
"Xing'er," lirih Han Wang Yue ketika dirinya melihat sang kekasih dibawa oleh orang tak dikenal dalam keadaan tak sadarkan diri.
Pria itu berteriak memanggil Xing'er, dan berlari mengejar orang-orang yang membawa gadisnya pergi.
Ketiga orang itu berlari dengan kencang menuju arah hutan, begitu sampai di hutan yang gelap Han Wang Yue berhenti berlari dan melemparkan senjata rahasianya pada dua orang penjahat tersebut.
Kedua orang itu terjatuh dan mati akibat terkena tusukan jarum beracun milik Wang Yue, sementara satu orang lagi yang menggendong Xing'er menoleh sebentar dan kembali berlari dengan keringat yang bercucuran.
"Berhenti!" teriak Han Wang Yue, ia melompat dan mendarat tepat di depan orang tersebut.
"Lepaskan dia, maka aku akan mengampunimu," kata Han Wang Yue tegas.
Pria itu mendengus, dia meniup sebuah peluit dan segerombolan orang berbaju hitam pun datang mengepung Han Wang Yue.
"Coba saja tangkap aku, jika bisa," tantang si pria yang masih menggendong Xing'er kemudian lari ke hutan dalam.
Han Wang Yue menyipitkan kedua matanya, ia menatap orang-orang yang tengah mengitarinya secara seksama dan di detik berikutnya orang-orang itu langsung menyerang Han Wang Yue menggunakan pedang sedangkan sang putra mahkota melawan mereka hanya dengan tangan kosong.
Sepuluh lawan satu tentu saja tidak sebanding, tetapi dengan kekuatan beladiri yang dimiliki Han Wang Yue itu masih terbilang mudah.
Meskipun dengan tangan kosong dia mampu menjatuhkan beberapa orang tersebut dengan cepat, dia menarik tangan kedua orang, memutarnya dan menjadikan tameng sehingga dua orang itu terluka karena tebasan temannya.
Dua orang telah kalah maju lah beberapa orang lagi untuk menyerang, Han Wang Yue melompat ke atas dan menendang rahang mereka sehingga orang-orang itu terjatuh dan mengeluarkan seteguk darah segar dari mulutnya.
Satu persatu kelompok penjahat itu berhasil dijatuhkan oleh Han Wang Yue, hanya tersisa satu orang yang sedang bersimpuh di tanah sembari memegang dadanya yang sakit. Orang itu mundur sambil memohon agar Wang Yue mengampuninya.
Han Wang Yue menarik baju orang tersebut dan menyuruh agar dia membawanya ke tempat orang yang membawa Xing'er.
Setelah berjalan cukup jauh, Wang Yue pun sampai di sebuah gubuk yang terdapat di tengah hutan. Dia hendak masuk untuk mencari Xing'er namun pria yang tadi dibawa Wang Yue tiba-tiba kembali menyerangnya, untungnya pergerakan Wang Yue cepat sehingga ia mampu menghindar dan mengembalikan senjata itu pada pemiliknya.
Ia menatap sesaat mayat orang tersebut dan mengedarkan pandangannya ke sekitar gubuk yang sepi. Ia merasa ada yang janggal dengan situasi gubuk itu, sehingga ia pun masuk kesana dengan penuh kewaspadaan.
__ADS_1
Brak!
Wang Yue menendang pintu gubuk hingga roboh, ia melihat keseluruhan ruangan gubuk tersebut dan melihat gadisnya sedang meronta dalam keadaan tangan kaki terikat serta mulut disumpal kain.
"Abao," lirih Wang Yue bergegas menghampiri Xing'er dan melepaskan sumpalan serta tali yang menjerat gadis itu.
"Wang Yue, cepat pergi dari sini orang-orang itu sengaja menjebakmu," kata Xing'er yang tak ingin Wang Yue terluka.
"Kita akan pergi bersama," ujar Wang Yue yang telah berhasil membuka ikatan tali yang menjerat Xing’er.
Wang Yue menggenggam tangan Xing’er dan mengajaknya pergi, tapi begitu mereka keluar dari gubuk mereka langsung disambut oleh banyak orang yang bersiap menghabisi keduanya.
“Wang Yue,” bisik Xing’er bersembunyi dibalik tubuh Han Wang Yue, ia takut saat melihat para penjahat itu yang sedang memegang pedang.
“Jangan khawatir aku akan menghadapinya,” ucap Wang Yue mengusap tangan Xing’er dan memintanya untuk mundur.
“Hati-hati.”
Han Wang Yue yang merasa kewalahan mengeluarkan senjata rahasianya dan berhasil melumpuhkan sebagian penjahat. Ia menarik tangan musuhnya memelintir dan menendang kaki orang itu hingga berlutut di tanah, suara kretek dari tulang patah pun sontar terdengar lalu ia menahan serangan yang dilakukan oleh yang lainnya dengan gaya kayang untuk menghindari tebasan pedang yang diayunkan oleh dua orang di depan lehernya.
Ia melemparkan kembali jarum beracun miliknya pada kedua orang tersebut, namun orang itu terlalu banyak untuk Wang Yue hadapi sendirian sehingga membuat Wang Yue kewalahan dan mengalami luka di tangannya.
Dia mengusap lengannya yang mengeluarkan darah segar, dan kembali melawan orang-orang itu sekuat tenaganya hingga akhirnya sekelompok itu kalah di tangan Wang Yue.
Dengan napas yang tersengal akibat mengeluarkan banyak tenaga, Wang Yue tersenyum pada Xing’er akan tetapi salah seorang dari mereka yang terkapar masih memiliki tenaga memanfaatkan kelengahan Wang Yue dan menyerangnya lagi secara tiba-tiba.
“Wang Yue awas!” teriak Xing’er kala melihat seseorang hendak melukai Wang Yue dari arah belakang, ia berlari untuk melindungi Wang Yue.
Dipeluknya tubuh Wang Yue oleh Xing’er. Ia memutar tubuh wang Yue agar pedang itu tak melukainya, Han Wang Yue terkejut dengan tindakan Xing’er yang melindunginya dia yang tak ingin Xing’er terluka dengan cepat memutar kembali posisi mereka sehingga kini Wang Yue yang melindungi Xing’er.
Kejadian berlangsung dengan cepat, pedang pun diayunkan tanpa perasaan ke arah keduanya. Beberapa detik terlewati Xing’er yang tadi menutup matanya merasa heran sebab tidak merasakan sakit mulai membuka matanya dan menatap Wang Yue yang tengah menahan rasa sakit.
__ADS_1
Gadis itu mendongak dan betapa terkejutnya ia kala melihat tangan Wang Yue bercucuran darah akibat menahan pedang yang hendak melukai tubuhnya.
“Wang Yue,” lirih Xing’er dengan manik mata berkaca-kaca.
Pria itu hanya tersenyum sambil menahan pedang yang semakin dihentakan orang bercadar itu dan membuat robekan di tangannya kian dalam, Wang Yue mengerahkan seluruh kekuatannya kemudian menghempaskan pedang tersebut ke samping dan secara diam-diam dia melemparkan beberapa jarum ke arah tubuh penjahat itu.
Penjahat itu terjatuh. Han Wang Yue bergegas merengkuh tubuh Xing’er yang bergetar dan menghampiri orang itu untuk di introgasi. Xing’er menatap orang itu penuh selidik lalu berceloteh jika orang itu adalah orang yang telah membakar lumbung dan mengejarnya beberapa waktu lalu.
Tak ingin identitasnya diketahui pria itu melemparkan sebuah bubuk putih pada Wang Yue dan Xing’er, kemudian menghilang begitu saja dibalik kabut putih buatannya.
Setelah kabut menghilang tubuh Wang Yue terhuyung, dengan cepat Xing’er menahan tubuh kekasihnya itu dan membawanya untuk duduk. Dia melihat kondisi Wang Yue yang kini terluka hingga membuat pakaiannya dipenuhi oleh noda darah.
Bulir bening berjatuhan dari sudut mata Xing’er, ia tidak tega melihat Wang Yue yang terluka parah. Karena menyelamatkan dirinya dari penculik Han wang Yue jadi harus menderita seperti ini.
“Jangan menangis, aku baik-baik saja,” ucap Wang Yue mengusap bulir bening yang membasahi pipi Xing’er.
“Baik-baik apanya, kau terluka begitu parah seperti ini dan semua ini karena salahku,” ujar Xing’er terisak.
“Ini bukan salahmu, sudah seharusnya aku melindungimu dan aku senang karena kamu tidak terluka,” tutur Wang Yue tersenyum.
“Kau ini sudah terluka seperti ini, masih saja tersenyum,” ketus Xing’er mengerucutkan bibirnya.
Wang Yue pun terkekeh, ia menyuruh Xing’er untuk menyalakan kembang api sebagai sinyal memanggil kedua pengawalnya. Sambil menunggu kedatangan Mu Yu dan Suan Ni menjemput, Wang Yue terus menatap Xing’er yang tengah membalut luka di tangannya menggunakan kain yang berasal dari baju Xing’er.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1