mengerutkan dahinya heran saat melihat banyak barang yang terbungkus oleh kain menumpuk di atas meja.


"Mereka mau pergi kemana?" bisik Xing'er dalam hati, kakinya melangkah ke arah kamar milik Wang Yue dan ia melihat jika pria tampan yang katanya telah menjadi miliknya itu tengah mengelap pedangnya dengan hati-hati.


"Wang Yue, aku lihat banyak barang di depan kita mau pergi kemana?"

__ADS_1


"Bukan kita, hanya aku, Suan Ni dan Yu Mu yang akan pergi," jawab Wang Yue memasukan pedangnya ke dalam selongsong yang memiliki warna merah hati dengan tambahan warna kuning emas.


"Apa, kalian akan pergi meninggalkanku?" pekik Xing'er menghampiri Wang Yue dan mengajukan protes jika dirinya juga ingin ikut kemanapun Wang Yue pergi, terlebih lagi kini Wang Yue sudah menjadi miliknya dan jelas kemana pun dan dimana Han Wang Yue berada Xing'er juga harus ada disampingnya.


"Baiklah, jika kau memaksa tapi jangan salahkan aku jika sesuatu sampai terjadi padamu," kata Han Wang Yue menyeringai.


Xing'er mengerutkan wajahnya, merasa curiga. Apalagi ketika melihat seringai di wajah Wang Yue, ia bisa menebak jika prianya itu sedang merencanakan sesuatu.


"Kenapa masih berdiri disini, cepat kemasi barang-barang mu atau kau berubah pikiran?"


"Tidak akan, aku akan segera mengemas barang-barangku," kata Xing'er pergi berlalu dan di detik kemudian dia menyembulkan kepalanya di balik pintu. "Awas saja jika kau berani meninggalkan ku," ancam Xing'er mengacungkan tangannya yang mengepal.


Pria itu hanya tersenyum tipis, lalu keluar untuk melihat persiapan Yu Mu dan Suan Ni.


"Bixia, aku baru saja mendapatkan laporan jika pangeran pertama akan ikut ke Qingnan," laporan Suan Ni.


"Tidak masalah, semakin ramai orang maka urusan akan cepat selesai," jawab Wang Yue dengan nada santai.


"Tapi bixia, aku khawatir jika pangeran pertama hanya akan mengacau saja," tutur Suan Ni mengutarakan rasa keberatannya mengenai Zhaoyang yang ikut ke Qingnan.


"Biarkan saja dia bertindak sesukanya, jika dia sampai mengacau dirinya sendiri juga yang akan rugi."


"Baik bixia, maafkan aku yang telah berani meragukan pangeran pertama."


"Lupakan saja … bagaimana dengan persiapannya, apa semuanya sudah selesai?"


"Sudah Bixia."


"Baguslah, kau panggil Xing'er sebentar lagi kita akan berangkat."


Suan Ni mengangguk, dia menyusul Xing'er dan menyuruhnya untuk bergegas kemudian mengarahkannya agar masuk ke dalam kereta bersama Han Wang Yue.


Xing'er telah selesai berkemas, dia membawa ranselnya yang berisi banyak barang kemudian masuk ke dalam kereta yang di dalamnya sudah ada Han Wang Yue sedang membaca buku.


Gadis itu tersenyum senang dan duduk di depan Han Wang Yue dengan raut wajahnya yang cerah.


"Siapa yang menyuruhmu untuk masuk ke kereta ini?" tanya Wang Yue datar dan tanpa menoleh sedikitpun.


"Suan gege, dia memang pengertian membiarkan kita berada di dalam kereta berdua seperti ini," kekeh Xing'er tersipu malu.


"Turun!"


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2