Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.

Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.
Chapter 15.


__ADS_3

Lima tahun pun berlalu dengan cepat. Han Ming Xi masih tetap diam dan tidak melakukan pergerakan apapun, bahkan sampai putra pertamanya Han Zhaoyang menikah di usia dua puluh tahun, Han Ming Xi masih tetap tenang. 


Dan di lima tahun berikutnya, tanpa sepengetahuan siapapun Han Ming Xi tiba-tiba mengeluarkan dekrit kekaisaran dan mengutus putra keduanya yang berusia lima belas tahun pergi berperang untuk merebut kembali wilayah barat laut. 


Mendengar kabar yang tiba-tiba, jelas membuat dajing yang semula bersantai pontang-panting menyusun rencana untuk menghalau tiga puluh ribu prajurit militer yang dipimpin oleh pangeran muda Han Wang Yue masuk ke gerbang barat laut. 


Namun seberapa kerasnya dajing melakukan pertahanan, dengan kecerdasan serta kekuatan yang dimiliki oleh Han Wang Yue dalam berperang. Pangeran muda itu berhasil merebut Barat laut kembali dan melumpuhkan raja dajing. 


Awalnya Han Wang Yue yang merasa marah pada raja dajing yang memberontak ingin memenggal kepalanya, tetapi sikapnya yang bijaksana mengurungkan niatnya setelah raja itu bersujud di kakinya meminta pengampunan dan melakukan perjanjian tertulis jika dajing tidak akan pernah mengusik lagi wilayah barat laut dan wilayah lainnya yang berada dibawah kekuasaan Chang'an. 


Han Wang Yue pun setuju dengan perjanjian tersebut dan ia pun kembali ke ibukota dengan kemenangan dan langsung di promosikan menjadi putra mahkota yang kelak akan menggantikan posisi sang ayah sebagai kaisar. 


Seperti halnya kata sejarah pasti terulang. Sepuluh tahun berlalu dalam kedamaian, dajing kembali berulah dan berniat untuk merebut kembali Barat laut. Han Wang Yue yang sudah tumbuh dewasa pun semakin pandai dalam membangun kekuatan militer, sehingga dia dapat mempertahankan barat laut dengan baik. 


Tetapi hari ini di kedai Zhengsheng. Han Zhaoyang yang obsesi terhadap kekuasaan, mengundang Zhu Wu Chen untuk bekerja sama. Dimana Zhaoyang menjanjikan akan memberikan barat laut dan gunung Yan pada Zhu Wu Chen yang tak lain merupakan pangeran dari kerajaan dajing, asalkan Zhu Wu Chen mau membantunya untuk menyingkirkan Han Wang Yue dan mendukungnya untuk naik takhta.  


"Penawaran yang menarik," cetus Zhu Wu Chen sambil mengunyah kacang dalam mulutnya. "Tapi, apakah perkataan dari pangeran Zhaoyang dapat dipercaya?" 


"Apa maksudmu?" 


Zhu Wu Chen meneguk air minumnya dan menatap serius Zhaoyang yang sudah ia ketahui sifatnya yang licik. "Aku hanya khawatir setelah kau naik takhta, kau akan melupakan janjimu bukankah aku yang akan dirugikan … aku sudah membunuh Han Wang Yue tapi nantinya kau malah melupakannya." 


Pria dengan gelar pangeran pertama Chang'an itu tertawa, kemudian kembali menyindir Zhu Wu Chen yang jelas-jelas jika dirinya adalah keturunan dari leluhur yang selalu mengingkari janji. 


Mendengar perkataan Zhaoyang yang seakan menghina leluhurnya, Zhu Wu Chen mengepalkan tangannya erat tak terima dengan apa yang di ucapkan oleh Zhaoyang yang seharusnya menjadi musuhnya.


"Haha, Zhu Wu Chen tenangkan dirimu aku hanya mengungkit sedikit tentangmu tapi kau sudah seperti ingin menelan ku … Zhu Wu Chen, bukankah ini kesempatan baik untukmu kau tidak perlu repot menaruhkan nyawamu di Medan perang, kau hanya perlu membunuh satu orang maka perbatasan barat laut dan Gunung Yan akan menjadi milikmu tak hanya itu saja setelah kau mendapatkan dua wilayah itu kau bisa mendapatkan pengakuan dari ayahmu," tutur Zhaoyang terus membujuk Zhu Wu Chen agar mau bekerja sama dengannya. 


Zhaoyang pun menyerahkan sebuah plakat berharga milik keluarga Han pada Zhu Wu Chen sebagai tanda kerja sama mereka, tetapi Zhu Wu Chen yang tidak bisa percaya pada kata-kata Zhaoyang mendorong kembali plakat tersebut pada Zhaoyang. 


"Aku lebih suka berperang, dari pada mendapatkan sesuatu secara percuma," tolak Zhu Wu Chen. 

__ADS_1


Zhaoyang kembali tersenyum, ia menghabiskan sisa teh dalam cangkirnya dan berdiri untuk pergi. "Tidak perlu terburu-buru, kau bisa mempertimbangkannya lagi."


Zhu Wu Chen hanya terdiam, ia menatap ke arah jendela tanpa memperdulikan Zhaoyang yang pergi meninggalkan ruangan tersebut. 


"Wang ji, apa anda yakin ingin bekerja sama dengan Zhu Wu Chen?" tanya Nansu ragu dengan langkah yang diambil oleh Zhaoyang.


"Wang Yue dan Zhu Wu Chen adalah musuh sejak lama, Wang Yue telah mempermalukan ayahnya di depan umum dendamnya pasti sangat besar dan aku yakin selain ingin merebut wilayah … hal terbesar dalam diri Zhu Wu Chen adalah melenyapkan Wang Yue sebagai balas dendam terhadap ayahnya," papar Zhaoyang menjelaskan. 


Nansu pun mengangguk mengerti dan mulai melajukan kereta kudanya, untuk kembali ke istana.


.


.


.


.


****


"Seharian ini kau sudah sering sekali berlari, apa kau sedang berlatih untuk menjadi kuda," celoteh Wang Yue yang sedang menulis sesuatu. 


"Ck, bixia kali ini aku tidak sedang ingin bercanda," protes Yu Mu gelisah. 


"Katakanlah." 


"Nona Xing'er sudah seharian ini terus mengurung dirinya dikamar." 


"Apa hubungannya denganku," kata Wang Yue santai. 


"Stt Taizi, apapun hubungannya dengan anda tetap saja nona Xing'er tinggal di tempat anda dan anda harus bertanggung jawab jika sesuatu terjadi padanya." 

__ADS_1


"Ini, kirim surat ini pada guru Ding," titah Han Wang Yue memberikan sepucuk surat yang telah di segel ke tangan Yu Mu. 


Tabib itu menghela napasnya dan terpaksa pergi tanpa bisa mengatakan apapun lagi yang bisa membuat sang putra mahkota khawatir pada keadaan Xing'er yang mengurung diri di kamarnya. 


Selepas kepergian Yu Mu, dia hendak melakukan sesuatu dengan kuasnya lagi tetapi mengingat Xing'er yang mengurung diri di kamarnya selama seharian dia pun meletakan kembali kuasnya dan pergi untuk menemui Xing'er. 


Sebelum dirinya mengetuk pintu kamar Xing'er, gadis itu sudah lebih dulu membuka pintu kamarnya. 


"Wang Yue, apa kau sedang mencariku?" ujar Xing'er tersenyum senang. 


"Tidak, aku hanya kebetulan lewat," dalih Wang Yue sedikit memperhatikan wajah Xing'er yang memiliki noda cat. 


"Benarkah?" goda Xing'er menatap wajah Wang Yue secara seksama. 


Pria itu memasang wajahnya datar dan hendak pergi, tetapi Xing'er menahan tangannya dan menunjukkan hasil lukisannya pada Wang Yue. 


Sebuah lukisan dua gunung hijau, dengan beberapa awan serta matahari tak lupa dengan pesawahan juga pohon-pohon dengan bentuk tidak jelas dan sepasang manusia yang berdiri sedang menatap pegunungan. 


Dia menjelaskan secara detail jika kedua orang itu adalah dirinya dan Wang Yue yang telah menikah dan memutuskan tinggal di gunung agar tidak ada yang bisa menganggu kebahagiaan mereka berdua, selain itu Xing'er juga mengatakan jika lukisan miliknya sebagai ganti lukisan Wang Yue yang rusak tadi pagi karenanya. 


Wang Yue sebenarnya tidak ingin menerima lukisan yang buruk itu, bahkan ia sudah menolak tetapi Xing'er terus memaksa dan berinisiatif sendiri untuk memajang lukisannya di kamar milik Wang Yue dengan alasan agar Wang Yue bisa terus mengingatnya. 


Melihat Xing'er yang bertingkah sesukanya, Wang Yue hanya bisa bersabar dan menghela napasnya dalam. 


"Bersabarlah Han Wang Yue, dia hanya serangga kecil anggap saja dia tidak pernah ada disini," gumam Han Wang Yue dalam hati. 


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung. 


__ADS_2