
Gugup berlebihan yang saat ini dirasakan oleh Han Wang Yue, bahkan rasa gugup itu terasa lebih besar daripada saat dirinya pertama kali turun ke Medan perang untuk menghabisi musuh yang berniat merebut daerah kekuasaannya.
Keberadaan Xing'er yang begitu dekat dengannya, bahkan hidung Han Wang Yue yang hampir menyentuh pipi mulus Xing'er membuat pria bergelar putra mahkota itu menelan ludahnya secara kasar dan merasakan darahnya berdesir dengan cepat.
Ini adalah pertama kalinya Han Wang Yue berinteraksi dengan seorang wanita dalam jarak dekat seperti ini, sebab selama hidupnya Han Wang Yue selalu menjaga jarak dari para wanita dan paling tidak suka jika di dekati oleh gadis manapun.
Dalam hal jodoh sepertinya Han Wang Yue dan Xing'er memiliki kesamaan, disaat para putra mahkota yang lain memutuskan untuk menikah di usia muda dengan banyak tuan putri. Han Wang Yue malah disibukan dengan urusan militernya dan selalu menolak perjodohan yang diberikan oleh kaisar padanya, bahkan banyak tuan putri yang disodorkan oleh para raja yang telah kalah perang dari Han Wang Yue tapi pria itu selalu menolak dan pulang dengan kemenangan tanpa membawa calon istri satu pun dan hingga kini saat usianya sudah mencapai dua puluh tujuh tahun Han Wang Yue masih belum memikirkan untuk mencari istri yang akan dijadikan sebagai permaisurinya.
"Lihat baguskan," seru Xing'er menunjukan hasil fotonya membuat Han Wang Yue yang semula sedang menatap Xing'er langsung tersadar.
Ia melihat pada ponsel Xing'er dan mengangguk pelan, kemudian kembali menjauh dari Xing'er.
"Nona pria dan wanita berbeda, kita tidak boleh duduk terlalu dekat seperti ini," ucap Han Wang Yue menunduk masih gugup.
Lagi kening Xing'er berkerut ia merasa jika Han Wang Yue itu sok suci, menurut buku yang pernah dia baca dan melihat dari film-film yang pernah ditontonnya jika para raja dan keturunannya akan memiliki banyak istri dan tidak mungkin akan menghindar dari godaan wanita cantik dan Xing'er berpikir jika Han Wang Yue sedang memainkan triknya.
"Kenapa? Apa kau malu karena disini ada Yu Mu dan Suan Ni hmm," kekeh Xing'er menggoda.
"B-bukan begitu," saking gugupnya Han Wang Yue sampai terbata-bata dan tidak bisa berkata apapun.
"Nona Xing'er, ini adalah pertama kalinya taizi berinteraksi dengan seorang wanita secara intim seperti ini jadi—." Yu Mu menghentikan kalimatnya dan menoleh pada Han Wang Yue.
"Zhēn de ma?" pekik Xing'er tak percaya.
"Yu Mu," tegur Han Wang Yue.
__ADS_1
Xing'er tertawa terbahak-bahak dengan penuturan Yu Mu yang mengatakan jika Han Wang Yue baru pertama kali berinteraksi dengan wanita, ia benar-benar tidak percaya jika di dunia ini masih ada pria yang tidak mau bersentuhan dengan lawan jenisnya.
"Nona Xing'er, apa ada hal yang lucu?" tegur Han Wang Yue.
Gadis itu menghentikan tawanya dan menoleh pada Han Wang Yue, mendengar jika Han Wang Yue tidak pernah berinteraksi secara intim dengan wanita tentu saja terasa lucu bagi Xing'er.
Dijaman sekarang wanita dan pria tanpa status duduk berdekatan dan berpegangan tangan bukankah hal yang tidak asing lagi, bahkan banyak sekali pasangan muda mudi tanpa ikatan pernikahan yang tidak merasa malu menunjukan kemesraannya di depan umum dan yang lebih mengerikan lagi mereka terkadang berciuman di depan khalayak tanpa memperdulikan rasa malu sedikitpun.
"Mendengar cerita nona Xing'er, sepertinya zaman anda lebih mengerikan dibanding era sekarang dimana kami lebih menjunjung tinggi etika dan moral meskipun kami masih belum tahu hal-hal bagus seperti yang pernah anda ceritakan," tutur Han Wang Yue dengan wajahnya yang datar.
"Nona Xing'er, jika hal intim sudah biasa dilakukan oleh pria dan wanita secara bebas, apa anda juga—." Yu Mu menjeda kalimatnya dan menatap Xing'er serius.
Seakan tahu apa yang dimaksud oleh Yu Mu, Xing'er buru-buru menyangkal jika dirinya tidak seperti yang diceritakan olehnya. Dirinya mengatakan jika ia belum pernah melakukan hal-hal aneh, bahkan dengan Yan Xun pun ia akan berkontak fisik jika itu diperlukan dan dalam keadaan tertentu, itu pun hanya sekedar berpegangan tangan dan memeluk saat sedih dan bukankah dirinya tersesat di sana untuk mencari jodoh yang berarti Xing'er belum pernah berpacaran sama sekali.
Xing'er menoleh pada Han Wang Yue dengan raut wajah serius, ia berbisik pada pria itu dan kemudian terkekeh saat melihat Han Wang Yue kesal dan pergi meninggalkan jamuan makan malamnya.
Brak!
Han Wang Yue menggebrak meja, membuat Xing'er dan kedua pria yang sedang makan itu terkejut.
"Mu Yu, tunjukan kamar untuk nona Xing'er sepertinya nona Xing'er sudah lelah," titah Han Wang Yue datar.
"Hǎo de, bìxià," ujar Yu Mu memberi hormat.
Wanita itu tersenyum sambil memetik buah anggur. "Sepertinya bos kalian sensitif sekali."
__ADS_1
"Nona Xing'er, aku peringatkan padamu jangan menyinggung perasaan Taizi jika tidak nyawa anda akan melayang," bisik Yu Mu memperingatkan.
"Baiklah aku tidak akan menyinggungnya lagi, kalau begitu tunjukan kamarku aku sudah mengantuk," ujar Xing'er menguap.
Yu Mu dan Suan Ni mengantar Xing'er ke kamarnya dan sebelum pergi mereka mengatakan jika membutuhkan sesuatu Xing'er boleh memanggil mereka dan salah satunya akan datang untuk melayani.
Kepala Xing'er mengangguk, dia mengucapkan terimakasih dan menutup pintu kamarnya. Wanita yang terbiasa hidup dengan fasilitas masa kini itu mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan tersebut dimana semuanya terbuat dari kayu yang diukir dengan sangat indah dan didesain secara efik.
"Wah material ini jika dijual ke masa kini pasti akan sangat mahal sekali, giok ini … wah ini giok asli sepertinya aku pernah melihat harganya di toko online jika tidak salah giok ini berkisar lima ratus juta … woah aku bisa cepat kaya jika memiliki ini sebanyak sepuluh buah." Xing'er terus mengoceh sendiri saat melihat barang-barang antik yang ada di kamarnya.
Xing'er mungkin hidup di zaman modern dengan fasilitas serba canggih, tapi di rumahnya tidak memiliki barang-barang antik dengan nilai jual tinggi seperti yang sedang ia lihat saat ini dan jika dibandingkan dengan zaman modern, abad pertengahan masih bisa dibilang jauh lebih baik walaupun ia masih tidak tahu seperti apa di luaran sana.
"Sebaiknya aku menyimpannya dan saat aku sudah menemukan jalan pulang aku akan membawanya dan menjualnya untuk membeli perusahaan Yan Xun agar pria itu tidak berani menindasku lagi," gumam Xing'er, ia kembali menguap dan meletakan tasnya di samping ranjang kemudian bergegas untuk tidur meskipun ia sedikit mendesis akibat kasurnya yang keras namun akhirnya ia tetap tidur akibat rasa kantuk yang tak tertahankan.
Malam hari di pondok Lian Hua terasa begitu damai dan sunyi, jika biasanya di era modern Xing'er akan mendengar suara bising kendaraan berlalu lalang tanpa henti tapi kali ini yang terdengar hanyalah suara hewan malam yang seraya meninabobokan semua penghuni pondok Lian Hua.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1