
Xing'er mengalihkan pandangannya ke depan setelah mendapatkan tatapan sinis dari pria itu. "Kau benar, lagi pula mana bisa manusia kejam sepertimu merasakan pergolakan cinta … kau bisa melakukan apapun untuk membuat para wanita tunduk padamu," gumam Xing'er perlahan.
Mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Xing'er. Pria itu menarik tengkuk leher Xing'er kehadapannya hingga membuat wajah mereka berada dalam jarak yang begitu dekat.
Xing'er tercekat saat wajahnya hampir beradu dengan pria itu, manik matanya membulat sempurna dan perasaannya terasa begitu kacau. Jika dilihat secara dekat Xing'er akui pria berambut putih itu memiliki paras yang tampan, hanya saja temperamennya sangat buruk sehingga aura gelap menutupi ketampanan wajahnya.
Beberapa saat terikat dalam pandangan, tanpa mengatakan apapun pria berambut putih itu mendorong Xing'er agar menjauh darinya.
"Kasar sekali," keluh Xing'er mengusap tangannya yang tergores oleh kerikil.
"Berhentilah bermain-main dan segera temukan bola kristal itu, ini sudah melewati batas waktu yang aku berikan," ujar pria berambut putih lirih.
"Aku tidak bermain-main, kau tahukan kasus di kota Qingnan tidak sesederhana yang dibayangkan … bahkan kemarin malam saja aku dan Wang Yue hampir mati karena diserang orang."
"Itu bukan urusanku."
Gadis itu mendengus kesal, ia menatap sebal pria tersebut dan berdecak sambil mendelik.
"Eh, aku melihat kekuatanmu besar kenapa kau tidak mengambilnya sendiri? Bukankah akan lebih mudah daripada menyuruhku yang lemah ini … kau hanya perlu menggerakan tanganmu dan wush bola kristal akan ada di tanganmu," celoteh Xing'er.
"Tidak semudah itu, mereka memasang pelindung di sekitar istana yang tidak bisa aku terobos. Kekuatanku pun hanya bisa dipakai untuk menindasmu saja, tidak akan cukup untuk melawan mereka semua," jelasnya.
"Ssst terdengar sangat kejam," desis Xing'er menggedikan kedua bahunya ketika pria itu mengatakan jika kekuatannya hanya bisa dipakai untuk menindasnya.
Suasana pun mendadak hening. Matahari yang tadi berada di atas kini mulai bergerak turun seperti tenggelam ke dasar laut dengan memancarkan sinar berwarna jingga yang indah.
Kedua orang yang tengah duduk ditepi pantai itu tampak menikmati pemandangan tersebut hingga tak mengeluarkan sedikitpun suara.
__ADS_1
Mentari di ujung laut telah tenggelam, yang tersisa kini hanya secercah cahaya jingga yang perlahan mulai memudar dan menghilang tergantikan oleh gelapnya malam. Bulan bersinar dibalik awan gelap yang tertiup angin, angin berhembus kencang seakan merasuk ke dalam pori-pori kulit dan bersarang didalam tubuh yang fana.
Keheningan yang dipecahkan oleh suara angin yang berseok, serta deburan ombak yang berusaha memecahkan bebatuan di tepian pantai seakan mengisyaratkan jika sepasang manusia yang sejak tadi terdiam masih tersihir dengan keindahan senja yang menyilaukan mata.
(anggap saja mereka sedang menatap senja)
“Mengapa sesuatu yang indah sangat sulit untuk dipertahankan?Mereka hanya singgah beberapa saat, lalu pergi meninggalkan kegelapan yang abadi,” tutur Xinger dengan kedua sudut bibir yang mengembang, namun dibalik senyumnya tersirat sebuah kesedihan yang mendalam.
“Tak selamanya yang indah harus selalu dipertahankan, terkadang kau juga harus belajar untuk melepaskan. Seperti halnya cahaya senja yang memiliki warna yang memikat hati dan membuat semua orang ingin menatapnya, tetapi jika terlalu lama kau menatapnya akan membuat mata menjadi sakit berbeda dengan kegelapan. Mungkin banyak orang yang takut akan kegelapan, tetapi tak sedikit pula yang merasa nyaman berada dalam kegelapan sebab dalam kegelapan mereka bisa melihat bintang yang tak akan menyakiti mata walaupun ditatap dalam jangka waktu lama,” tutur pria berambut putih. Ia menghela napasnya dalam dan menatap datar deburan ombak yang seakan ingin menyentuh kakinya.
“Kau bicara panjang lebar seperti ini, aku jadi tidak mengerti,” celoteh Xing’er menggelengkan kepalanya secara perlahan.
Pria itu menoleh pada Xing’er sambil menyipitkan matanya. “Jika kau tidak mengerti, mengapa bertanya,” dengusnya kesal.
“Aku? Kapan aku bertanya, aku hanya berbicara sendiri tapi kau tiba-tiba menimpali perkataanku,” cetus Xing’er mendaratkan bokongnya di atas sebuah batu.
“Sudahlah, bisakah kita pulang sekarang perutku sudah lapar, sejak tadi aku hanya makan angin hingga perutku kembung,” sela Xing’er kemudian bersendawa akibat masuk angin.
Pria itu mendengus sebal karena merasa dipermainkan oleh gadis tersebut, ia heran kenapa penatua dari tempatnya bisa memilih gadis sebodoh Xing’er yang hanya membuat emosinya naik.
Karena Xing’er terus mengeluh tentang perutnya yang kembung, dia pun memanggil hewan peliharaannya berupa naga hitam yang tinggal di dasar laut.
Melihat ular naga dengan ukuran besar, sontak membuat Xing’er takut sehingga dia langsung bersembunyi di balik tubuh pria rambut putih sambil mencengkram bajunya erat dan menenggelamkan wajahnya di punggung pria tersebut.
“Lepaskan,” pinta pria berambut putih.
__ADS_1
Gadis itu menggelengkan kepalanya tak ingin melihat makhluk menyeramkan yang ada di depannya.
“Lepaskan!” sentak pria itu menarik bajunya dari tangan Xing’er, tapi gadis itu malah memeluknya erat membuat pria itu langsung mematung beberapa saat.
Pria berambut putih yang tak memiliki perasaan itu mendorong tubuh Xing’er sampai ke atas punggung naga, disusul olehnya yang duduk di sisi xing’er dengan keadaan santai dan tak berekspresi berbeda dengan Xinger yang terus berteriak ketakutan sambil menutup kedua matanya.
Naga hitam berusia ribuan tahun itu terbang ke angkasa dengan begitu gagahnya, membelah gelapnya malam tanpa mengenal rasa takut.
“Arghhh ini seperti menaiki roket! Turunkan aku!” teriak Xing’er di sepanjang perjalanan.
Beberapa saat setelah menempuh perjalanan ratusan kilometer, naga itu akhirnya berhenti dan pria berambut putih menuruti kemauan sang gadis yang meminta untuk menurunkannya. Tanpa adanya pemberitahuan atau pun mendarat, pria itu langsung menendang Xing’er dari atas punggung naga hingga membuatnya kembali berteriak dan terjatuh ke atas tanah.
“Dasar kau manusia uban! Aku mengutukmu agar tidak mendapatkan jodoh!” umpat Xinge’er memaki pria tersebut kemudian meringis merasakan seluruh tulangnya yang terasa remuk.
“Xuan Xing’er!” panggil Han Wang Yue, ia berlari menghampiri kekasihnya yang sejak tadi siang telah menghilang.
Gadis itu menoleh ke arah sumber suara dan langsung menghambur ke dalam pelukan Han Wang Yue.
“Abao, apa yang terjadi? Kenapa penampilanmu berantakan seperti ini dan kemana saja kau, seharian ini aku mencarimu kemana-mana.” Wang Yue memberondong Xinger dengan banyak pertanyaan.
“Bisakah kau bertanyanya nanti saja, perutku mual sekali,” keluh Xing’er memegangi perutnya yang kembung.
Han Wang Yue mengangguk, ia melepaskan jubahnya dan mengenakannya di bahu Xing’er lalu memapah sang gadis ke dalam penginapan. Dan di atas langit ada pria berambut putih yang menyaksikan kemesraan Xing’er bersama Han Wang Yue dengan tatapan dingin.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung