Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.

Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.
Chapter 21.


__ADS_3

"Turun!" 


"Tidak mau!" 


"Aku bilang turun!" 


"Aku bilang tidak mau!" 


"Xuan Xing'er!" 


"Tidak mau … tidak mau … tidak mau!" tolak Xing'er bersikeras ingin tetap berada di dalam kereta kuda bersama Han Wang Yue. 


Pria itu lagi-lagi menghela napas kesal, ia menutup kedua matanya dan berusaha untuk mengabaikan Xing'er. 


Sepanjang perjalanan menuju desa Qingnan. Xing'er terus menatap wajah Han Wang Yue sambil tersenyum, sebuah studi jurnal Evolutionary psychology mengatakan memandang pria tampan sangat bermanfaat bagi otak.  


Selain untuk otak, memandang pria tampan juga bisa membuat suasana hati menjadi bahagia dan Xing'er saat ini dapat membuktikannya dengan menatap wajah Wang Yue yang tampannya seperti tidak nyata, perasaan Xing'er kini jauh lebih ceria dari sebelumnya yang sedang sedih karena merindukan tempat asalnya. 


"Berapa lama lagi kau akan menatapku seperti itu," ujar Wang Yue masih menutup kedua matanya. 


"Sampai aku bosan," jawab Xing'er menumpu dagunya dengan telapak tangan. 


Pria itu membuka kedua matanya, kemudian menoleh pada Xing'er yang masih menatapnya dengan manik mata yang berbinar dan tanpa sengaja tatapan keduanya kembali saling berbenturan dengan kedua hidung yang hampir bersentuhan membuat Xing'er terkejut, karena mengira jika Han Wang Yue akan menciumnya. 


Kelopak mata Xing'er berkedip-kedip gugup, ia memundurkan tubuhnya dari Wang Yue karena merasakan sesuatu yang aneh dari dalam dirinya. 


"Kenapa, kau sudah bosan," cibir Wang Yue saat melihat Xing'er menjauh darinya. 


Gadis itu hanya mendelik tanpa menjawab apapun.


"Xing'er, isi tas mu begitu lengkap apa sebelumnya kau sudah tahu kemana tujuanmu?" tanya Wang Yue setelah beberapa hari tinggal dengan Xing'er dan akhirnya pertanyaan itu tidak lupa lagi dia tanyakan.


"Aku tidak tahu tujuanku kemana, aku hanya berjaga-jaga jadi aku membawa semuanya." 


"Merepotkan," cibir Wang Yue lagi. 


"Apanya yang merepotkan, kau tahu istilah sedia payung sebelum hujan? Aku mengikuti istilah itu, siapa tahu saja barang-barang yang aku bawa akan berguna." 

__ADS_1


Han Wang Yue hanya mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum dan tiba-tiba kereta kuda yang dia tumpangi mendadak berhenti dan membuat Wang Yue dan Xing'er hampir terjatuh. 


Suasana diluar kereta berubah menjadi siaga, para pengawal pun mulai membuka formasi untuk melindungi kereta kuda yang ditumpangi oleh Han Wang Yue dan dalam hitungan detik beberapa anak panah berterbangan mengenai para pengawal. 


Suan Ni dan Yu Mu yang sejak awal sudah memprediksi akan adanya penyerangan, langsung menghadang panah-panah itu dengan pedangnya masing-masing. 


Usai hujan anak panah, segerombolan orang tak dikenal datang dari segala arah sambil berteriak untuk menyerang. 


"Lindungi putra mahkota," perintah Suan Ni pada pengawal yang lain.


Pertarungan antara pengawal Han Wang Yue dan gerombolan orang itu berlangsung menegangkan, beberapa orang dari dua kubu pun ada yang berjatuhan dengan luka tebas di leher serta ditubuhnya. 


Yu Mu dan Suan Ni yang memiliki ilmu beladiri cukup tinggi dengan entengnya mereka mengayunkan pedangnya sambil menunggang kuda dan memotong urat leher musuh bak memotong leher hewan. 


Musuh yang  bergerak semakin beringas memaksa tabib dan pengawal perkasa turun dari kudanya. Kedua pria itu melompat, menendang, memelintir dan kembali menebas musuh dengan senjatanya tanpa belas kasihan. 


Saat diluar sedang melakukan pertarungan, Han Wang Yue masih duduk manis di dalam kereta dengan kedua mata yang tertutup sementara Xing'er yang pertama kali mengalami penyerangan secara tiba-tiba seperti ini tampak ketakutan.


Tubuhnya sampai bergetar hebat, sambil terus berbicara memaksa Wang Yue untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi dan kenapa Wang Yue masih saja duduk santai tanpa berlindung atau pun bergerak untuk melakukan sesuatu. 


Han Wang Yue menarik Xing'er ke sisinya dengan rasa penuh khawatir."Apa kau baik-baik saja?" 


"Baik-baik apanya, aku hampir saja mati," timpal Xing'er bergetar. 


Wang Yue yang tahu keadaan sudah tidak aman, membawa Xing'er keluar dari kereta kudanya dan meminta agar Xing'er tetap berada di balik pohon besar. 


"Diamlah disini, jangan berani keluar sebelum aku menyuruhmu," ucap Wang Yue menyentuh kedua bahu Xing'er. 


"Tapi—," 


"Jaga dirimu baik-baik," sela Wang Yue.


Xing'er mengangguk dan meminta pada Wang Yue untuk berhati-hati, dia menatap khawatir punggung Han Wang Yue yang akan segera bertarung.


Di Balik pohon yang besar, Xing'er menyaksikan aksi laga yang mirip dengan adegan dalam drama bergenre kungfu. Ia melihat ketiga pria dari pondok Lian Hua yang melompat kesana kemari sambil mengayunkan pedangnya. 


Menakutkan tapi tampak seru bagi Xing'er, wanita itu sesekali mengerutkan wajahnya saat melihat cairan merah bercucuran dari orang-orang yang terkena tebasan pedang, bahkan ia juga sampai menelan ludahnya kasar ketika melihat adegan Suan Ni yang menebas leher musuh hingga hampir putus. 

__ADS_1


Keadaan kini mulai sedikit kondusif dengan banyaknya orang-orang dari dua kubu yang tewas akibat pertarungan tersebut, tapi jangan kira pertarungan telah usai. Bisa dibilang pertunjukan yang barusan hanyalah pembukaan dan pertunjukan sesungguhnya masih belum dimulai. 


Angin dari arah samping terasa berhembus dengan cepat, Han Wang Yue yang memiliki insting tajam mengarahkan pedangnya dan menahan serangan dari seseorang yang selalu mengintai nyawanya selama beberapa tahun ini. 


"Zhu Wu Chen," tegas Han Wang Yue masih menahan hunusan pedang musuhnya dengan pedang miliknya.


Zhu Wu Chen memiringkan senyum dan mengubah posisinya, layaknya seekor singa yang melihat mangsanya ia terus menyerang Han Wang Yue tanpa henti. 


Kedua pria yang memiliki kekuatan sama-sama kuat ini kini bertarung dengan sengit, tidak ada yang kalah dan tidak ada yang mau mengalah. 


Mereka meloncat dari pohon satu ke pohon lain, berputar di udara untuk menghindari serangan dan kembali mengadukan pedangnya yang memiliki keunikan tersendiri. 


"Wu Daren, kenapa dia menyerang Wang Yue? Ah astaga kenapa aku harus masuk ke jaman kuno seperti ini yang dipenuhi dengan pertumpahan darah, kenapa aku tidak masuk ke dunia Barbie saja pasti disana lebih indah dari pada disini," gerutu Xing'er frustasi. Ia sedikit demi sedikit mengintip pertarungan yang semakin sengit itu dengan rasa takut yang menyelimuti dirinya dan seketika ia teringat pada kalimat yang diucapkan oleh Wang Yue padanya sebelum berangkat tadi. 


Kalimat yang mengatakan jika Xing'er tidak boleh menyalahkan Wang Yue jika sesuatu terjadi padanya, rasa curiga pada kalimat itu kini terjawab sudah oleh Xing'er yang ternyata dirinya bisa terluka atau bahkan mati kapan dan dimana saja. 


Grep. 


Seseorang menyentuh pundak Xing'er, begitu dia berbalik kedua matanya langsung terbelalak kaget ketika melihat sebuah pedang panjang berada di lehernya.


"S-siapa k-kamu? tanya Xing'er dengan tubuh yang bergetar hebat. 


"Kau tidak perlu tahu siapa aku, aku disini untuk memperingatkan mu tentang bola kristal," cetus seorang pria bercadar dengan rambutnya yang berwarna putih.


"B-bola kristal?" 


"Ya, aku akan memberimu waktu selama satu bulan jika kau masih membuang waktu maka pedang bintang milikku akan membuat kepalamu putus," ancamnya dengan sorot mata yang tajam serta menindas. 


Kepala Xing'er mengangguk cepat, wajahnya telah berubah menjadi pucat pasi dan nyawanya seakan ingin terpisah dari raganya akibat rasa takut terhadap pria aneh yang tiba-tiba menghunuskan pedang padanya. 


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2