Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.

Ku Lempar Benang Merah, Pangeran Tampan Ku Dapat.
Chapter 17


__ADS_3

"Yu Mu, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku apa benar Wang Yue tidak normal," celoteh Xing'er lagi, tanpa berkaca pada dirinya sendiri yang selalu menolak dijodohkan oleh ibunya padahal dirinya pun normal.


"Aish, nona Xing'er kau tidak boleh berbicara sembarangan jika sampai terdengar oleh orang-orang reputasi Wang Yue taizi bisa rusak," tegur Yu Mu.


"Hmm, baiklah-baiklah tapi kau jawab dulu apa dia pria normal yang menyukai wanita," bisik Xing'er masih penasaran.


"Tentu saja, Huang taizi seratus persen normal hanya saja hatinya sedikit keras," ucap Yu Mu kembali menggelengkan kepalanya, kemudian ia kembali mengajak Xing'er untuk terus berjalan. 


Xing'er yang sudah tidak sanggup untuk berjalan jauh lagi, kembali mengeluh dan merengek jika kakinya sakit. Yu Mu yang tidak mungkin menggendong Xing'er untuk naik bukit akhirnya menyuruh Xing'er untuk menunggu ditempat tersebut dan memperingatkan agar Xing'er tidak pergi kemana pun sebelum dirinya kembali. 


Gadis itu mengangguk dan menatap punggung Yu Mu yang perlahan menjauh darinya. 


Seperti yang dikatakan oleh Yu Mu jika dirinya tidak boleh pergi kemanapun, Xing'er pun menurut dan menunggu Yu Mu dengan baik. Dia menatap kesekitar hutan, memainkan ilalang, melempar batu-batu kecil dan memetik bunga liar untuk mengusir rasa jenuhnya saat menunggu. 


Ketika ia sedang asik memetik bunga sembari bermain dengan kupu-kupu cantik yang terbang mengitari bunga-bunga tersebut, perhatiannya teralihkan oleh seekor kelinci putih kecil yang melompat-lompat. 


Xing'er yang merasa tertarik dengan kelinci tersebut, diam-diam mengikuti untuk menangkapnya. Dia berpikir untuk menjadikan kelinci lucu itu sebagai santapan makan malamnya, sehingga ia pun menjatuhkan bunga-bunganya dan mengikuti kelinci itu yang masuk ke hutan yang jauh lebih dalam. 


"Kelinci kecil, diamlah disitu aku akan menangkap mu dan menunjukkannya pada Wang Yue," celotehnya bersiap untuk menangkap, dia melompat ke tanah tapi sayangnya kelinci itu tidak berhasil ditangkap. 


Ia kembali bersiap untuk menangkap, tapi tiba-tiba saja sebuah anak panah terbang ke arahnya dengan sangat cepat. 


***


"Suan Ni," panggil Han Wang Yue pada pengawal setianya yang sedang membersihkan pedang miliknya. 


Pria perkasa itu langsung berdiri dan menghampiri Han Wang Yue yang tengah membaca buku laporan militer. 


"Apa kau menerima surat balasan dari guru Ding?" 


"Tidak, Bixia." 


Han Wang Yue meletakan bukunya dan berpikir. "Aneh, biasanya guru Ding tidak pernah lama saat membalas surat dariku, apa terjadi sesuatu di istana?" 


"Keadaan istana baik-baik saja tidak ada yang perlu anda khawatirkan, Bixia," kata Suan Ni. 


Han Wang Yue bangkit dari duduknya merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan suratnya, lalu di detik berikutnya ia baru teringat pada masakan buatan Xing'er yang mengatakan jika dirinya memasak daging burung dara kecap.


"Suan Ni." 


"Ya Bixia." 

__ADS_1


"Apa kita punya persediaan daging burung?" 


"Seingatku, tidak." 


Pria itu tertegun, sepertinya firasatnya benar. Ia menarik napasnya panjang dan mengecek ke area dapur untuk mencari jawaban atas kecurigaannya, setelah beberapa menit mencari akhirnya ia menemukan sesuatu dari dalam tungku. 


Ia mengambil benda berupa kertas yang berasal dari istana dan mengeceknya, kertas itu sudah habis terbakar dan menyisakan sedikit saja sehingga dia tidak bisa menemukan tulisan di dalamnya. 


Han Wang Yue yang kesal, meremas sisa kertas tersebut dan kembali meneriakan nama Xuan Xing'er. 


"Wanita itu … wanita itu, benar-benar pembuat masalah, setelah menghancurkan dapur dan lukisanku sekarang dia berani membakar surat ku dan memasak burung merpati istana, awas saja kau aku akan benar-benar mengusirmu dari sini," dengus Han Wang Yue terus mondar mandir tidak karuan, menunggu kepulangan Xing'er untuk ia marahi. 


"Huang taizi Bixia … Huang taizi, gawat-gawat!" Yu Mu berlari sambil berteriak dengan raut wajah cemas.


"Ada apa?" tanya Wang Yue mengerutkan keningnya heran. 


"Bixia gawat," ucap Yu Mu ngos-ngosan.


"Gawat, apanya yang gawat dan dimana Xing'er?" 


"Nona, nona Xing'er hilang di hutan." 


"Apa! Bagaimana bisa? Bukankah tadi dia pergi denganmu," pekik Wang Yue.


"Benar, tapi di tengah perjalanan nona Xing'er tidak sanggup melanjutkan perjalanannya lagi, aku sudah menyuruhnya untuk menunggu tapi saat aku kembali dia sudah tidak ada disana … aku mencarinya ke sekitar hutan dan aku hanya menemukan bunga-bunga ini, bunga ini pasti dipetik oleh nona Xing'er," papar Yu Mu khawatir jika sesuatu terjadi pada Xing'er. 


Mendengar Xing'er hilang di hutan, hati Wang Yue yang semula dipenuhi oleh amarah berubah jadi khawatir. Dia mengajak Suan Ni dan Yu Mu untuk kembali ke hutan dan mencari Xing'er hingga ketemu. 


***


Sreettt. 


Anak panah melintas tepat di hadapan Xing'er dan mengenai kelinci putih yang tadi ia kejar. 


"Astaga, kelinciku," teriak Xing'er ketika melihat kelincinya mati akibat tertusuk anak panah. 


"Maaf nona, tapi sekarang kelinci itu sudah menjadi milikku," sahut seorang pria yang entah muncul dari mana. 


Xing'er memutar tubuhnya dan melihat siapa pemilik dari suara berat tersebut. "Wah, aku baru tahu jika di abad ini banyak pria tampan yang tinggal di hutan," gumam Xing'er dalam hati. 


"Nona, apa kau baik-baik saja?" pria itu tersenyum sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Xing'er. 

__ADS_1


Xing'er kembali berkedip dan memasang wajah judes. "Aku yang pertama kali melihat kelinci ini, tentu saja ini milikku." 


Pria itu terkekeh dan mendekati Xing'er,  membuat tubuh Xing'er sedikit condong ke belakang dan mundur beberapa langkah.


"Tapi anak panahku yang sudah menangkapnya." 


"Kau … mana bisa seperti itu, aku sudah mengejarnya sampai jauh dan kau seenaknya saja mengatakan jika kelinci itu milikmu," protes Xing'er tak terima jika kelincinya di klaim orang lain. 


"Begini saja, bagaimana jika kita bertukar." 


"Bertukar?" 


"Ya, beritahu siapa namamu dan aku akan memberikan kelinci itu pada mu." 


"Hanya itu saja, cih aku pikir akan sulit." 


Pria itu kembali tersenyum sembari melipat kedua tangannya didada. 


"Baiklah, namaku Lien Hua," celoteh Xing'er menyamarkan nama aslinya. 


"Lien Hua?" kaget pria itu ketika mendengar nama sang gadis yang tampak aneh. 


"Hem, kenapa? Kau tidak percaya," ketus Xing'er mendelik. 


Pria itu menggelengkan kepalanya. 


"Baiklah, aku sudah memberitahu namaku aku akan mengambil kembali kelinciku," ujar Xing'er kembali berbalik untuk mengambil kelincinya yang telah mati. 


"Nona Hua, kau berasal dari mana dan kenapa berada di hutan sendirian?" tanya pria itu memperhatikan Xing'er yang sedang ragu-ragu untuk mengambil kelincinya. 


"Aku tidak sendiri, aku sedang menunggu temanku yang tengah mencari tanaman obat … gawat, sepertinya aku sudah terlalu lama berada disini dia pasti mencariku," sergah Xing'er teringat pada Yu Mu. 


"Eu—," 


"Namaku Wu Chen," sahutnya menyela kalimat Xing'er yang ingin bertanya namanya. 


"Oh … Wu Daren, aku harus segera pergi dan terimakasih karena sudah membantuku menangkap kelinci ini," tutur Xing'er tersenyum.


"Tidak masalah, karena aku sudah membantumu menangkap kelinci maka kau berhutang padaku dan kau harus membayar hutang itu secepatnya," kata Zhu Wu Chen. 


"Hm, semoga kelak kita bisa bertemu lagi," pamit Xing'er memberi hormat pada Wu Chen dan pergi dengan seekor kelinci putih di tangannya. 

__ADS_1


"Lien Hua, nama yang menarik persis seperti orangnya," gumam Zhu Wu Chen menatap punggung Xing'er dan ia pun bergegas meninggalkan tempat tersebut sebelum ada orang lain yang melihatnya. 


Bersambung.


__ADS_2