Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.

Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.
Chapter 29.


__ADS_3

"Nona Xing'er, kenapa kau begitu cepat pergi … aku bahkan masih ingin banyak bertanya tentang duniamu, tapi kau malah pergi secepat ini," ujar Yu Mu menangis  tersedu-sedu, begitupun bersama orang-orang ikut menangis dengan suara yang sengaja dibesarkan. 


Mendengar suara berisik seperti menangis, telinga Xing'er mulai bergerak-gerak dan perlahan ia pun membuka matanya. Masih dalam keadaan belum sadar jika dirinya berada dalam peti mati, dia merentangkan kedua tangannya dan mengedip-ngedipkan kelopak matanya. 


"Kenapa sempit sekali," gumam Xing'er kemudian menguap. 


"Huaaa nona Xing'er, jangan tinggalkan kami," suara Yu Mu menangis terdengar oleh Xing'er. 


Gadis itu bangkit dari tidurnya dan merasakan hal aneh sebab dirinya seperti ada dalam sebuah kotak, ia bangkit untuk berdiri dan melihat sekelilingnya yang dihiasi oleh ornamen yang biasa ada di upacara kematian. 


"Hah, siapa yang mati dan kenapa Yu Mu menangis?" Xing'er masih belum sadar lalu di detik berikutnya dia menoleh ke arah dinding belakangnya dimana disana terdapat sebuah lukisan dirinya serta papan roh bertuliskan namanya. 


Gadis itu mengerutkan keningnya tidak percaya jika dirinya sudah mati, sebab terakhir kali dirinya ingat semalam ia tidur seperti biasanya. 


"Astaga mungkinkah aku mati karena belum menemukan batu kristal itu?" ucap Xing'er setengah berbisik. 


"Tidak, tidak mungkin aku mati." Xing'er memanggil Yu Mu yang tengah menangis tapi tabib itu seakan tak mendengarnya. 


"Taizi bixia, saya ucapkan turut belasungkawa atas meninggalnya nona Xing'er," ujar seorang pria tua yang tidak tahu siapa. 


"Wang Yue!" teriak Xing'er, ia buru-buru turun dari peti mati tersebut dan menghampiri Han Wang Yue. 


Dia berusaha berbicara dan berteriak tetapi Wang Yue beserta orang-orang disana seakan tak bisa mendengarnya, Xing'er terus berusaha agar semua orang sadar akan kehadirannya namun usahanya hanya sia-sia. 


Orang-orang itu malah menangis sambil meratapi peti mati milik Xing'er. 


Xing'er yang merasa frustasi pun akhirnya menangis kencang, membuat Han Wang Yue dan semua orang mengulum senyum di bibirnya. 


Tuk.


Untuk kesekian kalinya kipas bercorak daun bambu milik Han Wang Yue memukul kepala Xing'er. 


Xing'er menghentikan tangisannya dan menatap Wang Yue. "K-kau bisa melihatku?" 


"Tidak hanya melihatmu, tapi aku juga bisa mendengar suaramu yang berisik," kata Wang Yue. 


"Aku tidak matikan? Aku masih hidup?" 

__ADS_1


Semua orang terdengar tertawa, menertawakan Xing'er yang tampak begitu panik termasuk Wang Yue seakan mengulum senyum di bibirnya.


"Kenapa mereka tertawa?" tanya Xing'er heran, kemudian ia pun tersadar jika dirinya sedang dikerjai oleh Han Wang Yue. 


Bugh. 


Bahu Wang Yue dipukul oleh Xing'er. Han Wang Yue pun menggerakan tangannya memberi perintah agar semua orang meninggalkan kamarnya. 


"Kau mengerjaiku!" 


"Aku tidak mengerjaimu, aku pikir kau mati karena sudah aku bangunkan berkali-kali kau tidak juga kunjung bangun jadi aku menyiapkan upacara kematian ini untukmu," tutur Han Wang Yue. 


"Xie'e," kesal Xing'er. 


"Sudahlah, kita tidak punya banyak waktu sebaiknya kau bersiap kita harus menyelesaikan kasus kecurangan Qing Tian Lei," titah Han Wang Yue.


Usai mengerjai Xing'er tanpa merasa bersalah dan seakan-akan tidak terjadi apapun, dia pun pergi meninggalkan kamarnya memberi waktu untuk gadisnya itu bersiap-siap. 


Beberapa saat kemudian mereka berdua pun pergi ke kediaman He, para pejabat yang sedang berduka melirik ke arah Xing'er dengan wajah yang seakan ketakutan. 


"Turut berduka cita atas meninggalnya pejabat He," ucap Han Wang Yue memberi hormat pada walikota.


Upacara pemakaman pun berlangsung haru, ketika Han Wang Yue hendak kembali wali kota memanggilnya dan mengundang sang putra mahkota untuk datang ke kediamannya. 


Barang-barang berharga serta mewah dengan nilai jual tinggi di suguhkan di hadapan Xing'er dan Han Wang Yue.


"Bixia, ini semua adalah harta berharga yang kami miliki dan kami sengaja memberikan ini semua sebagai hadiah pernikahan anda," ujar walikota. 


"Wah aku belum pernah melihat barang antik seperti ini," celoteh Xing'er menyentuh barang-barang tersebut. 


"Walikota anda sangat perhatian sekali pada kami, tapi aku rasa ini terlalu merepotkan," ujar Han Wang Yue merendah. 


"Tidak, sama sekali tidak merepotkan kami akan merasa sangat senang jika anda menerima semua ini tapi—," Qing Tian Lei menjeda kalimatnya dan tersenyum sambil menatap Han Wang Yue. 


Han Wang Yue yang paham pun tertawa kecil. "Walikota tenang saja aku bisa menjaga rahasia ini, lagi pula setelah keluar dari istana sepertinya aku juga tidak tertarik lagi pada politik dan soal penduduk Qingnan aku percayakan padamu." 


Qing Tian Lei dan para pejabat pun tertawa merasa lega karena satu permasalahan soal kecurangan bisa teratasi. 

__ADS_1


"Abao, apa kau menyukai hadiah-hadiah ini?" tanya Wang Yue pada Xing'er yang masih melihat satu persatu barang-barang yang dihadiahkan untuknya. 


"Suka," jawab Xing'er menghampiri Wang Yue dan menggandengnya. 


"Oh ya, di tempat asalku memiliki sebuah  tradisi yang tidak boleh dilanggar dimana orang-orang yang memberi hadiah untuk calon pengantin harus menuliskan nama mereka masing-masing jadi kalian tidak keberatan kan untuk menulis nama kalian?" tutur Xing'er tersenyum. 


Senyum kelegaan yang baru saja didapat oleh walikota serta bawahannya mendadak hilang ketika mendengar jika mereka harus menulis nama mereka diatas kertas.


"Nona Xing'er, maaf bukan saya lancang tapi bukankah menuliskan nama saat memberi hadiah itu merupakan hal yang tidak bagus," dalih Han Wang Yue.


"Hmmm tapi ini sudah tradisi, bukankah para manusia abad ini selalu menjunjung tinggi adab dan moral seharusnya kalian bisa menghargai tradisiku," tutur Xing'er.


"Abao benar, lagipula ini hanya menulis nama kenapa kalian takut bukankah aku sudah mengatakan akan merahasiakan semua ini," sambung Wang Yue meyakinkan. 


Para pejabat itu menoleh pada Qing Tian Lei, usai mendapatkan anggukan kepala walikota mereka pun satu persatu mulai maju dan menuliskan nama mereka masing-masing. 


"Wei? Pejabat bukankah nama marga mu Chang kenapa menulis Wei dan setauku kau memiliki sebuah kasus tentang penculikan seorang gadis yang berasal dari kediaman pejabat Zhong," kata Xing'er berbicara dengan santai. 


Pejabat Chang tersentak mendengar penuturan Xing'er yang mengungkap kasus kejahatannya, selama bertahun-tahun selain dirinya sendiri tidak ada siapapun yang tahu dan kini malah diungkapkan oleh Xing'er di depan pejabat yang lainnya. 


Pejabat Zhong yang selama ini baru mengetahui jika penyebab dari gangguan mental sepupu perempuannya itu karena ulah pejabat Chang langsung memukulnya dengan penuh amarah. 


"Selama ini aku selalu mempercayai mu, bahkan aku menganggapmu seperti saudaraku sendiri tapi beginikah balasanmu terhadapku kau telah membuat sepupuku jadi gila!" geram pejabat Zhong yang terus memukul pejabat Chang. Han Wang Yue memanggil beberapa penjaga untuk melerai perkelahian antara kedua pejabat tersebut dan pejabat yang lain mulai terlihat panik karena takut jika rahasia mereka juga terbongkar. 


"Baiklah, siapa selanjutnya?" seru Xing'er menatap para pejabat yang sedang gugup.


"A-aku yang akan mulai lebih dulu," sahut salah seorang pejabat. Dia maju dengan langkah yang gugup dan menuliskan nama aslinya, begitupun dengan yang lain menulis nama mereka tanpa rekayasa. 


Xing'er dan Han Wang Yue pun tersenyum, ia menggulung kertas berisikan ke sepuluh nama pejabat tersebut dan memberikannya pada Yu mu. 


"Yu Mu antarkan surat ini pada kaisar," titah Han Wang Yue membuat wali kota beserta para pejabat itu terkejut. 


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2