Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.

Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.
Chapter 18.


__ADS_3

Hallo, boleh like jika sudah baca ya. Jika tidak dibaca, mohon untuk tidak memberi like apalagi bom like. Terimakasih dan selamat membaca.


Sambil membawa kelinci yang telah mati. Xing'er terus berjalan menyusuri hutan, layaknya seorang anak kecil dia berjalan sambil melompat-lompat kecil dan bersenandung riang tanpa memperhatikan kemana arah jalannya hingga tanpa ia sadari jika dirinya hanya terus berputar-putar di hutan itu saja. 


"Eh, perasaan tadi aku sudah lewat sini deh," kata Xing'er mengedarkan pandangannya. 


"Gawat, sepertinya aku sudah tersesat … Aiyo, Xing'er kau melakukan kesalahan lagi," desah Xing'er melemaskan kedua bahunya sambil menatap sekitarnya yang mulai hampir gelap. 


Gadis itu mencari arah jalan yang benar, ia sampai menggunakan jarinya dan mengucapkan mantra ajaib yaitu 'Cap cip cup kembang kuncup, jalan mana yang mau di cup'. Jarinya berhenti di arah selatan, dia tersenyum dan bergegas pergi kesana tapi sayangnya ia kembali lagi ke tempat yang sama. 


Meskipun dia telah mengambil jalan yang lain hasilnya masih tetap sama, hingga malam pun menjelang Xing'er masih belum bisa keluar dari sana. 


Rasa takut akan hewan buas dan hantu pun kini menyelimuti diri Xing'er, dengan mengandalkan cahaya bulan yang tidak begitu terang dia berlari sekuat tenaga sambil berteriak minta tolong. Akibat rasa takut yang semakin besar, Xing'er sampai tak memperhatikan langkah kakinya dan ia pun tersandung pada akar pohon yang mengakibatkan Xing'er terjatuh ke tepian jurang.


.


.


.


"Xuan Xing'er!" 


"Nona Xing'er!" 


"Nona Xing'er, ini aku Suan gege," teriak Suan Ni membuat Wang Yue dan Yu Mu langsung menoleh ketika Suan Ni menyebutkan dirinya dengan sebutan Gege. 


"Hei, sejak kapan kalian akrab seperti itu," tanya Yu Mu menyikut Suan Ni.


Pria dengan obor di tangannya itu tak menjawab, kemudian menoleh pada Han Wang Yue yang sedang menatapnya datar. 


Mereka pun kembali berteriak memanggil Xing'er dan meneruskan langkah kakinya. Saat sedang berjalan, tanpa sengaja mereka bertemu dengan dua orang pria yang berpenampilan lusuh serta kurus kerontang. 


Kedua orang itu berjalan dengan gontai menghampiri Han Wang Yue dan kedua bawahannya. 


"Gongzi, to-tolong kami … tolong kami," ucap si pria yang tampak sedikit lebih sehat dibanding rekannya yang sudah tidak bertenaga, pria itu meminta tolong dengan wajah memelas.


Ketiga pria dari pondok Lian Hua itu bergegas menghampiri mereka dan menanyakan apa yang telah terjadi pada keduanya. 


"Gongzi bisakah kau memberi rekanku sedikit air, kami sudah berjalan ribuan mil dan kami kehabisan air serta makanan," ujarnya. 


"Yu Mu, berikan air padanya," titah Wang Yue terlihat khawatir pada keadaan kedua pria tersebut. 


"Duō xiè, gongzi." pria itu membantu rekannya untuk duduk dan memberikan air tersebut ke mulutnya. 


"Tuan-tuan, jika aku boleh bertanya kalian dari mana dan mau kemana malam-malam seperti ini berada di hutan?" tanya Wang Yue.


"Nama ku Wei dan ini Liu, kami dari desa Qingnan, ingin menemui kaisar untuk meminta belas kasih beliau," jawab Wei. 

__ADS_1


"Qingnan? … Yu Mu, Suan Ni ajak mereka ke pondok lebih dulu beri mereka makanan dan air, aku harus mencari Xing'er lebih dulu." 


"Baik, Taizi … Xiānshēng, mari ikut kami untuk beristirahat di pondok," ajak Yu Mu. 


Kedua pria itu saling melirik satu sama lain, merasa takut jika orang-orang itu adalah komplotan jahat yang akan menghadang mereka untuk masuk ke istana. 


"Xiānshēng, kalian tidak perlu takut beliau adalah putra mahkota Han Wang Yue kalian bisa mengatakan keluhan kalian pada putra mahkota di pondok nanti," jelas Suan Ni. 


Wei dan Liu terlihat kaget sekaligus senang karena bisa bertemu dengan putra mahkota secara langsung yang terkenal dengan kemurahan hatinya, mereka pun bersujud di depan Han Wang Yue untuk mengucap rasa terima kasihnya karena telah diterima dengan baik. 


Wang Yue yang masih harus mencari keberadaan Xing'er, membangunkan keduanya untuk tidak bersikap terlalu sopan. Dia memerintahkan kedua orang itu untuk ikut bersama dua orang bawahannya terlebih dahulu, sementara dirinya melanjutkan pencariannya. 


Dengan penuh kehati-hatian dalam melangkah, Han Wang Yue terus berjalan menyusuri hutan sembari menyerukan nama Xing'er dan ketika ia sedang mengedarkan pandangannya ke sekitar hutan yang gelap. Dia mendengar samar-samar suara seseorang meminta tolong. 


"Xing'er," lirih Wang Yue, dia bergegas berlari menuju sumber suara yang diyakini jika itu adalah suara Xing'er. 


"Xuan Xing'er!" panggil Wang Yue lagi. 


"Wang Yue, i-itu suara Wang Yue … Wang Yue, tolong aku! Aku dibawah sini," sahut Xing'er berteriak. 


Han Wang Yue mendekati bibir jurang dan mengulurkan obornya untuk melihat, betapa terkejutnya ia saat melihat wanita yang beberapa hari ini selalu mengacaunya tengah menggantung di dinding jurang. 


"Xing'er, bagaimana bisa kau berada disitu?" 


"Tanyanya nanti saja, kau harus menolongku lebih dulu … aku tidak mau mati sebelum menikah dengan mu," kata Xing'er yang sudah merasakan tangannya sakit akibat terus berpegangan pada akar pohon yang menonjol dari tanah. 


"Cepatlah."


Di bawah gelapnya malam, Han Wang Yue berlarian kesana kemari untuk mencari sesuatu yang bisa mengangkat Xing'er ke atas. Mengandalkan cahaya dari sebuah obor, ia pun menebas akar rambat dengan pedangnya dan kembali menghampiri Xing'er. 


"Xing'er, pegang akar itu," titah Han Wang Yue mengulurkan akar rambat pada Xing'er.


"Aku tidak bisa, jika aku menangkap akar itu aku bisa terjatuh," teriak Xing'er.


"Xing'er kau punya dua tangan, gunakan yang satunya untuk berpegangan," kata Wang Yue memberi arahan.


"Tetap tidak bisa." 


"Kenapa?" 


"Tanganku sedang memegang kelinci," celoteh Xing'er masih setia memegang kelincinya untuk dia hadiahkan pada Han Wang Yue.


"Xing'er, jika kau masih ingin hidup lepaskan kelinci itu dan tangkap akarnya." 


"Tapi—," 


"Xing'er, aku akan menghitung sampai tiga jika kau masih tidak ingin naik maka aku akan meninggalkanmu disini dan membiarkanmu jadi santapan binatang buas." 

__ADS_1


Gadis itu berpikir sejenak dan menatap kelincinya sesaat. "Kelinci kecil, maafkan aku … aku tidak bisa memasak mu hari ini semoga kau bisa jadi santapan lezat ku di lain hari," tutur Xing'er melepaskan kelincinya dan mulai meraih akar rambat, kemudian dia berteriak saat sudah siap di tarik oleh Han Wang Yue.


Dengan sekuat tenaga Han Wang Yue menarik Xing'er dari tepi jurang, saat menarik Xing'er yang cukup berat Wang Yue sempat berceloteh tentang berat badan si wanita bahkan Wang Yue menyamakan Xing'er dengan seekor B*Abi yang gemuk. 


Mendengar Wang Yue mengatai dirinya jelas saja Xing'er marah, sembari berusaha untuk naik gadis itu tak hentinya terus mengomel merutuki Han Wang Yue yang kejam. 


"Untung saja kau tampan, jika tidak aku akan mendorongmu ke jurang sana," gerutu Xing'er saat sudah berhasil naik ke atas. 


Han Wang Yue menghela napasnya, ia membersihkan tangannya yang terkena getah akar merambat dan menatap kesal Xing'er yang cemberut sambil mengusap kakinya yang sakit. 


"Kau benar-benar menyusahkan, tidak bisakah sehari saja kau tidak membuat masalah!" dengus Wang Yue memarahi gadis tersebut yang terus membuatnya dikelilingi oleh aura kekesalan. 


"Aku sedang terkena musibah kau masih saja sempat memarahiku," ucap Xing'er mengerucutkan bibirnya dan masih mengusap kakinya yang sakit. 


Pria itu kembali menghela napas, ia berjongkok di depan Xing'er dan menatapnya sesaat. "Bagian mana yang sakit?" 


"Ini, kakiku tersandung tadi," tunjuk singer pada pergelangan kakinya. 


Pria itu menyentuh kaki Xing'er dan memintanya untuk menahan rasa sakit sebentar. 


Kretek …


"Arrghhh, kau mau mematahkan kakiku," sentak Xing'er terkejut saat kakinya dipelintir. 


"Cih … sekarang coba berdiri." Wang Yue mengulurkan tangannya dan membantu Xing'er untuk berdiri, kemudian gadis itu menggerakan kakinya dan tersenyum saat merasakan jika kakinya telah sembuh. 


"Eh, kakiku tidak sakit lagi." Xing'er menghentak-hentakan kakinya ke tanah untuk memastikan jika kakinya benar-benar telah sembuh.


"Karena kakimu sudah baik, ayo kita pulang," ajak Wang Yue hendak berjalan lebih dulu. 


"Tunggu." 


"Ada apa lagi?" 


"Kakiku masih sedikit sakit dan tidak bisa berjalan jauh," ujar Xing'er dengan raut wajah memelas. 


Lagi-lagi Wang Yue menghela napasnya panjang, entah sudah keberapa puluh kali ia menghela napas dihari ini saking terlalu banyak menahan amarah ia sampai tidak tahu lagi harus mengatakan apa sehingga dia hanya bisa menghela napasnya saja. Dia pun berjongkok di depan Xing'er dan menyuruh wanita itu untuk naik ke punggungnya. 


Awalnya Xing'er merasa tidak enak karena harus merepotkan, tapi Wang Yue terus memaksa dan akhirnya Xing'er pun naik ke punggung Wang Yue untuk pulang bersama. 


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung. 


__ADS_2