Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.

Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.
Chapter 8.


__ADS_3

Selain menunjukan beberapa gambar kendaraan, Xing'er kembali menjelaskan fitur apa saja yang dimiliki oleh ponselnya. Ia menjelaskan hanya dengan satu ponsel saja mereka bisa melakukan segalanya, mulai dari menonton film, mendengarkan musik, belajar memasak, belajar membaca, memesan makanan di restoran tanpa harus pergi dan hal canggih lainnya. 


Menjelaskan tentang teknologi modern pada orang yang hidup di era abad sebelum masehi tentu saja tidak mudah, dia harus mencari bahasa lain sebagai perumpamaan agar dapat dipahami oleh ketiga pria itu yang tanpa terasa mereka mulai mengakrabkan diri dan saat Yu Mu sedang melihat-lihat kembali foto-foto milik Xing'er, ia tertarik dengan sebuah foto dimana disana ada Xing'er dan seorang pria yang tampak begitu akrab tengah saling mencubit pipi satu sama lain. 


"Nona Xing'er, siapa dia sepertinya kalian akrab sekali?" tanya Yu Mu menunjukkan foto itu pada Xing'er.


"Itu Yan Xun, teman ku sejak kecil dia orang yang sangat menyebalkan," jawab Xing'er teringat pada Yan Xun yang terakhir mengatakan jika akan memotong upah kerjanya sebanyak tiga puluh persen dan sekarang dia tidak masuk kerja dan tidak menyelesaikan tugasnya mungkin Yan Xun sudah berniat akan memecatnya. 


Hari yang cerah perlahan berganti jadi gelap dan masih begitu banyak pertanyaan juga yang ingin kedua pria itu tanyakan pada Xing'er, tetapi Han Wang Yue yang melihat Xing'er sudah lelah dengan pakaiannya yang kotor memberikan perintah pada Suan Ni agar menyiapkan air hangat serta pakaian baru untuk dikenakan Xing'er, kemudian ia juga menyuruh Yu Mu memasak makanan lezat sebagai acara penyambutan Xing'er yang datang ke Chang'an. 


"Yu Mu," panggil Xing'er. 


"Ya." 


"Aku punya sesuatu untuk mu aku dengar kau adalah seorang tabib, ini sebagai balasan karena kau telah melepaskan ku tadi … mungkin akan sangat berguna bagimu." Xing'er mengeluarkan satu lembar obat kapsul dengan tampilan yang cantik dari dalam tasnya. 


"Ini adalah obat bagus bisa menyembuhkan alergi, hidung gatal dan flu dalam jangka waktu sebentar hanya perlu meminumnya satu tablet satu hari dan dua hari kemudian akan sembuh," lanjut Xing'er.


"Wah terimakasih nona Xing'er, kau memang murah hati," puji Yu Mu membungkuk sebelum dirinya pergi untuk memasak. 


Kedua bawahan Han Wang Yue sudah pergi, yang tersisa di ruangan itu kini hanya Xing'er dan putra mahkota. keadaan ruangan mendadak jadi canggung tidak seperti sebelumnya yang terasa akrab walau sedikit menjengkelkan karena harus menarik urat disaat berbicara. 


"Nona Xing'er, hari sudah gelap jika anda tidak memiliki tujuan sebaiknya anda bermalam disini dan meneruskan perjalan besok," kata Han Wang Yue.


Wanita itu kembali menghela napasnya panjang, bukankah dirinya sudah menemukan jodohnya disini kenapa ia harus pergi? Lagi pula kemana dirinya akan pergi, dia tidak mengenal tempat itu dan dia juga bingung kemana mencari jalan untuk kembali ke dunianya. 


"Taizi a—," 


"Panggil saja saya Wang Yue," selanya memotong kalimat Xing'er.


"Ehm Wang Yue daren, bukankah giok itu sudah memutuskan jika kau adalah jodohku kenapa aku harus pergi dari sini?" 


"Hah?" kaget Han Wang Yue, dia pikir tadi Xing'er tidak mempercayai hal itu sehingga dia mencoba menggodanya tapi siapa sangka Xing'er ternyata percaya dan ingin tinggal di tempatnya. 


"Tapi—," 


"Yue daren, bukankah anda juga tadi mengatakan di depan Yu Mu dan Suan Ni jika anda senang berjodoh dengan ku kenapa sekarang terlihat kaget? Aku sudah memberikan banyak ilmu pada kalian, apa ini balasan anda padaku?" cerocos Xing'er menyudutkan Han Wang Yue.


Han Wang Yue sedikit tersenyum dan menyampaikan permintaan maafnya jika kata-kata sebelumnya hanyalah sebuah candaan semata, tetapi Xing'er tidak peduli dirinya yang tidak memiliki tujuan tetap teguh ingin tinggal di pondok Lian Hua dan menjadikan Han Wang Yue sebagai suaminya. 

__ADS_1


"Nona Xing'er anda sepertinya salah paham." 


"Aku tidak peduli, giok jodoh sudah memilihmu dan kau adalah calon suamiku aku akan mencari cara agar aku bisa membawamu ke masa depan," pungkas Xing'er kemudian pergi untuk membersihkan diri. 


Sementara Han Wang Yue yang merasa terjebak oleh ulahnya sendiri, hanya mendengus dan memijat batang hidungnya yang terasa pusing. 


Bagaimana bisa dia menjadikan seorang wanita asing yang tidak jelas asal usulnya sebagai calon istrinya, bahkan jika sampai pihak istana tahu pasti tidak akan memberinya restu. 


Selama Xing'er sedang mandi, Han Wang Yue memanggil Yu Mu beserta Suan Ni untuk membicarakan soal Xing'er yang mencurigakan. 


Han Wang Yue yang merupakan pria penuh pertimbangan, tentu saja tidak akan mudah percaya begitu saja pada orang asing. Meskipun tadi ia bersikap ramah, tetap saja hatinya menyimpan rasa curiga karena khawatir Xing'er adalah orang suruhan yang dikirim oleh musuhnya untuk memata-matainnya.


"Kalian awasi gerak gerik wanita itu, meskipun dia punya cukup bukti tentang masa depan aku khawatir jika dia sedang mengelabui kita," titah Han Wang Yue.


"Tapi Taizi bixia, giok benang merah itu tidak mungkin berbohong sebab di dunia ini hanya ada satu giok benang merah dengan kekuatan ajaib seperti itu," papar Yu Mu meyakinkan jika Xing'er benar-benar dari masa depan. 


Han Wang Yue terdiam, ia mencoba berpikir dan akan mencari kebenaran tentang giok itu nanti yang penting sekarang Yu Mu dan Suan Ni harus tetap mengawasi Xing'er. 


Disaat ketiga pria dengan pangkat yang berbeda itu tengah berdiskusi, Xing'er dengan tampilannya yang mengenakan pakaian hanfu berwarna ungu muda polos menghampiri mereka dan berhasil membuat ketiga pria itu terpesona padanya dengan mulut yang menganga. 



"Wah, nona Xing'er kau terlihat lebih cantik dengan pakaian ini," lagi Yu Mu memberikan pujian yang jujur pada Xing'er sementara Suan Ni hanya mengacungkan dua jempolnya. 


Xing'er tersipu malu lalu ia menoleh pada Han Wang Yue yang masih belum berkedip sama sekali sambil menatapnya. 


"Lihat air liur mu sampai mau menetes, masih mau menolakku sebagai calon istrimu hm," cibir Xing'er membuyarkan lamunan Han Wang Yue. 


Putra mahkota itu terlihat gugup dengan perkataan Xing'er, ia menyuruhnya untuk duduk sambil menuangkan teh ke dalam gelas Xing'er. 


"Taizi, anda beruntung sekali memiliki calon istri secantik nona Xing'er," bisik Yu Mu menggoda. 


Han Wang Yue hanya menoleh dengan tatapan biasa, tapi tatapan itu membuat Yu Mu takut dan terkekeh sambil bersembunyi. 


"Nona Xing'er, kau masih belum menjawab pertanyaanku tadi," ujar Yu Mu rajanya penasaran. 


"Yang mana?" tanya Xing'er sambil menikmati makan malamnya yang cukup bersahabat dengan lidahnya. 


"Bagaimana caranya kau bisa masuk ke apa itu namanya, po-po—," 

__ADS_1


"Ponsel." 


"Ya itu," sahut Yu Mu terkekeh. 


Sudut bibir Xing'er melengkung ke atas, ia kembali mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi kamera lalu menunjukkannya pada Yu Mu. 


"Apa kau bisa melihat wajahmu disana?" 


Yu Mu mengangguk dan mengatakan jika benda itu mirip seperti cermin yang dapat melihat dirinya sendiri di dalam sana. 


"Ya anggap saja ini cermin, tapi bisa membuatmu terperangkap di dalamnya," celoteh Xing'er jahil. 


"Terperangkap," kompak ketiga pria tersebut.


Xing'er tertawa kecil saat melihat raut wajah ketiga pria itu yang tampak khawatir dengan ucapannya. "Tidak aku hanya bercanda, semuanya lihat ke sini dan katakan cheese," titah Xing'er yang dituruti oleh ketiga pria tersebut.


Cekrek.


Cekrek.


Cekrek..


Dia mengambil beberapa gambar dengan gaya menggemaskan sesuai perintahnya, Xing'er yang tak ingin kehilangan momen mendekati Han Wang Yue dan mengajaknya untuk berfoto bersama ia akan memamerkan foto itu kelak pada orang tua juga teman-temannya yang selalu mengejeknya jomblo ngenes. 


Xing'er yang duduk begitu dekat dengan Han Wang Yue membuat pria itu merasa tidak nyaman dan sedikit bergeser ke samping, sadar jika prianya bergeser gadis itu ikut bergeser dan kembali mendekatinya sambil tersenyum agar mendapatkan hasil foto yang bagus. 


Namun lagi-lagi Han Wang Yue kembali bergeser dan Xing'er kembali mengikutinya, pria berstatus putra mahkota itu menghela napasnya dalam dan bergeser lagi. 


Kening Xing'er sampai berkerut dibuatnya, sebab setiap kali ia mendekat pria itu selalu menjauhinya. Xing'er yang kesal karena Han Wang Yue terus menjauh, akhirnya menarik bahunya dan mendekatkan pipinya ke dekat wajah sang pria membuat Han Wang Yue terkejut dan merasakan gugup yang tiada terkira. 


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2