
Mengemban gelar sebagai putra mahkota tidaklah mudah, meskipun namanya selalu di agung-agungkan dan mendapatkan penghormatan dari dunia namun dibalik itu semua ada tanggung jawab besar yang harus dipikulnya.
Sebagai putra mahkota, ia harus bersikap dan bertutur kata baik serta berpikiran luas dan adil. Ia harus mengesampingkan urusan pribadinya demi kehidupan rakyat yang damai serta sejahtera.
Selama belasan tahun menjabat sebagai putra mahkota, Han Wang Yue sudah bekerja keras dengan berbagai penghargaannya dan digadang-gadang akan menjadi kaisar yang penuh dedikasi dan bijaksana.
Ia selalu mengerjakan semua tugasnya dengan baik namun, dibalik kejujuran serta keadilannya selalu ada segelintir orang yang ingin menjatuhkannya sebab bagi mereka yang memiliki niatan jahat kehadiran Han Wang Yue dianggap sebuah bencana besar bagi mereka sehingga orang-orang itu selalu mencari celah untuk menjatuhkannya.
Seperti halnya saat ini kala masalah kecurangan Qing Tian Lei telah selesai dan rakyat sudah bersorak gembira tiba-tiba dia mendapatkan kabar jika lumbung yang berada di belakang kuil mengalami kebakaran, padahal sebelumnya dia sudah mengumumkan jika mulai hari ini dan bulan berikutnya rakyat Qingnan akan memiliki persediaan bahan pangan cukup banyak tanpa perlu takut akan kelaparan lagi. Tapi sekarang tiba-tiba lumbung itu kebakaran dan menghanguskan semua bahan pangan tanpa bersisa.
Ditatapnya bangunan tersebut oleh Wang Yue dengan pandangan nanar, bangunan yang semula masih berdiri kokoh tiba-tiba dalam sekejap berubah menjadi reruntuhan puing-puing hitam yang hampir habis akibat dilalap sijago merah.
"Semuanya telah habis, persediaan pangan yang aku bawa dari istana hanya bisa bertahan selama satu bulan dan kemarau entah sampai kapan akan terus berlangsung," ujar Zhaoyang menatap Han Wang Yue yang tengah memandang lumbung itu dengan tatapan datar.
"Aku khawatir jika kesengsaraan ini akan berlanjut lebih lama," sambung Zhaoyang menyembunyikan senyum kebahagiaan dibalik bibirnya.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan hal itu kembali dialami oleh rakyat Qingnan … aku akan mencari cara untuk mengakhiri bencana kelaparan disini.
Zhaoyang menepuk bahu sang adik. "Wang Yue didi, kau jangan khawatir aku akan membantumu hingga masalah ini terselesaikan."
Han Wang Yue menatap tulus Zhaoyang, sambil mengangguk.
"Bixia … nona Xing'er terluka, sekarang dia berada di penginapan," laporan dari seorang pengawal dengan napas yang tersengal setelah berlari.
"Apa!" Wang Yue bergegas pergi ke tempat penginapan untuk melihat kondisi Xing'er dan menyerahkan tugasnya untuk sementara pada kakaknya, Zhaoyang.
.
.
.
.
***
Penginapan.
"Argh, pelan-pelan kau ingin membunuhku," teriak Xing'er pada Mu Yu yang tengah mengobatinya.
"Nona bisakah kau berhenti berteriak, aku bahkan belum menyentuh lukamu," protes Mu Yu kesal.
"Owh tanganku yang bagus kini sudah rusak gara-gara penjahat sialan itu … lihat saja nanti, jika aku menemukanmu akan ku cincang tubuhmu dan memberikannya pada buaya sebagai pakan," geram Xing'er mengepalkan tangannya dan kembali memekik ketika Mu Yu menaburkan obat di atas tangan Xing'er yang terluka.
"Bela diri saja tidak bisa, mau sok mencincang penjahat," cibir Mu Yu.
__ADS_1
"Kau," dengus Xing'er mendelikkan matanya.
"Abao," seru Han Wang Yue menghampiri Xing'er dengan wajah penuh kekhawatiran. "Kau tidak apa-apa?"
Ditanya Han Wang Yue dia yang semula terlihat baik-baik saja mendadak menangis dan memeluk Wang Yue erat, ia merengek layaknya anak kecil dan mengadukan keluhannya.
Mu Yu yang heran pun hanya mengerutkan keningnya sambil tersenyum sinis.
"Huaaa, Wang Yue tanganku sakit sekali aku tidak mau mati … aku terlalu cantik dan muda jika harus mati sekarang," rengek Xing'er dalam pelukan Wang Yue.
"Tanganmu hanya tergores sedikit, bagaimana bisa kau akan mati," sarkas Mu Yu
"Lihat, dia malah mengataiku agar cepat mati," celoteh Xing'er membuat Mu Yu terlihat kesal sementara Wang Yue tampak mengulum senyum di bibirnya.
"Abao, kenapa kau bisa terluka seperti ini?" tanya Wang Yue mengusap tangan Xing'er secara perlahan.
"Itu—,"
Beberapa jam yang lalu saat Xing'er pergi dari ruangan Qing Tian Lei meninggalkan Wang Yue dan Zhaoyang.
"Pria itu dipenuhi oleh aura hitam, aku yakin dia pasti bukan manusia baik," gerutu Xing'er sambil berjalan. Ia menyusuri kota Qingnan tanpa arah sementara pikirannya kini sedang berpikir mengenai bola kristal yang harus ia dapatkan dalam waktu dekat ini.
"Wang Yue bilang dia tidak akan mengijinkan ku mendekat ke istana, lantas bagaimana caranya aku bisa mendapatkan bola itu yang mungkin ada dirumahnya … ah aku tahu, untuk menjadi pusat perhatian bukankah harus melakukan sesuatu yang luar biasa? Aku akan melakukannya agar kaisar melihatku dan mengundangku ke istana, tapi … bagaimana caranya jaman inikan tidak memiliki teknologi seperti di jaman modern yang hanya tinggal mengunggahnya di internet dan besoknya langsung viral?" Xing'er terus berpikir keras hingga tanpa sengaja ia berjalan ke arah kuil yang ada di kota Qingnan.
"Sepertinya aku berjalan kaki terlalu jauh, aku harus kembali jika tidak Wang Yue pasti akan mencariku," lanjut Xing'er lagi berniat untuk kembali pulang setelah berjalan jauh tanpa arah yang akhirnya kedua kakinya membawa dia ke tempat yang belum pernah ia datangi selama di Qingnan.
Namun, sebelum ia benar-benar pergi tanpa sengaja dia melihat beberapa orang mencurigakan berlari ke arah belakang kuil, Xing'er yang selalu penasaran pun diam-diam mengikuti orang-orang itu yang berhenti di sebuah bangun seperti gudang.
Dibalik tembok kuil Xing'er mengintip aktivitas orang-orang itu yang tengah menumpuk jerami kering di sekeliling bangunan itu dan di detik berikutnya, kedua matanya langsung terbelalak saat melihat salah satu dari orang-orang itu menyalakan api dan melemparkannya ke arah jerami kering hingga api dengan cepat menjalar kemana-mana.
Saat ia hendak pergi untuk melaporkannya pada Wang Yue, tetapi sebelum dirinya pergi kakinya menginjak ranting kering yang suaranya membuat orang-orang itu menoleh ke arahnya.
Terlanjur tertangkap basah, Xing'er tersenyum konyol dan perlahan mundur. "Hehehe, aku tidak melihat apapun," kekeh Xing'er dengan jantung berdebar kencang saat melihat orang itu menarik pedangnya.
"Tangkap dia," titah satu orang lagi, tanpa menunggu perintah kedua salah satu orang itu mengangguk dan mulai mengejar Xing'er.
Xing'er yang tidak tahu kemana dirinya harus pergi terus berlari dan masuk ke dalam hutan sambil berteriak minta tolong, ia lari sekencang mungkin untuk menghindari orang tersebut yang ingin membunuhnya.
"Astaga kemana aku harus pergi, larinya kencang sekali … oh dewa bantu aku, aku belum mau mati," gumamnya sambil terus berlari dan ia teringat pada peluit yang beberapa hari lalu diberikan oleh Zhu Wu Chen.
Ia meniupnya berulang kali, tapi yang dimintai tolong tak kunjung datang hingga akhirnya kakinya yang mulai lelah tersandung pada kakinya sendiri dan membuatnya terjatuh.
"Aiya disaat seperti ini kenapa harus terjatuh … ah," pekik Xing'er saat melihat sebuah pedang tajam berada tepat di depan wajahnya.
Ia mengubah posisi yang semula tengkurap menjadi duduk, dia menatap pria itu yang penuh aura ingin membunuh.
__ADS_1
"T-tuan, kita bisa bicarakan semua ini baik-baik … a-aku bersumpah, aku tidak melihat apapun," kata Xing'er mengangkat tangannya bersumpah.
Orang dengan topeng menyeramkan itu kembali menghunuskan pedangnya di leher Xing'er.
"Eh t–tu-tunggu, Tuan apa kau tidak tahu aku ini adalah seorang Dewi yang datang dari masa depan jika kau membunuhku apa kau tidak takut jika kesialan akan datang padamu secara berturut-turut," kata Xing'er mengulur waktu.
"Wu Gege, dimana kau?" bisik hati Xing'er dalam hati.
"Heuh, omong kosong!" dengus pria itu mulai mengangkat pedangnya dan hendak membunuh Xing'er.
Xing'er yang pasrah mengangkat tangannya untuk melindungi wajahnya sambil berteriak.
Sret.
Pletak.
Begitu pedang itu melukai tangan Xing'er, orang itu tiba-tiba terjatuh.
Gadis yang mengira dirinya akan segera mati menurunkan tangannya dan melihat apa yang terjadi pada orang itu, karena tiba-tiba pria misterius itu terjatuh.
"Berani kau menyentuhnya, aku akan memotong tubuhmu hingga tak bersisa," suara seorang pria yang tidak asing ditelinga Xing'er.
Pria itu berdiri dengan gagahnya di depan si pembunuh itu, meskipun dia menggunakan cadar tapi Xing'er tahu jika itu adalah Zhu Wu Chen.
"Wu ge—," bibir Xing'er kembali mengatup ketika melihat Zhu Wu Chen menaruh telunjuk di bibirnya seakan-akan memberitahu Xing'er untuk tidak menyebut namanya.
"Siapa kau!" sentak pria bertopeng.
"Siapapun aku kau tidak layak untuk tahu, tapi siapapun yang berani menyentuhnya akan berhadapan denganku," tutur Zhu Wu Chen dengan wajahnya yang dingin.
"Banyak omong." Pria bertopeng itu mengangkat kembali pedangnya dan mulai menyerang Zhu Wu Chen.
.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa mampir😁
__ADS_1