
Sambil membawa beberapa kantong plastik ditangan, Xing'er berjalan menuju kamar Wang Yue. Wajahnya terlihat cerah dan merona, seperti mentari pagi yang menghangatkan dunia.
"Good morning everybody," sapa Xing'er saat memasuki kamar Han Wang Yue dimana disana sang pujaan hati sedang berkumpul dengan kedua bawahannya.
Ia melambaikan tangannya pada Suan Ni dan Mu Yu kemudian duduk disamping Han Wang Yue sambil tersenyum ceria.
"Lihat aku punya sesuatu." Xing'er menunjukan tiga kantong plastik yang dibawanya pada ketiga pria tersebut.
"Apa ini?" tanya Wang Yue penasaran.
"Ini adalah bibit sayuran yang bisa ditanam walau saat kemarau, ini juga ada bibit padi yang bisa ditanam di ladang dan tidak memerlukan banyak air untuk merawatnya," tunjuk Xing'er pada masing-masing plastik berisi bibit tanaman.
"Ini semua bisa ditanam tanpa air?" sergah Mu Yu kagum.
Kepala Xing'er mengangguk dan kembali menjelaskan tentang bibit tanaman darat. Tanaman yang bisa tumbuh tanpa memerlukan banyak air ini bisa tumbuh subur walaupun dalam cuaca panas sekalipun dan masa panennya pun tidak terlalu lama, hanya butuh waktu 3 sampai 4 bulan sudah bisa dipanen begitupun dengan bibit sayuran hanya perlu waktu tiga bulan dan hasilnya akan memuaskan.
Hanya perlu mengajarkan masyarakat untuk mengembangkan cara budidaya tanaman tersebut, maka kasus kelaparan saat kemarau panjang pun tidak akan terulang kembali.
"Wah nona Xing'er kau sangat hebat," puji Suan Ni mengacungkan jempolnya.
"Sejak awal aku memang hebat, bukan," kekeh Xing'er menoleh pada Wang Yue yang tengah menatapnya.
"Xing'er apa ini semua kamu bawa dari duniamu?" tanya Han Wang Yue mencium aroma bibit-bibit itu.
"Tentu saja, aku mencuri ini dari ayahku," bisik Xing'er.
Han Wang Yue mengangkat kedua alisnya ke atas.
"Nona Xing'er kenapa kamu aneh sekali, sejak awal kamu tidak tahu kemana tujuan kamu pergi tapi kenapa kamu membawa bibit tanaman segala," cetus Mu Yu tak mengerti dengan Xing'er.
Gadis itu terkekeh. "Kau pernah dengar sedia payung sebelum hujan? Walaupun aku tidak tahu kemana aku pergi aku selalu membawa barang-barang tidak penting, karena aku selalu berpikir jika suatu saat pasti akan memerlukannya dan terbukti sekarang bibit-bibit ini bergunakan," papar Xing'er kembali tersenyum dengan raut wajah penuh percaya diri.
"Kau memang cerdas nona Xing'er," Mu Yu kembali memuji kepintaran yang dimiliki oleh Xing'er.
"Wang Yue, kau lihatkan barang ku berguna dan kau harus bertekuk lutut padaku," bisik Xing'er di telinga Han Wang Yue.
__ADS_1
Pria itu berdehem, untuk membelokan topik pembicaraan Xing'er ia pun menawarkan sarapan pada gadisnya tersebut.
Namun sebelum mereka pergi mencari sarapan, seorang prajurit melaporkan pada Wang Yue jika Kasim istana datang dengan membawa dekrit dari kaisar.
Di depan Kasim yang sedang memegang sebuah gulungan berisi titah kaisar. Han Wang Yue beserta dua bawahannya berlutut, sementara Xing'er hanya celingak celinguk kebingungan saat melihat Wang Yue berlutut di depan seorang pria tua.
"Abao, berlututlah," bisik Wang Yue menarik baju Xing'er.
"Oh." Xing'er pun berlutut dan meniru Han Wang Yue yang menundukan kepalanya, mendengarkan Kasim membacakan dekrit yang berisikan ucapan selamat pada Han Wang Yue karena telah berhasil menangkap para pejabat korupsi, dan kaisar telah mendengar soal seorang Dewi yang berhasil menurunkan hujan sehingga kaisar mengundang sang Dewi untuk datang ke istana dan menerima hadiah.
Mendengar undangan kaisar yang ditujukan pada Xing'er Han Wang Yue langsung menolak, ia mengusulkan jika dirinya akan datang menemui kaisar sebagai perwakilan Xing'er.
Xing'er, Mu Yu dan Suan Ni menoleh kaget pada Han Wang Yue yang menolak dekrit kaisar.
"Taizi anda tahukan jika menolak dekrit maka akan dijatuhi hukuman, saya mohon agar taizi bixia menerima dekrit ini dan membawa Dewi Xing'er ke istana," pinta Kasim dengan nada bicara lembut.
"Tidak, aku tidak setuju. Aku akan menerima hukuman kaisar dan tidak akan membawa Xing'er ke istana," tegas Han Wang Yue.
"Wang Yue," lirih Xing'er menyimpan rasa kecewa karena Han Wang Yue benar-benar tidak mengijinkannya masuk ke istana.
"Xing'er, bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan jika aku tidak akan membiarkanmu mendekat ke istana," timpal Han Wang Yue mengingatkan Xing'er pada kata-katanya.
Raut wajah Kasim Rui beserta dua bawahannya terlihat gelisah, entah apa yang harus mereka katakan untuk membujuk sang putra mahkota agar mau membawa Xing'er ke istana sebab Han Wang Yue selalu teguh pada keputusannya dan sulit untuk digoyahkan.
Xing'er yang sejak dari tadi diam tiba-tiba menyahut dan setuju untuk menemui kaisar tanpa persetujuan Han Wang Yue, mendengar persetujuan dari Xing'er Kasim Rui pun tersenyum lega akan tetapi Han Wang Yue melarang Xing'er sehingga perselisihan antara Xing'er dan Wang Yue pun terjadi.
"Mu Yu, Suan bawa Kasim Rui untuk beristirahat," titah Han Wang Yue pada kedua anak buahnya.
Kedua anak buahnya mengangguk dan membawa Kasim Rui ke kamar penginapan untuk beristirahat sekaligus menunggu keputusan Han Wang Yue.
"Xing'er, bukankah sebelumnya kamu sudah setuju jika kamu tidak akan mendekat ke istana kenapa sekarang berubah pikiran?" tegur Han Wang Yue menatap Xing'er tak mengerti.
Gadis itu meraih tangan Han Wang Yue dan menggerak-gerakkannya. "Aku hanya penasaran pada tempat tinggalmu, aku mohon bawa aku kesana ya please … aku juga tidak mau melihatmu terluka karena menolak titah kaisar."
Di tepisnya tangan Xing'er oleh Han Wang Yue, ia memalingkan wajahnya dan menjauh dari Xing'er.
__ADS_1
"Aku lebih memilih terluka dari pada harus membawamu ke istana," cetus Han Wang Yue.
Xing'er menghampiri Han Wang Yue dan menatapnya dengan tatapan memelas. "Wang Yue, aku mohon."
Pria itu membalikan tubuhnya dan menatap Xing'er penuh selidik. " Xing'er, sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan? Kenapa kau selalu ingin masuk ke istana? Apa kau sedang merencanakan sesuatu untuk menyerang istana?"
Kepala Xing'er menggeleng cepat, menyangkal tuduhan yang dilontarkan oleh Han Wang Yue. "Aku tidak memiliki niatan apapun, aku hanya ingin mengenal keluargamu."
"Xing'er, aku sudah berjanji padamu aku akan mengenalkanmu pada keluargaku tapi tidak sekarang."
"Kenapa? Apa karena aku bukan dari kalangan seperti mu sehingga kau malu mengenalkanku pada orang tuamu," dengus Xing'er.
"Bukan, bukan itu alasannya."
"Lalu apa? Apa sesulit itu untuk memberi penjelasan padaku?"
Han Wang Yue menghela napasnya dalam, ia meraih kedua tangan Xing'er dan menatapnya sendu. "Abao, aku hanya tidak ingin kamu kenapa-kenapa … istana tidak seaman yang kau pikirkan, aku hanya ingin kita bahagia dipondok Lian Hua."
"Wang Yue kita hanya datang kesana sebentar, aku juga tidak berniat untuk tinggal disana … aku berjanji saat di istana aku akan menuruti semua perkataanmu."
Han Wang Yue terlihat berpikir, dia menatap lekat Xing'er sebelum akhirnya ia pun menuruti kemauan Xing'er dengan segala macam persyaratan.
Meskipun banyak syarat yang dilayangkan oleh Han Wang Yue, dia tidak keberatan asalkan bisa masuk ke istana dan mendapatkan bola kristal ia akan melakukan yang dikatakan oleh Wang Yue.
Xing'er memeluk Han Wang Yue, dia berjanji akan selalu disisi Han Wang Yue dan tidak akan bertindak tanpa sepengetahuannya.
"Jangan marah lagi, wajahmu terlihat jelek saat marah," goda Xing'er menatap kekasihnya dengan tatapan manja.
Bibir Han Wang Yue mengembang, ia kembali memeluk Xing'er dengan hati yang gundah karena keputusannya.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.