
Xing'er tersentak saat Han Wang Yue membawanya ke dalam pangkuan. Matanya membulat dan seketika lidahnya terasa Kelu untuk berbicara.
Tidak bisa.
Xing'er memang selalu menggoda Han Wang Yue dan pernah mengajaknya untuk tidur bersama, tapi itu hanya gurauan saja dan saat Wang Yue membawanya ke dalam pangkuan Xing'er mendadak membeku dan merasakan jika hal ini adalah salah.
Ya ini salah, bukankah Han Wang Yue pernah mengatakan jika wanita dan pria tidak boleh bersentuhan secara intim namun sejak mereka datang ke Qingnan sikap Han Wang Yue yang selalu menyentuhnya membuat Xing'er merinding.
"Bao bao, lihatlah kulitmu sangat halus seperti kain sutra langka," ucap Han Wang Yue mengelus pipi Xing'er.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Xing'er gugup.
"Stt, diluar ada mata-mata yang sedang mengintai ikutilah alurnya," bisik Han Wang Yue melirik ke arah bayangan yang terpantul di dinding kamarnya.
Xing'er mengedip-ngedipkan kedua matanya mengerti, ternyata yang salah bukan Han Wang Yue melainkan dirinya yang terlalu percaya diri jika Han Wang Yue sudah mulai menyukainya dan bertindak agresif.
Baiklah mari kita ikuti alurnya.
Xing'er mengubah posisi duduknya jika semula ia duduk menyamping di atas pangkuan Han Wang Yue, tapi kini ia jadi menghadap ke arah calon suaminya membuat senjata pribadi Han Wang Yue sedikit beradu dengan mahkota Xing'er.
"Xing'er," bisik Han Wang Yue saat merasa tidak nyaman.
Gadis itu hanya tersenyum sambil melingkarkan tangannya dileher Han Wang Yue.
"Wang Yue, malam ini bulannya sangat indah … bagaimana jika kita berkultivasi bersama," goda Xing'er mengelus lembut bibir Han Wang Yue.
"Kau yakin ingin melakukan itu?" tanya Wang Yue menatap Xing'er sambil tersenyum.
"Hem, suasana Qingnan saat indah bukankah sangat cocok untuk melakukan itu … kau tahu, aku selalu tergila-gila pada bentuk tubuhmu yang berotot ini bisakah malam ini kau memberikan dirimu padaku." Xing'er menggerakan jarinya di sekitar dada Han Wang Yue yang lebar.
"Tahan Han Wang Yue ini hanya sandiwara," bisik Wang Yue dalam hati. Gara-gara ulah nakal Xing'er sesuatu yang aneh tiba-tiba dirasakan oleh Wang Yue.
"Tidak hanya malam ini, untuk seterusnya aku akan menjadi milikmu," tutur Wang Yue.
Keduanya pun terkekeh dan melanjutkan sandiwara tersebut sampai mata-mata itu pergi dan menjauh dari kamarnya.
Setelah memastikan jika mata-mata itu benar-benar pergi, Han Wang Yue meminta Xing'er untuk pergi dari pangkuannya tetapi Xing'er yang terlanjur nyaman enggan bangkit.
Gadis itu malah semakin mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepalanya di ceruk leher Han Wang Yue.
"Abao, apa kau ingat saat aku menendangmu dari kamarku?"
"Tentu saja, aku tidak akan pernah melupakannya."
"Kau tidak inginkan hal itu terulang lagi malam ini."
"Lakukan saja jika kau berani, ka—,"
Arrghhh
Bugh.
Awww.
Ringisan Xing'er ketika dirinya lagi-lagi ditendang dari kamar Han Wang Yue. Gadis itu mengumpat sambil menunjuk-nunjuk kamar pria yang telah mengusirnya untuk kedua kalinya.
Mendapatkan umpatan dari Xing'er Han Wang Yue bukannya terganggu, pria itu malah mematikan lilin di kamarnya dan tersenyum menikmati omelan yang dilontar oleh Xing'er.
__ADS_1
"Heuh dasar kau otak udang!" dengus Xing'er pergi meninggalkan halaman kamar Han Wang Yue.
Suasana pun jadi sepi, Han Wang Yue yang penasaran mengintip dari kamarnya dan melihat jika Xing'er sudah tidak ada diluar.
Tak berselang lama, Yu Mu serta Suan Ni pun datang untuk melaporkan penyelidikan mereka tentang sebuah lumbung yang berisi banyak bahan pangan.
Lumbung itu terletak di belakang kuil yang berada cukup jauh dari kota Qingnan dan kuil itu dijaga oleh banyak tentara dengan sangat ketat.
"Untuk sementara ini kita harus menjatuhkan Qing Tian Lei dan bawahannya terlebih dahulu, setelah itu baru kita serang lumbung itu," ujar Han Wang Yue.
"Baik Taizi bixia," sahut Suan Ni.
"Bagaimana dengan bantuan dari istana, apa sudah ada kabar?"
"Bantuan itu dibawa oleh pangeran Han Zhaoyang dan mereka seperti mengulur waktu untuk tiba di sini sebab mata-mata mengatakan jika pangeran pertama dan rombongannya masih berada jauh dari sini," ungkap Suan Ni.
"Pangeran pertama itu, ingin naik tahta menjadi kaisar tapi tidak memperdulikan rakyatnya sama sekali," gerutu Yu Mu menghela napas panjang.
Suan Ni melirik Yu Mu agar menutup mulutnya dan tabib muda itu hanya mendelik sebal.
"Yu Mu, apa saat kau kemari kalian melihat Xing'er pergi kemana?" tanya Wang Yue tiba-tiba khawatir.
"Tidak, apa nona Xing'er pergi?" balik tanya Yu Mu.
"Aku akan mencarinya," sahut Suan Ni tanpa disuruh dia pun bergegas pergi.
"Sikap Suan Ni akhir-akhir ini aneh sekali, apapun yang berhubungan dengan Nona Xing'er dia pasti akan langsung bersikap sigap," celoteh Yu Mu menatap heran pintu yang baru saja dilewati oleh rekannya.
.
.
.
.
Ia menoleh ke arah kediaman tersebut yang sedang dijaga banyak tentara. "Eh ini kan rumah pejabat He, oh aku baru ingat Wang Yue bilang jika malam ini kediamannya akan di serang aku jadi penasaran," gumam Xing'er mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat bersembunyi.
Ia pun bersembunyi dibalik semak-semak yang tak lama kemudian dirinya melihat beberapa orang dengan pakaian serba hitam mendarat di atas genteng dan dalam hitungan detik mereka melumpuhkan para penjaga yang sedang berdiri di depan pintu masuk.
Suara pedang beradu pun terdengar di telinga Xing'er, ia bisa menebak jika saat ini orang-orang misterius itu sedang bertarung dengan para penjaga.
Rasa takut muncul dalam diri Xing'er, ia ingin pergi tapi waktunya tidak tepat sebab di depan pintu kediaman pejabat He ada beberapa orang yang sedang berjaga dengan pedang berlumur darah di tangannya.
Grep.
"S-," belum sempat Xing'er bertanya tiba-tiba tubuhnya sudah dibawa terbang oleh seseorang dan meninggalkan kediaman He yang sedang menumpahkan darah.
"Kamu," pekik Xing'er ketika tahu jika pria itu adalah Zhu Wu Chen.
"Kita bertemu lagi," sapa Zhu Wu Chen kemudian mendarat di tengah-tengah hutan dan menurunkan Xing'er.
"A-apa yang kau lakukan disini?"
"Aku sudah menyelamatkanmu, tidak bisakah kau berterima kasih dulu padaku," sindir Wu Chen tersenyum.
Xing'er menghela napasnya dan mengucapkan terima kasihnya pada Zhu Wu Chen yang sudah menyelamatkan hidupnya, seketika sebuah pemikiran tentang Zhu Wu Chen pun terlintas dalam benak Xing'er.
__ADS_1
"Wu Daren, jangan bilang orang-orang itu adalah—,"
"Nona Hua tidak boleh asal menuduh, aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka," ujar Zhu Wu Chen menjelaskan jika dirinya hanya kebetulan lewat dan melihat Xing'er sedang bersembunyi.
Xing'er menatap curiga Zhu Wu Chen, sebab ia teringat pada beberapa hari yang lalu saat Zhu Wu Chen menyerang Han Wang Yue secara tiba-tiba.
"Eh, nona Hua kau seorang gadis yang berasal dari Chang'an kenapa kau ada di Qingnan dan sedang apa malam-malam begini berada diluar?" Zhu Wu Chen memberondong Xing'er dengan banyak pertanyaan dan mendekatinya hingga tubuh gadis itu condong ke belakang.
Xing'er mendorong tubuh Zhu Wu Chen dan membalikan tubuhnya ke arah lain. "Jika kau ada disini, kenapa aku juga tidak boleh berada disini dan soal keluar malam aku tidak tahu kenapa aku bisa sampai di tempat itu."
Zhu Wu Chen mengangkat sebelah alisnya ke atas, memperhatikan Xing'er yang sedang berbohong.
"Nona Hua."
"Hmm," Xing'er membalikan tubuhnya ke hadapan Zhu Wu Chen.
"Apa daging kelinci itu enak?"
Lagi Xing'er menghembuskan napasnya kasar. "Aku tidak sempat memakannya, kelinci itu jatuh ke jurang."
"Jatuh ke jurang? Bagaimana bisa?"
"Aku tersandung lalu jatuh ke jurang, dan seseorang menyelamatkan ku kemudian menyuruhku untuk membuangnya," gerutu Xing'er.
"Kau jatuh ke jurang? Apa kau tidak terluka?" Refleks Zhu Wu Chen memegang tangan Xing'er untuk memastikan keadaannya.
Xing'er melepaskan tangannya dari Zhu Wu Chen. "Kejadian itu terjadi satu pekan yang lalu dan luka ku sudah sembuh, tapi … tiga hari yang lalu aku hampir saja mati karena serangan anak panah yang entah dari mana asalnya," ujar Xing'er memancing Zhu Wu Chen agar ingat pada saat kejadian di hutan pinus.
"Benarkah?"
Kepala Xing'er mengangguk dan menatap sinis Zhu Wu Chen.
"Nona Hua, lain kali jika kau sedang butuh bantuan panggil aku. Aku akan datang dan menyelamatkanmu," tutur Zhu Wu Chen.
"Mungkin bukan menyelamatkan tapi malah membunuhku," gumam Xing'er pelan.
"Kau bilang apa?"
"Ah, t-tidak ada … baiklah aku akan memanggilmu lain hari, tapi bagaimana caranya?"
Zhu Wu Chen mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Sebuah peluit giok berwarna hijau khas kota dajing. "Tiup itu, maka aku akan datang."
"Aku akan mencobanya," celoteh Xing'er.
"Untuk apa? Aku sudah ada di depanmu."
Xing'er tertawa konyol dan menyimpan peluit itu ke dalam saku bagian lengannya.
"Nona Hua, apa kau ingat kau memiliki hutang padaku?"
"Tentu saja, aku tidak akan melupakan hutangku padamu Wu Daren."
"Panggil aku Wu Gege," pinta Zhu Wu Chen kemudian mengajak Xing'er pergi ke suatu tempat yang selalu indah kala malam hari.
.
.
__ADS_1
Bersambung.