
Beberapa jam sebelum pagi datang. Han Wang Yue bersama dua bawahannya sedang berunding tentang penyusup yang tiba-tiba muncul di kediamannya.
Ia sudah dapat menduga jika penyusup itu pasti suruhan kakaknya, karena sejak dari dulu Han Zhaoyang selalu menggunakan taktik itu untuk menyingkirkannya tetapi selalu gagal.
"Kita lihat saja nanti sampai mana kakak ku itu akan terus mengirim pembunuh-pembunuh itu kesini, tapi yang terpenting sekarang adalah kita harus memikirkan cara untuk mengusir wanita itu dari sini," kata Han Wang Yue tersenyum tipis.
"Bixia, apa anda yakin akan mengusir nona Xing'er dari sini … bukankah dengan hadirnya nona Xing'er disisi anda, akan sedikit menguntungkan," tutur Yu Mu.
"Benar Bixia, dengan hadirnya nona Xing'er anda bisa memanfaatkannya dan jika kehadiran nona Xing'er sampai ke telinga kaisar, Huangdi Bixia serta permaisuri Su Cao pasti tidak akan menyuruh anda untuk memilih istri lagi," sambung Suan Ni.
Han Wang Yue menghela napasnya, ia menyesap tehnya dan mengatakan tetap tidak menginginkan Xing'er. Dia berkata dirinya bisa menyelesaikan masalah pernikahannya tanpa harus melibatkan orang asing ke dalamnya.
Yu Mu dan Suan Ni yang merasa sudah cocok dengan Xing'er terus memberi masukan dan membujuk sang putra mahkota agar mempertahankan Xing'er disisinya, tetapi sikap Han Wang Yue yang keras kepala terus saja menolak.
Sampai pada akhirnya Han Wang Yue pun memikirkan sebuah cara, jika Xing'er mengatakan dirinya tidak mau pergi maka ia akan membuat Xing'er menderita sehingga wanita itu merasa tidak betah berada di kediamannya.
"Hah, bixia apa anda yakin akan menjadikan nona Xing'er pelayan?" seloroh Yu Mu menoleh pada Suan Ni yang juga kaget dengan keputusan Wang Yue.
"Ya, jika dia bisa bertahan disini aku akan memikirkan ulang tentang menjadikan Xing'er jadi istriku … tapi kalian harus ingat jangan berani membantunya."
Kedua pria itu mengangguk walaupun hatinya merasa tidak tega, tapi mereka lebih tidak berani menentang keputusan Wang Yue sebagai putra mahkota.
.
.
Xing'er menatap tumpukan baju kotor itu tanpa berkedip. "Kau menyuruhku mencuci baju?"
Yu Mu mengangguk, kemudian menggelengkan kepalanya ia meralat jika Wang Yue lah yang menyuruhnya dan berbisik jika Han Wang Yue sedang mencoba menyeleksinya sebagai calon istri.
"Cih jadi istri saja harus di seleksi, padahal sudah jelas aku ini calon istri yang terbaik diantara yang baik," decak Xing'er memuji dirinya sendiri.
"Nona, aku percaya dengan kemampuanmu tapi Taizi tidak suka dengan orang yang hanya beromong kosong maka dari itu anda harus membuktikannya."
"Baiklah, aku akan membuktikannya jika aku layak jadi istrinya. Ini hanya sekedar mencuci baju saja aku akan melakukannya," ujar Xing'er penuh semangat.
Diantar oleh Yu Mu ke tempat cuci, Xing'er membawa satu keranjang penuh cucian kotor ke tempat itu dan begitu sampai ia langsung menjatuhkan keranjangnya ke atas tanah.
Tidak ada mesin cuci dan tidak ada keran air, yang ada hanya sumur tua yang harus ditarik secara manual serta papan penggilasan terbuat dari kayu juga jemuran yang tingginya melebihi tinggi badannya.
__ADS_1
"Yu Mu," lirih Xing'er menatap bambu penjemuran.
"Ya."
"Kau yakin aku harus mencuci disini?"
"Benar, apa ada masalah?"
Xing'er menggelengkan kepalanya, demi jadi istri Han Wang Yue dia kembali bersemangat untuk mengerjakan tugas mencucinya.
"Kalau begitu, aku masih ada urusan aku pergi dulu," pamit Yu Mu mengulum senyum di bibirnya.
Sambil berkacak pinggang, Xing'er mengintip ke dalam sumur yang cukup dalam. Ia menelan ludahnya secara kasar kemudian mendengus keras, lagi-lagi untuk pertama kalinya ia menggunakan sumur tua seperti itu.
Xing'er memang bukan berasal dari keluarga kaya, tetapi untuk hal-hal tradisional yang serba manual tentu saja ini adalah kali pertamanya ia mencoba, sebab hidup di perkotaan sudah jarang sekali ada yang menggunakan sumur tua seperti yang dilihatnya sekarang bahkan bisa dibilang sudah tidak ada.
Menjadi anak semata wayang di keluarga sederhana jelas dirinya sangat dimanja oleh sang ayah, pria yang selalu jadi cinta pertama dan terakhirnya itu akan menuruti serta menyediakan apapun yang diinginkan oleh Xing'er, bahkan dia selalu dilarang untuk bekerja keras walaupun sekedar membantunya di toko atau menanam sayur di belakang rumah.
Dan sekarang berada di jaman yang berbeda serta jauh dari rumah dirinya harus bisa melakukan pekerjaan yang terbilang berat seorang diri, karena harus mengeluarkan tenaga yang super ekstra sebab ia harus menimba air dari dalam sumur terlebih dahulu sebelum mulai mencuci.
"Ini caranya bagaimana?" tanya Xing'er berpikir keras. Ia menyingsingkan kedua lengan bajunya dan melirik ke sisi sumur, disana terdapat ember kayu yang sudah diikat dengan tali.
Melihat Xing'er yang menjatuhkan ember ke dalam sumur tanpa memegang talinya, Han Wang Yue yang diam-diam memperhatikan menggelengkan kepalanya perlahan sembari menutup kedua matanya sesaat.
"Hmm, bagaimana aku bisa mengambil airnya jika embernya malah terjatuh?" gumam Xing'er masih berkacak pinggang sambil berpikir betapa hebatnya orang-orang di zaman ini yang bisa mengambil air dari dalam sumur secara langsung dan tanpa bantuan apapun.
Pemikiran Xing'er, orang itu akan melempar ember ke dalam sumur setelah itu orangnya terjun ke dalam sumur dan kembali ke atas dengan ember berisi air.
Ia kembali mengambil ember dan hendak menjatuhkannya lagi, agar dapat mengambil air.
"Heh, apa yang akan kau lakukan?" tegur Han Wang Yue menghentikan Xing'er yang ingin menjatuhkan embernya lagi ke dalam sumur.
"Mengambil air," jawab Xing'er polos.
"Sha gua," hardik Han Wang Yue mendelik.
Sha gua\= bodoh/ dungu.
"Kau bilang apa!"
__ADS_1
"Kau, sha gua," ulang Han Wang Yue dengan sangat jelas.
"Kau!" Xing'er mengepalkan kedua tangannya erat, raut wajahnya tampak begitu kesal karena Han Wang Yue menyebutnya dungu. Ia mengambil pakaian kotor dan hendak melemparkannya pada Han Wang Yue, tapi pria itu langsung mengancamnya sehingga Xing'er pun kembali meletakkan baju kotor tersebut dan mendengus kesal.
"Eh." Han Wang Yue menunjuk pada Xing'er. "Berani kau melemparkan baju itu padaku, aku akan mengusirmu dari sini."
"Ck," decak Xing'er kesal dan mengembalikan cucian kotor itu ke tempatnya.
"Suan Ni," panggil Han Wang Yue.
Tanpa harus memanggil untuk kedua kalinya, pengawal perkasa itu langsung datang dengan cepat dihadapan Han Wang Yue.
"Taizi," kata Suan Ni memberi hormat.
"Ajarkan gadis dungu ini caranya menimba air yang benar, jangan sampai aku harus mengeluarkan banyak uang hanya karena membeli ember baru," sindir Han Wang Yue dan sebelum dirinya pergi, ia melontarkan senyum kecutnya pada Xing'er.
"Xié'è," dengus Xing'er menghentakkan kakinya kesal.
Xié'è \= jahat.
"Nona." Suan Ni memberikan ember yang tadi terjatuh ke dalam sumur pada Xing'er.
"Hah." Xing'er menatap kaget ember tersebut dan mengintip ke dalam sumur yang didalamnya sudah tidak ada lagi ember, ternyata pemikirannya sama sekali tidak salah jika orang-orang di jaman ini sangatlah hebat. "Kau, bagaimana kamu bisa mengambilnya?"
"Mudah saja," jawab Suan Ni mempraktekkan caranya mengambil ember dari dalam sumur, pria yang cekatan itu bergerak seperti seorang ninja yang lincah. Dia masuk dan keluar dari sumur dalam waktu yang singkat dan tanpa mengalami cedera atau basah sedikitpun.
Mulut Xing'er menganga serta kedua matanya terbelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya, pria itu seperti memiliki kekuatan sihir yang dapat menghilang dan datang dalam sekejap mata.
"Nona, apa kau baik-baik saja?" Suan Ni mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Xing'er yang tampak sedang melamun.
Wanita itu pun kembali meraih kesadarannya dan bertepuk tangan, merasa kagum dengan kehebatan yang dimiliki oleh Suan Ni.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1