
Malam hari menikmati semangkuk mie instan sambil melihat bulan berdua bersama pria tampan memang menyenangkan, hidangan mie yang sederhana dengan secangkir arak yang menghangatkan tubuh seakan terasa jadi hidangan restoran bintang enam yang tiada duanya.
Ditemani suara jangkrik dan hewan malam lainnya, Xing’er bercerita pada Han Wang Yue tentang siapa dirinya, pekerjaannya, orang tuanya serta teman-temannya. Ia juga tidak lupa mempromosikan dirinya dengan berlebihan agar Han Wang Yue bisa tertarik padanya, meskipun sedikit berbohong ia pikir Han Wang yue tidak akan tahu jika dirinya sedang menipunya.
“Nona Xing’er apa anda tidak merindukan orang tua anda?” pertanyaan berisi niatan untuk mengusir.
“Rindu,” jawab Xing’er polos.
“Kalau begitu besok saya akan membantu anda mencari jalan agar anda bisa kembali ke tempat asal anda.”
“Hooh, kau mencoba mengusirku dari sini,” sergah Xing’er menatap sinis Han Wang Yue.
"B-bukan begitu, saya hanya ingin membantu anda agar bisa kembali berkumpul dengan keluarga anda," dalih Han Wang Yue yang sebenarnya memang benar ia ingin mengusir Xing'er sebab ia berpikir dengan hadirnya seorang wanita disisinya akan merepotkannya dan membuatnya sulit dalam melaksanakan tugas.
Brak!
Xing'er menggebrak meja dan berdiri sembari berkacak pinggang membuat Han Wang Yue terkejut dan merasa kikuk.
"Aku memang merindukan orang tuaku, tapi bukan berarti aku akan pergi besok … setelah di pikir-pikir hidup disini cukup bagus, apalagi aku bisa berada disisimu setiap saat," kata Xing'er tersenyum lebar.
"Tapi nona—,"
Xing'er mencondongkan tubuhnya ke arah Han Wang Yue sehingga pria itu hampir terjungkal akibat menghindar.
"Yue Daren, kau bilang disini sangat menjunjung tinggi moral dan etika lalu apa ini balasanmu padaku? Setelah aku memberikanmu banyak info di masa depan dan makanan enak ini, kau langsung membuangku begitu saja sungguh tidak beretika sama sekali bahkan seekor anjing saja akan membalas Budi majikannya yang sudah merawatnya masa iya seorang putra mahkota langsung menendang tamu begitu saja … ingat, aku belum memperhitungkan masalah saat kau menyekapku di gudang," cerocos Xing'er membuat Han Wang Yue tertegun. Ia menarik kembali tubuhnya dan merapikan pakaiannya.
"A—," belum sempat Han Wang Yue berbicara gadis itu sudah kembali menyela kalimatnya.
"Sudahlah, malam makin larut kau harus menjaga kesehatanmu jangan sampai merepotkan calon istrimu karena masuk angin," celoteh Xing'er yang langsung masuk ke dalam pondok.
Han Wang Yue menghembuskan napasnya dalam sambil memperhatikan punggung Xing'er yang menghilang di balik pintu, dia harus mencari cara agar wanita itu mau pergi dari kediamannya.
.
.
.
.
__ADS_1
Istana Chang'an, tepatnya di kediaman pangeran ke satu.
"Wang zi, pembunuh yang dikirim ke pondok Lian Hua gagal melakukan tugasnya," laporan Nansu — pengawal pribadi Han Zhaoyang — putra pertama kaisar Han Ming Xi yang merupakan kakak laki-laki Han Wang Yue.
Sejak kecil Han Wang Yue dan Han Zhaoyang selalu berselisih, walau mereka terkadang terlihat akur tetapi dalam setiap kata-kata Zhaoyang selalu tersisip kata-kata yang menyindir atau menyudutkan Wang Yue.
Han Zhaoyang yang memiliki sifat haus akan kekuasaan sangat membenci Wang Yue, apalagi ketika kaisar mengumumkan jika Han Wang Yue menjadi putra mahkota dan bakal naik takhta menggantikan kedudukan Han Ming Xi sebagai kaisar, kebencian Zhaoyang semakin membara sehingga ia selalu berusaha untuk menghabisi adik keduanya tersebut.
Sebagai kakak pertama, seharusnya yang menjadi kaisar kelak adalah dirinya sebab mau bagaimanapun putra pertama yang harus lebih berkuasa dibanding anak kedua. Zhaoyang yang selalu merasa dirinya jauh lebih baik dari Han Wang Yue, selalu melakukan protes terhadap kaisar dan terkadang melakukan trik untuk meraih simpati rakyat agar ia bisa terpilih sebagai putra mahkota.
Selain Han Zhaoyang dan Han Wang Yue, kaisar Han Ming Xi masih memiliki seorang putra yang bernama Han Yi Yan pangeran ketiga dari mendiang selir Zu. Berbeda dengan kedua kakaknya yang selalu berselisih merebutkan tahta, Han Yi Yan lebih suka hidup bebas dan berkelana di dunia luar. Dia tidak suka dengan politik karena menurutnya sangat rumit dan membosankan sehingga lebih memilih berkelana dengan kehidupannya yang bebas tanpa tekanan dari aturan kaisar.
Kembali pada materi Han Zhaoyang.
Setelah mendapatkan laporan jika orang-orang suruhannya gagal melukai Han Wang Yue, pangeran pertama itu langsung marah. Sudah cukup lama ia mengintai nyawa sang adik tapi hingga saat ini rencananya selalu saja gagal.
"Wang zi, saat pembunuh sudah kalah di tangan Wang Yue taizi saya melihat ada seorang wanita yang mendekatinya."
"Wanita?" Zhaoyang mengangkat sebelah alisnya ke atas sembari berpikir kemudian tertawa. "Sudah lama dia tidak suka wanita dan sekarang tiba-tiba dia menyimpan seorang gadis di tempat tinggalnya, menarik … Nansu selidik asal usul gadis itu secara mendetail."
"Baik." Nansu mundur beberapa langkah dan meninggalkan kediaman Han Zhaoyang.
.
.
.
.
****
Pagi hari di pondok Lian Hua, suara alarm dari ponsel terus berdering membangunkan semua orang tetapi Xing'er seolah tidak terganggu dengan suara bising ibunya yang sedang mengomel. Gadis itu masih saja anteng bermain di dalam mimpinya yang indah.
"Suan Ni!" panggil Wang Yue sembari menutup kedua telinganya.
Suan Ni menghampiri Wang Yue dengan posisi tangan yang sama menutup kedua telinga.
"Taizi bixia."
__ADS_1
"Cepat bangunkan wanita itu, suara benda itu sangat mengganggu telingaku," ketus Wang Yue.
Mendapat titah untuk membangunkan Xing'er, Suan Ni terlihat ragu. Dia tidak berani masuk ke dalam kamar seorang gadis tanpa seijin pemilik kamar tersebut.
"Taizi bixia."
"Hmm."
"Bagaimana jika anda saja, anda kan calon suami nona Xing'er j—,"
"Kau." Wang Yue menatap sinis Suan Ni.
Pria yang selalu membawa pedang kemana-mana itu hanya tertunduk dan mundur memberi jalan ketika Han Wang Yue beranjak dari duduknya dan pergi menuju kamar Xing'er.
Ia mengetuk pintu kamar yang bising berulang kali, tapi si pemilik kamar masih tidak kunjung keluar dan menghentikan suara alarmnya hingga terpaksa ia pun masuk ke dalam kamar dan membangunkan Xing'er dengan cara menyiramkan air ke wajahnya membuat gadis itu terperanjat kaget.
"Hah, Han Wang Yue apa yang kau lakukan!" pekik Xing'er mengusap wajahnya yang basah.
"Nyali nona Xing'er besar sekali, dia berani menyebut nama taizi dengan lantang seperti itu," gumam Suan Ni dalam hati.
Han Wang Yue tersenyum seraya meledek. "Maafkan atas perbuatanku yang tidak sopan pada nona Xing'er, aku hanya khawatir jika nona Xing'er kenapa-kenapa sebab aku sudah membangunkan anda dengan cara halus tapi anda masih tidak kunjung bangun."
"Heuh, menyebalkan," dengusnya.
"Karena nona Xing'er sudah bangun, bisakah anda mematikan benda itu? Suaranya sangat menyakiti telinga … oh ya satu lagi, jika anda ingin tetap tinggal disini jadilah berguna," cibir Han Wang Yue meninggalkan Xing'er.
Tak lama dari kepergian sang putra mahkota, Yu Mu datang dengan setumpuk baju kotor. Ia tersenyum lebar dan menyerahkan pakaian kotor itu ke hadapan Xing'er.
"Taizi bilang, jika ingin tinggal disini harus berguna," ucap Yu Mu masih tersenyum.
Kedua alis Xing'er saling bertaut, ia menatap tak percaya setumpuk pakaian kotor itu yang harus ia cuci sendiri.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1