Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.

Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.
Chapter 35.


__ADS_3

Ditengah panas yang begitu terik, tiga serangkai penghuni pondok Lian Hua tengah bersantai di dalam kamar Han Wang Yue sambil mendengarkan alunan musik guzheng yang dimainkan oleh sang putra mahkota. 


"Bixia, tentang anda dan nona Xing'er—," Mu Yu menjeda kalimatnya sementara Suan Ni dengan wajah datar menatap Han Wang Yue menunggu jawaban.


Kedua tangan Wang Yue menahan senar guzheng dan berhenti memainkannya, ia diam sejenak untuk merasakan perasaannya terhadap Xing'er. 


Hidup bersama Xing'er untuk beberapa waktu dengan segala tingkah laku yang hampir membuat Wang Yue frustasi tentu saja dapat menimbulkan benih-benih cinta dalam hati Wang Yue tumbuh, hanya saja untuk saat ini dirinya belum bisa memastikan apakah dirinya benar-benar telah jatuh cinta atau hanya sekedar ingin melindungi untuk mengorek siapa sebenarnya Xing'er dan apa tujuannya datang kemari juga giok benang merah yang dibawanya. 


Sebenarnya Wang Yue percaya pada Xing'er, tetapi entah kenapa hatinya selalu merasa ada yang ganjal terhadap gadis itu apalagi mengingat soal orang aneh yang tempo hari mendatangi Xing'er saat di hutan sehingga Wang Yue menyimpan sedikit keraguan dalam hatinya. 


"Bixia, apa anda benar-benar menyukainya?" Mu Yu kembali bertanya karena tak kunjung mendapatkan jawaban. 


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" 


Pria itu sedikit terkekeh dan mengutarakan rasa herannya sebab, kemarin-kemarin Wang Yue sangat ingin Xing'er pergi dari hidupnya tapi sekarang calon pemimpin Chang'an itu seakan takut kehilangannya. 


"Mu Yu, bukankah kemarin kau sendiri yang menyarankan agar aku menerimanya hitung-hitung untuk menghindari perjodohan yang diberikan oleh kaisar dan ibu suri kenapa sekarang kau yang heran." 


"Hehe, jadi anda hanya memanfaatkannya?" cetus Mu Yu kembali terkekeh. 


"Dasar kejam," celetuk Suan Ni yang berhasil mengundang lirikan dari kedua orang yang ada di depannya.


"Apa maksudmu?" sahut Mu Yu.


"Aku melihat nona Xing'er mencintai taizi bixia dengan tulus, tapi anda malah memanfaatkannya bukankah itu sangat kejam," tutur Suan Ni mendelik. 


"Ey Suan, ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba terlihat kesal," desak Mu Yu menatap penuh selidik. 


"Aku akan berjaga di luar," ujar Suan Ni beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Han Wang Yue dan Mu Yu yang tengah menatapnya bingung. 


"Eh Suan gege, apa Wang Yue ada dikamarnya?" tanya Xing'er dengan napas tersengal setelah berlari.


"Di—," belum sempat Suan Ni menjawab gadis itu sudah mengatakan terimakasih dan bergegas masuk ke dalam kamar Han Wang Yue. 


Gadis itu berteriak menyerukan nama sang putra mahkota dan duduk di depan Han Wang Yue sambil tersenyum penuh semangat. 


Han Wang Yue memperhatikan Xing'er yang siang ini terlihat begitu ceria. "Suasana hatimu sedang baik, katakan apa yang membuatmu sebahagia ini hmm?" 


"Wang Yue, kau bilang aku harus menurunkan hujan." 

__ADS_1


Kepala Han Wang mengangguk pelan. 


"Aku akan melakukannya, tapi jika aku berhasil kau harus memberiku hadiah." 


"Hadiah?" 


"Hem." 


"Nona Xing'er, apa kau yakin akan menyetujui permintaan pangeran pertama?" sahut Mu Yu tidak yakin jika Xing'er bisa melakukannya. 


"Tentu saja, dia sudah menantangku maka aku harus menerima tantangan itu," jawab Xing'er percaya diri.


"Tapi Abao, kau hanya manusia biasa bagaimana mungkin bisa menurunkan hujan, pawang hujan saja sulit memanggil hujan apalagi kamu yang tidak memiliki ilmu apapun," tutur Wang Yue.


"Ck, Wang Yue apa kau lupa jika aku datang dari masa depan … kamu tidak perlu khawatir, kau hanya perlu memberiku hadiah dan hujan akan turun, bagaimana?" ujar Xing'er mengedipkan sebelah matanya. 


"Baiklah, apa yang kau inginkan?" 


Xing'er kembali tersenyum dan berpindah duduk di dekat Han Wang Yue. "Wang Yue, hubungan kita sudah berjalan jauh seperti ini sudah seharusnya kau mengenalkan aku pada orang tuamu jadi … bisakah kau membawaku ke istana." 


Wang Yue menatap Xing'er, sebelah tangannya merangkul bahu sang gadis hingga membuat Xing'er sedikit kaget. "Abao, aku berjanji akan mengenalkanmu pada orang tuaku tapi tidak sekarang." 


"Kenapa?" 


Mendapatkan penolakan dari Wang Yue, Xing'er menghela napasnya dan melemaskan kedua bahunya. Jika Han Wang Yue tidak bisa membawanya ke istana, maka satu-satunya jalan agar ia bisa ke istana dan mendapatkan bola kristal hanya dengan mengandalkan kehebohan yang terjadi, ia harap pria berambut putih itu tidak membohonginya dan akan membantu tepat pada waktunya. 


.


.


.


****


Tujuh hari kemudian. 


Hari bersejarah yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua orang, hari dimana Xing'er yang dianggap sebagai seorang Dewi akan melakukan ritual pemanggilan hujan. 


Di tengah lapangan dan di depan rakyat Qingnan, sesembahan dan berbagai dupa sudah tersedia dengan rapi hanya tinggal menunggu Xing'er yang masih berada dibalik layar. 

__ADS_1


Dari balik tirai tempat istirahat Xing'er, gadis itu mengintip dan melihat situasi yang terjadi di luar. Tubuhnya yang kemarin begitu bersemangat kini mendadak jadi gugup dan ragu jika ia bisa menurunkan hujan. 


"Abao," panggil Wang Yue sambil menghampiri Xing'er. 


"Wang Yue, bisakah kita mengundur lagi waktunya aku gugup sekali," keluh Xing'er.


Diraihnya tangan Xing'er oleh Han Wang Yue, pria itu menggenggamnya erat dan meyakinkan jika Xing'er akan berhasil. Dia juga akan memastikan meskipun Xing'er gagal, orang-orang tidak akan menyalahkannya. 


Rasa semangat dan percaya diri pun kembali diraih oleh Xing'er, dia menganggukan kepalanya dan menghentakan tangannya sambil berkata semangat. 


"Rambut putih aku mengandalkanmu," gumam Xing'er sebelum dirinya naik ke atas altar sesembahan untuk melakukan ritual. 


Xuan Xing'er seorang karyawan kantor biasa sekaligus selebgram dengan jutaan followers, masih belum menyangka jika hari ini di depan ratusan rakyat dirinya akan berperan sebagai pawang hujan dadakan. 


Sungguh tidak pernah terpikirkan olehnya selama bertahun-tahun ia diajarkan banyak materi tentang perusahaan oleh Yan Xun kini malah harus jadi pemanggil hujan seperti ini, semua ini gara-gara Han Zhaoyang.


Hanya karena disinggung sedikit pangeran pertama itu malah membalasnya dengan cara ingin mempermalukannya, tapi tidak apa-apa Xing'er yakin bisa melakukannya. 


"Demi bola kristal dan hidup damai, caiyo," gumamnya dalam hati. 


Ia menoleh pada Han Wang Yue yang berdiri di sampingnya sambil memperhatikan, kemudian menoleh pada Han Zhaoyang yang juga sedang menatapnya dengan senyum mematikan seakan menunggu kegagalan Xing'er. 


"Abao," lirih Wang Yue meyakinkan. 


"Jangan khawatir, aku akan memulainya." 


Han Wang Yue mengangguk dan mundur beberapa langkah agar tidak menghalangi. 


Xing'er mengambil sebuah dedaunan, mencelupkannya ke dalam air dan mencipratkannya ke udara secara asal-asalan bahkan air itu sampai mengenai wajah Han Wang Yue.


"Eh, dubuci dubuci," kata Xing'er kembali meraih berbagai bunga dan menyalakan semua dupa yang ada diatas meja. 


Semua mata menatap serius pada apa yang dilakukan oleh Xing'er saat ini, semuanya tak berkedip seakan tak ingin kehilangan momen detik-detik ketika titisan dewa sedang memanggil hujan.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2