
Sebuah plakat giok hitam dengan design naga di atasnya ditemukan oleh Suan Ni disekitar gubuk tempat kejadian, dia memberikannya pada Wang Yue sebagai bukti dari mana pembunuh itu berasal.
“Paviliun tanpa jiwa,” ucap Wang Yue menatap giok itu secara seksama.
“Paviliun tanpa jiwa, apa itu?” tanya Xing’er tidak mengerti.
Paviliun tanpa jiwa adalah tempat berkumpulnya para pembunuh bayaran, mereka akan menghabisi targetnya tanpa ampun dan menghancurkan seluruh organ tubuh tanpa perasaan hingga tak bersisa sedikit pun.
Tubuh Xing’er langsung merinding saat mendengar tentang paviliun tersebut, pantas saja kemarin malam orang-orang itu terus menyerang tanpa memberi celah walaupun sudah kalah orang itu tetap menyerang secara diam-diam.
“Taizi, aku dengar Nan—,” kalimat Suan Ni terhenti kala Mu Yu datang melaporkan jika Han Zhaoyang datang membawa beberapa kudapan.
“Xing’er pergilah untuk beristirahat, ada yang harus aku bicarakan dengan pangeran pertama … Suan Ni antarkan Xing’er ke kamarnya,” titah Han Wang Yue sebelum dirinya mengijinkan sang kakak masuk.
Xing’er dan Suan Ni mengangguk, mereka pun keluar dari kamar Wang Yue dan berpapasan dengan Han Zhaoyang. Suan Ni memberi hormat pada pangeran pertama, sementara Xing’er hanya menatap lurus jalan yang dia lewati tanpa memperdulikan Zhaoyang yang melontarkan sebuah senyum padanya.
Pria dengan jubah emas itu menyipitkan kedua matanya saat melihat Xing’er yang berlagak sombong di depannya, ia mengepalkan kedua tangannya sambil bergumam tak akan melepaskan Xing’er begitu saja.
“Didi, apa yang terjadi kenapa kau bisa terluka seperti ini?” tanya Zhaoyang menunjukan rasa khawatirnya pada sang adik.
“Gege tidak perlu khawatir, ini hanya luka kecil besok juga sembuh,” jawab Wang Yue mengulas senyum di bibirnya.
“Apa kau tahu siapa yang menyerangmu?”
Han Wang Yue menatap Zhaoyang beberapa saat. Sebenarnya dia tahu jika Zhaoyang lah yang telah mengirim para pembunuh itu untuk menghabisinya, sebab selama ini hanya Zhaoyang lah yang berani menyerangnya secara terang-terangan hanya saja Wang Yue selalu berpura-berpura tidak tahu untuk melihat sampai mana kakaknya bisa menyingkirkan dirinya.
“Paviliun tanpa jiwa,” jawab Wang Yue singkat.
“Apa, Paviliun tanpa jiwa!” pekik Zhaoyang terkejut.
“Berani sekali mereka menyerang putra mahkota seperti ini, aku akan mengutus orang untuk menghancurkan tempat itu,” geram Zhaoyang mengeraskan rahangnya.
“Gege, tidak perlu terburu-buru kita belum tahu apa alasan mereka menyerangku dan Xing’er ... aku akan menyelidikinya lebih dulu, lagi pula mereka hanya akan bertindak saat ada yang memerintahnya. Aku akan mencari tahu siapa yang menyuruh mereka,” tutur Wang Yue. Ia juga memberitahu jika orang itu pasti ada kaitannya dengan orang yang telah membakar lumbung. Wang Yue juga mengatakan agar Zhaoyang tidak khawatir sebab orang itu telah terkena racun miliknya sehingga orang itu akan mati dan meledak jika tidak segera mendapatkan obat penawar.
Mendengar penuturan Wang Yue yang mengungkit racun, mendadak Zhaoyang menjadi gugup. Ia teringat pada Nanshu yang semalam pulang terpincang akibat tusukan jarum tipis yang sulit dikeluarkan dari dalam kakiknya, ia sudah memanggil tabib untuk menetralkan racun tetapi tabib itu hanya bisa memperlambat racun itu agar tidak cepat menyebar ke jantung yang akan mengakibatkan si pemilik tubuh meledak.
__ADS_1
“Gege … Zhaoyang gege,” panggil Wang Yue pada sang kakak yang sedang melamun.
Pria itu sadar dari lamunannya dan tersenyum, ia membenarkan selimut milik adiknya dan memberitahu jika hari ini dirinya akan kembali ke istana. Dia juga mengatakan akan meninggalkan beberapa prajurit untuk mengawal Wang Yue dalam perjalanan kelak.
“Terimakasih atas perhatian pangeran pertama, Wang Yue tidak akan pernah melupakan kebaikan pangeran.”
“Tidak perlu sungkan sudah seharusnya seorang kakak memperhatikan adiknya, kalau begitu aku pamit semoga lekas membaik aku akan menunggu mu dan adik ipar di rumah,” pamit Zhaoyang meninggalkan kamar Wang Yue dan memiringkan senyumnya saat dirinya sudah berada diambang pintu.
.
.
.
***
Kamar penginapan Nansu.
Usai menemui Wang Yue. Zhaoyang buru-buru ke kamar Nansu, ia memerintahkan anak buahnya untuk segera membawa Nansu ke istana melalui jalan rahasia dan dia juga memastikan agar tentang Nansu yang terluka tidak diketahui oleh siapapun. Dia berharap setibanya di istana dia bisa menemukan obat penawar dan menyelamat hidup orang kepercayaannya.
“Nansu sedang mencari orang yang telah mencelakai putra mahkota,” jawab Zhaoyang sebelum dirinya masuk ke dalam kereta kuda.
Keuda orang bawahan Wang Yue hanya mengangguk, kemudian membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada pangeran pertama hingga kereta kuda itu menjauh dari mereka.
“Mu Yu, apa kau akan memberikan obat penawar pada orang itu?”
“Obatku terlalu mahal, biarkan saja mereka mencarinya sendiri ... ayo pergi,” ajak Mu Yu pada Suan Ni untuk kembali melihat keadaan sang putra mahkota.
.
.
.
****
__ADS_1
Danau Hua-Hua.
Gerimis masih melanda kota Qingnan. Dibawah payung berwarna merah Xing'er tengah berdiri sambil memegangi tempat makanan yang berisi makan siang, sembari menunggu seseorang datang manik matanya terus tertuju pada ribuan air hujan yang terjatuh ke atas danau hingga menciptakan banyak bercak dengan suaranya yang khas.
Gadis itu meletakkan tempat makannya, ia mengulurkan tangannya dan membiarkan air hujan itu membasahi tangannya yang lentik. Sebuah senyum manis pun terulas di bibir Xing'er, rasanya hujan hari ini terasa sangat indah dan menenangkan pikirannya.
Setengah jam berdiri dibawah payung, Xing'er pun merasakan kakinya mulai pegal. Ia meniup kembali peluit yang diberikan Zhu Wu Chen, tetapi sudah beberapa kali peluit itu ditiup orang yang di tunggu masih tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
"Hemm, Wu Gege padahal hari ini aku membawakanmu makanan lezat tapi kamu malah tidak datang," keluh Xing'er menatap sedih keranjang makanannya.
"Tidak apa-apa, aku akan menunggunya sebentar lagi," lanjut Xing'er kembali mengedarkan pandangannya pada bunga-bunga yang telah basah karena hujan.
Wooosh.
Hawa dingin tiba-tiba merasuk ke dalam tubuh Xing'er, padahal semula angin terasa tidak terlalu dingin tapi sekarang mendadak tubuhnya merasa menggigil bagaikan berada di kutub utara.
"Kenapa dingin sekali," gumam Xing'er. Ia menggosok-gosok kedua tangannya agar tetap hangat. Xing'er yang merasa akan ada hal buruk menimpa dirinya, menutup kedua matanya beberapa detik dan memutuskan untuk pergi meninggalkan danau Hua-Hua.
Namun, sebelum dirinya pergi sebuah kekuatan tiba-tiba menyentuhnya hingga membuat tubuh gadis itu terbang melayang dan berhenti tepat di tengah-tengah danau.
Kedua tangan serta kakinya meronta-ronta di udara, lehernya seperti tercekik sampai membuatnya kesulitan untuk berteriak dan bernapas.
Kedua mata Xing'er terbelalak kaget ketika melihat tangan orang yang telah menggantungnya di udara itu bergerak ke atas dan membuatnya terbang lebih tinggi lagi, tanpa ada aba-aba tubuh Xing'er dijatuhkan ke dalam danau selama beberapa menit kemudian diangkat kembali dan dijatuhkan kembali ke dalam danau.
Kejadian itu terjadi berulang kali. Xing'er yang memiliki tubuh manusia biasa pun akhirnya tak sadarkan diri, akibat dirinya yang sulit bernapas dan menelan air danau dalam jumlah yang banyak.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1