
Di ujung jalan kota Qingnan, Han Wang Yue yang sejak tadi mencari Xing'er akhirnya menemukannya dan melihat gadis itu sedang melambaikan tangannya entah pada siapa.
Karena merasa curiga ia pun menghampiri Xing'er dan membuatnya terkejut.
"Ahk kau menakutiku," pekik Xing'er kaget.
Han Wang Yue menatap sinis Xing'er dan melihat ke arah belakang saat gadis itu melambaikan tangannya.
Xing'er memperhatikan Han Wang Yue dengan kening yang berkerut, kemudian dia menepuk lengan Wang Yue. "Apa yang kau cari?"
Wang Yue menggelengkan kepalanya, lalu merubah raut wajahnya jadi kesal dan menarik telinga Xing'er hingga membuat gadis itu meringis.
"Kau ini dari mana saja, apa kau tidak tahu orang-orang mencarimu dengan cemas," omel Han Wang Yue.
"Aduh sakit," protes Xing'er mengusap telinganya yang memerah.
"Katakan kau dari mana dan pergi dengan siapa?"
Xing'er tersenyum dan melingkarkan tangannya di lengan Wang Yue. "Jika aku mengatakan aku pergi dengan seorang pria apa kau akan cemburu, hm?"
"Kamu— … lupakanlah." Wang Yue melepaskan tangan Xing'er darinya dan mengajaknya untuk segera pulang.
Gadis itu kembali terkekeh dan menarik ujung baju Han Wang Yue, ia terus menggoda prianya tersebut agar mengakui jika dirinya sedang cemburu.
Merasa pusing dengan ocehan Xing'er, Han Wang Yue pun menghentikan langkah kakinya dan memukul kepala Xing'er dengan kipasnya. "Kamu ini berisik sekali, sudah membuat semua orang cemas bukannya merenung malah menuduhku cemburu."
"Heuh kau yang mengusirku dari kamar, tapi masih menyalahkanku," dengus Xing'er mengusap kepalanya.
Han Wang Yue menghela napas panjang dan mengusap kepala Xing'er. "Baiklah, aku yang salah maafkan aku … tapi lain kali jika kau pergi tanpa ijin lagi aku akan memasungmu."
Xing'er kembali tersenyum sepertinya ia mengerti dengan kalimat yang diucapkan oleh Han Wang Yue, dia pun menggandeng tangan prianya dan berjalan pulang menuju tempat penginapan.
Sesampainya mereka di tempat penginapan, Han Wang Yue memberikan segelas air teh hangat pada Xing'er juga memakaikan selimut di pundaknya agar Xing'er tetap merasa hangat.
__ADS_1
"Oh ya, tadi saat aku sedang berjalan keluar tanpa sengaja melewati kediaman pejabat He dan apa kau tahu apa yang terjadi disana?" tanya Xing'er bersemangat.
"Pejabat He mati," cetus Han Wang Yue santai.
"Benar … hah? Pejabat He sudah mati, apa kau tidak menolongnya?"
"Untuk apa? Bukankah setiap perbuatan selalu ada balasannya jadi biarkanlah semuanya terjadi sebagaimana mestinya," tutur Han Wang Yue sedikit tersenyum.
"Iya juga sih, omong-omong apa kau tahu siapa yang telah membunuhnya?"
"Xiao Wen dari kediaman Wen, Qingnan Barat. Dia adalah kakak dari Xiao Yu gadis yang menjadi korban kebejatan pejabat He," jelas Wang Yue.
Kepala Xing'er mengangguk-anggukan kepalanya. "Wang Yue, bisakah kau ceritakan kenapa kau bisa tahu semuanya?"
"Nanti dipart dua," kekeh Wang Yue membuat Xing'er mencebikkan bibirnya.
"Sudah malam, besok masih ada pekerjaan yang harus kita selesaikan istirahatlah kau bisa tidur diranjang biar aku dilantai."
"Mana boleh begitu, kau itu pria terhormat biar aku saja yang di lantai kau di ranjang."
"Wanita memiliki tubuh yang lemah kau saja yang diranjang."
"Siapa yang kau sebut lemah, aku ini wanita kuat tahu … ayo kita berbagi ranjang saja," celoteh Xing'er tersenyum.
Wang Yue menatap Xing'er, ia menggerakan sebelah alisnya ke atas kemudian tersenyum penuh arti.
"Baiklah, tapi jangan salahkan aku jika nanti ada sesuatu yang menyakitimu," goda Wang Yue mendekati Xing'er.
Xing'er yang berpikir negatif membulatkan matanya dan merubah pikirannya, ia setuju untuk tidur di ranjang sendiri dan membiarkan Wang Yue pria kuat dan perkasa tidur dilantai.
Gadis itu buru-buru berlari ke atas ranjang dan menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut, membuat Han Wang Yue tersenyum melihat tingkahnya yang sok berani padahal nyalinya tidak lebih besar dari sebutir kuaci.
Kediaman wali kota Qing Tian Lei.
__ADS_1
Orang kepercayaan Qing Tian Lei melaporkan hasil menguntitnya pada walikota, pria dengan jubah hitamnya itu mengatakan jika putra mahkota memang benar-benar memiliki hubungan khusus dengan gadis yang berasal dari masa depan dan jika dilihat hubungan mereka sudah sangat akrab.
"Walikota, nona Xing'er terlihat bodoh dan polos kita bisa memanfaatkannya dengan memberikan hadiah-hadiah untuk pernikahan mereka dengan begitu mereka pasti akan merasa terharu dan tidak akan melaporkan kita pada kaisar," usul Wujin.
Ia kembali memberitahukan jika Han Wang Yue juga sudah lama keluar dari istana dan memilih kehidupan yang sederhana, dengan memberinya banyak harta sebagai hadiah pernikahan Han Wang Yue pasti akan merasa senang dan menutup mulutnya.
Qing Tian Lei tampak berpikir sejenak, sebelah bibirnya menyungging ke atas sebagai tanda jika dirinya setuju dengan ide Wujin.
Pagi hari di kota Qingnan.
Dengan tergesa serta wajah paniknya, Wujin berlari menuju kediaman walikota dan memberi tahu Qing Tian Lei soal kematian pejabat He gang.
Kedua mata Qing Tian Lei membulat ketika mendengar kabar kematian He gang, ia sempat menyangkal karena tidak mempercayainya sebab dia sudah memberikan banyak penjaga tingkat tinggi di kediamannya yang mustahil bisa dikalahkan begitu saja.
Para pejabat bawahan Qing Tian Lei berdatangan dengan wajah yang gelisah, mereka kini percaya jika Xing'er berasal dari masa depan dan mereka khawatir jika berikutnya scandal mereka yang telah lama ditutupi secara rapat akan terbongkar.
Mendengar keluhan serta kecemasan dari para bawahannya Qing Tian Lei mulai merasa pusing dan tidak dapat berpikir, namun untuk sementara ini dirinya harus membereskan masalah He gang terlebih dahulu dan membantu pemakamannya.
Saat semua orang disibukkan dengan kematian pejabat He gang. Di kamar putra mahkota, pria itu sedang sibuk membangunkan Xing'er yang sulit sekali dibangunkan meskipun dering alarm ponselnya terus berbunyi gadis itu masih tak bergerak sedikitpun.
"Bao bao, cepatlah bangun jika tidak kita akan terlambat … Abao," panggil Han Wang Yue menggerakan bahu Xing'er.
Pria itu menghembuskan napas secara kasar dan memikirkan sebuah ide.
"Suan Ni!" panggil Han Wang Yue pada pengawal setianya yang terus berjaga di depan kamarnya sepanjang malam.
"Bixia," sahut Suan Ni memberi hormat.
Pria itu menoleh ke arah Xing'er sesaat, kemudian berbisik pada Suan Ni. Entah apa yang dia bisikan tapi yang pasti pengawal itu langsung buru-buru pergi untuk melaksanakan titah yang diberikan oleh sang putra mahkota.
Beberapa jam kemudian.
Banyak lilin yang menyala di sekitar Kamar Han Wang Yue, nuansa kamar yang semula dipenuhi dengan warna cerah kini berubah menjadi serba putih, dupa-dupa menyala, lukisan wajah Xing'er terpangpang dengan besar di dinding yang di depannya terdapat sebuah papah roh dengan nama lengkap gadis tersebut.
__ADS_1
Suara tangisan orang-orang pun turut terdengar pilu, menangisi Xing'er yang kini terbaring di dalam peti mati.
Bersambung.