
Setelah menempuh perjalanan berhari-hari dengan segala drama yang ada, akhirnya Han Wang Yue dan Xing'er serta rombongan hampir tiba di perbatasan Qingnan.
Sebelum mereka memasuki kota Qingnan, Han Wang Yue menyusun strategi dengan membagi prajurit yang tersisa menjadi dua kelompok. Kelompok pertama ditugaskan untuk bersembunyi di hutan sekitar Qingnan guna memastikan jika bantuan dari istana sampai di Qingnan dan kelompok dua disebarkan ke penjuru kota untuk mengawasi jika ada hal-hal yang mencurigakan.
Suan Ni dan Yu Mu ditugaskan untuk mencari lumbung penyimpanan makanan secara diam-diam. Sementara itu Xing'er dan Han Wang Yue akan masuk ke kota Qingnan dan langsung menemui Qing Tian Lei yang merupakan wali kota Qingnan.
Usai mendapatkan arahan dari sang putra mahkota, mereka mengangguk mengerti tanpa menunggu perintah kedua semuanya membubarkan diri untuk menjalankan tugasnya masing-masing.
"Xing'er," panggil Han Wang Yue memanggil gadisnya yang hendak berjalan lebih dulu.
Gadis itu memutar tubuhnya dan menatap Wang Yue, menunggu pria itu mengatakan sesuatu padanya.
"Ingat, jangan membuat keributan apapun," kata Han Wang Yue memberi peringatan.
"Aku bukan anak berusia tiga tahun yang harus kau ingatkan selalu," timpal Xing'er.
"Baiklah, aku tidak akan mengingatkanmu lagi … ayo masuk," ajak Han Wang Yue menggerakan kepalanya ke arah gerbang kota Qingnan sambil memegang kipas di tangannya.
Begitu mereka masuk ke gerbang kota mereka langsung disambut oleh banyaknya para pedagang yang menawarkan berbagai macam dagangannya, dari mulai makanan hingga pernak pernik mereka jajakan pada setiap orang yang berdatangan.
Wah.
Seru Xing'er dengan manik mata berbinar, dia mendatangi satu per satu pedagang dan melihat jualan yang mereka tawarkan.
Melihat Xing'er yang berlarian kesana kemari dengan raut wajah bahagia, Han Wang Yue hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya perlahan.
"Wang Yue, lihat ini lucu sekali." Xing'er menunjukan sebuah barang berupa boneka patung kayu berwujud harimau kecil pada Wang Yue kemudian pergi ke tempat lain dan terpikat pada manisan tanghulu yang memiliki rupa berbeda dengan tempat asalnya.
"Paman berikan satu padaku," pintanya pada penjual.
Penjual itu memberikan satu tusuk tanghulu berwarna merah pada Xing'er. "Eh, nona kau belum membayar."
"Ini, ambil saja kembaliannya," sahut Wang Yue memberikan sebuah batu kecil berwarna silver.
"Terimakasih bos," ucap si pedagang kemudian berteriak kembali untuk menawarkan dagangannya.
"Semuanya terlihat baik-baik saja, bahkan mereka bisa menjual berbagai macam bahan pangan dengan kualitas bagus disini," gumam Wang Yue dalam hati.
"Wang Yue!" panggil Xing'er, gadis itu menggerakan telapak tangannya meminta agar pria itu datang kehadapannya.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Layangan ini bagus, bisakah kau belikan aku satu?" tunjuk Xing'er pada sebuah layangan berbentuk kupu-kupu.
Han Wang Yue mengetukkan kipasnya di kepala Xing'er.
"Kita kesini untuk menangani kasus, bukan untuk bermain … sudah ayo pergi."
Xing'er mengerucutkan bibirnya dan berjalan disamping Han Wang Yue sambil memegang manisan tanghulu yang masih belum sempat ia makan karena terpikat pada pemandangan yang baru ia lihat.
"Kita mau menangani kasus kecurangan bagaimana?" tanya Xing'er tampak bingung karena Han Wang Yue sejak tadi hanya berjalan-jalan santai.
"Kau ingat beberapa hari yang lalu aku pernah mengatakan jika rakyat Qingnan mengaku kalau mereka sangat kesulitan mendapatkan bahan pangan, bahkan mereka tidak pernah mendapatkan bantuan apapun dari istana tapi bisakah kau lihat para pedagang disini bisa menjual banyak bahan pangan dengan kualitas bagus dan harganya yang begitu murah, padahal di musim sulit ini seharusnya semua harga sedang naik," papar Han Wang Yue mengedarkan pandangannya ke setiap penjual.
"Maksudmu, ini hanya rekayasa?"
"Bisa dibilang seperti itu, hey kau membeli manisan kenapa tidak dimakan?"
Xing'er mengangkat kedua alisnya dan melirik manisan buahnya yang tampak menggiurkan, kemudian ia mulai memakannya.
Cuih.
Han Wang Yue terkejut dengan sikap Xing'er yang tiba-tiba melepeh makanannya.
Han Wang Yue mengambil manisan tersebut dan mencicipinya. Sama halnya dengan reaksi Xing'er yang melepeh manisan tersebut, ia melihat secara seksama buah tersebut. Buah rusak yang sengaja diberi pewarna berlebih serta diberi gula untuk menyamarkan rasa dan penampilannya agar pembeli tertarik dan tidak merasa curiga.
"Manisan ini tidak enak, bagaimana bisa orang-orang itu memakannya dengan lahap," ujar Xing'er teringat pada beberapa orang yang ia temui saat di depan jalan sana yang tengah menikmati manisan tanghulu dengan wajah merona.
"Sama seperti manisan ini, di luarnya terlihat menarik tapi di dalamnya adalah buah busuk begitupun orang-orang itu."
"Maksudmu orang-orang itu sedang akting?"
Han Wang Yue mengangguk, kemudian dia menarik tangan Xing'er dan membawanya ke salah satu toko yang menjual beras.
Xing'er memperhatikan Han Wang Yue yang sedang memeriksa keadaan beras tersebut, dan menautkan kedua alisnya ketika Han Wang Yue menatapnya dengan raut wajah heran.
"Bos, apa kau punya stok beras lebih banyak lagi?" tanya Han Wang Yue pada sang penjual.
"Tentu saja punya, anda ingin membeli berapa banyak?" tanya balik si penjual dengan wajah tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Aku dan istriku pendatang baru disini, aku butuh beberapa kuintal beras untuk stok kami selama satu tahun," jawab Han Wang Yue merangkul bahu Xing'er membuat gadis itu tersenyum penuh kemenangan.
"Baiklah, Tuan asal anda tahu di kota kami meskipun sedang kemarau kami tidak pernah kehabisan stok beras. Kota Qingnan adalah kota yang sejahtera, sehingga anda tidak akan pernah menemukan pengemis disini," cerocos si penjual sambil terkekeh.
Han Wang Yue dan Xing'er tersenyum, dia memberikan satu kantong berisi uang ke tangan si penjual kemudian mereka pun pergi dari sana untuk mencari dua pria yang tempo hari menemuinya.
"Beras itu sepertinya bukan beras baru, tadi aku sempat mencium aroma berasnya sudah sedikit berbau," kata Xing'er.
"Kau benar, seperti yang baru dikeluarkan dari gudang," jawab Han Wang Yue santai.
"Oh ya, tadi penjual itu mengatakan jika memiliki stok beras banyak lantas kenapa dua orang itu mengatakan jika mereka menderita?"
Han Wang Yue menghela napasnya, ia kembali memukul pelan kepala Xing'er dengan kipasnya.
"Ayo ikut aku." Han Wang Yue berjalan lebih dulu dari Xing'er.
"Tunggu aku," teriak Xing'er mengejar, ia sedikit kerepotan saat mengejar Han Wang Yue akibat membawa tas ransel yang besar.
"Sudah aku bilang, kau merepotkan," cibir Han Wang Yue menghentikan langkah kakinya untuk menunggu Xing'er.
"Awas saja jika nanti barangku berguna, kau harus bertekuk lutut di kakiku," ketus Xing'er yang kini memimpin jalan lebih dulu.
Han Wang Yue kembali tersenyum tipis dan melanjutkan langkah kakinya, tetapi sebelum mereka berjalan lebih jauh lagi. Han Wang Yue menyuruh Xing'er untuk berhenti, Wang Yue yang memiliki firasat jika dua orang serta penduduk lainnya telah diasingkan, kembali memikirkan ide dengan mengotori pakaian serta wajah mereka menggunakan tanah sehingga penampilan mereka kini sudah mirip pengemis.
Selain itu Han Wang Yue juga memanggil salah seorang anak buahnya untuk menjaga tas Xing'er dan menyuruh Xing'er untuk bersikap layaknya pengemis yang sedang kelaparan.
"Ini menjijikan," keluh Xing'er dengan raut wajah ingin menangis.
"Tapi kau tampak cantik seperti ini," goda Wang Yue terkekeh.
Xing'er memukul lengan Han Wang Yue dan mengikuti semua arahan yang diberikan oleh sang putra mahkota.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.