Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.

Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.
Chapter 38.


__ADS_3

Mendengar suara teriakan Xing'er yang memecah keheningan malam, Han Wang Yue dan pengawal yang lainnya bergegas datang ke kamar Xing'er untuk melihat apa yang terjadi. 


Mereka mengetuk pintu kamar secara berulang dan mendobraknya saat si pemilik kamar tak kunjung membuka pintu. 


"Xing'er, kau tidak apa-apa?" Han Wang Yue mengecek seluruh tubuh Xing'er untuk memastikan jika kekasihnya itu dalam keadaan baik-baik saja. 


"A-aku baik-baik saja, aku hanya terkejut saat melihat kecoa merayap ke kakiku," dalih Xing'er sambil sesekali melirik ke arah lemari. 


"Syukurlah, aku takut jika sesuatu terjadi padamu," kata Wang Yue cemas. 


Xing'er meraih tangan Han Wang Yue dan menatapnya hangat. "Apa kau benar-benar takut jika aku terluka?" 


Dielusnya pipi Xing'er oleh Han Wang Yue. "Tentu saja, aku tidak akan membiarkanmu terluka walau sehelai rambut pun." 


Gadis itu tersenyum malu. Ia merasa jika dirinya tidak salah memilih calon suami, karena selain kaya raya Han Wang Yue juga sangat perhatian terhadapnya ia semakin tidak sabar untuk membawa Wang Yue ke dunianya dan memamerkan pada teman-temannya yang dulu selalu membulynya akibat terlalu lama menjomblo. 


Melihat kemesraan yang dilakukan oleh Xing'er dan Han Wang Yue, pria berambut putih yang sedang bersembunyi dibalik lemari terlihat mual. Dalam keadaan dirinya yang sedang membutuhkan pertolongan, gadis yang dimintai tolong malah sibuk berpacaran dan melupakan dirinya yang berada dibalik lemari. 


"Istirahatlah lagi, aku akan menemanimu disini," ujar Han Wang Yue membawa Xing'er ke ranjangnya. 


"Hah?" kening Xing'er berkerut dan manik matanya berkedip-kedip saat Wang Yue mengatakan jika dirinya akan menjaganya.


"Kenapa?" 


"Ehm, Wang Yue kau sudah bekerja keras hari ini sebaiknya kamu juga istirahat bukankah besok masih ada urusan," usul Xing'er. Sebenarnya ia sangat ingin Wang Yue tidur bersamanya, tapi tamu tak diundang seakan menghalangi dirinya dan Wang Yue untuk bersama. 


"Kamu yakin tidak mau aku temani?" 


"Iya … oh ya, besok aku akan memberimu kejutan." 


Sudut bibir Wang Yue mengembang, dia mengusap kepala Xing'er dan membiarkan Xing'er untuk kembali beristirahat. 


"Wang Yue," panggil Xing'er saat pria tampannya hendak keluar dari kamarnya. 


Pria itu menoleh dan menatap Xing'er.


"Aku mencintaimu," bisik Xing'er tersenyum malu. 


"Aku juga mencintaimu, sampai bertemu besok." 


"Emm … oh astaga, dia sangat manis sekali," gumamnya tersenyum sendiri.

__ADS_1


Brak. 


Pintu lemari terbuka, pria berambut putih itu menatap sinis Xing'er yang sedang senyum-senyum sendiri sambil memegang kedua pipinya. 


"Cinta memang membuat manusia menjadi gila," cibirnya dengan nada datar.


Gadis itu menghela napasnya dan mendelik tanpa sepengetahuan si pria berambut putih, lalu dia menoleh sambil tersenyum ramah. 


"Tunggu aku ambilkan obat untukmu." Xing'er membuka tasnya dan mencari obat pemberian Mu Yu dan kotak p3knya. 


"Kenapa kau bisa terluka seperti ini? Tahan sedikit ini pasti sangat menyakitkan," ujar Xing'er mulai menaburkan serbuk putih ke atas luka pria itu dan tanpa rasa canggung dia membuka baju pria tersebut yang menampilkan jajaran roti sobek yang menyegarkan matanya. 


"Oh ya ampun indah sekali, bentuk tubuhnya terlihat sangat sempurna … apakah tubuh Wang Yue juga seperti ini? Hah andaikan saja pria di depanku ini adalah dia, mungkin sudah aku lahap sampai habis hehe," monolog Xing'er dalam hati.


Pria itu sedikit berdesis saat merasakan sensasi perih yang seakan menusuk ke kulitnya dan dengan sabarnya Xing'er meniup luka tersebut untuk mengurangi rasa perihnya. 


Mendapat perlakuan lembut dari Xing'er, pria itu menatap Xing'er dan memperhatikannya dengan secara seksama. Sudah puluhan ribu tahun dia menjalani kehidupan dan sudah banyak pula orang yang dia temui tapi baru kali ini dia menemukan seseorang yang memperlakukannya dengan baik. 


Walaupun dia tahu jika Xing'er takut padanya, namun gadis itu tetap terlihat tenang dan mengobati lukanya. 


"Kenapa dia mirip sekali dengannya," gumamnya ketika melihat Xing'er yang mengingatkannya pada seseorang. 


"Hey, kenapa kau bisa terluka? Dan kenapa kau selalu muncul di kamarku secara tiba-tiba, kemarin kamu masih baik-baik saja kenapa sekarang datang penuh luka seperti ini … kau tidak habis merampok kan?" 


"Ck aku sudah membantumu kau malah membentakku," decak Xing'er berhenti mengobati pria tersebut. 


Pria itu mendelik dan merapikan kembali bajunya, dengan wajahnya yang sangat dingin dia melemparkan sebuah bantal dan selimut ke lantai kemudian membaringkan tubuhnya diatas ranjang milik Xing'er.


"Kamu … kamu tidak berniat untuk menginap disini kan?" pekik Xing'er saat pria itu tidur di ranjangnya. 


"Diamlah, aku mau beristirahat." 


"Hah, t-tidak bisa … kau tidak bisa tidur disini." 


"Kenapa?" 


"Kau pria dan aku wanita bukankah sudah jelas jika kita tidak boleh tidur satu ruangan." 


Hening. 


Xing'er mendengus kesal, ia mengepalkan tangannya ke udara gemas dengan sikap pria itu yang seakan-akan sok akrab dengannya. 

__ADS_1


"Cih dasar menyebalkan, untung saja kau tampan jika tidak aku pasti akan menendangmu hingga jauh," gerutu Xing'er menghentakan kakinya kesal. 


"Eh, aku tidak bisa membiarkannya terbaring begitu saja aku akan memotretnya untuk ditunjukkan pada Jie Li dia pasti suka," bisik Xing'er mengambil ponselnya dan perlahan mendekati pria tersebut. 


Ceklek. 


Xing'er menatap wajah pria itu yang tampak tenang dalam tidurnya. "Hah sebenarnya dia ini siapa? Kenapa dia bisa menurunkan hujan dan menghilang dalam sekejap mata? Dan kenapa kulitnya halus sekali? Jika dilihat dari penampilannya sepertinya dia bukan pendekar atau bangsawan seperti yang lainnya lalu—," 


"Jika kau masih mengganggu tidurku,  aku akan mencekikmu," ucapnya dengan kedua mata yang tertutup. 


Xing'er terperanjat kaget, dia buru-buru menjauh darinya dan mengambil bantal serta selimut miliknya. 


Digelarnya selimut itu atas lantai, dan dia mulai membaringkan tubuhnya sembari membayangkan wajah Han Wang Yue dan tanpa sadar kedua matanya pun mulai tertutup, kesadarannya menghilang dan berganti menjadi mimpi manis. 


Keesokan harinya. Xing'er memperhatikan pria berambut putih itu yang sedang menikmati secangkir teh di kamarnya ia menekuk wajahnya, karena melihat pria itu yang tak kunjung pergi. 


"Jika kau masih ingin melihat dunia, berhentilah menatapku," tegurnya merasa terganggu dengan tatapan Xing'er. 


"Aiya Tuan cepatlah pergi dari sini, aku masih ada janji dengan suamiku jika dia melihatmu disini kau bisa mati," rengek Xing'er.


Pria itu tersenyum tipis seakan-akan sedang meremehkan kalimat yang diutarakan oleh Xing'er. "Sebelum aku mati, dia yang akan mati terlebih dulu.


"Heh, jangan berani menyentuhnya jika tidak aku tida akan mencari bola itu," ancam Xing'er. 


"Lakukanlah dan aku akan melenyapkan jiwamu, sehingga kau tidak bisa kembali ke duniamu maupun dunia sekarang." 


"Kau menyebalkan," dengus Xing'er memalingkan wajahnya dari pria tersebut. 


"Sudahlah, ini akan jadi pertemuan kita yang terakhir dan aku akan menemuimu lagi setelah kau berhasil mendapatkan bola kristal itu." 


"Eh tunggu-tunggu," panggil Xing'er saat melihat pria itu hendak menghilang.


Pria itu diam menunggu Xing'er mengatakan sesuatu. 


"Kau belum memberitahu siapa namamu?" 


Tanpa menjawab pertanyaan Xing'er, pria itu langsung pergi begitu saja bagaikan hembusan angin yang tak terlihat. 


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2