
Di tepi sungai mohe, rombongan Han Zhaoyang sedang beristirahat sejenak sembari menunggu sebuah kabar yang sedang ia nantikan.
Perjalanan menuju Qingnan sangatlah jauh, tetapi niatan Han Zhaoyang yang hanya mengejar Pencitraan belaka membuat pangeran pertama itu banyak menunda waktu perjalanan.
"Pangeran, mata-mata kita mengatakan jika putra mahkota diserang oleh rombongan Zhu Wu Chen," laporan Nansu.
Han Zhaoyang memiringkan senyumnya. "Bajingan itu, sok menolak tawaranku tapi diam-diam menjalankan yang aku perintahkan … biarkanlah mereka bertarung sampai mati dirikan tenda disini, sebentar lagi hari mulai gelap," titah Zhaoyang kembali menyesap teh nya.
.
.
.
"Taizi bixia!" teriak Suan Ni ketika melihat Han Wang Yue sedang bertarung dengan Zhu Wu Chen, ia menebas seorang musuh yang ingin menyerangnya.
"Suan Ni, lindungi Xing'er," sahut Han Wang Yue yang masih berseteru dengan Zhu Wu Chen.
Tanpa menunggu perintah kedua, Suan Ni menghampiri Xing'er yang berada dibalik pohon dan betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang pria asing tengah menindas Xing'er dengan pedang miliknya.
"Siapa kau."
Trang! Trang!
Suan Ni dan pria itu terlibat pertarungan untuk sesaat, sebelum pria itu akhirnya terbang dan melarikan diri.
Pengawal itu hendak mengejar, tetapi ia mengurungkan niatnya saat melihat Xing'er yang jatuh pingsan.
Sret!
Pedang Han Wang Yue berhasil melukai tangan Zhu Wu Chen, akibat dirinya yang sudah terluka Zhu Wu Chen pun memilih mundur dan mengatakan jika dirinya akan kembali untuk mengambil nyawa Han Wang Yue serta perbatasan barat laut.
Sang putra mahkota yang kali ini telah menang, menatap kepergian Zhu Wu Chen dengan tatapan amarah kemudian ia berlari ke arah Xing'er ketika Suan Ni memanggilnya.
"Apa yang terjadi pada Xing'er?" tanya Wang Yue khawatir.
Yu Mu memeriksa nadi Xing'er untuk memastikan jika wanita itu dalam keadaan baik-baik saja.
"Dia hanya syok sehingga membuat tekanan darahnya meningkat dan tidak sadarkan diri," jelas Yu Mu.
"Tadi aku lihat ada seorang pria aneh sedang mengancamnya dengan pedang, aku sempat bertarung dengannya tapi aku tidak mengenal jurus pedang yang dia pakai dari mana," papar Suan Ni menjelaskan.
"Kita bahas ini nanti, hari mulai gelap kita harus mencari tempat untuk mendirikan tenda sekalian mengobati prajurit yang terluka," ujar Han Wang Yue sembari menatap khawatir Xing'er.
__ADS_1
Beberapa jam setelah terjadinya pertarungan. Tenda sudah berdiri sejak beberapa saat yang lalu, para prajurit yang terluka pun sudah diobati dengan baik dan sekarang mereka semua sedang beristirahat di dalam tenda masing-masing.
Yang tersisa kini hanya Xing'er dan Han Wang Yue serta dua bawahannya yang berada cukup jauh dari Wang Yue dan Xing'er yang sedang duduk di depan api unggun.
Yu Mu menyikut perut Suan Ni perlahan. "Eh, apa kau melihat betapa cocoknya mereka saat berdampingan."
Dengan wajah ditekuk Suan Ni menjawab ucapan Yu Mu hanya dengan anggukan kepala saja, kemudian dia pergi tanpa menghiraukan Yu Mu yang terus memanggilnya.
"Xing'er, apa kau baik-baik saja?" tanya Wang Yue ketika melihat gadis itu hanya terdiam sejak terbangun dari pingsannya.
"Kau pasti sangat takut saat melihat pertarungan tadi, tapi mau bagaimana pun kelak jika kau masih ingin tinggal disini kau harus terbiasa melihatnya," lanjut Han Wang Yue berbicara sambil menatap sungai yang hampir kering akibat kemarau.
"Sebenarnya kita akan pergi kemana?" tanya Xing'er membelokan arah pembicaraannya.
"Kita akan pergi ke Qingnan, untuk menyelidiki kasus kecurangan bantuan."
"Apa setelah masalah ini selesai kita akan pergi ke istana?"
"Entahlah, kita lihat saja nanti"
"Oh," jawab Xing'er singkat. Ia kembali termenung sambil memikirkan caranya agar bisa masuk ke istana kaisar dan meminta bola kristal yang entah bagaimana wujudnya.
"Kenapa, apa kau ingin pergi ke istana?" Wang Yue menatap curiga Xing'er.
"Istirahatlah, besok pagi kita akan meneruskan perjalanan."
Xing'er mengangguk, dia pergi ke tendanya tanpa mengatakan apapun. Terlihat aneh, gadis yang biasanya berisik kini terlihat murung dan diam.
Melihat keadaan Xing'er yang tidak banyak bicara, Wang Yue jadi merasa khawatir tetapi ia juga sedikit tenang karena malam ini dirinya bisa beristirahat tanpa adanya gangguan.
Krik .. krik… krik..
Suara jangkrik meramaikan suasana malam di hutan yang sepi dan terdengar juga ada beberapa orang sedang berjaga-jaga di luar tenda memberi arahan agar tidak lalai dalam bertugas.
Dan di dalam tenda milik Han Wang Yue seperti biasa, Xing'er yang tidak bisa tidur akan menatap wajah Wang Yue tanpa berkedip sampai dirinya merasa bosan dan mengantuk.
"Hmm, Xuan Xing'er apa kau tidak bisa tidur lagi," gumam Wang Yue seakan kini telah tau dengan kebiasaan Xing'er.
"Aku tidak bisa tidur karena memikirkan suatu hal," kata Xing'er menjatuhkan wajahnya di samping ranjang Han Wang Yue.
Pria itu membuka kedua matanya dan mengubah posisi tidurnya menjadi miring, lalu menatap Xing'er yang tengah cemberut.
"Katakanlah, apa yang membebanimu?"
__ADS_1
Xing'er mengangkat kepalanya dan menatap Han Wang Yue. "Kau tahu, aku belum pernah melihat istana selama dalam hidupku … bisakah kau mengajakku untuk melihat-lihat tempat tinggalmu," kata Xing'er menyengir.
"Untuk apa?"
"Ck, kau ini calon suamiku memangnya tidak boleh jika aku tahu tempat tinggalmu, hmm."
"Kau terlalu percaya diri, siapa yang akan menikah denganmu."
"Sudah aku bilang aku tidak peduli kau mau atau tidak, aku tetap akan menikahimu … ingat aku sudah melemparkan benang merah padamu dan kau sudah menjadi milikku sekarang," cerocos Xing'er menunjuk-nunjuk dada Han Wang Yue.
Grep.
Han Wang Yue memegang tangan Xing'er dan menatapnya serius. "Apa kau sungguh ingin menikah denganku?"
Kepala Xing'er mengangguk mantap.
"Bagaimana jika aku bukan putra mahkota, apa kau masih ingin menikah denganku?"
"Dāngrán."
"Baiklah, aku akan setuju menikah denganmu tapi satu syarat aku tidak akan pernah mengizinkanmu masuk ataupun mendekat ke istana."
Kening Xing'er berkerut ketika mendengar syarat yang dilayangkan oleh Han Wang Yue. Jika dirinya tidak diizinkan mendekat ke istana, lalu bagaimana caranya ia bisa mendapatkan bola kristal yang katanya tersimpan di beberapa kerajaan?.
Xing'er tampak berpikir sejenak, mungkin saat ini dirinya harus mengiyakan Han Wang Yue terlebih dahulu sebab tujuan pertamanya datang ke tempat tersebut untuk mencari jodoh bukan mencari bola kristal, sehingga ia tidak boleh melepaskan Han Wang Yue begitu saja.
"Baiklah, aku setuju."
Han Wang Yue menatap serius Xing'er kembali, ia tidak tahu apakah ucapannya pada gadis itu adalah keputusan yang benar atau malah akan membawanya ke dalam masalah besar? Tapi jika melihat sorot matanya, sepertinya Xing'er memang bersungguh-sungguh ingin hidup bersamanya.
Han Wang Yue melepaskan tangan Xing'er, ia sudah mengambil keputusan dan berkomitmen dengan Xing'er jika ia akan menikahinya. Ya anggap saja dengan adanya status ini dia bisa membuat Xing'er bicara soal kedatangannya ke Chang'an.
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1